Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.504
Hari ini : 67.190
Kemarin : 60.495
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.986.059
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Katiana (Upacara Kehamilan pada Suku Pamona Sulawesi Tengah)

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Suku Pamona adalah salah satu suku yang berada di Sulawesi Tengah, Indonesia. Sebagaimana halnya suku-suku yang lain di Indonesia, suku Pamona memandang penting lahirnya generasi penerus untuk terus melanjutkan eksistensi mereka di atas muka bumi. Oleh karena itu, jika ada janin sedang dikandung oleh salah satu warga Pamona, janin tersebut dijaga dari segala kemungkinan yang kurang baik dengan mengadakan upacara. Upacara ini disebut "Katiana", yaitu upacara selamatan pada masa kehamilan. Tujuan upacara ini adalah untuk memohonkan keselamatan baik untuk keselamatan ibu yang sedang mengandung, rumah tangga, dan bayi yang berada di dalam kandungan.

Bentuk-bentuk keselamatan yang hendak dicapai dalam upacara ini adalah: bayi di dalam kandungan sang ibu dapat tumbuh dengan sehat, sempurna, dan tidak banyak mengganggu kesehatan sang ibu. Di balik upacara tersebut maka secara psikologis, memberikan pegangan bagi sang ibu dan seluruh sanak kerabat sehingga tetap tabah dan kuat menghadapi hal-hal yang cukup kritis dalam kurun waktu 9 bulan mengandung bayi. Hal ini juga berarti suatu dorongan dan motivasi bagi sang ibu sehingga ketenangan senantiasa melekat dalam jiwanya selama masa kehamilan.

Pelaksanaan upacara Katiana oleh Masyarakat suku Pamona merupakan pengejewantahan dari keyakinan dan pengaharapan. Keyakinan akan adanya Dzat yang menguasai dirinya dan pengharapan agar Dzat yang diyakini tersebut mengabulkan permohonannya. Sebagai sebuah bentuk ekspresi keyakinan, maka pelaksanaan upacara yang dilakukan, biasanya, merupakan penggabungan hal-hal yang bersifat sakral dan sosial, walaupun kemudian hal yang bersifat sosial tersebut juga disakralkan. Pemilihan hari, penggunaan bahan-bahan khusus, tahapan-tahapan upacara yang diwariskan, dan adanya pantangan yang harus dihindari menunjukkan pensakralan hal-hal yang bersifat profan. Bagaimana proses pensakralan terjadi dan barang apa saja yang dijadikan sakral dalam upacara Katiana akan dijelaskan pada pembahasan berikut ini.

2. Pelaksanaan dan Peralatan Upacara

a. Pelaksana

Agar upacara yang dilakukan mencapai hasil yang diinginkan, maka suami dan istrinya yang sedang hamil menyerahkan sepenuhnya tehnis pelaksanaan kepada ahlinya, yaitu  Topopanuju (dukun). Topopanuju biasanya adalah seorang perempuan yang berumur lebih dari 50 tahun. Dalam menjalankan tugasnya, Topopanuju  didampingi oleh tetua kampung, perempuan yang sudah berkeluarga dari sanak keluarga, dan tokoh adat setempat.

b. Peralatan

Peralatan yang diperlukan untuk mengadakan upacara Katiana diantaranya adalah:

  • Seperangkat sirih pinang (tembakau, sirih, kapur, dan gambir).
  • Seperangkat piring-piring adat.
  • Alu, alat tumbuk padi.
  • Tikar (boru) yang terbuat dari daun pandan.
  • Satu ruas bambu yang diisi dengan air jernih.
  • Ruangan upacara yang lantainya terbuat dari bambu.

3. Tempat dan Waktu Upacara

a. Tempat

Tempat untuk melaksanakan upacara Katiana nampaknya dipengaruhi oleh sistem kekerabatan suku Pamona. Menurut sistem kekerabatan suku Pamona, ketika seorang laki-laki telah menikahi seorang perempuan, maka laki-laki tersebut harus tinggal dan menetap di rumah orang tua istrinya. Berdasarkan aturan tersebut, maka pelakasanaan upacara Katiana juga diselenggarakan di rumah orang tua istrinya.

b. Waktu

Agar tujuan upacara ini tercapai, maka harus dicari waktu yang baik untuk menyelenggarakannya. Kesalahan menentukan waktu tidak saja dapat menyebabkan tujuan upacara tidak tercapai, tetapi juga dapat mengundang bencana. Dalam menentukan hari baik, suami-istri yang hendak melaksanakan upacara Katiana menanyakan kepada Topopanuju. Topopanuju dalam menentukan hari baik berpedoman pada dua hal, yaitu: umur kandungan dan sinar rembulan.

Secara umum, upacara ini dilakukan ketika kandungan sudah berumur 6 atau 7 bulan, ketika perut sang ibu kelihatan membesar, dan bulan dalam keadaan terang, yaitu malam tanggal 7 sampai malam tanggal 15 dalam siklus peredaran rembulan.  Pelaksanaan upacara pada saat bulan sedang penuh (bersinar terang) berkaitan dengan keyakinan bahwa penyelenggaraan upacara pada saat bulan sedang terang akan menyebabkan masa depan bayi yang akan lahir cerah, tetapi apabila bulan di langit sudah berkurang (16 sampai dengan 30), maka waktu ini dianggap kurang baik.

4. Tata Laksana

Salah satu keunikan upacara adat adalah adanya tata-aturan pelaksanaan upacara yang diwariskan secara turun temurun dan harus dijalankan apa adanya. Demikian juga dengan upacara ini. Untuk menjamin terlaksananya upacara ini sesuai dengan tata-aturan yang baku, maka pelaksanaan upacara ini dipandu oleh seorang Topopanuju. Adapun tata-cara pelaksanaanya adalah sebagai berikut:

  • Sebelum upacara diselenggarakan, keluarga yang hendak mengadakan upacara terlebih dahulu mempersiapkan hal-hal yang menunjang terlaksana dan tercapainya tujuan upacara, diantaranya adalah: mendatangi Topopanuju untuk menanyakan hari baik untuk melaksanakan upacara Katiana dan peralatan apa saja yang harus dipersiapkan; mengundang seluruh kerabat kedua belah pihak, baik yang jauh maupun yang dekat; dan juga mengundang para tetangga dekat atau kenalan-kenalan lainnya. Apabila seluruh persiapan dan perlengkapan upacara telah dipersiapkan, dan hari yang ditetapkan telah tiba, maka upacara Katiana segera dilaksanakaan.
  • Ibu yang mengandung (yang diupacarai) mengambil tempat di ruangan upacara, yaitu di lantai yang terbuat dari anyaman bambu, dengan ditemani suami dan seluruh sanak keluarga (ibu-ibu yang sudah menikah) baik dari pihak suami maupun dari pihak istri. Ketika sedang dilaksanakan upacara, ibu yang diupacarai tidak diperkenankan memakai baju, rok, dan celana dalam. Ia hanya diperbolehkan memakai sarung yang diikat pada bagian atas buah dadanya.
  • Kemudian alat-alat perlengkapan upacara seperti seperangkat sirih pinang, seperangkat piring adat, alu, boru (tikar), ruas bambu yang berisi air jernih, lemon suanggi (sejenis sirih), dan bunga pinang diletakkan di depan sang ibu yang diupacarai. Namun adakalanya perlengkapan upacara tersebut diletakkan sebelum ibu yang mau diupacarai berada atau memasuki tempat upacara. 
  • Kemudian Topopanuju mengambil posisi di samping ibu yang diupacarai dengan didampingi oleh tokoh adat setempat. Sedangkan para undangan mengambil tempat di sekitar ruangan upacara atau di sekitar rumah. Pada pelaksanaan upacara ini, Topopanuju dan para tokoh adat memakai pakaian adat (mbesa).
  • Selanjutnya Topopanuju memulai mengambil ruas bambu yang berisi air jernih sambil membaca mantera-mantera.
  • Kemudian Topopanuju menyiramkan air yang ada di dalam bambu tersebut ke kepala sang ibu secara perlahan-lahan sebanyak 7 kali.
  • Setelah Topopanuju menyiram air ke kepala sang ibu, tokoh adat yang mendampinginya juga mengambil bagian untuk menyiramkan air ke kepala sang ibu. Ritual serupa juga dilakukan oleh ibu kandung yang diupacarai, serta ibu-ibu kerabat lainnya. Setelah itu upacara puncak dianggap selesai.
  • Setelah puncak upacara itu selesai, maka biasanya dilanjutkan dengan makan-makan atau minum-minum. Bagi keluarga bangsawan, biasanya makanan yang disajikan cukup mewah yang ditandai dengan pemotongan kerbau. Sedangkan bagi keluarga biasa, adakalanya suguhan dalam upacara ini hanya sekedar minuman saja.

5. Pantangan-pantangan yang harus dihindari

Untuk menjaga nilai-nilai sakral, biasanya di dalam upacara-upacara adat terdapat bermacam-macam pantangan. Pantangan adalah segala sesuatu yang harus dihindari agar pelaksanaan upacara benar-benar memberikan manfaat bagi yang melaksanakannya.

Dalam upacara Katiana ada dua jenis pantangan: pantangan bersifat khusus dan pantangan bersifat umum. Pantangan bersifat khusus adalah pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh suami-istri yang sedang mengadakan upacara. Adapun pantangan-pantangan tersebut diantaranya adalah: tidak boleh marah-marah (harus selalu merasa gembira), tidak boleh memotong/menyembelih binatang apapun juga, tidak boleh mengejek orang cacat, dan ibu yang diupacarai harus selalu membawa lemon suanggi.  Lemon suanggi adalah sejenis sirih diberikan oleh Toponuju ketika dilaksanakan upacara Katiana, dan dipercayai sebagai alat penolak bahaya, penolak gangguan setan atau gangguan makhluk halus, dan gangguan-gangguan lainnya.

Sedangkan pantangan yang bersifat umum adalah pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh keluarga dan peserta upacara. Di antara pantangan-pantangan tersebut adalah:  semua benda yang bergantung harus diturunkan; belanga yang tertutup harus dibuka; tikba yang tertelungkup harus dibuka; peserta upacara harus membuka cincin, gelang, dan rantai; dan semua yang mengikat dirinya harus dilonggarkan.

Masyarakat suku Pamona meyakini bahwa apabila pantangan-pantangan tersebut dilanggar, maka akan menimbulkan akibat-akibat bagi sang ibu yang mengandung, bayi yang dikandung dan keluarganya. Hal buruk yang dapat terjadi jika pantangan dilanggar, diantaranya adalah: susah melahirkan, lahir cacat, dan sang ibu atau keluarganya mendapat musibah.

6. Doa dan Mantra

 (Teks doa dan mantra sedang dalam proses pengumpulan data)

7. Nilai-nilai

Dalam upacara Katiana, terdapat banyak nilai luhur yang sepatutnya kita renungkan dan cermati sehingga kita dapat mengambil hikmahnya. Di antara nilai-nilai tersebut adalah: nilai religius atau keyakinan, nilai budaya, dan nilai sosial. Nilai religius dapat dilihat pada pelaksanaan upacara itu sendiri. Upacara Katiana merupakan cara masyarakat suku Pamona untuk memohon kepada Tuhan agar mereka dikaruniai anak yang baik, proses kelahirannya lancar, dan keluarganya terhindar dari mara bahaya. Nilai-nilai religius dapat juga dilihat pada pembacaan mantera-mantera dan doa-doa selama berlangsungnya upacara. Selain itu, nilai ini juga dapat dilihat dalam kepatuhan untuk tidak melanggar pantangan-pantangan.

Nilai sosial dapat dilihat pada keterlibatan berbagai lapisan masyarakat dalam upacara Katiana tanpa memandang status sosialnya. Keterlibatan Topopanuju, tokoh-tokoh adat, sanak keluarga baik yang bertempat tinggal dekat maupun jauh, ibu-ibu rumah tangga di desa setempat, dan para sesepuh desa merupakan ekspresi dari nilai-nilai sosial yang dianut oleh masyarakat suku Pamona.

Nilai budaya dapat dilihat diantaranya pada: Sirih Pinang, alu, dan air. Sirih pinang merupakan lambang kesucian, lambang pergaulan, lambang menjalin-hubungan kekerabatan, dan mempererat tali silaturahmi. Lambang alu mengandung pesan bahwa manusia harus bekerja, dan air yang digunakan dalam upacara ini merupakan harapan agar dalam proses kelahiran akan lancar seperti air mengalir. Keberadaan pantangan-pantangan dalam upacara Katiana, selain bernilai keyakinan, juga merupakan cara masyarakat suku Pamona untuk mewariskan, melembagakan, dan mengekalkan tradisinya. (AS/bdy/17/11-07)

Sumber :

  • Katiana, dalam  http://www.disnakerpalu.com/tlp/rubrikview.php?id=635&topik=9&hal=1&ss=6c5bb6a5161c4889ad86afd0be2b60a7, diakses tanggal 6 November 2007

  • Upacara Tradisional Sulawesi Tengah, dalam http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=72, diakses tanggal 5 November  2007.

  • Katiana, dalam http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=19, diakses tanggal tanggal 6 November 2007.

  • Upacara Tradisional Sulawesi Tengah, dalam http://www.disnakerpalu.com/tlp/budaya.php?id=618, diakses tanggal 5 November  2007

Dibaca : 16.676 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password