Rabu, 26 April 2017   |   Khamis, 29 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 2.811
Hari ini : 17.194
Kemarin : 65.310
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.212.320
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Popanaung (Upacara Turun Tanah pada Suku Kuwali di Sulawesi Tengah)

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Ketika bayi lahir, maka pada saat itu pula si bayi memasuki dunia baru, alam dunia. Agar dalam mengarungi kehidupan barunya sang bayi tidak kesasar dan susah, maka bayi harus dikenalkan terlebih dahulu dengan dunianya yang baru. Suku Kuwali, salah satu suku yang ada di Sulawesi Tengah, Indonesia, memiliki ritual khusus untuk memperkenalkan dan mempersiapkan bayi agar dapat dengan selamat mengarungi kehidupannya di alam dunia. Upacara ini disebut Popanaung atau upacara turun tanah.   

2. Waktu dan Tempat Upacara

a. Tempat

Tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upacara ini adalah rumah orang tua si bayi. Namun jika orang tua si bayi belum memiliki rumah atau rumahnya rusak sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat upacara, maka upacara ini biasanya dilaksanakan di salah satu rumah mertua mereka. Secara spesifik upacara ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu di dalam rumah dan di luar rumah.

b. Waktu

upacara Popanaung (turun tanah) diadakan pagi hari pada hari kelima sejak kelahiran si bayi. Dengan kata lain, upacara ini diadakan ketika bayi berumur 5 hari.

3. Peralatan dan Pelaksana Upacara

a. Peralatan Upacara

Agar pelaksanaan upacara berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan, maka peralatan upacara harus dipersiapkan terlebih dahulu. Adapun peralatan yang dibutuhkan dalam upacara ini diantaranya adalah:

  • Kain nunu (kain dari kulit kayu beringin).
  • Ide (tikar).
  • Tavala (tombak).
  • Guma (parang).
  • Kaliavo (perisai).
  • Kawipi (bakul) tempat beras.
  • Kararo (bakul kecil)
  • Karar (bakul kecil).
  • Vatu pengaha (batu asa).
  • Halili (kain pengikat kepala).
  • Sube (pacul kecil).

b. Pelaksana Upacara

Pelaksanaan upacara Popanaung dipimpin oleh sando mpoana (dukun beranak). Dalam melaksanakan upacara ini, sando mpoana dibantu oleh mobago (pembantu). Sedangkan yang menjadi motivoi (saksi) pelaksanaan upacara adalah keluarga dekat dari suami-istri yang sedang mengupacarai anaknya.

4. Tata Laksana

Dalam upacara Popanaung, ada sedikit perbedaan antara bayi laki-laki dan bayi perempuan, yaitu pada perlengkapan upacaranya. Meskipun demikian, tata laksana upacaranya sama. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

  • Sehari sebelum pelaksanaan upacara (biasanya pada sore hari), di depan tangga rumah atau pada halaman rumah orang yang akan melaksanakan upacara, dipasang simbol-simbol upacara yang menunjukkan jenis kelamin bayi yang hendak diupacarai. Jika di depan rumah orang yang hendak mengadakan upacara digantungkan sebuah tavala (tombak) secara melintang dan bagian tengah tombak diikat dengan higa (mahkota) yang biasa dipakai sebagai mahkota oleh wanita dalam pakaian adat masyarakat Kulawi, maka bayi yang hendak diupacarai berjenis kelamin perempuan. Tetapi jika di depan rumah dipancangkan tovala (tombak), guma (parang), dan perisai (kaliavo), maka bayi yang hendak diupacarai berjenis kelamin laki-laki.  Biasanya yang memasang simbol-simbol tersebut adalah orang tua laki-laki dari bayi yang hendak  diupacarai.
  • Di samping menggantung perlengkapan tersebut, orang tua si bayi juga memasang vatu pengaha (batu asa) di depan tangga rumah. Batu ini nantinya akan diinjak oleh bayi pada upacara turun tanah. Ketika semua perlengkapan (simbol-simbol) tersebut sudah dipasang, maka tangga depan rumah tidak dapat lagi digunakan untuk naik turun rumah sebelum upacara Popanaung ini selesai.
  • Pagi harinya, sando mpoana datang ke rumah orang yang hendak mengadakan upacara dan mempersiapkan seluruh perlengkapan upacara di tempat yang telah disediakan.
  • Ketika sando mpoana mempersiapkan perlengkapan upacara, si bayi dimandikan (mencore) oleh ibunya.
  • Setelah selesai dimandikan,  bayi tersebut diselimuti/dibungkus dengan kain nunu dan ditidurkan di atas Ide (tikar) yang telah dipersiapkan sebelumnya.
  • Kemudian si bayi diserahkan kepada sando mpoana.
  • Setelah menerima bayi tersebut, jika bayinya perempuan, sando mpoana mengambil Kawipi (bakul) beras dan meletakkan bayi tersebut didalamnya. Tetapi jika bayinya laki-laki, sando mpoana cukup memegang saja dan langsung menyerahkannya kepada mobago.
  • Kemudian sando mpoana berdiri diikuti mobago sambil membopong bayi dalam Kawipi dan diiringi keluarga yang masing-masing membawa sube (pacul kecil) dan kararo (bakul kecil). Kemudian mereka (dengan dipimpin dukun) berjalan menuju ke pintu depan.
  • Setelah tiba di depan pintu, sando mpoana berhenti sebentar, dan secara perlahan menuruni tangga rumah. Sedangkan pembantu dukun yang membopong bayi dan para motivoi (saksi) yang terdiri dari anggota keluarga yang diupacarai tetap berdiri di depan pintu rumah.
  • Ketika sando mpoana sudah berada di tanah, ia memberi isyarat kepada mobago untuk menaik-turunkan bayi yang diupacarai sebanyak tujuh kali berturut-turut.
  • Setelah sampai pada hitungan yang ketujuh (biasanya posisi bayi ada di depan sando mpoana), maka sando mpoana mengeluarkan bayi dari bakul dan menginjakkan kedua kaki si bayi pada vatu pengaha (batu asa). Ketika kaki bayi dalam posisi menginjak vatu pengaha, sando mpoana membaca mantera (nogane).  
  • Kemudian sando mpoana, sambil menggendong bayi, naik kembali ke dalam rumah diiringi oleh pembantunya dan keluarga dari orang tua si bayi.
  • Setelah itu, bayi diletakkan kembali di atas ayunannya dan peralatan-peralatan upacaranya disimpan di tempat semula.
  • Ketika si bayi sudah berada di atas ayunan, maka upacara turun tanah telah selesai.  
  • Acara selanjutnya adalah makan bersama. 

5. Pantangan-Pantangan

Salah satu keunikan upacara tradisional adalah adanya pantangan-pantangan. Keberadaan pantangan merupakan faktor penting tercapai atau tidaknya tujuan sebuah upacara, demikian juga dengan upacara Popanaung. Adapaun pantangan dalam upacara ini diantaranya adalah:

  • Ibu si bayi harus tetap memakai halili bulai yang dipakai sejak masa kehamilan. Halili bulai  baru dapat ditanggalkan setelah si ibu mengadakan ritual mencore, memandikan bayi sesaat sebelum upacara Popanaung. Jika pantangan ini dilanggar, bayi atau ibunya akan banyak mengalami kesulitan, bahkan diyakini dapat berakhir dengan kematian
  • Ibu si bayi tidak boleh moboka (mencuci kepala dengan santan kelapa). Jika pantangan ini dilanggar, maka si ibu muda akan diganggu oleh roh-roh jahat.

6. Doa dan Mantra

Dalam upacara ini, doa atau mantra hanya diucapkan ketika kaki bayi diinjakkan di atas batu asa. Adapun mantra yang dibaca adalah sebagai berikut:

"matua pa tanuana na ngana ei mai pade vatu", artinya: "kepala anak ini hendaknya lebih keras dari batu".

7. Nilai-nilai

Jika diamati secara seksama, ada empat hal penting dalam upacara Popanaung yang dilakukan oleh masyarakat suku Kuwali, yaitu: penyelenggaraan upacara, simbol yang digunakan, penggunaan pantangan, dan pelaksananya. Di dalam keempat hal tersebut, tersimpan banyak nilai, diantaranya nilai religius dan nilai sosial.  Penyelenggaraan upacara Popanaung merupakan refleksi atas pengharapan yang didasarkan kepada keyakinan mereka terhadap Realitas Mutlak. Dengan kata lain, pelaksanaan upacara ini merupakan ekspresi dari keyakinan mereka.

Penggunaan lambang-lambang profan (tikar, cangkul, tombak, dan sebagainya) sebagai media untuk mengekspresikan keyakinan mereka merupakan sebuah proses pensakralan terhadap benda-benda itu sendiri. Jadi walaupun pada awalnya benda-benda tersebut sekedar benda profan, tetapi ketika menjadi dan digunakan sebagai perlengkapan upacara, maka benda-benda tersebut berubah menjadi benda sakral yang berkekuatan magis dan mampu mempengaruhi kehidupan si bayi dan keluarganya. Misalnya simbol tombak, parang, dan perisai merupakan pengingat bahwa satu-satunya teman di dalam menjaga keselamatan dirinya dan mempertahankan harta bendanya kelak adalah alat-alat tersebut. Pelaksanaan upacara Popanaung pada pagi hari merupakan symbol pengharapan agar masa depan si bayi selalu cerah, tidak suram.

Nilai kesakralan (keyakinan) dapat pula dilihat pada pantangan-pantangan. Munculnya pantangan-pantangan berkaitan erat dengan keyakinan masyarakat Kuwali, walaupun, tentu saja, keberadaan pantangan dapat dimaknai secara sosial. Misalnya larangan mencuci kepala dengan santan kelapa didasarkan kepada asas kegunaan santan kelapa dan bau yang kemungkinan timbul jika santan kelapa itu  basi.

Penggunaan simbol-simbol yang dipasang di depan rumah, sebagai media untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang jenis kelamin bayi yang hendak diupacari, pelaksana upacara, dan acara makan bersama merupakan manifestasi dari nilai sosial yang terkandung di dalam upacara ini.  (AS/bdy/19/11-07)

Refrensi :

  • Popanaung (Upacara Turun Tanah), dalam http://www.disnakerpalu.com/tlp/budaya.php?id=656, diakses tanggal 21 November 2007.

  • Upacara Tradisional Sulawesi Tengah, dalam http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=72, diakses tanggal 21 November 2007.

  • Upacara Tradisional Sulawesi Tengah, dalam http://www.disnakerpalu.com/tlp/budaya.php?id=618, diakses tanggal 21 November 2007.

Dibaca : 9.285 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password