Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.508
Hari ini : 57.820
Kemarin : 60.495
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.985.628
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Maleman Pitrah Islam Wetu Telu (Lombok, Nusa Tenggara Barat)

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Pada bulan Ramadhan, Islam mewajibkan setiap umatnya untuk membayar zakat fitrah. Kewajiban ini tidak hanya dibebankan kepada mereka yang berpuasa, tetapi juga kepada anak-anak, orang tua, orang yang sakit, bahkan bayi yang lahir di bulan Ramadhan pun wajib dikeluarkan zakat fitrahnya. Zakat fitrah merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada setiap ummat-Nya yang mampu. Kata fitrah merujuk pada kesucian manusia saat baru dilahirkan, sehingga dengan mengeluarkan zakat ini, manusia akan kembali fitrah (suci) seperti seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya. Pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan selama bulan Ramadhan, dari awal sampai akhir Ramadhan.

Orang Islam Wetu Telu di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia juga membayar zakat pitrah (fitrah) sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam yang lain. Hanya saja, mereka mempunyai tata cara tersendiri dalam operasionalnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tata cara pengumpulannya, waktu dan tempatnya, petugas yang mengumpulkannya, dan pendistribusiannya.

Tidak seperti umat Islam lainnya yang hanya mengenal satu jenis zakat fitrah, orang Islam Wetu Telu mengenal dua macam jenis pitrah yang harus dibayarkan, yaitu: pitrah urip yang ditujukan kepada mereka yang masih hidup dan pitrah pati yang dikeluarkan untuk arwah para leluhur atau kerabat yang sudah meninggal. Kedua macam pitrah tersebut, diberikan kepada Kiai dengan niatan mencari kesejahteraan dan perbaikan kehidupan pemberi pitrah di dunia ini hingga di akhirat nanti (ngintik kebecikan lelek dunia kon akhirat).

Pitrah urip dan pitrah pati setara dengan gawe urip dan gawe pati, karena semua itu melibatkan dan menyatukan mereka yang masih hidup dan yang sudah mati. Pembayaran pitrah oleh yang masih hidup bagi yang sudah mati, dan penyelengaraan begawe/gawe oleh yang hidup untuk arwah para leluhur menunjukkan adanya hubungan antara yang masih hidup dengan mereka yang sudah mati.

Orang Islam Wetu Telu membayar pitrah pada malam menjelang dilaksanakannya Shalat Ied (lebaran tinggi). Pitrah dikumpulkan oleh tiap-tiap keluarga di kampu dan gubug masing-masing, selanjutnya diantarkan oleh kurir ke Masjid Kuno untuk diserahkan kepada Kiai Kagungan. Penyerahan pitrah kepada Kiai Kagungan  dilaksanakan ketika para Kiai selesai melaksanakan Shalat Isyak dan mengosap di tiap-tiap komplek pemakaman leluhur.

2. Peralatan

Ada beberapa macam bahan makanan pokok dan buah-buahan yang digunakan untuk membayar zakat, yaitu:

  • Padi, gandum dan Jagung.
  • Ubi kayu dan Ubi jalar.
  • Kacang-kacangan.
  • Rempah-rempah.
  • Arak (terbuak dari beras ketan), diminum oleh para Kiai pada malam penerimaan pitrah, tujuannya agar tidak mengantuk setelah semalaman begadang untuk menerima zakat. Biasanya para Kiai minum arak tidak sampai mabuk.  
  • Buah-buahan seperti: pisang, mangga, dan kelapa.
  • Daun  pisang.
  • Lekesan.
  • Uang tunai dan kepeng bolong (uang logam cina).
  • Kerangjang besar, digunakan sebagai tempat zakat.
  • Air.
  • Bejana tanah liat.
  • Gantang, terbuat dari tempurung kelapa berfungsi untuk menakar beras.

3. Tata Laksana

Lokalitas budaya mempengaruhi beragam upacara keagamaan, seperti yang terlihat pada penyerahan pitrah kelompok Islam Wetu Telu di Lombok Nusa Tenggara Barat. Pitrah diserahkan pada malam menjelang Shalat Ied bertempat di Masjid Kuno kepada Kiai Kagungan (Penghulu, Lebai, dan Ketip). Secara khusus, penyerahan dapat dilakukan setelah para Kiai selesai melaksanakan Shalat Isyak dan, biasanya, baru selesai menjelang dilaksanakannya Shalat Subuh.

Deskripsi  pelaksanaan penyerahan pitrah orang Islam Wetu Telu adalah sebagai berikut:

  • Pada malam terakhir bulan Ramadhan, para Kiai berkumpul di Masjid Kuno. Para Kiai tersebut terdiri dari Kiai Kagungan (Penghulu, Lebai dan Ketip), Kiai Raden, dan Kiai Santri.
  • Setelah semua Kiai berkumpul, mereka menjalankan Shalat Isyak secara berjama‘ah. Bertindak selaku imam Shalat adalah Penghulu.
  • Tetapi sebelum melaksanakan Shalat Isyak, para Kiai terlebih dulu melaksanakan Shalat sunnah dua rakaat sebanyak dua kali. Setelah itu, Shalat Isyak secara berjamaah dilaksanakan.
  • Selesai melaksanakan Shalat Isyak, para Kiai tersebut melaksanakan Shalat sunnah dua raka‘at (ba‘diyah).
  • Selesai Shalat, Kiai Kagungan dan Kiai Raden duduk bersila menghadap ke arah timur. Sedangkan para Kiai Santri duduk berkelompok, di depan Kiai Kagungan dan Kiai Raden, menghadap ke arah barat.
  • Para Kiai Santri kemudian membaca gulungan kulit bertuliskan huruf Arab. Gulungan tersebut berisi khutbah yang akan dibaca saat melaksanakan Lebaran Tinggi (Shalat Idul Fitri) keesokan harinya.
  • Ketika salah seorang dari anggota kelompok Kiai Santri tersebut sedang membaca naskah, anggota kelompok yang lain mendengarkan dengan penuh seksama. Sesekali Kiai Santri senior mengawasi pembacaan dan meluruskan bacaan yang keliru. Pembacaan khutbah dari huruf Arab tersebut dimaksudkan untuk melatih dan mempersiapkan Kiai Santri agar dapat membaca dengan benar khutbah pada Lebaran Tinggi.
  • Setelah semua Kiai Santri selesai membaca, Kiai Santri senior memilih salah satu dari mereka untuk membaca khutbah Idul Fitri (lebaran tinggi) esok harinya. Kiai Santri  yang terpilih biasanya yang paling bagus bacaannya serta paling sedikit salahnya. 
  • Di saat Kiai Santri sedang membaca, para kurir dari tiap kampu dan gubug satu persatu berdatangan ke Masjid Kuno untuk meyerahkan pitrah.  Karena harus masuk ke dalam Masjid Kuno satu persatu, para kurir tersebut harus antri di luar masjid dengan posisi duduk berjongkok. Kurir adalah orang yang bertugas menghantarkan pitrah yang dikumpulkan di kampu dan gubug ke Masjid Kuno. Pitrah biasanya diletakkan di dalam keranjang besar.
  • Pada saat hendak masuk masjid, kurir-kurir itu harus membasuh kaki dan tangan dengan air dari bejana tanah liat di dekat masjid.
  • Setelah memasuki masjid, kurir disambut oleh Kiai Kagungan (Penghuu, Lebai dan Ketip).
  • Sebelum menjabat tangan Kiai Kagungan, kurir meletakkan pitrah di lantai tanah terlebih dahulu kemudian menjabat tangan Kiai Kagungan sambil mengucapkan assalamu‘alaikum dan dijawab wa‘alaikumussalam oleh para Kiai.
  • Tanpa melepaskan jabatan tangannya, Kiai dan kurir mengucapkan Allahumma sali ala Muhammad, waala ali Muhammad.
  • Setelah itu, kedua belah pihak memegangi tepi keranjang secara bersama-sama menggunakan jari tengah dan jari telunjuk
  • Selanjutnya para kurir menyebut nama orang yang menyuruhnya mengantar pitrah, di mana tempat tinggalnya, bagi siapa pitrah itu ditujukan, dan berapa jumlah pitrah yang hendak dibayarkan.
  • Setelah itu, Kiai membaca doa pendek berbahasa Arab.
  • Keranjang berisi pitrah tersebut kemudian diserahkan kepada Kiai Santri untuk dikeluarkan isinya, mengkelompokkan jenis-jenisnya (misalnya beras dengan beras, arak dengan arak dan sebagainya),  dan menaruhnya di salah satu sudut Masjid Kuno.
  • Setelah itu, kurir tersebut pulang dan digantikan dengan kurir yang lain. Demikian seterusnya sampai semua kurir selesai menyerahkan pitrah. Terkadang prosesi penyerahan pitrah baru selesai sekitar pukul 04.00 pagi
  • Setelah semua kurir menyerahkan pitrah, para Kiai Kagungan membagi-bagikan pitrah. Yang mendapatkan jatah pitrah adalah Kiai Kagungan, Kiai Raden dan Kiai Santri.
  • Setelah acara bagi-bagi pitrah selesai, para Kiai melaksankan Shalat Subuh berjamaah dipimpin oleh Kiai Penghulu.
  • Kira-kira pukul 05.00 pagi, para Kiai pulang ke rumah masing-masing sambil membawa pitrah dibantu oleh para pengantar.    
  • Setelah sampai di kampu masing-masing, para Kiai menyembelih hewan (lembu dan  kambing) untuk dimakan bersama semua warga kampu setelah pelaksanaan Shalat Idul Fitri.

Demikiannlah tata cara penyerahan pitrah yang dilakukan oleh orang-orang Islam Wetu Telu, di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

4. Doa dan mantra

Dalam penyerahan pitrah, ada beberapa kalimat dan doa yang diucapkan oleh kurir dan Kiai Kagungan. Teks doa-doa dan kalimat-kalimat diantaranya adalah:

  • Assalamu‘alaikum diucapkan oleh kurir.
  • Wa‘alaikumussalam oleh para Kiai.
  • Allahumma sali ala Muhammad, waala ali Muhammad, diucapkan oleh Kiai dan kurir secara bersama-sama.
  • Ucapan serah terima, misalnya:

Kurir mengucapkan: Bismillahirrahmanirrahim, aku tesuruan cang Amad Ranjinom lelek gubug Padamangko seserahang limang gantang pitrah urip lan rolas oyong pitrah pati lelek dunia sampek akherat wajib perlu karena Allah, wajib perlu karena Allah, wajib perlu karena Allah. Allahumma Sali ala sayidina Muhammad wa‘ala alidin Muhammad. Silak terima tanggap silak. (Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, saya diminta oleh Amaq Rajinom dari Padamangko untuk memberikan 5 gantang (2,5 kilogram) beras sebagai pitrah urip dan dua belas oyong beras pitrah  pati untuk dunia ini dan akhirat, wajib karena perintah Allah, karena perintah Allah, karena perintah Allah. Seperti juga dikatakan oleh Muhammad. Terimalah)

Kiai menjawab: Bismillahirrahmanirrahim, aku terima pitrah Amaq Ranjinom lelek gubug Padamangko, limang gantang pitrah urip lan rolas pitrah oyong pitrah pati lelek dunia sampek akherat, wajib perlu karena Allah. Allahuma Sali ala Sayidina Muhammad wa‘ala alidin Muhammad. (Saya terima pitrah Amaq Ranjinom dari gubug Padamangko, 5 gantang pitrah urip dan 12 oyong pitrah pati untuk dunia dan akhirat, seperti diwajibkan Allah dan diwajibkan Muhammad).

  • Doa-doa pendek berbahasa Arab

5. Nilai-Nilai

Pemberian pitrah di kalangan Islam Wetu Telu di Lombok Nusa Tenggara Barat mengandung beragam tujuan serta hikmah yang tak hanya terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia tetapi juga dengan arwah para leluhur. Hubungan dengan Allah dapat dilihat dari ucapakan wajib perlu karena Allah, dan hubungan dengan sesama manusia dapat dilihat pada pemberian pitrah kepada para Kiai dan para Kiai, dengan doa mereka, memberi imbalan kepada pemberi pitrah dan para leluhur mereka. Sedangkan hubungan dengan arwah para leluhur dapat dilihat dari adanya pitrah pati, yaitu pitrah yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal dunia.

Peralatan-peralatan dan tata cara yang digunakan oleh Islam Wetu Telu dalam membayar pitrah memberi pesan bahwa banyak cara yang digunakan oleh masyarakat untuk memahami keagamaan termasuk di dalamnya dengan menggunaan kaca mata adat. Penggunaan lekesan, uang logam Cina, pengunaan arak, pitrah hanya untuk para kiai,  dan munculnya varian pitrah pati serta tata urutan pelaksanaan secara jelas menunjukkan bahwa agama bukan sesuatu yang beku, tetapi dapat berubah sesuai dengan tradisi masyarakat di mana agama itu ada dan berkembang.

Banyak kritikan terhadap tatacara pembayaran pitrah yang dilaksanakan oleh kelompok Islam Wetu Telu terutama yang terkait dengan penggunaan arak, lekesan, pitrah pati, dan pemberian pitrah kepada Kiai. Semua itu dapat dipahami jika menyadari bahwa bentuk-bentuk ritual sepenuhnya dipengaruhi oleh persepsi dan pengharapan orang atau kelompok kepada sesuatu yang dianggap sakral. (AS/bdy/8/09-07).

Datar Pustaka :

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Zakat Fitrah, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat_Fitrah, diakses tanggal 26 Sepetember 2006
  • Zakat Fitrah Simbol Kepedulian Sosial, dalam http://www.republika.co.id/suplemen /cetak_detail.asp?mid=5&id=146412&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=300, diakses tanggal 26 Sepetember 2006
  • Alimuddin YI, Implikasi Menunaikan Zakat Fitrah, dalam http://www.fajar. co.id/ news.php?newsid=12092, diakses tanggal 26 Sepetember 2006
Dibaca : 12.130 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password