Sabtu, 25 Februari 2017   |   Ahad, 28 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 4.247
Hari ini : 20.063
Kemarin : 81.319
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.798.346
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Perahu Sandeq: Simbol Kearifan Orang Mandar (Sulawesi Barat)


Perahu Sandeq yang semakin tersisih

1. Asal-Usul

Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di Nusantara yang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Lautan dalam merupakan halaman rumah-rumah mereka. Begitu mereka bangun dari tidur, mereka akan disapa oleh gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut. Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim, struggle for survival), dan membangun kebudayaannya. 

Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan diri dengan laut. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut. Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang berjudul ”Manusia Bugis” (2006), bahwa orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Mereka tidak akan bisa hilang dan tersesat di lautan.

Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut, yaitu: berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan kegaiban (paissangang). Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah: rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar. Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia.

Perahu khas Mandar ini terbuat dari kayu, sehingga sekilas terkesan rapuh. Namun jika membaca sejarahnya, akan diketahui bahwa perahu yang terkesan rapuh itu mampu dengan lincah mengarungi lautan luas. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter, dan di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Untuk berlayar, perahu tradisional ini mengandalkan dorongan angin yang ditangkap dengan layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting, kapal, dan bodi-bodi.

Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan, khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna yang sedang bermigrasi. Oleh karenanya, perahu yang dibuat harus bisa melaju cepat. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon) pada musim ikan terbang bertelur (motangnga).

Menurut Horst H Liebner, peneliti Sandeq asal Jerman, tidak ada perahu tradisional yang sekuat dan secepat Sandeq. Perahu tradisional ini merupakan yang tercepat di Austronesia. Meski kelihatan rapuh, Sandeq mampu mengarungi laut lepas Selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan.  Para nelayan Mandar juga biasa berburu rempah-rempah hingga ke Ternate dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar (Kompas Online, 7 September 2007).

Sayang, perkembangan zaman nampaknya kurang berpihak kepada kelestarian Perahu Sandeq. Pada tahun 1990-an, masyarakat Mandar mulai tergoda untuk menggunakan perahu yang menggunakan tehnologi modern, baik karena alasan efektivitas pencarian ikan maupun kemudahan dalam mengoperasikannya (masagung.multiply.com). Akhirnya, sedikit demi sedikit perahu tradisional ini mulai ditinggalkan. Melihat kondisi tersebut, pada tahun 1995 Horst H Liebner mengadakan perlombaan Perahu Sandeq dengan tujuaan untuk melestarikan dan meneruskan warisan budaya bahari masyarakat Mandar yang terancam punah. Sandeq Race ini juga berfungsi untuk mengajari dan melatih para nelayan muda Mandar membaca arus, membaca angin, serta ritual yang ada di dalamnya (masagung.multiply.com). Selain itu, perlombaan ini merupakan ajang pendemonstrasian kemampuan para Pasandeq (awak Sandeq) untuk berpindah-pindah dari satu cadik ke cadik lainnya untuk menyeimbangkan perahu (mattimbang) baik ketika melaju lurus maupun saat akan berbelok (Kompas, 2007).

Bila dirunut ke belakang, sebenarnya adu cepat Perahu Sandeq telah ada sejak dulu, yaitu ketika para nelayan harus libur melaut karena kendala cuaca. Sambil menunggu cuaca kembali kondusif untuk melaut, mereka mengisi waktu luangnya dengan mengadakan lomba pacu Sandeq. Selain untuk menguji kemampuan Passandeq  dalam mengemudikan Sandeq, kegiatan ini juga sebagai sarana hiburan untuk menghilangkan kejenuhan dan mengembalikan semangat setelah sekian lama mengarungi lautan.

Perlombaan adu cepat Sandeq merupakan manifestasi dari pandangan betapa pentingnya Perahu Sandeq bagi masyarakat Mandar, baik untuk melakukan aktivitas sosial maupun ekonomi. Dalam bidang ekonomi, misalnya, Perahu Sandeq digunakan untuk mengangkut barang dagangan ke setiap pasar di desa pesisir antara Majene dan Mamuju. Kecepatan menghantar barang dagangan sampai ke daerah tujuan merupakan faktor yang cukup menentukan untuk menjaring para pembeli. Oleh karenanya, para pemilik barang biasanya akan menyewa para Pasandeq yang mampu melajukan Sandeqnya dengan cepat. Dalam konteks inilah, adu cepat antar Sandeq menemukan momentumnya.  

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa Sandeq merupakan warisan nenek moyang masyarakat Mandar yang tak ternilai yang dihasilkan dari proses pembacaan terhadap alam yang dilakukan secara arif dan bijaksana. Melalui Sandeq dapat  dilihat sebuah potret karakteristik orang Mandar yang mencerminkan keseimbangan, kesederhanaan, keindahan, kecepatan, ketepatan, dan ketangguhan. Oleh karenanya, jika kita masih ingin dengan kepala tegak mengatakan ”nenek moyangku seorang pelaut”, maka upaya pelestarian Perahu Sandeq mutlak dilakukan.   

2. Peralatan dan Bahan

Bahan utama untuk membuat Perahu Sandeq adalah pohon Kanduruang Mamea yang telah cukup tua, sehingga selain kuat juga mempunyai diameter yang cukup lebar. Adapun peralatan yang digunakan untuk membuat Perahu Sandeq terbagai menjadi dua, yaitu peralatan saat pencarian bahan dan saat pembuatan perahu:

  • Pada saat pencarian bahan. Peralatan yang dibutuhkan dalam pencarian bahan Sandeq di antaranya adalah: kampak besar, cangkul kayu, dan parang. Seiring perkembangan zaman, peralatan untuk menyiapkan bahan juga semakin modern, yaitu menggunakan passenso (mesin pemotong kayu).
  • Pada saat pembuatan perahu. Dalam proses pembuatannya, peralatan yang dibutuhkan di antaranya adalah: ketam kayu, gergaji, bor, dan lain-lain.

Dengan memperhatikan kedua proporsi alat di atas, dapat diketahui bahwa pembuatan perahu ini dikerjakan oleh dua ahli, yaitu ahli kayu yang bekerja di tengah hutan, dan ahli perahu (panrita lopi) yang bekerja di pesisir.

3. Waktu Pembuatan

Dalam pembuatan Perahu Sandeq, penentuan waktu untuk memulai pembuatan perahu (penyediaan bahan) sangat vital. Artinya, untuk memulai pembuatan perahu ini harus dipilih waktu baik dan menghindari waktu buruk. Untuk menentukan waktu baik, biasanya dilakukan dengan menggunakan rumusan-rumusan kuno (potika). Waktu yang dianggap baik untuk memotong pohon adalah pada bulan purnama, atau hari ke-15 menurut kalender Hijriah. Adapun waktu untuk melakukan pemotongan kayu adalah ketika matahari menanjak naik (pagi hari), dan ketika angin sedang berhembus. Dua tanda alam itu dijadikan sebagai “ussul”, sebuah pengharapan agar perahu yang dibuat “rezekinya naik, lajunya kencang” (Muhammad Ridwan Alimuddin, 2007).

4. Tata laksana

Secara garis besar, pembuatan Perahu Sandeq terdiri dari empat tahap, yaitu: tahap mempersiapkan alat, pemotongan kayu, pembuatan calon perahu (balakang), dan pembuatan perahu. Tata laksana pembuatan Perahu Sandeq sepenuhnya diolah dari tulisan Muhammad Ridwan Alimuddin (2007).

a. Tahap persiapan

Persiapan paling awal yang harus dilakukan untuk membuat Perahu Sandeq di antaranya adalah:

  • Mencari pohon Kanduruang Mamea yang cocok untuk membuat Perahu Sandeq.
  • Menentukan waktu pemotongan pohon. Pemotongan kayu biasanya dilakukan pada pagi hari bulan purnama (tanggal 15 menurut kalender Hijriah), yaitu ketika matahari beranjak naik.  
  • Mempersiapkan peralatan, baik untuk memotong pohon (kampak besar, cangkul kayu, dan parang) maupun untuk membuat perahu (ketam kayu, gergaji, dan bor).
  • Mencari atau mengubungi tenaga ahli.  

b. Tahap Pemotongan Kayu

Setelah semua persiapan selesai, maka dilanjutkan dengan pemotongan pohon. Adapun prosesnya adalahs sebagai berikut:

  • Sehari sebelum waktu pemotongan kayu dilakukan, orang yang hendak membuat Perahu Sandeq, ahli kayu, dan ahli membuat Perahu Sandeq ”mengunjungi” pohon yang hendak dipotong. Tujuannya untuk membersihkan lokasi di sekitar kayu yang hendak dipotong dari hal-hal gaib yang dapat mengganggu tahapan pembuatan Perahu Sandeq. Adakalanya saat ”mengunjungi” pohon yang hendak di potong ini, mereka membawa makanan yang tidak saja untuk dimakan sendiri tetapi juga untuk diberikan kepada si penunggu pohon.
  • Setelah ritual pembersihan selesai, mereka pulang dan akan kembali keesokan harinya.
  • Keesokan harinya, orang-orang yang hendak membuat Perahu Sandeq ini kembali mendatangi tempat sang pohon berada dengan membawa peralatan-peralatan seperti: kampak besar, cangkul kayu, parang, dan juga passenso (mesin pemotong kayu).
  • Setelah sampai di tempat pohon yang hendak dipotong, mereka memperhatikan dengan cermat kondisi alam, seperti hembusan angin dan sinar matahari yang sedang naik. Hal ini terkait dengan pengharapan masyarakat Mandar bahwa  matahari naik terkait dengan “rezekinya naik”, dan hembusan angin, terkait dengan "lajunya kencang”. Oleh karenanya, jika matahari sedang naik (pagi hari) dan bersinar cerah, serta hembusan angin cukup keras, maka rencana pemotongan pohon dapat dilanjutkan.
  • Kemudian peralatan-peralatan untuk memotong pohon diletakkan tepat di bawah pohon.
  • Setelah itu, orang yang ahli Perahu Sandeq berdiri menghadap ke pohon, dengan mengambil arah selatan, dan membaca doa.
  • Sambil membaca doa-doa, tangan sang ahli perahu memegang pohon itu.


Pohon ‘Kanduruang Mamea‘ sebelum dipotong
dielus dan dibelai terlebih dahulu.

  • Setelah itu, sang ahli tersebut mendongakkan kepalanya ke atas, melihat semua bagian pohon.
  • Kemudian dia membelai-belai (mengusap-usap) kulit pohon itu. Tujuannya adalah untuk membujuk si pohon agar bersedia untuk ditebang.
  • Selesai membaca doa dan berkomunikasi dengan penghuni hutan, sang ahli kemudian melakukan penebangan simbolis. Dia mengampak pohon itu tiga kali dan mengambil sedikit serpihan potongan kulit pohon.
  • Kemudian sebagian serpihan yang diambil dilemparkan ke arah yang dikehendaki sebagai arah tumbangnya pohon.
  • Sisa serpihan itu kemudian disimpan.
  • Setelah itu, tukang senso dipersilahkan untuk melanjutkan pemotongan kayu hingga kayu tersebut jatuh (rebah). Cara jatuh kayu juga diperhatikan, karena hal tersebut dapat menjadi penanda apakah calon perahu yang akan dibuat akan menjadi perahu yang dapat melaju cepat dan membawa keberuntungan ataukah tidak. Jika pohon itu “melompat”, maka kelak kapal yang dibuat dapat melaju dengan cepat dan membawa keberuntungan kepada pemiliknya.


Pohon sedang dipotong (direbahkan) menggunakan passenso
.

Setelah pohon tumbang, orang yang ahli mengambil serpihan dan bilah kecil kayu “yang seharusnya ikut terpotong” tetapi masih menempel pada sisa kayu.


Sang ahli kayu sedang mengambil serpihan dan
bilah kayu yang seharusnya ikut terpotong.
Bilah kayu tersebut kemudian digunakan  untuk
membelai
pohon yang sudah rebah.

  • Selanjutnya, serpihan dan bilah kayu dibawa ke tempat pohon yang tergeletak.
  • Bilah dan serpihan kayu tersebut digunakan untuk “membelai” batang pohon dari bagian yang dipotong hingga pucuk. Di dekat ujung pucuk pohon, serpihan itu kemudian dilemparkan.
  • Selain “membelai” pohon, serpihan kayu biasanya dikunyah-kunyah sehingga sipengunyah kelihatan seperti orang yang sedang makan.
  • Setelah kayu roboh, maka rangkaian proses pembuatan Perahu Sandeq dapat dilanjutkan pada tahap pembuatan balakang (calon perahu). 

c. Tahap Pembuatan Calon Perahu (Balakang).

Tahap pembuatan balakang, meliputi proses pengukuran kayu dan pengerukan kayu. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

  • Setelah pohon rebah, tahap selanjutnya adalah menentukan panjang kayu yang akan dijadikan perahu. Panjang perahu biasanya berkisar antara 7-12 depa. Bagian pohon yang dijadikan bagian haluan perahu adalah bagian bawah pohon. Bagian ini kuat dan daya apungnya bagus.


Pembuatan balakang
.

  • Kemudian bagian atas batang pohon (sisi pohon yang menghadap ke atas) diiris (dibuang) dengan menggunakan passenso. Namun sebelum mengenal passenso, untuk mengiris bagian atas biasanya menggunakan kampak besar.  
  • Setelah itu, batang pohon dikeruk. Pengerukan menggunakan kampak, parang, dan cangkul kayu. Namun sebelum dikeruk, terlebih dahulu dibuat batas-batas yang akan dikeruk di atas sisi pohon yang telah dibuat datar.
  • Setelah selesai dikeruk maka akan dijumpai sebuah calon perahu (balakang) yang lebih mirip lesung panjang.
  • Kemudian  balakang tersebut dibawa keluar dari hutan. Sebelum dibawa keluar, sang ahli kayu memohon ijin kepada kayu yang ditinggalkan. Permintaan ijin ini ditandai dengan menyentuhkan serpihan potongan kayu ke “kayu yang akan pergi” dan “kayu yang akan ditinggalkan”.
  • Kemudian balakang dibawa menuju perkampungan, yaitu ke rumah orang yang hendak membuat perahu.


Balakang yang sudah jadi, dibawa ke pantai.

d. Tahap Pembuatan Perahu

Tahapan ini merupakan proses terkahir dari rangkaian pembuatan Perahu Sandeq. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut.

  1. Setelah balakang betul-betul kering, selanjutnya dibawa ke rumah tukang perahu (biasanya dibawa dengan menggunakan perahu), dan diletakkan di battilang (tempat pembuatan perahu) yang umumnya berada di pesisir.
  2. Setelah berada di battilang, maka proses selanjutnya adalah pemasangan Pallayarang (tiang layar utama) dan tambera (tali penahan pallayarang).
  3. Dilanjutkan dengan pemasangan  sobal (layar) dan guling (kemudi). 
  4. Kemudian pemasangan palatto (cadik), baratang dan tadiq.
  5. Selesainya pemasangan palatto, baratang dan tadiq, maka Perahu Sandeq yang kokoh sudah siap untuk berlayar mengarungi samudra. Namun sebelum digunakan untuk melaut, terlebih dahulu diadakan upacara. 

(Proses detail pembuatan Perahu Sandeq di battilang sedang dalam proses pengumpulan data). 

5. Do‘a dan Mantera

Pembuatan Perahu Sandeq tidak saja memerlukan kemampuan tehnis, tetapi juga kemampuan mistis. Hal-hal mistis yang dapat dilihat pada proses pembuatan Perahu Sandeq dapat dilihat pada doa-doa dan ungkapan-ungkapan yang digunakan. Adapun doa-doa dan ungkapan yang digunakan antara lain:

  • Doa untuk membersihkan lokasi di sekitar pohon yang hendak ditebang.
  • Doa untuk melembekkan pohon.
  • Doa mohon ijin kepada hutan untuk mengambil pohon.
  • Doa mohon kesediaan si pohon untuk ditebang.
  • Ucapan mohon ijin untuk membawa pohon yang telah berbentuk balakang  ke luar hutan.

(Semua teks dari doa-doa tersebut sedang dalam proses pengumpulan data)

6. Nilai-nilai

Perahu Sandeq tidak sekedar warisan nenek moyang masyarakat Mandar, tapi ia adalah pengejawantahan dari karakter orang Mandar itu sendiri. Oleh karenanya, jika dikaji secara seksama, akan diketahui bahwa di dalam perahu tersebut terkandung nilai-nilai luhur yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Mandar. Adapun nilai-nilai tersebut di antaranya adalah:

Pertama, nilai religious. Pembuatan Perahu Sandeq merupakan salah satu bentuk ekspresi pola keberagamaan masyarakat Mandar. Kepercayaan kepada hal-hal gaib yang menguasai suatu tempat, melahirkan pola keberagamaan yang unik. Permohonan ijin kepada penghuni pohon, baik dengan membawa makanan yang diletakkan di bawah pohon maupun dengan membaca doa-doa dan membaca mantra, merupakan bentuk dari religiousitas orang Mandar. Keunikan pola keberagamaan orang Mandar juga dapat dilihat dari aneka macam ritual yang senantiasa dilakukan selama pembuatan perahu dan ketika Perahu Sandeq hendak dibawa melaut. Bagi para pengkaji keberagamaan masyarakat lokal, religiositas orang Mandar nampaknya dapat menjadi bahan kajian yang cukup menantang.   

Kedua, nilai budaya. Keberadaan Perahu Sandeq merupakan hasil dari cara orang-orang Mandar merespon kondisi alam di mana mereka tinggal. Rintangan dan tantangan dari selat Mandar yang cukup dalam dan berarus deras, disikapi oleh masyarakat dengan membuat perahu lancip menggunakan layar berbentuk segitiga dengan ditambahi cadik pada kanan-kirinya. Hasilnya, sebuah perahu yang tidak saja mampu membelah lautan yang cukup ganas dengan stabil, tetapi juga melaju dengan kencang dan berlayar hingga ke mancanegara.     

Ketiga, nilai identitas. Perahu Sandeq merupakan pengejawantahan dari karakter orang Mandar itu sendiri. Pallayarang (tiang layar utama) sebagai penentu utama kelajuan perahu merupakan simbol terpacunya cita-cita kesejahteraan masyarakat. Orang-orang Mandar harus senantiasa berjuang untuk menjamin terciptanya kesejahteraan. Perjuangan harus senantiasa memperhatikan keseimbang agar tidak merugi, hal ini dapat dilihat pada tambera (tali penahan pallayarang) yang senantiasa menjaga pallayarang agar tetap kokoh tegak menjulang. Kekokohan dan keseimbangan harus juga diimbangi oleh sikap fleksibel agar senantiasa mempunyai spirit untuk terus menjadi semakin baik, hal ini dapat dilihat pada sobal (layar) berwarna putih berbentuk segitiga yang merupakan simbol fleksibilitas yang tinggi, kegigihan, ketulusan dan kepolosan orang mandar. Guling (kemudi) sebagai simbol ketepatan mengambil keputusan. Palatto (cadik), baratang dan tadiq sebagai lambang penyeimbang dan pertahanan serta memiliki jangkauan visi yang jauh menyongsong masa depan. Semua simbl perjuangan dan keseimbangan tersebut berlandaskan kepada sifat kesucian serta tekad yang tulus, sebagaimana yang tercermin pada warna Perahu Sandeq, yaitu warna putih. Warna putih juga mempunyai maksud bahwa orang Mandar sangat terbuka untuk menghadapi perubahan seperti disebutkan dalam sebuah ungkapan ”ibannang pute meloq dicinggaq meloq dilango lango”.

Ketiga nilai di atas secara jelas menunjukkan bahwa Perahu Sandeq merupakan pengejawantahan dari kearifan lokal dan pembentuk identitas masyarakat Mandar. Oleh karenya, upaya pelestarian Perahu Sandeq harus segera di lakukan agar jati diri orang Mandar dapat terus lestari. Namun juga harus disadari bahwa pelesatarian tidak saja sekedar menjaga Perahu Sandeq secara fisik, tetapi juga merevitalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sehingga kita, khususnya orang Mandar, dapat terus berkata ”nenek moyangku seorang pelaut”. (As/bdy/30/05-08)

Daftar Bacaan

  • Agung Setyahadi, ”Sandeq dan Kearifan Lokal Suku Mandar,” Kompas, 07 September 2007
  • Christian Pelras, Manusia Bugis, Nalar, Jakarta, 2006.
  • ”Dihantam Ombak, Perahu Sandeq Kembali ke Jayapura,” dalam http://64.203.71.11/kompas-cetak/0508/26/utama/2002253.htm., diakses tanggal 6 Mei 2008.
  • Halim HD, ”Melacak Format Strategi Kebudayaan Mandar,” dalam http://www.freelists.org/archives/nasional_list/10-2006/msg00010.html, diakses tanggal 6 Mei 2008.
  • http://masagung.multiply.com/photos/album/15/Jejak_Peradaban_Nelayan_Mandar, diakses tanggal 6 Mei 2008.
  • http://polewalimandarkab.go.id/index.php?jenis=content&id=229, diakses tanggal 6 Mei 2008.
  • Muhammad Ridwan Alimuddin dan Awaluddin, “Menyambut Sandeq di Losari….”, dalam http://www.panyingkul.com/view.php?id=544&jenis=kabarkita. diakses tanggal 6 Mei 2008.
  • Muhammad Ridwan Alimuddin, Orang Mandar-Orang Laut; Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) & Yayasan Adikarya IKAPI, 2005.
  • Odeodata H Julia,  “Sandeq Explorer, Ekspedisi yang Terhalang Cuaca Buruk,” dalam http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/31/sh12.html
  • ”Perahu Sandeq Makin Tersisih,” Fajar Makassar, 3 Oktober 2005.
  • ”Perahu Sandeq Masyarakat Mandar Terancam Punah,”  Kompas, 15 April 2006.
  • Reinhard Nainggolan, Merekonstruksi Pelayaran Nenek Moyang Austronesia, dalam http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0507/25/teropong/1857977.htm, diakses tanggal 6 Mei 2008.
  • Reny Sri Ayu Taslim,  ”Nelayan Majene Bertahan dengan Sandeq,” dalam Kompas, 10 April 2003.  
  • Ridwan Alimuddin, “Apalah Arti sebuah Nama (Perahu)?,” dalam www.panyingkul.com,  diakses tanggal 6 Mei 2008.
  • ”Sandeq Race 2007 dan Kisah Penculikan Pangeran Bali,” dalam http://www.antara.co.id/print/?i=1187510670, diakses tanggal 6 Mei 2008.

Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.

Dibaca : 35.927 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password