Senin, 29 Mei 2017   |   Tsulasa', 3 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.147
Hari ini : 48.711
Kemarin : 92.690
Minggu kemarin : 704.729
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.488.712
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Siklus Tanam Padi (Lombok, Nusa Tengara Barat)

a:3:{s:3:

1. Asal-usul

Sebagai masyarakat agraris, mengingat 90% mata pencaharian masyarakatnya adalah petani, masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, mengantungkan sebagian besar hidupnya kepada hasil-hasil pertanian. Karena menggantungkan hidupnya kepada hasil-hasil pertanian, mereka berupaya agar pertanian mereka sejak dari proses penanaman, perawatan sampai masa panen tidak ada hambatan dan hasilnya melimpah. Agar hasil pertanian seperti padi melimpah, mereka melakukan upacara siklus tanaman padi (Adat Bonga Padi). Dengan upacara tersebut, mereka berharap agar proses penanaman dan perawatan tidak ada hambatan dan pada saat panen hasilnya memuaskan.  

Karena keberadaan dan ketersediaan padi sangat penting dalam kehidupan mereka, maka masing-masing siklus tanaman padi dirayakan dengan pesta besar-besaran. Mereka berharap dengan melakukan ritual-ritual tersebut, pertanian akan membuahkan hasil panen yang berlimpah.

Masyarakat Lombok mengenal tiga upacara yang berhubungan dengan dengan siklus tanaman padi, yaitu: 

  1. Ngaji makam turun bibit yang diselenggarakan pada musim tanam. Tujuan upacara ini adalah agar bibit yang ditanam tumbuh dengan baik dan juga sebagai media untuk memohon ijin kepada penguasa alam gaib yang menguasi tempat bertani (sawah) dan buah padi itu sendiri.      
  2. Ngaji makam tunas setamba yang dilakukan saat menyuburkan(pemupukan) dan menyebarkan pestisida. Tujuan upacara ini adalah untuk menangkal penyakit dan belalang. Dengan ritual ini, mereka berharap padi yang ditanam dapat tumbuh subur dan selamat dari gangguan hama.
  3. Ngaji makam ngaturang ulak kaya pada saat panen. Dengan kata lain, upacara ini dilakukan sebagai bentuk syukur bagaimanapun hasil panennya. Disamping itu, upacara ini diadakan dengan harapan hasil panen pada musim berikutnya semakin banyak. Dengan demikian, maka upacara ini mempunyai dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi syukur dan dimensi pengharapan.

2. Peralatan dan Tempat Pelaksanaan

Upacara siklus tanaman padi diadakan di kampu, yaitu tempat diadakannya upacara oleh semua anggota komunitas kampu (setingkat kampung), dan juga di setiap rumah warga. Upacara di rumah warga diadakan setelah upacara yang diadakan di kampu selesai.

Adapun peralatan yang dibutuhkan antara lain:

  • Makanan dan lauk pauk untuk acara makan-makan.
  • Buah-buahan khususnya untuk upacara setelah panen.

Sedangkan peralatan yang harus dipersiapakan sebagai pendukung terlaksananya upacara siklus tanam padi adalah:

  • Perlengkapan untuk mengosap.
  • Perlengkapan untuk mas doa.
  • Pabuan berisi lekesan dan sembek (seperangkat sesajen).
  • Kemenyan.

3. Tata Laksana

Pelaksanaan ketiga upacara siklus tanaman padi melibatkan seluruh anggota komunitas (kampu). Artinya, semua anggota komunitas terlibat dalam pelaksanaan upacara tersebut baik dalam penyedian peralatan ataupun pemenuhan biaya yang diperlukan. Dalam upacara ini, ada beberapa ritual yang mengikuti diantaranya:

  • Mengosap, membersihkan kompleks pemakaman leluhur. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam hari dan dipimpin oleh penghulu. Sebelum memasuki komplek pemakaman leluhur, penghulu duduk berjongkok di anak tangga pintu depan komplek pemakaman. Ia membaca doa setelah itu memasuki komplek makam dan menyapu lantai dengan menggunakan sapu tangan tenun. Di tempat ini mereka meletakkan kendi air dan pabuan berisi lekesan dan sembek.
  • Mas doa, mengumpulkan berkah arwah para leluhur dan menyembek. Secara praktis dapat dikatakan bahwa mas doa merupakan kegiatan mengambil kendi dan mengumpulkan pabuan yang berisi lekesan dan sembek yang diletakkan pada saat mengosap. Kegiatan ini dimulai ketika penghulu memasuki pemakaman leluhur. Di tempat ini  penghulu membakar kemenyan dan berdoa. Kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan pabuan yang berisi lekesan dan sembek.
  • Epen bale dan epen gubug, Menerima berkah dan arwah para leluhur. Kegiatan ini ditandai dengan memercikkan air ke kepala dan mengusapkan lekesan dan sembek ke tubuh anggota komunitas. Kegiatan ini dilakukan oleh penghulu.

Setelah ritual pendahuluan upacara itu dilakukan, maka upacara-upacara tersebut dapat segera dimulai. Jika upacara dilaksanakan di kampu, maka yang merayakan adalah semua anggota komunitas di kampu tersebut.

Setelah melaksanakan upacara siklus tanam padi  di kampu, setiap rumah tangga juga melangsungkan upacara siklus tanam padi secara individual. Upacara yang dilakukan secara individu tersebut diantaranya adalah:

  • Nyelametang pare yang diadakan pada masa persemaian benih. Tujuan penyelenggaraan upacara nyelametang pare sama dengan ngaji makam turun bibit dan ngaji makam tunas setamba.
  • Ngaji ngrangkep yang dilaksanakan pada musim panen. Tujuan melakukan ngaji ngrangkep sama persis dengan ngaji makam ngaturang ulak kaya.
  • Rowah sambi yang dilakukan ketika padi siap disimpan di lumbung padi (sambi/geleng). Tujuan upacara rowa sambi (lumbung) adalah agar padi-padi yang disimpan oleh tiap-tiap keluarga di sambi (lumbung) akan cukup bagi konsumsi sehari-hari bagi seluruh anggota keluarga maupun untuk mengadakan upacara-upacara. Selain itu, sambi juga berfungsi untuk meningkatkan status sosial; semakin banyak sambi yang dimiliki, semakin tinggi pula status sosialnya.

4. Doa-doa atau Mantra

Adapun doa-doa yang dibaca dalam upacara ini adalah:

  • Doa pendek berbahasa Arab
  • Mantra / doa dalam bahasa daerah untuk memanggil roh nenek moyang (epen bale dan epen gubug)

(teks doa dan mantra dalam proses pengumpulan data)

5. Nilai-Nilai

Ada beberapa nilai yang dapat diambil dari pelaksanaan upacara siklus tanam padi, yaitu: Pertama, nilai sakral. Nilai sakral dalam upacara siklus tanam padi dapat dilihat pada pengantar ritual ritual yang dilakukan misalnya melakukan mengosap dan mas doa. Lebih jauh, pelaksanaan upacara ini menunjukkan bahwa masyarakat Lombok percaya adanya mahluk lain yang menguasai pertanian (padi). Oleh karena itu, agar pertaniannya mendapatkan hasil yang bagus maka harus membuat hubungan baik dengan yang menguasainya.

Kedua, pemujaan leluhur. Mereka meyakini bahwa para leluhur akan mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat karena mereka (para leluhur) berada dekat dengan Sang Maha Pencipta.

Ketiga, nilai moral dan sosial. Moral di sini adalah tatacara pengolahan tanah yang didasarkan kepada penghormatan dan pelestarian terhadap tanah itu sendiri. Ungkapan-ungkapan bahwa jika tidak meminta ijin terlebih dahulu ketika hendak melakukan aktivitas pertanian akan membuat si penunggu marah merupakan peringatan agar kita tidak semena-mena dalam memanfaatkan alam. Sehingga kebutuhan terhadap padi akan senantiasa tersedia dan ikatan antar anggota komunitas, dengan berbagai hak dan kewajibannya, tetap terjaga dan terpelihara. (AS/bdy/5/09-07).

Sumber :

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Wetu Telu, Kearifan Tradisional di Lereng Utara Rinjani, http://impalaunibraw.or.id/dat/detail.php?id=12_0_1_0_M, diakses tanggal 21 September 2007
  • YL Frangky, Reaktualisasi Nilai Adat: Merehabilitasi Hutan di Sembalun, http://www.kpshk.org/index.php?option=com_content&task=view&id=22& Itemid=42, diakses tanggal 21 September 2007
Dibaca : 15.298 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password