Jumat, 18 Agustus 2017   |   Sabtu, 25 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 298
Hari ini : 4.064
Kemarin : 30.342
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.006.574
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Sultan Bahadur Syah (Kedah)

a:3:{s:3:

Kedah dengan luas 9.425 km2 merupakan salah satu negeri di Malaysia yang terletak di sebelah utara Semenanjung Malaysia. Konon, negeri yang bergelar Darul Aman ini pernah dipimpin oleh seorang raja yang bernama Sultan Bahadur Syah. Ia memiliki seorang putri cantik yang bernama Saerah. Menurut ramalan seorang dukun, Putri Saerah akan dinikahi oleh seorang pemuda miskin yang bernama Wira. Namun, Sultan Bahadur Syah tidak ingin mempunyai menantu orang miskin. Usaha apa yang akan dilakukan Sultan Bahadur Syah agar putrinya tidak menikah dengan Wira? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Sultan Bahadur Syah berikut ini!

* * *

Alkisah, di Negeri Kedah, Malaysia, hiduplah seorang sultan yang bernama Sultan Bahadur Syah. Ia sangat gemar berburu binatang di hutan. Ia mempunyai seorang bayi perempuan yang bernama Putri Saerah.

Pada suatu hari, Sultan Bahadur Syah pergi berburu binatang seorang diri di sebuah hutan lebat yang belum pernah dijelajahinya. Ia sangat senang berburu di hutan itu, karena terdapat banyak binatang buruan. Oleh karena asyik berburu, ia lupa dengan waktu. Setelah menyadari bahwa hari sudah sore, ia pun memutuskan untuk kembali ke istana. Namun, ketika pulang ke istana, ia tersesat di dalam hutan. Ia mencoba mencari jalan pulang dengan menyusuri sebuah sungai. Setelah beberapa jauh berjalan, ia melihat sebuah pondok di tepi sungai dan segera menghampirinya.

Assalamualaikum! Adakah orang di dalam?” Sultan Bahadur Syah memberi salam sambil mengetuk pintu.

Wa alaikumsalam!” terdengar suara dari dalam pondok menjawab salamnya.

Tak lama kemudian, keluarlah seorang laki-laki setengah baya dari dalam pondok itu.

”Tuan siapa dan berasal dari mana?” tanya pemilik pondok itu.

”Aku Bahadur Syah, sultan di negeri ini,” jawab Sultan.

”Ampun, Baginda! Hamba tidak tahu kalau Baginda adalah Sultan Bahadur Syah. Hamba hanya sering mendengar nama Baginda,” kata pemilik pondok itu seraya memberi hormat.

“Kamu sendiri siapa?” tanya Sultan.

”Saya Pak Sali, Baginda,” jawab laki-laki setengah baya itu.

“Pak Sali! Sebenarnya aku sedang tersesat di hutan ini. Dapatkah kamu menunjukkan jalan agar aku dapat keluar dari hutan ini?” tanya Sultan.

”Ampun, Baginda! Saat ini Hamba belum dapat menunjukkan jalan untuk keluar dari hutan ini, karena istri Hamba hendak melahirkan. Lagi pula hari sudah gelap. Bagaimana kalau Baginda bermalam saja di sini. Besok pagi hamba akan menunjukkan jalan itu,” jawab Pak Sali.

”Baiklah, Pak Sali,” jawab Sultan Bahadur Syah setuju.

Malam itu, Sultan Bahadur Syah sangat sulit untuk memejamkan matanya. Ia tidak terbiasa tidur dengan beralaskan tikar dari anyaman daun pandan. Ditambah lagi dengan suara jeritan istri Pak Sali yang akan melahirkan. Hingga tengah malam, Sultan Bahadur Syah tidak dapat memejamkan matanya. Ia sangat gelisah dan ingin secepatnya kembali ke istana sehingga dapat beristirahat dengan tenang.

Pada saat tengah malam, istri Pak Sali pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Namun malang bagi istri Pak Sali, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Dukun yang membantu persalinan istri Pak Sali segera menimang bayi laki-laki itu, lalu berkata:

”Pak Sali! Menurut ramalanku, anakmu kelak akan menikah dengan putri sultan yang sedang tidur di dalam pondokmu ini.‘

”Hah! Benarkah itu, Mbah Dukun?” tanya Pak Sali tersentak kaget.

”Benar, Pak Sali! Pelihara dan didiklah anakmu ini dengan baik!” jawab Dukun itu.

Sultan Bahadur Syah yang belum tidur tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ia pun semakin sulit untuk memejamkan mata, karena tidak mau mempunyai menantu orang miskin. Hingga pagi hari, ia tidak dapat tidur karena memikirkan bagaimana cara agar anak Pak Sali itu tidak menikah dengan putrinya.  

Pagi-pagi sekali, Sultan Bahadur Syah menemui Pak Sali yang sedang menimang-nimang bayinya.

”Pak Sali! Oleh karena istrimu sudah meninggal, bagaimana kalau putramu ini kamu berikan saja kepadaku?” tanya Sultan Bahadur Syah.

”Tapi, Baginda!”

”Jangan khawatir, Pak Sali! Putramu akan aku pelihara seperti anakku sendiri,” tambah Sultan Bahadur Syah.

Mendengar ucapan Sultan Bahadur Syah, Pak Sali diam sejenak. ”Wah, kebetulan sekali. Jika putraku diasuh oleh Baginda, tentu ia akan semakin dekat dengan putri Baginda,” pikirnya.

”Baiklah! Baginda boleh membawa putra hamba ke istana,” kata Pak Sali setuju.

”Terima kasih, Pak Sali! Nanti aku akan mengutus beberapa pengawalku untuk mengambil bayi ini,” kata Sultan Bahadur Syah lalu berpamitan.

Pak Sali pun menunjukan jalan kepada Sultan Bahadur Syah untuk pulang ke istana. Sesampai di istana, Baginda segera memerintahkan Bendahara Kerajaan dan beberapa pengawal untuk mengambil bayi itu di pondok Pak Sali.

”Pengawal! Setelah mengambil bayi itu, segera kalian hanyutkan di sungai di tengah hutan itu!” titah Sultan Bahadur Syah.

”Baik, Baginda!” jawab para pengawal serentak seraya berpamitan untuk melaksanakan perintah.

Setelah sampai di rumah Pak Sali, mereka mengambil bayi itu dan membawanya pergi. Di tengah perjalanan, mereka memasukkan bayi itu ke dalam sebuah bakul dan menghanyutkannya ke sungai. Setelah itu, mereka kembali ke istana untuk melapor kepada Sultan Bahadur Syah.

Sementara itu, bayi malang yang dihanyutkan di sungai itu ditemukan oleh seorang nelayan dan dijadikan sebagai anak angkat. Bayi itu ia beri nama Wira. Beberapa tahun kemudian, Wira tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan.

Pada suatu hari, Sultan Bahadur Syah lewat di depan rumah nelayan itu saat akan pergi berburu ke hutan. Ia melihat seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah sedang duduk di depan rumah itu.

”Amboi, gagah sekali pemuda itu! Jika pemuda itu dinikahkan dengan putriku, tentu akan menjadi pasangan yang serasi. Tetapi, siapa pemuda itu?” tanya Sultan Bahadur Syah dalam hati.

Oleh karena penasaran, ia pun segera bertanya kepada nelayan itu. Setelah nelayan itu menceritakan bagaimana mendapatkan anak angkat itu, Sultan Bahadur Syah yakin bahwa pemuda itu adalah bayi yang telah dibuang oleh pengawalnya beberapa tahun yang lalu. 

”Wah, gawat kalau begini. Pemuda itu pasti putra Pak Sali,” katanya dalam hati.

Yakin dengan hal itu, ia pun segera menulis surat kepada Bendaharanya di istana agar segera membunuh pemuda itu. Selesai menulis surat, ia pun memerintahkan Wira agar mengantarkan surat itu ke istana.

”Anak Muda, tolong antarkan surat ini kepada Bendaharaku di istana!” titah Sultan Bahadur Syah kepada Wira.

”Tapi, kamu tidak boleh membuka surat ini, karena isinya sangat rahasia,” tambah Sultan Bahadur Syah mengingatkan.

Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, Wira segera membawa surat itu ke istana. Namun di tengah perjalanan, ia tersesat di tengah hutan. Untungnya ia bertemu dengan seorang laki-laki tua bernama Kakek Itam.

”Hai, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya Kakek Itam.

”Saya Wira, Kek! Saya mau ke istana, tapi saya tersesat di jalan” jawab Wira.

”Ada perlu apa kamu ke istana?” Kakek Itam kembali bertanya.

”Mengantar surat ini, Kek!” jawab Wira sambil menunjukkan surat itu.

”Tapi, hari sudah sore, Nak! Bagaimana kalau kamu bermalam dulu di pondok Kakek malam ini? Besok pagi Kakek akan menunjukkan jalan menuju ke istana,” kata Kakek Itam menawarkan.

”Baiklah, Kek!” jawab Wira setuju.

Setelah makan malam, Wira beristirahat dan tertidur lelap, karena kelelahan setelah berjalan cukup jauh. Sementara Kakek Itam tidak dapat memejamkan mata, karena penasaran terhadap isi surat yang dibawa oleh Wira. Saat Wira sedang tertidur lelap, Kakek Itam pelan-pelan mengambil surat itu di samping Wira lalu membacanya. Alangkah terkejutnya Kakek Itam setelah mengetahui isi surat itu. Ia pun merasa iba terhadap Wira dan berniat untuk menolongnya.

”Kasihan sekali pemuda ini. Tetapi, apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya?” tanya Kakek Itam dalam hati dengan perasaan iba.

Setelah beberapa saat berpikir, ia pun menemukan cara, yaitu mengganti isi surat itu. Agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi para pembesar di istana, Kakek Itam menulis surat persis sama dengan bentuk tulisan dalam surat Sultan Bahadur Syah. Isi surat yang ditulis Kakek Itam berbunyi seperti berikut:

”Wahai, Bendahara! Segera nikahkan pemuda yang membawa surat ini dengan Putri Saerah. Laksanakan pernikahan mereka sebelum aku pulang dari berburu!”

Setelah mengganti isi surat itu, Kakek Item segera meletakkannya kembali di samping Wira. Keesokan paginya, Wira mohon pamit kepada Kakek Itam untuk mengantar surat itu. Sebagaimana perintah Sultan, Wira tidak berani untuk membuka surat itu, apalagi membacanya.

Sesampainya di istana, Wira menyerahkan surat itu kepada Bendahara. Setelah menerima dan membaca isi surat itu, Bendahara segera melaksanakan amanat Sultan Bahadur Syah. Pernikahan Putri Saerah dengan Wira pun dilangsungkan dengan meriah, walaupun tanpa kehadiran Sultan Bahadur Syah.

Sepulang dari berburu, Sultan Bahadur Syah heran dan murka.

”Hei, Bendahara! Siapa yang menyuruh kamu menikahkan pemuda ini dengan putriku?” tanya Sultan Bahadur Syah dengan muka merah.

”Ampun, Baginda! Bukankah Baginda sendiri yang memerintahkan kami, sebagaimana tertulis dalam surat itu,” jawab Bendahara.

”Mana surat itu?” tanya Sultan meminta surat itu.

”Ini, Baginda!” jawab Bendahara sambil menyerahkan surat itu.

Sultan Bahadur Syah sangat terkejut dan heran, karena isi surat itu berbeda dengan yang ditulisnya. Namun, bentuk tulisannya persis sama dengan tulisannya.

”Apa aku yang keliru menulis surat ini?” tanyanya dalam hati dengan bingung.

Akhirnya, Sultan Bahadur Syah sadar bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Tidak seorang pun manusia yang mampu menghalangi segala kehendak-Nya. Sultan Bahadur Syah pun mengakui kesalahannya dan minta maaf kepada Wira, serta menerimanya sebagai menantu. Wira dan Putri Saerah hidup bahagia bersama seluruh keluarga istana lainnya.

* * *

Demikian cerita Sultan Bahadur Syah dari Kedah, Malaysia. Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yang terkandung di dalamnya, yaitu: percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan dan keutamaan sifat rendah hati. Sifat rendah hati tercermin pada sikap Sultan Bahadur Syah. Walaupun seorang Sultan, ia rela mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Wira karena telah berniat untuk membunuhnya. Terkait dengan sifat ini, dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:

wahai ananda luruskan langkah,
janganlah malu mengaku salah
daripada bertengkar elok mengalah
supaya hidupmu tidak menyalah

(SM/sas/67/04-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Kedah” (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kedah, diakses tanggal 19 April 2008)
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
Kredit foto : Buku 366 Cerita Rakyat Malaysia
Dibaca : 17.767 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password