Selasa, 23 Mei 2017   |   Arbia', 26 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 12.774
Hari ini : 120.133
Kemarin : 134.900
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.435.174
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Novero (Upacara Pengobatan pada Suku Kaili di Sulawesi Tengah)

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Kesehatan bayi dalam kandungan harus selalu dijaga. Salah satu cara agar bayi dalam kandungan senantiasa sehat adalah dengan menjaga kesehatan si ibu yang mengandung si bayi. Sebelum dikenal adanya dokter yang mampu memeriksa dan mengobati seorang ibu yang sedang hamil, masyarakat tradisional mempunyai cara khusus untuk mengupayakan kesehatan si ibu yang sedang mengandung. Salah satu suku di Indonesia yang mempunyai cara khusus untuk menyembuhkan seorang ibu hamil  yang sedang sakit adalah Suku Kaili yang berada di Sulawesi Tengah, Indonesia.  Apabila ada seorang ibu hamil yang kurang sehat, lemah, dan dianggap mengalami gangguan mahkluk halus yang jahat, maka masyarakat suku Kaili akan segera mengadakan upacara Novero atau Moragi Ose.

2. Tempat, Waktu dan Peralatan Upacara

a. Tempat

Oleh karena upacara Novero merupakan upacara untuk menyembuhkan orang hamil yang diganggu oleh mahluk halus, maka upacara ini tidak diadakan di dalam rumah, tetapi di tempat yang dipercayai sebagai tempat hunian mahluk halus, seperti di tepi sungai, tepi pantai, di pohon-polion besar, dan sebagainya.

b. Waktu

Waktu untuk mengadakan upacara Novero sepenuhnya ditentukan oleh keadaan si ibu yang sedang hamil. Jika ibu yang sedang mengandung kelihatan sakit, maka dengan segera upacara ini dilakukan. Upacara Novero ini dipimpin oleh seorang dukun wanita.

c. Peralatan Upacara

Peralatan yang harus dipersiapkan untuk melaksanakan upacara Novero adalah:

  • Suampela, sebuah tempat penyimpanan sesajian yang dibuat dari kayu bertiang tiga. Pada bagian atas dibuat sebuah anyaman dari ranting kayu atau bambu tempat sesajian itu disimpan.
  • Kulili, yaitu kayu yang dibuat berbentuk parang dan diberi warna belang hitam putih.
  • Ose ragi yaitu beras yang telah diberi warna-warni.
  • Pekaolu nuvayo, yaitu tempat berlindungnya bayangan. Tujuan pembuatan Pekaolu nuvayo adalah sebagai tempat roh berlindung bila mendapat gangguan mahluk halus.
  • Toge, adalah peralatan upacara yang berbentuk tombak dan kuda berkepala dua yang dibuat dari janur.  
  • Tuvu mbuli.
  • Mbara-mbara (barang perhiasan/pakaian adat). Mbara-mbara terdiri dari: vuya (sarung), baju, dan bulava (emas).
  • Dula palangga (dulang berkaki). Alat ini digunakan sebagai tempat menyimpan mbara-mbara.
  • Banja mpangana (mayang pinang).
  • Daun dan bunga yang wangi seperti: bunga Mbalu, daun Pandan, Tamadi, dan Tulasi.

3. Tata Laksana

Sebagaimana halnya upacara-upacara adat lainnya, untuk melaksanaKan upacara Novero juga diperlukan persiapan-persiapan khusus. Misalnya menyiapkan barang-barang yang diperlukan selama upacara berlangsung. Adapun tata-cara pelaksanaan upacara ini (dari awal sampai  akhir) adalah sebagai berikut:    

  • Jika dalam sebuah keluarga terdapat seorang ibu hamil yang sedang atau kelihatan sakit, maka anggota keluarga yang lain pergi ke dukun. Ketika bertemu dengan dukun, mereka menyampaikan kepada dukun tersebut dan menanyakan kemungkinan mengadakan upacara Novero.
  • Setelah itu, dukun bersama keluarga ibu yang hamil tersebut membuat persiapan-persiapan untuk melaksanakan upacara, seperti pembuatan suampela, kulili, ose ragi,pekaolu nuvayo, toge, tuvu mbuli, Mbara-mbara dan Dula palangga. Semua perlengkapan tersebut disiapkan di rumah orang yang hendak mengadakan upacara.  
  • Kemudian si dukun dengan dibantu oleh keluarga yang hendak mengadakan upacara mengambil banja mpangana (mayang pinang).  
  • Selanjutnya banja mpangana direndam dalam air yang dicampur dengan daun-daun yang wangi selama 3 malam.
  • Setelah itu, si dukun membuat ose ragi dan membungkusnya dengan dengan kain putih dan disimpan di tiang tengah rumah yang letaknya dekat dengan tempat tidur ibu yang hamil.
  • Selain tidur di dekat bungkusan ose ragi, setiap bangun pagi selama tiga hari berturut-turut ibu hamil harus makan makanan yang disiapkan dalam bambu dengan sebiji telur rebus dan mencuci muka dengan air yang disiapkan dan diberi bahan-bahan yang wangi tersebut.
  • Setelah hari ketiga, sang dukun dengan dibantu keluarga yang hamil membuat suampela. Pembuatan suampela melalui cara-cara tertentu yang diiringi pembacaan gane-gane (mantera).
  • Pada hari ketiga diadakan upacara mandi bagi ibu hamil tersebut dengan air yang telah diharumkan dengan daun-daun wangi selama tiga hari. Seusai mandi, sebatang mayang pinang yang belum berkembang, dipecahkan di atas kepala ibu yang sedang hamil. Benda tersebut dianggap memberikan kekuatan untuk tubuh. Sambil memecahkan sebatang mayang pinang yang masih belum berkembang tersebut, sang dukun berkata: "niratamo sumangana dako ripue ngayu, ripue ntana" (sudah diketemukan kembali semangatnya dari penghuni pohon kayu dan penghuni bumi).
  • Selanjutnya adalah nantau (membawa turun) seluruh bahan-bahan perlengkapan dibawa menuju ke tanah tempat upacara di mana suampela tersebut dibuat. Di tempat sesajian itu dukun nogane memanggil arwah dan roh-roh halus dan berkata : "Seimo konisa miu, tavala miu, toge ante kalili miu. Aku mompatolo yanu (si anu), bekaka maimo vayona, rapakalompemo yanu" (Telah kupersembahkan kepadamu makanan, tombak, toge, kulili. Aku menolong si Anu (menyebut nama). Berikan kepadanya kembali sumber kekuatan hidup, sembuhkanlah ia dari penyakit).
  • Selanjutnya diadakan acara noronde (dialog dukun dengan orang-orang yang ada dalam rumah). Dialog tersebut terjadi sebagai berikut:
  • Dukun : "Nolompemo yanu!!" (Si Anu sudah sembuh).
  • Orang di rumah menjawab : "Yo nalompemo" (Ya sudah), eva apu nitulaka uve (seperti api kena air), eva kuni niboli toila (seperti kunyit diberi kapur).
  • Sang dukun kemudian naik ke rumah sambil berkata kepada ibu yang hamil: "niratakumo vayo miu, naialaku riviata, rikarampua, rirate njae, rirate vou" (saya sudah menemukan sumber kekuatan hidup yang hilang dari viata (setan/jembalang) dari para dewa dan roh-roh nenek moyang yang telah lama dan baru meninggal). 
  • Dilanjutkan dengan ritual noave ose niragi.  Ritual ini ditandai dengan peletakan ose niragi (beras 4 warna) di atas valas suji (semacam rakit kecil) kemudian menghayutkannya (noave) ke sungai. Menghanyutkan mempunyai arti nompakatu (mengirimkan sesajian) kepada pue ntasi (penghuni laut). Ketika menghanyutkan barang-barang (sesajian) tersebut, sang dukun membaca mantera-mantera.
  • Dengan selesainya acara ini, selesailah upacara Novero tersebut bagi seorang ibu hamil yang kurang sehat.

4. Pantangan-Pantangan

Keunikan dari upacara-upacara adat adalah adanya pantangan-pantangan yang harus dihindari agar upacara yang dilakukan mendapatkan hasil yang diharapkan. Pantangan dalam upacara Novero ada dua kategori, yaitu pantangan untuk ibu yang sedang hamil dan pantangan bagi suaminya.

a. Pantangan-pantangan bagi ibu yang hamil diantaranya adalah:

  • Duduk di muka pintu atau pada anak tangga.
  • Tidak boleh minum air terlalu banyak.
  • Tidak boleh makan gula merah, tebu dan nanas karena dapat membuat perut sakit.
  • Tidak boleh mencela, mengejek orang-orang yang cacat jasmani karena dapat melahirkan bayi yang cacat.
  • Tidak boleh mengurai rambut pada sore hari karena dapat diganggu mahluk halus.
  • Tidak boleh makan cumi-cumi karena dapat melahirkan bayi dalam bentuk cumi-cumi.
  • Tidak boleh kikir (nemo masina).
  • Tidak boleh menggulung handuk di leher (moveve handuri tambolo), agar bayi yang akan lahir tidak tercekik bagian lehernya.
  • Tidak boleh melicinkan tempurung (mo gau bobo/banga), agar rambut anak tidak botak.
  • Tidak boleh mandi pada sore hari, karena dapat membuat kelamin bengkok oleh sebab ilirasi pue nu tive (disetubuli oleh hantu penghuni air).
  • Tidak boleh mandi di pagi buta karena bayi kedinginan dan lahir dalam keadaan lemah

b. Pantangan bagi sang suami, diantaranya adalah:

  • Tidak boleh menyembelih atau membunuh binatang; karena dapat mengakibatkan bayi nantolu moro (kemarahan)
  • Tidak boleh memakai celana bila istri dalam keadaan melahirkan
  • Tidak boleh menginjak papan penutup liang lahat (dindi ngari) karena dapat membuat bayi yang dikandung istrinya lahir dalam keadaan lemah.

5. Doa dan Mantra

Adapun mantra-mantra yang diucapakan dalam upacara ini adalah sebagai berikut:

  • "Niratamo sumangana dako ripue ngayu, ripue ntana" (sudah diketemukan kembali semangatnya dari penghuni pohon kayu dan penghuni bumi). Mantra diucapakan oleh dukun ketika ritual mandi pada hari ketiga.

  • "Seimo konisa miu, tavala miu, toge ante kalili miu. Aku mompatolo yanu (si anu), bekaka maimo vayona, rapakalompemo yanu" (Telah kupersembahkan kepadamu makanan, tombak, toge, kulili. Aku menolong si Anu (menyebut nama). Berikan kepadanya kembali sumber kekuatan hidup, sembuhkanlah ia dari penyakit). Mantra ini diucapakan oleh si dukun ketika melaksanakan ritual nantau (membawa turun).

  • "Nolompemo yanu!!" (Si Anu sudah sembuh). dijawab : "Yo nalompemo" (Ya sudah), eva apu nitulaka uve (seperti api kena air), eva kuni niboli toila (seperti kunyit diberi kapur). Mantra ini diucapkan secara dialogis antara dukun dan orang tua atau keluarga yang mengadakan upacara. Ritual ini disebut noronde.

  • "Niratakumo vayo miu, naialaku riviata, rikarampua, rirate njae, rirate vou" (saya sudah menemukan sumber kekuatan hidup yang hilang dari viata (setan/jembalang) dari para dewa dan roh-roh nenek moyang yang telah lama dan baru meninggal). Mantra ini diucapakan oleh dukun sambil naik ke rumah orang yang mengadakan upacara.

6. Nilai-nilai

Jika diamati secara seksama, pelaksanaan upacara Novero oleh masyarakat suku Kaili merupakan bentuk ekpresi dari keyakinananya kepada Yang Gaib, pengharapan dan pemahaman terhadap alam sekitar. Adanya keyakinan dalam masyarakat bahwa jika ada perempuan yang hamil sakit, maka perempuan tersebut sedang diganggu oleh mahluk halus memunculkan “kesadaran” masyarakat untuk melakukan penyikapan secara cepat dan tepat, yaitu dengan mengadakan upacara Novero. Upacara Novero, dengan demikian, merupakan cara masyarakat suku Kaili untuk membujuk dan menaklukkan mahluk halus. Dengan kata lain, pelaksanaan upacara Novero merupakan cara masyarakat suku Kaili merespon sebuah fenomena yang didasarkan pada pemahaman dan keyakinan mereka.

Penggunaan peralatan-peralatan upacara yang dipersiapkan secara khusus merupakan symbol-simbol yang mengekspresikan pengharapan masyarakat suku Kaili. Misalnya Tuvu mbuli digunakan agar keluarga selalu hidup bahagia; siranindi (daun si tawar dingin) digunakan agar anak yang akan lahir selalu bersikap tenang dalam menghadapi tantangan; Tinggora dan Doke adalah bentuk pengharapan agar anak mempunyai kekuatan, keberanian, dan  mempunyai kemauan kuat; Piring adat adalah simbol kesejahteraan dan kecukupan pangan; dan Kain Mesa sebagai simbol kebangsawanan.

Penggunaan pantangan-pantangan berkaitan dengan keyakinan yang berlandaskan pada pemahaman terhadap berbagai fenomena alam yang terjadi disekitarnya. Keberadaan pantangan tersebut merupakan cara masyarakat suku Kaili agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang kurang baik sehingga mengakibatkan tidak tercapainya tujuan upacara. Masyarakat suku Kaili, nampaknya, meyakini bahwa tindakan kurang baik yang dilakukan oleh kedua suami dan istri yang sedang mengandung akan berpengaruh secara langsung kepada bayinya. Misalnya larangan mencela atau mengejek orang cacat muncul karena ada keyakinan bahwa anak yang dikandung akan lahir dalam keadaan cacat. Adanya keyakinan bahwa perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang tua si bayi akan berdampak buruk kepada si bayi menunjukkan bahwa ada proses pensakralan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. (AS/bdy/18/11-07)

Sumber :

  • Novero, http://www.disnakerpalu.com/tlp/rubrikview.php?id=634&topik=8&hal=1&ss=6c5bb6a5161c4889ad86afd0be2b60a7, diakses tanggal 8 November  2007.
  • Novero, dalam http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=54, diakses tanggal 8 November  2007.

  • Upacara Tradisional Sulawesi Tengah, dalam http://www.disnakerpalu.com/tlp/budaya.php?id=618, diakses tanggal 8 November  2007.

Dibaca : 19.618 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password