Kamis, 25 Mei 2017   |   Jum'ah, 28 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 7.637
Hari ini : 45.654
Kemarin : 92.738
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.459.811
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Peusijuek Meulangga (Upacara Perdamaian di Aceh, Indonesia)

1. Asal-Usul

Matee aneuk meupa jerat Gadoh adat pat tamita, merupakan sebuah prinsip masyarakat Aceh untuk selalu mempertahankan adat hingga akhir hayatnya dan menjadikan nilai-nilai yang ada didalamnya sebagai salah satu landasan untuk menyelesaikan masalah yang tengah terjadi. Oleh karena itu, bagi masyarakat tradisional Aceh, pewarisan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi selanjutnya menjadi demikian penting.

Upacara adat sebagai salah satu unsur dari kebudayaan telah menyumbangkan kontribusi besar bagi masyarakat Aceh dalam membuat keputusan dan menyelesaikan masalah, misalnya Peusijuek Meulangga. Peusijuek Meulangga merupakan upacara adat Aceh yang dilakukan dengan cara menabur padi dan beras serta menyuapi seseorang dengan nasi ketan. Upacara yang mengandung nilai simbolis dengan membawa pesan tentang berbagai permasalahan sosial, politik, ekonomi dan keamanan daerah ini bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi dalam keluarga atau masyarakat sehingga kehidupan bermasyarakat kembali harmonis.

Istilah Peusijuek bermakna “Peusijuek Leumbeng Peurisee (Menjatuhkan lembing dan perisai). Ungkapan tersebut merupakan titik terakhir untuk menyelesaikan berbagai pertikaian. Peusijuek ini berfungsi untuk menghindari timbulnya dendam yang berkelanjutannya “utang nyawoung gantau nyawoung, utang darah gantou darah”. Peusijuek Meulangga dilaksanakan apabila terjadi perselisihan antara penduduk yang saling bertikai. Munculnya Peusijuek Meulangga disinyalir karena seringnya terjadi sengketa antar masyarakat Aceh yang dikenal berdarah panas.

Secara harfiah, upacara ini berarti mencari kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian. Jika konflik diibaratkan luka, maka untuk menyembuhkannya, luka tersebut harus dibersihkan dulu dengan air. Setelah bersih baru diberi obat, demikian juga dengan konflik. Air didahulukan karena bersifat dingin dan dianggap sebagai terapi yang mujarab untuk menurunkan emosi dan ketegangan dalam hubungan antar manusia.

Sebagai bagian dari bentuk rekonsiliasi dan pengikat tali silaturrahmi, Peusijuek ini mirip upacara adat Pela Gandong di Ambon yang bertujuan juga untuk mencegah terjadinya konflik horizontal dan mendamaikan dua pihak yang bersengketa melalui pengadilan adat. Sebagai pembawa pesan perdamaian, Peusijuek Meulangga terdapat di semua wilayah Aceh, tetapi dengan tata-cara yang beragam.

Dalam sejarah Indonesia, Peusijuek Meulangga setidaknya pernah dilakukan pada dua kejadian penting, yakni:

  1. Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh pada tahun 1962. Upacara Peusijuek Meulangga ini dilaksanakan pada tanggal 18-21 Desember, di Blang Padang Banda Aceh. Tujuan penyelenggaraan upacara adat ini adalah untuk mendamaikan DI/TII dengan pemerintah RI. Pelaksanaan upacara adat ini dihadiri oleh mantan anggota DI/TII, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintahan baik sipil maupun militer.
  2. Peringatan MoU perdamaian yang dilakukan antara GAM dengan Pemerintah Republik  Indonesia, yang ditandatangani di Helsinki Finlandia, pada tanggal 15 Agustus 2005. Peringatan perjanjian damai Helsinki ini dilakukan di Pendapa Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam di Banda Aceh. Pelaksanaan upacara ditandai dengan penyerahan bunga sebagai simbol keselamatan, uang pecahan sebagai simbol kemakmuran, penyerahan songkok emas sebagai tanda keluhuran, dan penyematan rencong emas yang melambangkan keamanan. Pada saat bersamaan, tepatnya di pesisir Ulee Lheue juga dilaksanakan upacara adat Peusijuek Meulangga yang dilaksanakan oleh para operator lapangan perdamaian. Acara tersebut dihadiri oleh mantan Panglima GAM Muzakir Manaf, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Kapolda NAD Irjen Bachrumsyah, Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Supiadin, dan Mayjen Bambang Darmono.

2. Peralatan Upacara

Peralatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan upacara Peusijuek Meulangga di antaranya adalah:

  • Dalong, yaitu alat seperti bejana yang terbuat dari tembaga. Makna dari dalong ini adalah agar pihak yang berselisih tetap akan bersatu dan tetap menjalin komunikasi meski pernah berkonflik.
  • Bu Leukat, yaitu ketan berwarna kuning dan putih. Putih melambangkan kesucian, sedangkan kuning melambangkan kejayaan. Perpaduan kedua warna ini menyimbolkan sebuah zat perekat, sehingga pihak-pihak yang berkonflik dapat hidup secara damai, tenang dan mudah (lancar) dalam mencari nafkah.
  • Breuh-Pade (padi). Maknanya merujuk pada sifat padi yang semakin tua semakin berisi dan semakin menunduk. Simbol padi bertujua mengingatkan manusia agar tidak sombong, karena sifat ini bisa memicu perselisihan.
  • Teupong Taweue (tepung tawar) yang dicampur air. Penggabungan tepung tawar dan air, bertujuan untuk mendinginkan pihak yang telah bertikai.
  • Ketan kuning, kain putih 6 hasta, pakaian satu salin dan uang. Peralatan tersebut harus disediakan oleh pihak yang kali pertama memukul.
  • Sirih lengkap.
  • Bunga dan daun. Adapun bunga dan daun yang digunakan antara lain:
  • Daun Pinang sebagai simbol supaya hati manusia tak bercabang dan lurus seperti pohon pinang.
  • Daun Keladi sebagai isyarat agar manusia tidak mudah menerima pengaruh sebagaimana daun keladi yang kalis terhadap air.
  • Daun Inai (Pacar). Daun ini melambangkan sikap berani dan jantan seperti daun pacar yang menghasilkan warna merah jika ditumbuk.
  • Bunga Kesijuk sebagai perlambang kesejukan.
  • Daun Pandan Pulu sebagai perlambang dari keharuman.
  • Bunga Memeru yang melambangkan keserasian dan keharmonisan hidup.
  • Rumput Hijau sebagai perlambang kesuburan dan kedamaian.

3. Tata Laksana

Pelaksanaan Peusijuek Meulangga dilakukan dengan menepung tawari orang-orang yang bertikai. Upacara perdamaian ini dihadiri oleh orang tua masing-masing pihak yang berselisih paham atau ureung tuha gampong dan orang-orang terpandang lainnya. Dalam Peusijuek ini, dua pihak yang bertikai dipertemukan dengan disaksikan oleh masyarakat setempat.

Peusijuek Meulangga juga dilakukan dengan melibatkan ketua hukum adat untuk mengambil suatu kebijakan dalam mendamaikan kedua belah pihak yang tengah bertikai atau bersengketa. Ketua adat juga melibatkan wali-wali keluarga dari kedua belah pihak. Dalam upacara tersebut, ditelusuri sebab-musabab terjadinya pertikaian, siapa yang memulai dan yang pertama kali memukul, sampai akibat apa yang ditimbulkan dari pertikaian tersebut. Bagi pihak yang memukul pertama kali diwajibkan membawa ketan kuning, kain putih 6 hasta, dan pakaian satu salin.

Jika dalam perselisihan tersebut ada yang terluka (rho darah), maka pihak yang terluka diberikan uang (sayam) oleh pihak yang tidak terluka. Adapun jumlahnya tergantung kepada kedua belah pihak yang berselisih. Setelah mendapatkan kata sepakat, pihak yang terluka harus diobati hingga sembuh dan pihak terdakwa dikenakan hukuman menurut berbagai keputusan dan pertimbangan majelis hukum adat, hal ini berpedoman pada kata-kata “Luka ta Siphat, darah ta Sukat” yang berarti luka disekujur badan dijengkal, darah ditakar menurut berat ringannya.

Jika korban mengalami luka di kepala secara serius atau cacat seumur hidup, maka si pelaku dikenai denda berat (dhiet), yaitu harus menyediakan sebuah kerbau. Tetapi jika si pelaku tidak mampu membayar, maka majelis adat akan bermusyawarah kembali dan menentukan dhiet lebih ringan, yaitu berupa seekor kambing. Jika masih belum mampu karena alasan ekonomi dan latar belakang keluarga yang miskin, maka majelis adat akan berunding kembali dan pada akhirnya pelaku hanya diwajibkan membayar denda berupa ayam.

Di samping itu, terdakwa juga dibebankan sebuah Idang bu leuket (nasi pulut) lengkap dengan ayam panggang, yang juga merupakan bentuk penghormatan dari terdakwa terhadap keluarga korban. Jika yang menjadi korban dalam pertikaian tersebut adalah keturunan bangsawan atau sederajatnya, maka nasi pulut harus berwarna kuning yang dimasak dengan campuran kunyit, namun jika yang menjadi korban berasal dari latar belakang rakyat jelata, maka terdakwa hanya diharuskan menyediakan nasi biasa tanpa campuran kunyit.

Setelah keputusan dibuat dan denda yang dibebankan disepakai oleh kedua belah pihak, maka upacara Peusijuek Meulangga diakhiri dengan doa bersama dan saling bermaaf-maafan.

4. Doa dan Mantra

  1. Membaca shalawat Nabi tiga kali.
  2. Surah Al Maun tiga kali.
  3. Surah Al Baqarah ayat 255.

5. Nilai-nilai Budaya

Setiap daerah mempunyai pengetahuan lokal (local knowledge) untuk menyelesaikan sebuah konflik yang terjadi antar anggota masyarakatnya, sebagaimana ditunjukkan oleh pelaksanaan Peusijuek Meulangga oleh masyarakat Aceh. Pelaksanaan upacara ini baik secara langsung maupun tidak langsung berfungsi antara lain:

  • Menyelesaikan berbagai persengketaan secara adat dan kekeluargaan.
  • Membantu pemerintah dalam mengusahakan ketertiban masyarakat, khususnya dalam menjaga keamanan dari adanya konflik sosial.
  • Mengajarkan sikap saling menghargai dan saling memaafkan antar sesama.
  • Agar pihak-pihak yang bertikai tidak lagi mengulangi pertikaian.

(HA/bdy/1/01-08)

Sumber:

  • Jawa Pos, Pertama, Tokoh GAM Pidato Bahasa Indonesia” Rabu 16 Agustus, 2006.
  • Kompas, “Peusijuek, Upacara Perdamaian Khas Aceh”. Kamis 26, Agustus 2006.
  • Upacara Peusijuek, Hasil Loka-Karya Adat dan Budaya, Lokseumawe, 8-10 Januari, 1988.
Dibaca : 12.220 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password