Senin, 20 Februari 2017   |   Tsulasa', 23 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.485
Hari ini : 22.324
Kemarin : 31.517
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.762.080
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Peusijuek Pade Bijeh (Aceh)

1. Asal Usul

Peusijuek berasal dari kata sijuek (dingin) dan ditambah kata peu, menjadi kata kerja peusijuek (pendingin/ mendinginkan). Kata ini –dalam bahasa Arab– bermakna Tafa‘ul (mengharapkan yang baik)[1]. Peusijuek yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan tepung tawar[2] merupakan upacara yang sejak lama berkembang dalam masyarakat Aceh. Berdasarkan sumber-sumber sejarah, tidak diketahui secara pasti sejak kapan upacara ini mulai dilaksanakan dan oleh siapa, namun dalam perkembanganya ia mendapat pengaruh dari kebudayaan India dan Arab[3].

Berdasarkan pengetahuan dan keterangan orang-orang tua di Aceh Barat, sejarah peusijuek pada mulanya ditujukan kepada orang-orang yang bersengketa yang mengakibatkan kematian, cacat atau luka berat. Watak dan karakter orang Aceh terkenal keras dan tegas, maka apabila hal-hal yang disebutkan di atas terjadi dan tidak terselesaikan, pihak keluarga korban menuntut penyelesaian dan muncul dendam yang berkepanjangan[4]. Penyelesaian kultural secara adat – melalui Majelis Hukum Adat dengan melibatkan keluarga dari kedua belah pihak – menjadi problem solving yang arif dalam mengatasi hal tersebut.

Peusijuek terdiri dari berbagai jenis, yang salah satunya adalah peusijuek pade bijeh (benih padi). Peusijuek ini tidak dimaksudkan menyelesaikan pertikaian. Secara garis besar upacara ini termasuk dalam kategori di luar daur hidup[5], karena dilakukan di luar diri manusia. Upacara ini dilakukan oleh petani sebelum penyemaian untuk memperoleh benih padi yang baik.

2. Peralatan dan Tempat Pelaksanaan

Pada umumnya kelengkapan/ peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan upacara ini disesuaikan dengan jenis-jenis peusijuek. Khusus untuk peusijuek pade bijeh, perlengkapan yang digunakan antara lain[6]:

  1. On gaca (daun pacar), yang berwarna hijau berdaun kecil dengan sifatnya yang tahan panas dan penyakit serta dapat digunakan sebagai obat penyembuh penyakit. Ia bermakna agar benih padi yang dihasilkan berkualitas dan memiliki daya tahan terhadap penyakit.
  2. Bak pineung (pohon pinang), yang memiliki sifat tegak dan kuat. Ini bermakna agar padi yang tumbuh akan tegak dan kuat seperti pohon pinang.
  3. On kunyet (daun kunyit), yang sifatnya berwarna kuning dan tahan dari penyakit. Ia bermakna agar padi yang tumbuh menjadi subur dan tahan dari segala penyakit.
  4. On nilam (daun nilam), yang sifatnya harum bila dihasilkan minyak. Maknanya adalah agar benih padi tumbuh subur dan harum seperti harumnya daun nilam.
  5. On Birah (daun keladi), memiliki sifat tahan hujan dan berwarna hijau. Maknanya agar benih padi yang dihasilkan tahan terhadap hujan dan gangguan penyakit.
  6. On naleung sambo (daun rumput sambo), memiliki sifat kokoh dengan akar serabut yang kuat dan tumbuh tegak. Maknanya adalah agar benih padi yang tumbuh berakar kuat dan tegak serta tahan dari berbagai penyakit.
  7. Sira (garam), dengan sifatnya yang asin dan berguna sebagai penghancur bibit penyakit. Maknanya adalah agar benih padi yang dihasilkan memiliki sifat seperti garam, dapat menghancurkan penyakit yang ada pada padi.
  8. Saka (gula), bersifat manis. Ini memiliki makna agar benih padi yang disemai dapat bermanfaat bagi orang banyak.
  9. Boh keuyeun (jeruk nipis), memiliki sifat yang asam dan dapat dipergunakan sebagai pembersih dan pelicin. Boh keuyeun, meunyeuk atta (minyak wangi) yang dicampurkan dengan air akan menjadi harum. Ini bermakna agar benih padi yang dihasilkan dapat tumbuh subur yang diibaratkan sebagai bayi yang baru lahir yang diberi wangi-wangian, sehingga orang merasa senang mendekati dan menciumnya.
  10. Asap keumenyan (asap kemenyan), yang memiliki sifat harum yang khas yang berasal dari getah pohon kemenyan. Kemenyan dibakar ketika padi akan direndam. Maknanya adalah untuk memanggil roh-roh padi agar padi dapat tumbuh subur dan cepat berbuah.

Peusijuek dilakukan oleh teungku meunasah, dengan disertai keuchik (kepala kampung), dan tokoh adat serta tokoh masyarakat. Adapun tempat pelaksanaannya adalah:

  • Meunasah atau masjid.
  • Rumah petani.

3. Tata Laksana

Upacara ini dilaksanakan pada hari atau tanggal tertentu. Jumlah orang yang hadir dalam upacara dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak ada perbedaan antara jumlah laki-laki dan perempuan, namun lebih baik jumlahnya ganjil. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan upacara ini dapat dilaksanakan[7]:

a. Orang yang melaksanakan peusijuek.

Tengku meunasah atau pun tokoh adat yang biasanya diminta kesediannya oleh masyarakat gampong (kampung) untuk melaksanakan upacara ini.

b. Benda yang akan dipeusijuek.

Dalam peusijuek pade bijeh yang menjadi sasarannya adalah benih padi yang belum disemai.

Mengenai bagaimana prosesinya, masih dalam proses pemgumpulan data.

4. Doa-doa atau Mantra

Doa-doa disampaikan dalam bahasa arab[8].

5. Nilai-nilai

Upacara ini bertujuan agar bijeh pade yang ditanam memperoleh berkah dari Tuhan yang Maha Esa, tumbuh dengan baik, dan terhindar dari segala jenis penyakit/ hama.

Ada pun nilai-nilai yang mempengaruhi adalah:

Nilai etis dan religi.

Pelaksanaan peusijuek dengan bacaan doa-doa merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah), agar benih padi yang akan disemai di sawah membuahkan keberhasilan. Melalui tradisi, manusia memperoleh kesadaran dalam menemukan esensi dirinya dalam struktur realitas dalam menyikapi karunia Tuhan Yang Maha Kuasa[9]. Dalam kehidupan sosial, pilihan pelaksanaan upacara ini merupakan pilihan dan keputusan etis yang berdampak pada kalangan petani dalam menroduksi hasil padi yang berkualitas yang akhirnya dapat membentuk kode etik di kalangan petani sendiri. Padi itu adalah benda hidup yang perlu dihargai, sehingga ada rasa hormat sebelum menggunakannya.

(Cut/bdy/I/01-08).

Referensi

A.R. Ishaq. 1988. Peusijuek dalam Kaca Mata Adat Masyarakat Sunagan, dalam Upacara Peusijuek, hasil Lokakarya Adat dan Budaya, Lhokseumawe 8-10 Januari 1988,

Fagan, S.M. 1997. Does Morality Change?. Dublin: Gill & Macmillan Ltd.

Kasumbogo Untung. 2007. Sains Petani sebagai Kontribusi SLPHT untuk Pemberdayaan Petani.

Makalah yang disampaikan dalam seminar dan lokakarya ”Pemberdayaan dan Sains Petani: Suatu Jalan Alternatif Menuju Pertanian yang tangguh?”, 24 Mei 2007, Yogyakarta: Gedung UC, Kerja sama Academy Professorship Indonesia dan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Ridwan Azwad. 2008. Interviu dilakukan oleh Teuku Cut Mahmud Aziz pada hari Selasa tanggal 15 Januari pukul 14:00 – 14:15 WIB.

Upacara Peusijuek. 1988. Hasil Lokakarya Adat dan Budaya, Lhokseumawe 8-10 Januari 1988.



[1] Lihat Upacara Peusijuek, hasil Lokakarya Adat dan Budaya, Lhokseumawe 8-10 Januari 1988, hal. 35.

[2] Lihat A.R. Ishaq, 1998, Peusijuek dalam Kaca Mata Adat Masyarakat Sunagan, dalam Upacara Peusijuek, hasil Lokakarya Adat dan Budaya, Lhokseumawe 8-10 Januari 1988, hal. 48. Menurutnya, peusijuek merupakan kegiatan menepung tawari seseorang dengan tepung tawar yang dicampur air dingin dan menabur beras yang dicampur dengan padi. Beras terlebih dahulu dicelupkan kedalam air kunyit sehingga berwarna kuning.

[3] Menurut sejarahwan Aceh, Ridwan Azwad, upacara peusijuek diperkirakan telah ada sebelum kedatangan Islam. Mungkin itu pengaruh dari budaya India atau pun budaya masyarakat lokal. Dengan kedatangan Islam, terjadilah pengislaman terhadap upacara tersebut. Interviu dilakukan oleh Teuku Cut Mahmud Aziz pada hari Selasa tanggal 15 Januari 2008 pukul 14:00 – 14:15 WIB.

[4] Ibid. 36. Ada motto dalam masyarakat Aceh: “Utang nyawoung gantau nyawoung, utang darah gantou darah.” Artinya,”Utang nyawa diganti nyawa, utang darah diganti darah.”

[5] Ibid, 25. Pada hal. 5-6: Secara umum kelengkapan upacara peusijuek terdiri dari dalong, bu leukat (ketan putih), teumpo (pisang yang diaduk dengan tepung ketan, lalu dicetak, digoreng dan diletakkan di atas ketan), breuh pade (beras padi), teupong breuh bit ngon ie (tepung beras dicampur sedikit dengan air), on sisijuek (daun peusijuek), on manek manoe, naleueng sambo (rumput sambo), talam ubit (talam kecil), boh manok meuntah (telur ayam mentah), on kala (daun rimbang), on pineung mirah (daun pinang merah), ija puteh (lain putih), boh u-muda (buah kelapa muda), on gaca (daun kaca), on kunyet (daun kunyit), on nilam (daun nilam), on biraih, sira (garam), saka (gula), ie boh keuyuen (air jeruk nipis) , asap keumenyan (asap kemenyan), manok panggang (ayam panggang), payoeng (payung), sikin cuko (pisau cukur), minyeuek ata (minyak wangi), gunteing (gunting), glok jaroe (kobokan),  ie bu puteh (air nasi putih), seugot, sireuma, keuleumbak, ceuremen (cermin muka), ceurana, panton (pantun), dan doa.

[6] Ibid, 25-27.

[7] Lihat A.R. Ishaq, 1988, Peusijuek dalam Kaca Mata Adat Masyarakat Sunagan, dalam Upacara Peusijuek, hasil Lokakarya Adat dan Budaya, Lhokseumawe 8-10 Januari 1988, hal. 50-51.

[8] Pada saat ini teungku (imeum meunasah) umumnya memiliki wewenang melaksanakan peusijuek, karena dalam peusijuek dibacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Sebagai tambahan lebih lanjut, pada saat ini dapat dikatakan sudah langka (atau mungkin tidak ada lagi) pelaksanaan peusijuek pade bijeh. Sejak adanya traktor dengan modernisasi (swasembada beras) di bidang pertanian, banyak tradisi lokal terpinggirkan bahkan hilang, begitu juga peusijuek pade bijeh. Ini dapat dilihat pada Kasumbogo Untung, Sains Petani sebagai Kontribusi SLPHT untuk Pemberdayaan Petani, makalah yang disampaikan dalam seminar dan lokakarya ”Pemberdayaan dan Sains Petani: Suatu Jalan Alternatif Menuju Pertanian yang tangguh?”, hal 2-5, 24 Mei 2007, Yogyakarta: Gedung UC, Kerja sama Academy Professorship Indonesia dan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Program swasembada beras tidak terlepas dari konsep teknologi ”revolusi hijau.” Pemerintah Soeharto sejak tahun 1970-an telah menetapkan kebijakan peningkatan produksi padi secara cepat yang hanya dapat dicapai bila para petani padi dapat menerapkan teknologi pertanian modern.

[9] Sebagaimana kata Max Weber, suatu tradisi menjadi sakral apabila dimensi  transcendental dijadikan landasan. Lihat juga Sean Fagan, S.M, Does Morality Change?, (Dublin: Gill & Macmillan Ltd, 1997),p. 33. Ia menegaskan bahwasanya: “Cultures have a further dimension. Part of human consciousness in the inner voice that seeks explanations for everything, the basic search for meaning, for a vision or belief that makes sense of everything. This is the world of religion, the world of recognition, in which people recognize the deeper meaning of human experience.”

 

Dibaca : 9.603 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password