Kamis, 23 Maret 2017   |   Jum'ah, 24 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 1.081
Hari ini : 3.285
Kemarin : 39.208
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.972.846
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Murid Durhaka (Riau)

Daik Lingga merupakan Ibu Kota Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kabupetan termuda di Indonesia yang dijuluki “Si Bungsu” ini juga disebut sebagai “Bunda Tanah Melayu.” Selain itu, Daik Lingga juga merupakan salah satu kota bersejarah di Indonesia. Dahulu, Daik pernah menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga hampir seratus tahun lamanya. Selama periode itu, tercatat sejumlah raja yang pernah memerintah di kerajaan itu. Menurut catatan sejarah, raja-raja yang pernah memerintah di antaranya, Sultan Ambdurrahman Syah (1812-1832), Sultan Muhammad Syah (1832-1841), Sultan Muhammad Muzafar Syah (1841-1867), Sultan Badrul Alam Syah II (1857-1883), dan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah (1883-1911).

Menurut cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Daik Lingga bahwa kerajaan Daik Lingga masyhur pada saat tampuk kekuasaan dipegang oleh Sultan Abdurraham Muazzam Syah. Pada masa itu, daerah taklukannya amat luas. Rakyatnya hidup aman, tenteram, rajin bekerja, patu dan taat kepada rajanya. Jika terdengar beduk berbunyi, seluruh rakyat berbondong-bondong menuju istana untuk menerima perintah sang Raja untuk membangun negeri. Mereka sangat rajin bergotong-royong dan saling membantu dalam setiap pekerjaan, sehingga kota Daik tampak ramai dan maju dengan pesatnya.

Konon, tidak jauh dari pusat kerajaan terdapat sebuah dusun yang bernama Panggak Darat. Di dusun ini tinggal seorang guru pencak silat bersama seorang muridnya. Sang Guru bernama Apek Huang Tai, sedangkan sang Murid bernama Mahmud. Mahmud adalah murid yang cerdas dan patuh kepada gurunya, sehingga gurunya, Apek Huang Tai, sangat sayang kepadanya. Tidak ada satu pun rahasia silat yang dimilikinya yang tidak diajarkan kepada Mahmud. Setelah habis semua ilmu silat itu diajarkan kepada Mahmud, Apek Huang Tai kemudian berpesan kepada murid kesayangannya itu, agar ilmu yang telah diterimanya itu tidak digunakan untuk melakukan perbuatan tidak baik. Mahmud harus lebih bersabar, tidak boleh menganiaya orang yang tidak berdaya. Sebagai pemilik kesaktian, tentu banyak godaan untuk melanggar yang akan dihadapi Mahmud. Mampukah si Mahmud menjaga amanah gurunya itu? Apa akibatnya jika Mahmud melanggar pesan sang Guru? Ingin tahu kisah selengkapnya? Ikuti cerita rakyat Murid Durhaka berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Daik Lingga berdiri sebuah kerajaan yang bernama Daik-Lingga. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang sultan yang sangat arif dan bijaksana, Sultan Abdurrahman namanya. Seluruh rakyatnya hidup aman, tenteram, dan patuh kepadanya. Jika beduk berbunyi, seluruh rakyatnya berbondong-bondong ke istana untuk memenuhi panggilan sang Raja.

Pada masa itu, tidak jauh dari pusat kerajaaan, ada sebuah dusun yang bernama Panggak Darat. Di dusun itu terdapat sebuah daerah perkebunan yang terletak di atas bukit yang bernama Bukit Tunggul Angus. Di bukit ini tinggallah seorang apek[1] yang bergelar Apek Huang Tai, yang berarti angin besar. Ia diberi gelar demikian karena kemahirannya dalam bermain pencak silat. Apek Huang Tai tidak hidup sendirian, ia ditemani oleh seorang muridnya yang bernama Mahmud. Mahmud adalah anak yang sangat cerdas, patuh dan taat kepada gurunya. Oleh karena itu, Apek Huang Tai sangat sayang kepadanya sama seperti kepada anak kandungnya sendiri. Walaupun dianggap seperti anak kandungnya sendiri oleh Apek, Mahmud tetap memanggil “Apek” kepadanya.

Setelah beberapa lama berguru pada Apek Huang Tai, tamatlah pelajaran silat si Mahmud. Kini, Mahmud telah menjadi seorang pemuda yang perkasa. Semua rahasia silat yang dimiliki gurunya ia warisi. Tak satu pun rahasia jurus-jurus yang tidak diajarkan oleh Apek Huang Tai kepadanya. Sang Guru pun merasa senang karena semua rahasia ilmu silatnya ada yang meneruskan. Namun, sebelum Mahmud meninggalkannya, Apek Huang Tai berpesan kepada Mahmud murid kesayangannya itu:

“Anakku, semua rahasia silat yang kumiliki telah kuajarkan kepadamu. Namun, perlu aku ingatkan bahwa ilmu yang kamu miliki saat ini janganlah kamu gunakan untuk hal-hal buruk. Janganlah kamu memukul atau menganiaya orang-orang yang sudah tidak berdaya. Tapi sebaliknya, hendaknya ilmu itu kamu gunakan untuk menolong yang lemah. Apabila ada orang yang berniat jahat ingin mencelakakanmu, maka bolehlah kamu gunakan ilmu silatmu. Aku rasa hanya itu pesanku kepadamu. Percayalah, Anakku! Jika kamu selalu mengingat pesanku ini, kamu akan selamat ke manapun kamu pergi. Akan tetapi, apabila kamu melanggar, maka kamu bisa celaka,” kata Apek Huang Tai kepada Mahmud.    

“Iya, Pek! Mahmud akan mengikuti semua pesan-pesan Apek,” jawab Mahmud sambil memberi hormat kepada gurunya itu. “Pek, saya sangat berterima kasih kepada Apek, karena telah mengajari saya ilmu silat. Saya tidak bisa membalas budi baik Apek. Namun, hanya sekedar membalas budi baik Apek, saya mempunyai sebidang dusun durian peninggalan orang tua saya. Separuh dari dusun ini saya berikan kepada Apek untuk hidup sehari-hari. Apek kan sudah tua, jadi tidak perlu kerja keras lagi. Semoga Apek mau menerima pemberian ini sebagai ucapan terima kasih saya kepada Apek,” tambah Mahmud.

Suasana perpisahan pun semakin haru. Dengan air mata berlinang, sang Guru menjawab dengan suara serak, “Baiklah, Anakku! Pemberianmu aku terima”. Mendengar jawaban itu, Mahmud segera menyalami gurunya. Oleh karena tidak bisa menahan rasa haru, Mahmud pun meneteskan air mata. Kemudian, ia segera merangkul gurunya yang sangat dicintainya itu.

Setelah berpamitan, Mahmud meninggalkan gurunya seorang diri di Bukit Tunggul Angus untuk melanjutkan pekerjaannya berdagang. Sebagai seorang peraih (pedagang), ia berdagang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan sampan. Akhirnya, sampailah ia di Palembang.

Pada masa itu, di Kerajaan Palembang ada seorang panglima yang sangat masyhur karena keperkasaannya, bergelar Ayam Berkokok. Ia diberi gelar demikian, karena setiap hari ia berkokok seperti ayam jantan yang sedang mencari lawannya. Konon, belum ada seorang pun yang mampu menandingi keperkasaannya, baik di negeri Palembang itu sendiri maupun dari negeri-negeri lain di sekitarnya.

Ketika Mahmud sampai di Palembang, terdengarlah bunyi suara orang berkokok. Dengan iseng, Mahmud menjawab suara yang berkokok itu dari atas sampannya. Ia tidak tahu siapa yang berkokok dan apa maksud orang itu berkokok. Tanpa diduga, tiba-tiba seorang pengawal kerajaan mendatanginya.

“Hei, orang yang di atas sampan! Siapa yang berkokok tadi?” tanya pengawal itu. “Mahmud, Tuan!” jawab kawan Mahmud yang juga ikut berdagang bersama Mahmud.

“Apakah kalian mengerti maksud suara yang berkokok itu?”

“Tidak, Tuan!” jawab Mahmud.

“Perlu kalian ketahui bahwa yang berkokok tadi bukanlah ayam, tapi suara Penglima Kerajaan Palembang yang sedang mencari lawan bertanding. Barang siapa yang menjawab bunyi kokok itu, maka ia harus berani melawan Panglima Kerajaan Palembang sampai mati,” jelas sang pengawal.

Mendengar penjelasan itu, wajah Mahmud menjadi pucat. Ia merasa takut dan menyesal. Tak lengah lagi, Mahmud pun dibawa menghadap Sultan Palembang. “Hai, Orang Muda! Karena engkau telah menjawab suara Panglimaku yang berkokok itu, maka engkau harus bertanding dengannya sampai titik darah penghabisan,” kata Sultan Palembang. Mahmud pun semakin ketakutan mendengar penjelasan sang Sultan. Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hendak mundur tidak akan lagi. “Sampailah ajalku. Tapi sebelum aku mati, akan aku lawan panglima itu semampuku,” kata Mahmud dalam hati. Saat itu pula, ia terbayang-bayang pada wajah gurunya yang telah mengajarinya ilmu silat. “Barangkali inilah saatnya aku harus menggunakan ilmu silat yang diajarkan Apek,” katanya lagi dalam hati.

Keesokan harinya, pertarungan antara Mahmud dengan Panglima Ayam berkokok pun digelar. Di sekeliling gelanggang pertandingan sudah dipenuhi oleh warga yang ingin menyaksikan pertarungan seru itu. Di tengah gelanggang pertandingan, tampak pula Mahmud berdiri berhadap-hadapan dengan Panglima Ayam Berkokok. Namun sebelum aba-aba dibunyikan, juri pertandingan mengumumkan bahwa barang siapa yang kalah dalam pertandingan ini akan dihukum, dan sebaliknya barang siapa yang menang akan mendapat hadiah yang setimpal dari Sultan Palembang.

Usai pengumuman itu, aba-aba pun dibunyikan sebagai tanda pertandingan dimulai. Panglima Ayam Berkokok tampak dengan lincahnya mengeluarkan jurus-jurus pembukanya, dan kemudian memasang kuda-kuda dengan kokoh sasa.[2] Sementara Mahmud tampak tenang-tenang saja, meskipun dalam hatinya sangat kesal melihat tingkah Panglima itu. Ia yakin mampu mengalahkan lawannya. “Kalau memang benar gunung Daik bercabang tiga itu bertuah, aku pasti menang dalam pertandingan ini.”

Baru saja Mahmud selesai bergumam, tanpa diduga, tiba-tiba Panglima Ayam Berkokok menyerangnya. Dengan sedikit berkelik, Mahmud terhindar dari pukulan Panglima itu. Berkali-kali Panglima Ayam Berkokok menyerang Mahmud, berkali-kali pula ia memekik geram karena serangannya dapat dipatahkan oleh Mahmud. Setelah pertarungan itu berlangsung beberapa lama, Panglima Ayam Berkokok pun mulai kesal, karena setiap serangannya selalu saja ditepis oleh Mahmud. Ia pun kemudian mengeluarkan jurus pamungkasnya. Melihat hal itu, Mahmud pun mulai berhati-hati. Kali ini Mahmud tidak boleh lengah sedikit pun.  

Sementara itu, Panglima Ayam Berkokok sudah siap untuk menewaskan Mahmud. Dengan geramnya, ia menyerang Mahmud dengan jurus pamungkasnya. Namun, Mahmud dapat menepis jurus itu dengan mudahnya. Kini, Mahmud sudah bisa mengukur ilmu silat yang dimiliki Panglima Ayam Berkokok. Tampaknya Panglima itu sudah kehabisan jurus. Mahmud pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Mahmud lalu berbalik menyerang dengan melepaskan pukulan-pukulan mautnya. Terdengarlah suara pekikan dari Panglima itu, karena terkena pukulan Mahmud. Baru beberapa pukulan, Panglima itu pun jatuh tersungkur mencium tanah. Begitu ia bangun, Mahmud mengirimkan sebuah pukulan lagi yang menyebabkan Panglima itu jatuh roboh hingga tak bergerak lagi. Melihat panglimanya jatuh tak berdaya, Sultan pun menjadi cemas. Sementara rakyat yang menyaksikan peristiwa itu bersorak-sorai menyambut kemenangan Mahmud.

Setelah itu, Sultan pun menepati janjinya. Ia kemudian mengangkat Mahmud sebagai panglima untuk mengantikan Panglima Ayam Berkokok. Mahmud kemudian terkenal dengan keperkasaannya yang tiada tandingnya. Namun, hal itu pula yang membuat Mahmud menjadi sombong, angkuh, takabbur, dan jahat. Ia merasa dirinyalah yang paling gagah dan perkasa, sehingga apapun yang dilakukannya tak seorang pun yang berani menghalanginya, termasuk Sultan Palembang. Semua perempuan, dayang-dayang dan inang-inang yang ada di istana itu dicerobohinya. Sultan pun tidak berani menentang perbuatan Mahmud yang mendurhaka itu. Oleh karena sudah tidak tahan melihat tingkah Mahmud itu, Sultan pun berniat mencari orang yang mampu mengalahkannya. Namun, tak seorang pun yang sanggup.

Kemudian terdengarlah berita bahwa guru Mahmud yang bergelar Apek Huang Tai masih hidup di Daik Lingga. Maka disuruhlah orang menjemput Apek tersebut datang ke Palembang untuk membujuk dan menyadarkan Mahmud. Sesampainya di Palembang, Apek Huang Tai sangat marah dan menyesal mengajarkan ilmu silat kepada si Mahmud. Kini ia merasa berkewajiban untuk menyadarkan Mahmud. Kalau tidak, maka rusaklah namanya di mata orang Daik.

Apek Huang Tai sudah mengetahui tingkat kemampuan silat Mahmud. Maka sebelum bertemu dan berkelahi dengan muridnya itu, terlebih dahulu ia membuat perangkap di sebuah titian[3]  yang terbuat dari dua batang kayu di dekat istana. Kedua batang kayu itu dipotongnya separuh di bagian bawahnya, agar ketika Mahmud lewat di situ pastilah ia jatuh ke dalam parit, dan pada saat itulah Apek Huang Tai akan memukulnya sampai roboh.

Setelah semua yang direncanakan selesai, Apek Huang Tai pun segera menemui Mahmud di istananya. Ketika itu, Mahmud sedang asyik duduk bersenang-senang dikelilingi oleh inang-inang. Melihat kedatangan gurunya, Mahmud pun menyapanya, “Hai, Pek! Kapan datang dari Daik? Ada perlu apa Apek kemari? Apek perlu uang? Ini aku kasih uang dan kembalilah ke Daik!” Mendengar ucapan muridnya itu, Apek Huang Tai menjawab, “Anakku, kedatangan Apek kemari ingin bertemu denganmu. Apek sangat merindukanmu, Nak! Marilah kita kembali ke Daik daripada kamu berbuat kotor di istana raja ini. Masih ingatkah kamu nasihat Apek dulu? Apek ingin kamu menjadi orang baik-baik, Anakku.”

Mendengar jawaban gurunya itu, Mahmud menjadi marah. “Hei, orang tua bangka! Kamu tahu tidak, aku di sini Panglima Kerajaan Palembang. Sekarang aku yang berkuasa di istana ini. Tak seorang pun yang boleh menghalangiku, meskipun kamu adalah guruku. Kalau kamu mau selamat kembalilah ke Daik. Tapi jika tidak mau pulang, sama artinya kamu menghantarkan nyawamu ke sini,” Mahmud mengancam gurunya.

Apek sangat sedih mendengar ucapan muridnya itu. Ia tidak menyangka kalau murid yang sangat disayanginya itu akan berbuat durhaka. “Mud, Anakku! Ayolah kita kembali ke Daik! Apek tidak ingin kamu berbuat durhaka kepada raja. Bukankah dulu Apek pernah mengajarkan kamu agar menjadi orang baik-baik, suka menolong orang lain,” Apek Huang Tai mengingatkan Mahmud.

Merasa dinasehati, kemarahan Mahmud semakin memuncak. “Hei, Pek! Kamu jangan macam-macam di hadapanku. Apakah kamu mau aku hukum di sini?” ancam Mahmud.

Melihat gelagat Mahmud itu, kesabaran Apek Huang Tai pun sudah habis. “Mud, jika kamu tidak mau pulang ke Daik, maka Apek akan memaksamu,” kata Apek Huang Tai. “Cobalah kalau berani!” Mahmud menantang gurunya.

Begitu Apek mendekat, Mahmud pun berlari ke luar istana. Rupanya ia betul-betul ingin melawan gurunya. Sang Guru pun mengikutinya keluar. Di luar istana terjadilah pertarungan antara guru dan murid. Pertarungan itu disaksikan oleh para warga istana, termasuk Sultan Palembang. Serang-menyerang pun berlangsung seru. Masing-masing memperlihatkan kemahirannya bersilat. Guru dan murid sama-sama mempunyai gerakan dan jurus-jurus pukulan yang serupa. Semua yang menyaksikan pertarungan itu menjadi terpesona. Tak ada suara yang terdengar selain dari bunyi pukulan tinju, tendangan dan dengus-dengusan nafas mengadu kekuatan. Hanya saja, sang Guru agak kepayahan, karena usianya yang sudah tua. Sementara sang Murid yang masih muda, cerdas dan bersemangat itu, tidak menampakkan kepayahan sedikit pun.

Tak berapa lama kemudian, pukulan-pukulan Apek Huang Tai nampak semakin lemah dan nafasnya pun mulai tersengal-sengal kepayahan. Saat itu pula ia teringat dengan titian yang telah dipersiapkannya. Secara pelan-pelan, ia bergerak mundur sambil bersilat ke arah titian. Sesampainya di titian, Apek Huang Tai dengan segala kekuatannya menyerang Mahmud hingga terdesak dan menginjak titian itu. Akhirnya keduanya saling mengadu kekuatan di atas titian. Oleh karena berat dan ditambah pula dengan gerakan-gerakan yang keras dan hebat, maka titian itu pun patah dan keduanya terjatuh ke dalam parit. Pada saat itulah, Mahmud sempat mengirimkan pukulan maut kepada gurunya, dan pada saat yang bersamaan pula sang Guru dapat mencederai Mahmud sehingga ajalnya tiba.

Demikianlah akhir dari pertarungan seru antara guru dan murid, keduanya mati bersama-sama di dalam parit itu.

* * *

Cerita di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral paling penting bagi masyarakat Panggak Darat, Kecamatan Lingga, terutama kepada guru-guru pencak silat, bahwa sebagai seorang guru pencak silat janganlah mengajarkan semua rahasia ilmu silat kepada muridnya, sekalipun kepada orang yang paling disanyangi. Hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti yang dialami oleh Apek Huang Tai dalam cerita di atas, yang telah mengajarkan semua rahasia ilmu silatnya kepada muridnya, Mahmud, sehingga menyebabkan Mahmud menjadi sombong, angkuh, congkak dan suka berbuat jahat. Dengan sifat-sifat tersebut pula Mahmud menjadi murid yang durhaka kepada gurunya. Akibatnya, ia meninggal di tangan gurunya sendiri.

Hal tersebut terjadi karena sang Murid sudah tidak mau mendengar nasihat sang Guru. Sekiranya Mahmud mau mendengar nasihat gurunya, tentu ia akan selamat. Dalam petuah orang tua-tua Melayu disebutkan bahwa hendaknya seorang anak ataupun murid senantiasa menjaga petuah dan amanah orang tua atau gurunya kemana ia pergi, seperti dalam ungkapan berikut ini.


peliharalah petuah amanah ini

pahatkan olehmu di dalam hati

kalau jaga dijadikan tongkat

kalau tidur dijadikan selimut

kalau berjalan jadikan pakaian

 

kalau anak hidup di kampung

utamakan sifat tolong menolong

 

kalau anak hidup di negeri

utamakan sifat kasih mengasihi

 

kalau anak hidup berbangsa

utamakan sifat rasa merasa

 

kalau anak hidup berkaum

utamakan sifat semakan seminum

 

kalau anak hidup beramai

bertenggang rasa berbaik niat

 

kalau anak di rantau orang

fahami betul pantang dan larang

 

(Sas/sas/47/12-07)

Sumber:

  • Isi cerita diringkas dari: “Cerita Rakyat Daerah Riau”, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayan Daerah. 1981. Jakarta: Depdibud Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
  • Anonim. “Daik Lingga: Daik sebagai Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga”, (http://www.ismusurizan.com/daik-lingga, diakses tanggal 1 Desember 2007)


[1] Apek adalah panggilan kepada orang Cina yang sudah tua.

[2] Kokoh kasa artinya kuat dan tegap.

[3] Titian adalah jembatan

Dibaca : 20.538 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password