Senin, 29 Mei 2017   |   Tsulasa', 3 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 5.843
Hari ini : 27.392
Kemarin : 92.690
Minggu kemarin : 704.729
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.488.193
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Selametan Mengasuh (Lombok, Nusa Tenggara Barat)

1. Asal-usul

Kematian salah seorang anggota keluarga tidak memutuskan hubungan dengan anggota keluarga yang masih hidup. Kematian hanyalah sebuah “terminal” (baca: tahapan) dari perjalanan panjang yang harus dijalani. Karena itulah, keluarga dari orang yang meninggal dunia mengadakan ritual-ritual khusus agar perjalanan arwah keluarganya yang telah meninggal dunia menuju penciptanya mendapatkan kemudahan. Jika perjalanannya lancar, maka arwah tersebut dapat menolong anggota keluarga yang masih hidup untuk mencapai kesuksesan dan juga menjaganya sehingga terhindar dari bencana. Tetapi jika perjalanannya tidak lancar, maka arwah orang yang meninggal dunia dapat mencelakakan anggota keluarganya yang masih hidup. Keyakinan seperti ini dapat ditemui dalam masyarakat Islam wetu telu di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indoensia.

Masyarakat Islam wetu telu di Lombok meyakini bahwa arwah orang-orang yang meninggal dunia dapat mempengaruhi, secara positif atau negatif, kehidupan keluarga dan masyarakatnya. Oleh karena itu apabila ada anggota keluarga atau masyarakat yang meninggal dunia, maka mereka segara melaksanakan ritual-ritual pendukungnya. Misalnya ketika ada anggota keluarga yang meninggal di luar daerah tetapi ingin dikuburkan di daerahnya, mereka harus mengadakan selametan mengasuh sebelum orang yang meninggal tersebut dikuburkan. Selametan mengasuh diadakan karena masyarakat Islam wetu telu di Lombok percaya bahwa yang meninggal di luar kampungnya akan membawa penyakit atau malapetaka jika dikuburkan di dalam kampung.  

Agar penyakit yang dibawa oleh orang yang mati tersebut tidak masuk perbatasan desa, maka jenazah orang yang mati tersebut harus dibersihkan dan disucikan dari segala macam potensi buruk yang melekat padanya. Selametan mengasuh bertujuan untuk membentengi desa dari segala derita, penyakit, dan kemalangan, termasuk yang dapat menyerang tanaman dan binatang ternak.

Epen gawe (tuan rumah) dalam selametan mengasuh adalah anggota keluarga orang yang meninggal dunia. Dalam ritual ini, anggota keluarga orang yang meninggal dunia mengorbankan seekor hewan untuk ritual makan bersama (pariapan selametan mengasuh).

rumah adat sasak

Bale Beleq tempat dilaksanakan selametan tolak bala

2. Peralatan dan Tempat Pelaksanaan

Selametan mengasuh diadakan di rumah kerabat orang yang meninggal dunia. Dalam upacara ini, ada beberapa peralatan yang dibutuhkan diantaranya:

  • Seekor hewan untuk dikorbankan dan dimakan bersama dalam pariapan selametan mengasuh.
  • Perlengkapan untuk makan.
  • Lekesan.
  • Kemenyan.

3. Tata Laksana

Orang yang meninggal di luar desa, jika ingin dikuburkan di dalam desa, jenazahnya harus dibersihkan dan disucikan terlebih dahulu. Cara ini dilakukan karena masyarakat meyakini bahwa orang yang meninggal di luar desa akan membawa penyakit dan malapetaka. Oleh karena itu, perlu diadakan selametan mengasuh.

Selamaten mengasuh harus dilakukan sebelum jenazah dimakamkan. Dengan kata lain, sebelum jenasah tersebut dimasukkan ke dalam tanah di daerah mereka, jenazah tersebut sudah harus dalam keadaan bersih dan suci. Untuk melaksanakan selametan ini, anggota keluarga yang meninggal dunia mengorbankan seekor hewan untuk ritual makan bersama yang disebut pariapan selametan mengasuh.

Secara sederhana, tata cara pelaksanaan selametan mengasuh dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  • Setelah jenazah yang meninggal dunia di luar daerah sampai di tempat kerabatnya, kerabatnya tersebut segera memotong seekor hewan untuk lauk pauk selametan.
  • Bersamaan dengan penyembelihan hewan tersebut, epen gawe meminta orang untuk mengundang Kiai, Pemangku, Toaq Lokaq, para bangsawan dan penduduk sekitar untuk hadir dalam selametan mengasuh yang akan diadakan selepas Mangrib.
  • Setelah para undangan semuanya hadir atau dianggap telah mencukupi untuk melaksanakan selametan, kemudian kemenyan dibakar dan selanjutnya penyilak (penata acara) menyampaikan niat diadakannya selametan mengasuh yakni untuk menjamin keselametan dan kesejahteraan seisi desa.
  • Setelah penyilak menyampaikan maksudnya, kemudian Kiai membaca doa agar tujuan selametan ini dikabulkan oleh Tuhan.
  • Setelah pembacaan doa selesai, dilanjutnya dengan acara makan bersama.
  • Setelah seluruh rangkaian acara selametan ini selesai, jenazah dapat segera dikebumikan.

4. Doa atau Mantra

Dalam selametan mengasuh, doa yang dibaca oleh Kiai adalah doa-doa pendek berbahasa Arab. (bacaan doa-doanya  masih dalam proses pengumpulan data)

5. Nilai-Nilai

Selametan mengasuh merupakan salah satu bentuk ekspresi keyakinan bahwa orang yang meninggal dunia di luar daerah ketika hendak dikebumikan harus terlebih dahulu dibersihkan dan disucikan dari segala macam derita dan penyakit yang diyakini dibawa oleh orang yang mati tersebut. Dengan kata lain, derita dan penyakit tersebut dapat pindah kepada orang yang masih hidup jika tidak dibersihkan dan disucikan.

Pada sisi yang lain, pelaksanaan selametan mengasuh merupakan cara masyarakat Islam wetu telu di Lombok melakukan tindakan preventif terhadap segala dampak buruk yang kemungkinan timbul dari meninggalnya seseorang di luar daerah. Lebih lanjut, pelaksanaan selametan ini menunjukkan masih kuatnya nilai komunalitas masyarakat Lombok. Hal ini dapat dilihat dari kepedulian masyarakat untuk saling mendoakan dan berkumpul untuk makan bersama.     

Pelaksanaan selametan mengasuh, dengan demikian, merupakan respon terhadap fenomena sakral yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lokalitas. Bisa saja bentuk penyikapan akan berbeda jika latar belakang sosial-kulturalnya berbeda. Pertanyaan yang mungkin harus dijawab untuk mengkaji selametan ini secara lebih mendalam adalah: Mengapa muncul keyakinan bahwa orang yang meninggal di luar daerah membawa derita dan penyakit? (AS/bdy/6/09-07).

Sumber :

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Bale Beleq, Sentral Tolak Bala, http://www.suarantb.com/2005/04/ 30/wilayah/Mataram/detil3.htm, akses tanggal: 24 September 2007
Dibaca : 11.193 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password