Minggu, 26 Februari 2017   |   Isnain, 29 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 1.958
Hari ini : 2.041
Kemarin : 67.112
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.800.410
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Selametan Kuta (Lombok, Nusa Tenggara Barat)

a:3:{s:3:

1. Asal-usul

Keyakinan bahwa ada Makhluk lain yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan manusia, baik yang bersifat positif ataupun negatif, melahirkan penyikapan-penyikapan yang khas. Jika keberadaan Makhluk tersebut berpotensi positif maka penyikapan itu dilakukan agar nilai-nilai positif yang terkandung dapat terlestarikan, tetapi jika berpotensi menimbulkan kerusakan maka upaya yang dilakukan bertujuan untuk menangkal atau meminimalisir dampak yang kemungkinan timbul. Demikian juga yang dilakukan oleh masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Untuk melindungi dan mencegah desa mereka dari segala macam derita dan bencana, mereka melakukan sebuah ritual yang disebut selametan kuta.

Selametan kuta bertujuan untuk membentengi desa dari segala derita, penyakit, dan kemalangan yang hendak menembus perbatasan desa (kuta/lawang desa). Upacara ini, dengan demikian, ditujukan untuk mencegah segala macam bencana, termasuk yang dapat menyerang tanaman dan binatang ternak. Khusus untuk memelihara tanaman, ritual ini ditujukan untuk melindungi dan mencegah tanaman padi dari penyakit bonga padi atau penyakit abang. Penyakit ini, menyebabkan butir padi menjadi merah tua. Oleh karena tujuan selametan adalah untuk membentengi desa dan melindungi warganya dari segala derita dan penyakit, maka upacara ini dilaksanakan di pintu masuk desa dan diikuti oleh semua warga desa.

2. Peralatan dan Tempat Pelaksanaan

Pintu masuk desa (kuta), merupakan tempat dilaksanakannya selametan kuta. Adapun peralatan yang harus dipersiapkan adalah ketupat (topat). Ketupat adalah beras yang dimasak dalam bungkusan daun kelapa dan berbentuk jajaran genjang. Ketupat merupakan sajian utama selametan kuta, sehingga selametan ini juga disebut dengan sedekah atau selametan topat. 

3. Tata Laksana

Selametan kuta merupakan selametan untuk membersihkan dan mensucikan desa sehingga desanya terbebas dari segala macam bencana. Menjaga desa merupakan tanggungjawab bersama semua warga desa. Oleh karena merupakan tanggungjawab bersama, maka penyelenggaranya adalah semua warga desa. Partisipasi warga desa dapat dilihat dari keseriusam mereka dalam membuat ketupat atau topat.

Urutan pelaksanaan selametan kuta adalah sebagai berikut:

  • Pada hari yang ditentukan, semua warga desa berkumpul di pintu masuk desa (kuta/lawang desa) dengan membawa ketupat.
  • Setelah semua berkumpul, penyilak menyampaikan tujuan acara tersebut kepada semua yang hadir.
  • Setelah penyilak selesai, Kiai memimpin doa permohonan kepada Allah agar desa mereka terlindung dari segala macam bencana.
  • Setelah Kiai selesai berdoa, acara kemudian dilanjutkan dengan makan topat secara bersama-sama.
  • Acara makan topat menandai berakhirnya acara selametan kuta, dan warga desa pulang ke rumah masing-masing dengan harapan desa mereka terbebas dari segala bencana, khususnya yang berkait dengan tanaman padi dan binatang ternak. Dengan kata lain, selametan kuta berisi doa dan harapan warga desa bahwa tahun depan beras yang dihasilkan meningkat, buah-buahan dan binatang ternak bebas dari penyakit.

(Tata cara selametan yang lebih rinci sedang dalam proses pengumpulan data)

4. Doa atau Mantra

Dalam selametan kuta, doa yang dibaca oleh Kiai adalah doa-doa pendek berbahasa Arab yang berisi permohonan agar desa mereka terhindar dari segala macam bencana.

(bacaan doa masih dalam proses pengumpulan data)

5. Nilai-Nilai

Selametan kuta menunjukkan adanya keyakinan, harapan dan usaha yang dilakukan oleh masyarakat Lombok untuk terlepas dari segala macam bencana. Pelaksanaan selametan tersebut merupakan ekspresi dari keyakinan masyarakat Lombok terhadap keberadaan Makhluk lain yang berpotensi menimbulkan disharmoni di dalam masyarakat. Melalui selametan kuta, mereka berupaya membentengi desa mereka dari segala macam bencana. Jika sumber bencana dapat diusir semenjak hendak masuk ke desa, maka dengan sendirinya desa akan menjadi aman. Apa yang dilakukan orang Islam wetu telu menunjukkan bahwa keyakinan dan persepsi manusia terhadap Makhluk halus, misalnya dapat membuat orang celakan,  melahirkan beragam keunikan bentuk-bentuk ritual, seperti selametan kuta ini.

Secara sosial, pelaksanaan selametan kuta merupakan upaya untuk terus membangun solidaritas antar warga khususnya ketika menghadapi ancaman dari luar. Di samping itu, selametan kuta juga menyadarkan segenap warga bahwa mereka hidup bersama maka sudah seharusnyalah melakukannya sesuatu secara bersama-sama baik dalam keadaan susah ataupun bahagia. (AS/bdy/7/09-07).

Sumber :

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Bale Beleq, Sentral Tolak Bala, http://www.suarantb.com/2005/04/ 30/wilayah/Mataram/detil3.htm, akses tanggal: 24 September 2007
Dibaca : 8.426 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password