Rabu, 13 Desember 2017   |   Khamis, 24 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 2.099
Hari ini : 14.037
Kemarin : 36.474
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.954.109
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bai Mpole (Upacara Masa Kehamilan, Suku Dampelas, Sulawesi Tengah)

1. Asal-Usul

Mempunyai anak merupakan salah satu tujuan dari menikah. Oleh karena itu, masa awal kedatangan calon bayi yang ditandai oleh kehamilan sang istri biasanya oleh keluarganya disambut dengan melakukan ritual-ritual tertentu sehingga janin yang dikandung dan sang ibu yang mengandung senantiasa mendapakan keselamatan. Demikian juga yang dilakukan oleh masyarakat suku Dampelas, Sulawesi Tengah, Indonesia. Agar bayi yang dikandung dan ibu yang mengandung terhindar dari segala macam bencana, mereka meminta (berdoa) kepada Tuhan dengan mengadakan upacara masa kehamilan yang disebut Bai Mpole. Selain agar terhindar dari segala macam bencana, upacara ini juga bertujuan agar diberikan kesehatan, kekuatan serta rezeki yang banyak dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam upacara ini, ada dua orang yang berperan sangat penting, yaitu orang tua laki-laki dan dukun desa. Orang tua laki-laki mempersiapkan seluruh perlengkapan upacara dan dukun kampung (sando ngapa) mengatur dan memimpin jalannya upacara. Di samping itu, ada orang lain yang kehadirannya diperlukan, khususnya untuk menjadi saksi upacara, yaitu: sang suami, tetua adat, dan sanak keluarga.

2. Tempat, Waktu dan Peralatan Upacara

a. Tempat

Jika sang suami dan istrinya yang sedang hamil sudah mempunyai rumah, maka upacara Bai Mpole diadakan di rumah mereka sendiri. Tetapi jika belum mempunyai rumah sendiri, maka upacara tersebut diadakan di rumah salah satu orang tua yang punya hajat, baik orang tua dari pihak laki-laki ataupun orang tua dari pihak perempuan.

b. Waktu

Tidak ada waktu-waktu khusus untuk melaksanakan upacara Bai Mpole. Hanya saja ada beberapa pertimbangan yang dijadikan pedoman untuk segera melaksanakannya, yaitu: ketika perut sang istri sudah kelihatan besar (mencuat ke depan); mempunyai kemampuan untuk melaksanakan upacara, misalnya setelah masa panen (sawah dan atau kebun); dan belum memasuki masa-masa akan melahirkan.

c. Peralatan Upacara

Peralatan-peralatan yang digunakan untuk melaksanakan upacara Bai Mpole dipersiapkan oleh pihak keluarga laki-laki. Peralatan-peralatan tersebut diantaranya adalah:

  • Satu buah tikar (ompa lambori). Tikar ini biasanya terbuat dari pandan hutan yang banyak terdapat di pinggir pantai.

  • Dua buah dulang (tempat untuk meletakkan barang), yaitu dulang berkaki dan dulang tidak berkaki. Dulang pertama berisi: tempat sirih pinang lengkap (salapa), tempat air ludah yang terbuat dari kuningan (pompen uang) sebanyak dua buah, Mangkok putih (tubung), mayang pinang dan mayang pinang hutan (vongu) yang masih kuncup. Sedangkan dulang kedua berisi: Satu pasang (celana payama) pakaian adat dan bajunya, satu stel pakaian perempuan (baju, sarung, dan selendang), sigar, keris, sarung adat, kain putih dua meter, pisau, dan satu ekor ayam jantan.

  • Kemenyan

  • Air sungai

3. Tata Laksana

Tahapan-tahapan upacara tradisional biasanya mengikuti urutan-urutan yang telah diwarisi dari para pendahulunya, demikian juga dengan upacara Bai Mpole. Jika dalam melaksanakan upacara tidak sesuai dengan urutan, maka upacara tersebut tidak sah sehingga tujuan upacara tidak akan tercapai. Oleh karena itu, segala macam yang berkaitan dengan upacara dipersiapkan secara cermat. Adapaun tahapan upacara Bai Mpole adalah sebagai berikut:

  1. Pada malam sebelum diadakan upacara, orang yang hendak mengadakan upacara memanggil seorang dukun. Tujuan pemanggilan dukun tersebut adalah untuk mempersiapkan perlengkapan upacara sebagaimana ditentukan oleh adat, yaitu: berupa dua buah dulang lengkap dengan isinya.
  2. Kemudian tikar dibentangkan di dekat tempat tidur dan dukun duduk bersila mempersiapkan perlengkapan upacara. Selama dukun mempersiapkan upacara, suami-isteri, yang hendak mengadakan upacara, duduk di hadapan sang dukun dan keluarga lainnya duduk mengelilinginya sebagai saksi.
  3. Apabila persiapan telah selesai, sang dukun membacakan mantera dengan meletakkan tangannya dan tangan kedua suami istri secara tertelungkup di atas perlengkapan.
  4. Setelah semuanya  disiapkan, perlengkapan tersebut diletakkan di atas tempat tidur suami-istri tersebut, yaitu pada bagian kepalanya.
  5. Kemudian dukun dan keluarga yang menyaksikan tadi keluar kamar meninggalkan suami istri di dalam kamar. Suami-istri tersebut tidak boleh keluar kamar sampai keesokan harinya ketika upacara Bai Mpole dilaksanakan. Pada malam itu, suami-istri tersebut tidur bersama perlengkapan upacara. Sedangkan sang dukun tidur di bagian lain dari rumah tersebut.
  6. Pada pagi harinya, ketika suami-istri tersebut sudah bangun dari tidurnya, sang dukun memasuki kamar tidur suami-istri tersebut.
  7. Kemudian suami-istri tersebut duduk bersimpuh di atas tempat tidur sambil membakar kemenyan dan membaca mantera seperti yang dibaca tadi malam.
  8. Sesudah itu mereka keluar kamar dan langsung ke sungai untuk dimandikan oleh sang dukun. Jika sungai letaknya jauh, maka acara mandi dilaksanakan di rumah, tetapi air yang dipergunakan harus diambil dari sungai.
  9. Sesampainya di sungai (tempat mandi), maka yang hendak mengadakan upacara memakai sarung dan duduk menghadap ke arah timur, arah terbit matahari. Sedangkan sang dukun berdiri di belakangnya.
  10. Kemudian sang dukun menyiramkan air sebanyak tiga kali dengan menggunakan mangkok (tubung). Namun sebelum menyiramkan air, sang dukun meletakkan mayang pinang dan memukulkan sebanyak tiga kali di atas kepala suami-istri tersebut.  
  11. Sesudah itu, sang dukun mengambil mayang pinang hutan (vungu) dan memukulkan sebanyak tiga kali di atas kepala suami-istri tersebut, dan menyiramkan air sebanyak tiga kali berturut-turut melalui mayang pinang tadi.
  12. Setelah proses itu, suami-istri dapat mandi sepuas-puasnya.
  13. Mayang pinang yang tadi dipergunakan digantungkan di depan tangga rumah suami-istri tersebut. Keberadaan mayang pinang tersebut menunjukkan bahwa di dalam rumah itu terdapat orang hamil.
  14. Kemudian suami istri tersebut berpakaian yang baik dan duduk di tempat yang telah ditentukan untuk disaksikan seluruh keluarga dan para undangan.
  15. Kemudian sang dukun dengan membawa ayam yang telah dipersiapkan duduk bersimpuh di depan suami istri tersebut.
  16. Kemudian sang dukung memotong sedikit balung ayam dengan pisau.
  17. Darah ayam yang keluar kemudian diambil dengan ibu jari sang dukun dan menggosokkan (cera) di atas kening kedua suami-istri tersebut sambil membacakan mantera.
  18. Dilanjutkan dengan pembacaan doa penutup upacara.
  19. Kemudian disajikan makanan dan minuman. Penyajian makan dan minum tersebut menjadi bagian akhir dari rangkaian upacara Bai Mpola.

4. Doa dan Mantra

Adapun doa dan mantra yang dibacakan pada upacara Bai Mpole adalah:

  • Ketika menyiapkan perlengkapan upacara:

"Nanimo adaitohiulu ita, ndoumo melolo ngana amu bija-bija mu ipuhinya". Artinya: " Sudah ini adat orang tua kita dahulu dan kalau ada turunannya, tidak mencari-cari lagi"

  • Ketika menggosokkan (cera) di atas kening kedua suami-istri

"siopung masalai-nata tohopea ngana, tahanga tomea ngana" Artinya : Dimohonkan kepada Tuhan supaya anak yang dilahirkan selamat, juga ibunya yang melahirkan.

  • Doa selamat menggunakan bahasa Arab.

5. Nilai-nilai

Bai Mpole  adalah cara orang Dampelas, Sulawesi Tengah mensyukuri kehamilan dan memohon keselamatan calon bayi dan ibunya kepada Tuhan. Sebagai sebuah ritual, ada banyak nilai yang terkandung dalam pelaksanaan upacara tersebut. Nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan upacara tersebut diantaranya adalah: nilai religius atau keyakinan, nilai sosial, dan nilai kultural.

Nilai religius atau keyakinan dapat dilihat pada penggunaan dulang berkaki lengkap dengan isinya sebagai lambang penghargaan dan penghormatan kepada Sang Pencipta (Tuhan). Penggunaan mayang pinang merupakan simbol pengharapan kepada Tuhan agar keluarga yang punya hajat mendapatkan rezeki dan anak yang banyak seperti buah pinang yang dipergunakan. Penggunaan ayam jantan merupakan simbol pengharapan agar orang yang melaksanakan upacara selalu sehat dan kuat. Nilai religius dan keyakinan dapat juga dilihat pada doa yang diucapkan.

Nilai kultural dapat dilihat pada penggunaan dulang tanpa kaki dengan isinya. Dulang ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada arwah nenek moyang. Pada upacara ini, dengan segala aturannya, kita dapat melihat adanya proses pewarisan dan pelembagaan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Para undangan yang hadir sebagai saksi dalam upacara tersebut menunjukkan bahwa upacara tersebut juga mengandung nilai sosial. (AS/bdy/16/11-07)

Sumber:

  • Bai Mpole, dalam http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=5, diakses tanggal 5 November  2007.

  • Upacara Tradisional Sulawesi Tengah, dalam http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=72, diakses tanggal 5 November  2007.

  • Bai Mpole (Upacara Masa Kehamilan), dalam http://www.disnakerpalu.com/tlp/rubrikview.php?id=643&topik=10&hal=1&ss=1f129887aa9d27405a70c2c3ffca9ebf, diakses tanggal 5 November  2007

Dibaca : 10.447 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password