Rabu, 26 Juli 2017   |   Khamis, 2 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 2.963
Hari ini : 7.646
Kemarin : 95.049
Minggu kemarin : 728.948
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.897.725
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Lebaran Tinggi (Perayaan Ritual Idul Fitri di Lombok, Nusa Tenggara Barat)

1. Asal-Usul

Idul Fitri adalah hari kemenangan, di mana umat Islam difitrahkan (disucikan) kembali setelah menjalankan ibadah puasa. Kesadaran akan capaian mereka kembali kepada jati diri nan fitri itu diharapkan akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dan bahkan spirit dari dalam diri yang kuat untuk terus meningkatkan kualitas hidupnya, sebagaimana telah dilakukan pada bulan puasa. Setelah dididik melalui momentum puasa, maka untuk merayakannya umat Islam mengadakan syukuran atas nikmat fitri (kesucian seperti bayi yang baru lahir) yang dikaruniakan Allah melalui Idul Fitri.

Ungkapan syukur akan nikmat Allah tersebut juga dilakukan oleh orang-orang Islam Wetu Telu di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Setelah melakukan beragam ritual sejak sebulan sebelum puasa (Rowah Wulan dan Sampek Jum‘at) dan pada malam bulan Ramadhan seperti upacara Meleman Qunut, Maleman Likuran, dan Maleman Pitrah, mereka mengadakan Lebaran Tinggi, merupakan ungkapan orang Islam Wetu Telu untuk menyebut hari raya Idul Fitri. Ungkapan Lebaran Tinggi merupakan cara orang Islam Wetu Telu untuk menunjukan bahwa upacara yang diadakan sebagai penutup bulan Ramadhan tersebut mempunyai nilai yang sangat penting. 

lebaran tinggi Kiai Penghulu bertugas
memimpin ritual adat dan keagamaan

Ada satu hal yang cukup menarik untuk diperhatikan dalam pelaksanaan Lebaran Tinggi yang diadakan oleh orang-orang Islam Wetu Telu, yaitu bahwa yang melaksanakan Shalat Idul Fitri hanyalah kelompok para Kiai saja. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan pelaksanaan Shalat Idul Fitri secara umum, di mana jamaahnya semua umat Islam tanpa dibedakan oleh latar belakang sosial, politik, umur dan jenis kelamin. Namun demikian, walaupun yang melaksanakan Shalat Idul Fitri terbatas pada kelompok Kiai saja, bukan berarti orang awam tidak terlibat sama sekali. Peran orang awam di sini adalah untuk mendukung terselenggarnya perayaan Lebaran Tingggi, misalnya: menyiapkan air untuk membasuh kaki, membuat ancak (tempat makanan ritual terbuat dari anyaman bambu), menyiapkan makanan dalam sampak (nampan dari tanah liat), dan sebagainya. Dengan kata lain, perayaan Lebaran Tinggi tidak akan terlaksananya dengan baik jika tidak ada dukungan dari orang awamnya. 

2. Peralatan dan Tempat Pelaksanaan

Kelompok Islam Wetu Telu melaksanakan Lebaran Tinggi (Shalat Idul Fitri) di dua tempat, yaitu: Masjid Kuno dan berugak, tempat untuk duduk-duduk khas masyarakat Lombok saat berkumpul dan bersantai. Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan Lebaran Tinggi diantaranya adalah:

  • Ancak beleq (ancak besar) dan ancak berik (ancak kecil). Ancak terbuat dari anyaman bambu yang digunakan sebagai tempat makanan ritual. Makanan ritual dalam ancak kemudian ditutupi dengan daun pisang.
  • Sampak, nampan dari tanah liat.
  • Sembek.
  • Lekesan (pabuan kerahayuan).
  • Bedug

3. Tata Laksana

Tata cara pelaksanaan ritual Lebaran Tinggi (Shalat Idul Fitri) yang diadakan oleh Kelompok Islam Wetu Telu adalah sebagai berikut: 

  • Pagi-pagi sekali, warga masyarakat menyiapkan ancak dan sampak serta memotong hewan untuk dimakan pada Pariapan Ngangkat Sareat Lebaran Tinggi.
  • Setelah semua persiapan dianggap cukup, para Kiai melakukan ritual bersih diri di sungai.
  • Selanjutnya para Kiai memasuki Masjid untuk melakukan Shalat Idul Fitri.
  • Kemudian Penghulu menabuh bedug Masjid untuk memberitahukan bahwa Shalat Ied akan segera dimulai.
  • Selanjutnya Ketip mengumandangkan adzan.
  • Setelah itu, pelaksanaan Shalat Idul Fitri dimulai dengan dipimpin Penghulu, Kiai Raden berdiri di belakang Penghulu dan para Kiai Santri berdiri di baris belakang.
  • Sesudah Shalat, salah seorang Kiai Santri dengan dikawal dua Kiai Santri lainnya mendekati Kiai Kagungan. Ia duduk bersila untuk menerima jungkat (tongkat kayu) dari Ketip.  
  • Kemudian ia berjalan menuju mimbar Masjid dan duduk di situ. Dua Kiai Santri yang mengawal kembali ke tempat semula dan bersiap mendengarkan khutbah.
  • Kiai Santri duduk di mimbar dan membuka gulungan perkamen berbahasa Arab dari pakaiannya dan membacanya.
  • Setelah pembacaan khutbah selesai, para pengantar yang membawa ancak sebagai utusan kampu dan gubug,  memasuki Masjid Kuno, tapi sebelum masuk mereka harus membasuh kaki dan tangannya.
  • Di dalam Masjid mereka duduk berjajar, menunggu giliran untuk mendekati Kiai Kagungan.
  • Jika telah berada di depan Kiai Kagungan, mereka menjabat tangan Kiai Kagungan (Penghulu, Ketip dan Lebai) seraya mengucapkan assalamualaikum.
  • Lalu mereka menyerahkan ancaq beleq (ancak besar) kepada Kiai Kagungan, dan memberikan ancak berik (ancak kecil) kepada Kiai Santri.
  • Setelah pengantar dari kampu dan gubug selesai, pemimpin adat mewakili semua komunitas adat mengutarakan maksud diselenggarakannya ritual berakhirnya bulan puasa (pariapan ngangkat sareat lebaran tinggi).
  • Setelah menyatakan itu, Penghulu mengucapkan doa pendek, dan meminta para Kiai lain untuk makan bersama.
  • Penghulu mengakhiri acara makan bersama itu dengan membaca doa singkat dalam bahasa Arab. Doa itu juga menandai berakhirnya perayaan ritual di Masjid Kuno.
  • Selanjutnya para Kiai melakukan Mas Doa (mengumpulkan sembek) di komplek pemakaman leluhur.
  • Setelah acara Mas Doa, Penghulu memimpin upacara pengucapan janji (sesangi) dan membayar kaul (saur sesangi) di depan Masjid Kuno. Mereka mengatakan akan memberikan uang, ternak, unggas, beras, dan makan lain kepada Penghulu jika harapan mereka terkabul. Mereka yang terkabul permintaannya memberikan barang sesuai yang sudah mereka janjikan.
  • Sesudah semua orang selesai melakukan sesangi dan saur sesangi, Penghulu menyampaikan kembali apa yang telah dijanjikan oleh tiap-tiap individu dan juga pembayaran yang dilakukan oleh masyarakat atas tercapainya keinginan mereka.
  • Setelah itu, Penghulu membaca doa singkat dan memercikkan air ke telapak tangan semua orang dan orang-orang tersebut kemudian mengusapkannya ke wajah mereka. Air yang dipercikkan tersebut merupakan air keramat karena telah diinapkan, saat melakukan upacara mengosap, di pemakaman keramat leluhur dengan menggunakan bejana kayu.

Lebaran Tinggi juga dirayakan oleh masing-masing gubug dengan menyelenggarakan  makan bersama (pariapan). Makanan ritual untuk merayakan Lebaran Tinggi di tiap-tiap kampu disajikan di atas nampan tanah liat (sampak). Pariapan Ngangkat Sareat Lebaran Tinggi  yang diadakan di tiap-tiap kampu tidak hanya dihadiri oleh Kiai Kagungan, tetapi juga oleh pemuka adat lain dari lingkungan tersebut seperti Pemangku dan Toaq Loqak (tetua atau anggota senior komunitas).

Acara makan ritual ini dilangsungkan di Berugak. Kiai membacakan doa pendek untuk membuka dan menutup acara makan bersama itu. Sesudah itu, semua anggota komunitas yang hidup di sekitar kampu, khususnya mereka yang berpartisipasi dalam mempersiapkan hidangan ritual, ikut makan.

4. Doa dan Bacaan Lainnya

Doa-doa yang dibaca dalam Lebaran Tinggi adalah:

  • Doa untuk Shalat Idul Fitri.
  • Adzan, sebagai tanda bahwa Shalat Idul Fitri akan segera dimulai.
  • Pembacaan Khutbah.
  • Do‘a pendek berbahasa Arab untuk memulai dan menyudahi acara makan bersama.

5. Nilai-Nilai

Ada beberapa nilai  terkandung dalam perayaan Lebaran Tinggi yang dilakukan oleh orang Islam Wetu Telu, diantaranya: Pertama, sosial. Dimensi sosial dalam perayaan ritual Lebaran Tinggi dapat dilihat pada ritual makan bersama. Untuk melaksanakan makan bersama, setiap warga ikut berpartisipasi menyumbangkan bahan-bahannya. Khusus para Kiai menyediakan lauk-pauknya, misalnya dengan menyembelih kerbau atau kambing.  Kedua, politik. Pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang hanya diikuti oleh kelompok Kiai dapat dipahami sebagai upaya para Kiai untuk menjaga hegemoninya kepada masyarakat khususnya yang berkait dengan persoalan agama. Namun demikian, hal tersebut juga dapat dipahami bahwa ada pembagian tugas atau peran antara para Kiai dengan masyarakat awam. Para Kiai menyelenggarakan ritual sedangkan orang awam mendukung agar perayaan ritual dapat berjalan. Dan ketiga,  sakral. Oleh karena Lebaran Tinggi merupakan ritual keagamaan, maka sudah pasti didalamnya terkait dengan hal-hal yang bersifat sakral (suci). Dari perayaan ritual yang diadakan oleh orang Islam Wetu Telu kita dapat mengetahui, walaupun agak samar, konsep Ultimate Reality yang dipahami mereka. Hal tersebut, setidak-tidaknya, dapat dilihat dari pelaksanaan ritual Lebaran Tinggi yang hanya dilakukan oleh kelompok Kiai, masuk Masjid Kuno dengan mencuci kaki, penggunaan ancak, lekesan, dan sebagainya.

Walaupun banyak kritik terhadap pelaksanaan Shalat Idul Fitri (Lebaran Tinggi) yang dilaksanakan oleh orang-orang Islam Wetu Telu, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil sebagai bekal untuk hidup, yaitu bahwa tatacara perayaan ritual Lebaran Tinggi yang sedikit banyak berbeda dengan kelompok Islam lainnya menunjukkan bahwa Islam mempunyai banyak wajah. Pengetahuan ini dapat menjadi key word untuk melakukan intra-religious dialogue sehingga tercipta sebuah kondisi saling memahami, mengerti, dan mau menerima eksistensi masing-masing. (AS/bdy/9/09-07).        

Sumber Bacaan:

  • A Malik Haramain, Momentum Koreksi Diri, dalam https://www.kompas.com/ kompas-cetak/0411/13/lebaran/1383521.htm, diakses tanggal 27 September 2007.
  • Abdul Munir Mulkhan, Fitrah Ketika Berada di Tengah Ancaman Teror, dalam  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0212/05/opini/41231.htm, diakses tanggal 27 September 2007.
  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Hidayat Nur Wahid, Mengapresiasi Jati Diri dengan Idul Fitri, dalam http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=269492&kat_id=49&kat_id1=&kat_id2= diakses tanggal 27 September 2007.
  • Heru Prasetia, Secuil Catatan Lapangan Penelitian Wetutelu Lombok, dalam http://lafadl.wordpress.com/2007/03/13/secuil-catatan-lapangan-penelitian-wetutelu-lombok/, diakses tanggal 27 September 2007.
  • Heru Prasetia, Komunitas Wetu Telu Lombok bertahan di tengah badai, dalam http://lafadl.atspace.org/infolafadl/penelitian/lombok.html, diakses tanggal 27 September 2007
  • Wetu Telu, Kearifan Tradisional di Lereng Utara Rinjani, dalam http://impalaunibraw.or. id/dat/detail.php?id=12_0_1_0_M, diakses tanggal 21 September 2007.
Dibaca : 11.466 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password