Minggu, 28 Mei 2017   |   Isnain, 2 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.154
Hari ini : 63.596
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.476.145
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rahasia Danau Garu (Johor)

a:3:{s:3:

Negeri Johor dengan gelar Darul Takzim merupakan sebuah negara bagian di Malaysia, yang terletak di ujung paling selatan Semenanjung Malaysia. Di negeri ini terdapat sebuah danau yang cukup terkenal, yaitu Danau Garu. Konon, danau ini dulunya bernama Gaharu, namun masyarakat setempat mengubah nama danau itu menjadi Garu. Mengapa mereka mengubah nama Danau Gaharu menjadi Danau Garu? Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi di danau ini? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Rahasia Danau Garu berikut ini!

                                                                 * * *

Alkisah, di wilayah Negeri Johor, Malaysia, ada sebuah danau yang bernama Danau Gaharu. Danau ini senantiasa mengeluarkan asap yang berbau harum dan di dalamnya hidup beraneka ragam jenis ikan. Tetapi, konon, ikan-ikan di danau itu sangat sulit untuk ditangkap dan apabila menyentuh air danau itu seluruh badan akan terkena penyakit gata-gatal yang dapat mengakibatkan kematian. Namun, tidak semua penduduk di sekitar danau percaya terhadap hal itu, seperti Pak Uduh dan istrinya. Walaupun sudah berkali-kali dinasehati oleh warga lainnya, mereka tetap bersikukuh ingin menangkap ikan di danau itu dengan berbagai cara.

Pada suatu hari, Pak Uduh ditemani istrinya pergi ke danau untuk memancing ikan. Sesampai di danau, Pak Uduh memasang pancingnya di beberapa tempat. Sesaat kemudian, ikan-ikan di danau itu mulai memakan umpannya. Namun, setiap kali menarik pancingnya, ikan tersebut selalu saja lepas. Hingga siang hari, Pak Uduh belum mendapat seekor ikan pun.

”Bang! Kenapa ikan di danau ini sangat sulit di tangkap ya, Bang ?” tanya Istri Pak Uduh heran.

”Entahlah, Dik! Abang juga tidak tahu,” jawab Pak Uduh dengan nada kecewa.

Tetapi, hal itu tidak membuat mereka putus asa. Keesokan harinya, mereka pergi ke hutan mencari tanaman tuba untuk digunakan menuba.[1] Setelah menumbuk akar tuba yang mereka peroleh, mereka pun segera menaburkan ke danau. Sambil menunggu reaksi akar tuba itu, mereka pergi duduk di tepi danau. Dalam pikiran mereka, sebentar lagi akan mendapatkan ikan yang banyak. Namun, hingga siang hari mereka menunggu, tidak seekor ikan pun yang mati.

”Aneh! Sungguh aneh!” kata Pak Uduh heran.

”Iya, Bang! Sepertinya kita tidak akan dapat menangkap ikan itu dengan cara ini. Sebaiknya kita cari cara lain saja,” sahut sang Istri.

”Apakah Adik punya cara yang lain?” tanya Pak Uduh kepada istrinya.

”Iya, Bang! Adik punya ide. Di kampung sebelah itu ada seorang dukun yang pandai. Bagaimana kalau kita ke sana untuk meminta bantuannya?” usul sang Istri.

”Benar juga katamu, Dik! Siapa tahu dia dapat membantu kita,” jawab Pak Uduh setuju.

Pada malam harinya, berangkatlah mereka ke rumah dukun itu. Sesampai di rumah Pak Dukun, mereka pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.

”Baik, Pak Uduh! Saya akan membantu kalian. Kalian tunggulah di sini sebentar!” seru Pak Dukun lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu.

Tidak berapa lama, Dukun itu sudah keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah kantong kecil yang berisi kemenyan.

”Pak Uduh! Kantong ini berisi kemenyan yang sudah saya beri mantra. Jika kalian sudah sampai di rumah, tumbuklah kemenyan ini hingga halus, lalu taburkan ke danau itu!” perintah Pak Dukun.

”Baik, Pak Dukun!” jawab Pak Uduh dan istrinya seraya berpamitan pulang.

Keesokan harinya, setelah menumbuk kemenyan itu hingga halus, mereka bergegas pergi ke danau. Setiap sudut danau itu mereka taburi dengan kemenyan halus. Berapa saat kemudian, beraneka jenis ikan melompat-lompat di permukaan air. Bahkan, ada yang melompat sampai ke darat. Mereka sangat senang dan gembira.

”Asyiik...! Asyiik...! Kita berhasil!” Pak Uduh berteriak sambil melompat-lompat kegirangan.

”Iya, Bang! Cepatlah tangkap ikan itu!” seru sang Istri tidak sabar.

Pada saat Pak Uduh melemparkan jala ke danau, kakinya terperosok di tepi danau hingga kehilangan keseimbangan. Akhirnya, ia pun tercebur masuk ke dalam danau.

”Tolooong...!!! Tolooong....!!! Tolong aku, Dik!” teriak Pak Uduh minta tolong kepada istrinya.

Dengan panik, sang Istri segera mengulurkan tangannya untuk meraih tangan suaminya. Namun sial baginya, kakinya juga terperosok di tepi danau hingga ikut tercembur ke dalam danau. Mereka kemudian berteriak minta tolong. Pada saat itu, ada tiga orang warga yang lewat di tempat itu. Mereka pun segera menarik sepasang suami-istri itu naik ke pinggir danau.

”Wah, gawat ini! Seluruh tubuh kalian sudah tersentuh air danau,” kata salah seorang warga dengan panik.

”Benar, Pak Uduh! Sebentar lagi tubuh kalian akan terkena penyakit gatal-gatal,” tambah seorang warga lainnya.

Mendengar hal itu, Pak Uduh dan istrinya mulai cemas. Mereka pun segera pulang ke rumah untuk membersihkan badan mereka dengan air sumur yang ada di belakang rumah mereka. Setelah itu, mereka merasa agak lega, karena air danau yang melekat di badan mereka telah hilang, sehingga dapat terhindar dari penyakit gatal-gatal.

Pada malam hari, saat akan beristirahat, tiba-tiba seluruh badan mereka terasa gatal. Mereka pun menjadi panik.

”Bang! Badanku gatal semua,” kata sang Istri sambil menggaru-garu[2] badannya.

”Aku juga, Dik!” jawab Pak Uduh yang juga sambil menggaru-garu badannya.

”Aduuuh... gatal sekali!” jerit sang Istri.

”Tolooong... !!! Tolooong... !!!” teriak Pak Uduh minta tolong.

Mendengar suara teriakan itu, seluruh warga kampung segera mendatangi rumah Pak Uduh untuk memberikan pertolongan. Berbagai jenis obat gatal telah mereka coba, namun belum ada yang dapat menghilangkan rasa gatal itu. Justru, rasa gatal itu semakin menjadi-jadi. Pak Uduh dan istrinya terus menjerit menahan rasa perih, karena kulit badan mereka terkelupas dan mengeluarkan darah. Warga yang hadir tidak dapat berbuat apa-apa. Segala cara telah mereka lakukan untuk mengobati Pak Uduh dan istrinya, namun tidak satu pun obat yang dapat menyembuhkannya. Hingga pagi hari, Pak Uduh dan istrinya tidak pernah berhenti menggaru-garu, sehingga  seluruh kulit badan mereka terkelupas. Oleh karena tidak kuat menahan rasa perih dan sakit, kedua suami-istri itu akhirnya meninggal dunia.

Sejak peristiwa itu, para warga semakin tidak berani pergi menangkap ikan di danau itu, karena takut tersentuh airnya. Untuk mengenang peristiwa yang menimpa Pak Uduh dan istrinya, masyarakat setempat mengganti nama Danau Gaharu menjadi Danau Garu.

* * *

Demikian cerita Rahasia Danau Garu dari Negeri Johor, Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat tidak mau mendengar nasehat orang lain. Sifat ini tercermin pada sikap Pak Uduh dan istrinya yang tidak mau mendengar nasehat masyarakat di sekitarnya untuk tidak menangkap ikan di Danau Gaharu. Akibatnya, mereka pun terserang penyakit gatal-gatal dan menyebabkan mereka meninggal dunia. Terkait dengan sifat ini, dalam ungkapan Melayu dikatakan:

apa tanda orang yang malang,
tak mau mendengar pendapat orang

(SM/sas/69/04-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “garu”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tanggal 26 April 2008).
  • Anonim. “Johor”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Johor, diakses tanggal 26 April 2008)
  • Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
  • Safarwan, Zainal Abidin. 1995. Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd.  
Kredit foto : Buku 366 Cerita Rakyat Malaysia

[1] Menuba sama artinya meracuni (ikan).

[2] Menggaru-garu dalam bahasa Indonesia berarti menggaruk-garuk (kepala, badan, karena gatal).

Dibaca : 25.038 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password