Selasa, 23 September 2014   |   Arbia', 28 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 990
Hari ini : 5.003
Kemarin : 16.588
Minggu kemarin : 144.183
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.147.759
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Lebaran Topat (Lombok, Nusa Tenggara Barat)

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Seminggu setelah melaksanakan Lebaran Tinggi (hari raya Idul Fitri), masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia mengadakan Lebaran Topat (hari raya ketupat). Lebaran Topat merupakan penutup dari pelaksanaan puasa Sunnah Syawal yang dilaksanakan sejak tanggal 2 sampai 7 Syawal. Dalam masyarakat Lombok, Lebaran Topat juga dikenal dengan sebutan Lebaran Nine (lebaran wanita). Sebutan Lebaran Nine pada hari raya ketupat merupakan cara masyarakat Lombok untuk membedakan dengan Lebaran yang diadakan setelah berpuasa selama sebulan di bulan Ramadhan yang disebut Lebaran Mame (lebaran pria).

Di Lombok, walaupun puasa Syawal merupakan puasa Sunnah, banyak orang terutama yang berusia di atas 40 tahun baik laki-laki maupun perempuan, dan ada juga para remaja, yang berpuasa. Sedangkan bagi kaum ibu yang pada bulan Ramadan tidak berpuasa karena datang bulan (haid), biasanya juga mengganti puasanya pada awal bulan Syawal karena pahalanya akan berlipat ganda, pahala puasa wajib dan pahala puasa Sunnah.

Oleh karena banyak masyarakat Lombok yang melaksanakan puasa Sunnah, sekitar pukul 03.00 WITA banyak masjid yang secara rutin tetap membangunkan masyarakat dari tidurnya melalui pengeras suara untuk makan sahur, seperti pada saat bulan Ramadan. Setelah enam hari berpuasa Sunnah, masyarakat merayakannya dengan menyelenggarakan Lebaran Topat. Dengan kata lain, orang yang berhak merayakan Lebaran Topat adalah mereka yang melaksanakan puasa Sunnah.

Seiring dengan berjalannya waktu, Lebaran Topat tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berpuasa tetapi oleh semua masyarakat Lombok. Lebaran Topat tidak lagi sebagai ritual keagamaan eksklusif orang yang berpuasa, tetapi juga oleh orang yang tidak berpuasa. Oleh karena Lebaran Topat telah menjelma menjadi tradisi masyarakat Lombok, maka perayaannya terkadang lebih meriah dari perayaan Idul Fitri.

Setelah terjadi perubahan dari sekedar ritual keagamaan pasca puasa Sunnah menjadi tradisi kultural masyarakat, perayaan Lebaran Topat tidak hanya dirayakan dengan selamatan tetapi juga dirayakan dengan melakukan rekreasi ke sejumlah objek wisata, khususnya pantai. Lebih lanjut, seiring upaya pemerintah menjadikannya sebagai media untuk menarik wisatawan, tidak mustahil Lebaran Topat pada akhirnya akan menjadi sekedar festival tahunan masyarakat Lombok yang kehilangan nilai-nilai kesakralannya.

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Lebaran Topat diadakan seminggu setelah perayaan Shalat Idul Fitri. Adapun tempat yang digunakan oleh masyarakat Lombok adalah:

  • Rumah, sebagai tempat melaksanakan selamatan.
  • Masjid. Biasanya beberapa keluarga yang berada di sekitar masjid mengadakan acara selamatan secara bersama-sama.
  • Makam Keramat. Masyarakat Lombok mengunjungi Makam Keramat setelah melakukan ritual selamatan di rumah atau masjid. Makam keramat yang biasanya dikunjungi adalah Makam Loang Baloq dan Makam Batu Layar.  
  • Objek wisata. Objek wisata yang menjadi tujuan favorit masyarakat Lombok untuk merayakan Lebaran Topat adalah Pantai Senggigi, Pantai Batulayar, Krandangan, Pantai Segara, Pantai Ampenan, Pantai Mapak, Pantai Skip, Pantai Cemara dan Pantai Induk, Taman Narmada, Taman Suranadi, dan Makam Loang Baloq.

3. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan untuk merayakan Lebaran Topat adalah:

  • Ketupat (Topat), yaitu beras yang dibungkus dengan janur dan kemudian direbus. Ketupat merupakan hidangan utama dalam Lebaran Topat.
lebaran topat
Ketupat merupakan sajian utama dalam perayaan Lebaran Topat
  • Beras, digunakan sebagai isi ketupat.
  • Janur, digunakan sebagai pembungkus beras.
  • Sirih untuk besembek, sirih yang sudah dikunyah lalu dioleskan di kening.
  • Air dari Lingkok Mas (sumur/sumber mata air).
  • Kembang setaman
  • Dulang sanganan (tempat makanan).
  • Dulang pesaji topat (tempat menyajikan ketupat)
  • Dulang penamat,  berisi topat di tengah talam dilengkapi minimal sembilan macam lauk-pauk
  • Lauk-pauk seperti: sambel nyiuh, pelalah dan sit-sit jejeruk.

4. Tata Laksana

Secara umum, terdapat perbedaan dalam pelaksanaan Lebaran Topat antara penganut Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima. Islam Wetu Telu untuk merayakan Lebaran Topat terlebih dahulu melakukan Sembahyang Qulhu Sataq, sedangkan penganut Islam Waktu Lima tidak melakukannya. Kata “Qulhu” berasal dari kata Qulhuallahu ahad (katakanlah bahwa Allah itu satu), yang merupakan ayat pertama dari surat al-Ikhlas, sedangkan kata “Sataq” berarti seratus kali. Dengan demikian, Sembahyang Qulhu Sataq adalah Shalat empat rakaat dengan pembacaan surat al-Ikhlas sebanyak 100 kali.

Makanan yang disajikan dalam Lebaran Topat baik oleh penganut Islam Wetu Telu ataupun Islam Waktu Lima adalah sama, yaitu ketupat. Dan acara-acara perayaan yang dilakukan sesudahnya juga relatif sama. Adapun perayaan Lebaran Topat adalah sebagai berikut:

  • Sehari menjelang pelaksanaan Lebaran Topat, setiap keluarga mencari janur untuk dibuat ketupat. Seiring perkembangan zaman, saat ini sudah banyak orang yang menjual janur atau yang sudah berbentuk kulit ketupat sehingga tinggal mengisinya dengan beras. 
  • Pagi-pagi sekali, para ibu rumah tangga merebus ketupat. Khusus untuk kelompok Islam Wetu Telu, ketupat  dipersiapkan oleh komunitas kampu atau gubug.
  • Setelah masak, sekitar jam 06.00 pagi, barulah selamatan dilakukan. Ada yang mengadakan selamatan di rumah dan ada juga yang mengadakannya di Masjid. Bagi yang mengadakan di rumah, mereka mengundang para tetangga sekitar. Sedangkan selamatan di Masjid, biasanya dilakukan dan dihadiri oleh beberapa keluarga yang rumahnya berada di sekitar masjid. Khusus kelompok Islam Wetu Telu, selamatan diadakan di Masjid Kuno.
  • Setelah para undangan berkumpul untuk melakukan selamatan, baik yang di Masjid ataupun di rumah, seorang Kiai segara memimpin jalannya ritual tersebut. Khusus untuk Islam Wetu Telu, acara selamatan diawali dengan melakukan Sembahyang Qulhu Sataq dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa pendek berbahasa Arab dengan dipimpin oleh Kiai Penghulu.
  • Kemudian dilanjutkan dengan acara makan ketupat bersama.
  • Setelah selesai makan, mereka mempersiapkan diri untuk melakukan kegiatan selanjutnya, yaitu mengunjungi makam keramat atau pergi ke tempat-tempat wisata.         
  • Biasanya makam keramat yang dikunjungi adalah Makam Loang Baloq dan Makam Batu Layar yang berada di kawasan Pantai Senggigi. Bagi yang rumahnya dekat dengan makam tersebut, biasanya datang ke sana dengan berjalan kaki. Sedangkan yang rumahnya jauh biasanya menggunakan cidomo, kereta kuda/dokar, yang telah dihiasi janur dan gantungan ketupat.
  • Sebelum sampai di daerah Makam Batulayar, para pengunjung yang punya niat tertentu (besangi), misalnya agar risqinya melimpah, menuju Lingkok Mas untuk mengambil air.
  • Untuk mengambil air dari Lingkok Mas tersebut, mereka dipandu oleh tokoh masyarakat dan Marbot (orang yang bertugas menjaga tempat ibadah).
  • Air itu kemudian dibawa ke makam Batulayar untuk diupacarakan (bejanjam) dengan pembacaan doa dan dzikir. Kegiatan ini biasanya dipimpin oleh penjaga makam.
  • Setelah acara doa selesai,  kemudian dilakuan acara besembek (mengolesi kening dengan sirih yang telah dikunyah), kejames (membasahi bagian kepala dengan air), dan beseraup (mengusapkan air ke muka).
  • Sebelum meninggalkan makam, para pengunjung mengambil air makam yang berisi kembang setaman dan memasukkannya ke dalam botol untuk dibawa pulang. Ada sebagian masyarakat yang percaya bahwa air makam tersebut dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ada juga yang percaya bahwa air dari makam Batulayar itu dapat memperbanyak hasil pertanian.
  • Setelah itu, para pengunjung pergi ke Pantai Senggigi dan pantai lainnya untuk berwisata.
lebaran topat 
Masyarakat Lombok melaksanakan Lebaran Topat di Pantai Senggigi

5. Doa-doa

Doa-doa yang dibaca dalam Lebaran Topat adalah:

  • Pembacaan doa pendek berbahasa Arab di rumah atau Masjid
  • Khusus penganut Islam Wetu Telu membaca surat al-Ikhlas seratus kali, surat al-Fatihah, dan doa-doa untuk melaksanakan  Sembahyang Qulhu Sataq yang terdiri dari empat rokaat.
  • Doa dan dzikir di Makam Keramat

6. Nilai-Nilai

Dalam perayaan Lebaran Topat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kita dapat mengetahui bahwa perayaan tersebut mengandung dua dimensi yaitu dimensi sakral dan sosial. Dimensi sakral berkaitan dengan persepsi dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan dimensi sosial berkaitan dengan upaya menjaga harmoni kehidupan antar sesama.

Penggunaan ungkapan Lebaran Nine atau lebaran wanita terhadap Lebaran Topat menunjukkan bahwa Lebaran ini mempunyai posisi penting dalam ekspresi keislaman masyarakat Lombok. Lebaran Topat adalah pasangan Lebaran Mame (Idul Fitri). Oleh karena itu, perayaan Lebaran Topat agaknya mempunyai tujuan yang sama dengan Lebaran puasa Ramadhan. Yaitu untuk mencapai kehidupan yang fitri, suci.

Penggunaan ketupat yang berbentuk segi empat sebagai nama Lebaran dan menu makan utamanya merupakan khasanah kearifan lokal masyarakat untuk mengingatkan manusia terhadap asal muasalnya.  Ketupat berbentuk segi empat menunjukkan bahwa manusia terdiri dari air, tanah, api dan angin.

Lebaran Topat juga bisa diartikan menjauhkan diri dari nafsu kebendaan dan membersihkan batin dari sikap dengki dan iri hati setelah nuraninya terjerembab oleh ego dan kemeriahan budaya materi yang semu. Ritual berseraup atau membasuh muka dengan air memberi makna bahwa tindakan tersebut merupakan cara untuk membersihkan kotoran yang melekat di wajah. Jika wajah dan hatinya bersih, maka orang itu tidak akan sakit baik secara fisik ataupun mental.

Mengambil air di Lingkok Mas mempunyai arti bahwa air laksana emas yang mahal harganya dan sangat penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, air harus dijaga kebersihannya supaya tidak tercemar oleh bermacam limbah yang dapat menyebabkan makhluk hidup menjadi sakit, dan tanaman tidak bisa tumbuh dan berkembang.

Sedangkan kegiatan besambek bertujuan agar manusia tenang menjalani kehidupan, alam pikiran tetap jernih, terbebas dari segala macam gangguan (jin dan setan) termasuk untuk mendapatkan rezeki yang halal. Sebagaimana disebutkan dalam pepatah Sasak:

Manis-manis buak ara
Pedis-pedis rasen nasi
Manis rasanya si buah ara
Kecut-kecut rasanya nasi

Pepatah di atas mengandung pesan bahwa menyantap makanan hasil keringat sendiri terasa lebih nikmat, ketimbang disuguhkan makanan yang lezat namun didapat dengan cara yang tidak halal.

Selain itu, Lebaran Topat juga dapat menjadi otokritik dan introspeksi bagi manusia untuk mengenal kembali jati dirinya setelah menempuh perjalanan hidup selama satu tahun, yang banyak diwarnai dengan dosa individual dan dosa sosial. Pepatah Sasak mengatakan “dendek ipuh pantok gong” (tak usah segan memukul/membunyikan gong). Pepatah tersebut mengingatkan manusia agar mengoreksi diri, di antaranya terbuka terhadap saran dan kritik orang lain. Selain itu, acara makan ketupat bersama-sama menunjukkan masih terpeliharanya nilai-nilai kebersamaan di antara mereka.

Namun demikian, banyaknya potensi yang terkandung dalam perayaan Lebaran Topat, khususnya aspek ekonominya, harus disikapi secara bijaksana. Kesalahan dalam menyikapinya, tidak mustahil akan menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya sehingga kegiatan ritual ini hanya akan menjadi pesta rakyat yang kehilangan ruhnya. (AS/bdy/12/10-07).

Daftar Pustaka :

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Event Lebaran Topat; Dari Ritual ke Pesta Rakyat, dalam http://www.balipost.co.id/balipostcetak /2003/12/4/nt2.htm, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Keamanan Kawasan Pantai; Diprioritas Saat Lebaran Topat, dalam http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/12/2/nt4.htm, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Lebaran Topat (Ketupat); Dari Ritual ke Pesta Rakyat, dalam http://buletin.melsa.net.id/lebaran1425/topat.html, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Suasana Puasa Masih Terasa di Lombok, dalam http://www.kapanlagi.com/h/0000195270.html, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Pesan-pesan Budaya Lebaran Topat, dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/25/daerah/1399300.htm, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Lebaran Topat, Puncak Keramaian Idul Fitri, dalam http://www.suarantb.com/2006/10/30/Sosial/xdetil.html, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Ribuan Warga Padati Pusat-pusat Perayaan Lebaran Topat, dalam http://www.suarantb.com/2006/11/01/Hiburan/xdetil4.htm, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Lebaran Topat di Senggigi Dimeriahkan 10 Ribu Orang, dalam http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/nusatenggara/2005/11/10/brk,20051110-69041,id.html, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Ribuan Warga Menyemut di Pantai Bangsal, dalam  http://www.suarantb.com/2006/11/01/Hiburan/xdetil2.htm, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
  • Perayaan Lebaran Topat; Senggigi Dibanjiri Ratusan Ribu Pengunjung, dalam http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=49288, Diakses tanggal 17 Oktober 2007
Dibaca : 9.920 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password