Minggu, 26 Oktober 2014   |   Isnain, 2 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 751
Hari ini : 4.031
Kemarin : 20.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.274.608
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Gawe Pati: Upacara Kematian Orang Bayan, Nusa Tenggara Barat


Kyai Bayan khusyuk membaca Al-quran dengan penerangan obor

A. Asal usul

Orang Bayan yang tinggal di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mempunyai cara tersendiri dalam menghormati leluhur dan kerabat mereka yang terlebih dahulu meninggal, yaitu menyelenggarakan ritual gawe pati, (gawe = membuat, pati = mati/meninggal). Gawe pati merupakan ritual yang dilakukan orang Bayan untuk mengantarkan arwah yang meninggal agar mendapat tempat yang baik di alam halus (http://melayuonline.com/).

Pelaksanaan ritual gawe pati merupakan ekspresi dari pemahaman orang Bayan terhadap alam. Menurut mereka alam terbagi menjadi tiga bagian, yaitu alam jiwa raga, alam kematian, dan alam halus. Budiwanti (2000) dalam penelitiannya tentang masyarakat Bayan menyebutkan bahwa bagi orang Bayan kematian hanyalah suatu tahap untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi, yaitu dunia keluhuran.

Kematian berarti terlepasnya jiwa (roh) dari raga, dan setelah itu menuju alam halus. Agar perjalanan roh menuju alam halus berlangsung lancar, orang Bayan menyelenggarkan upacara gawe pati (http://melayuonline.com/). Gawe pati juga didasari oleh kepercayaan orang Bayan akan roh halus. Menurut mereka jiwa atau roh orang yang sudah mati dapat marah dan menghukum orang yang masih hidup. Untuk menghindari kemarahan mereka, orang Bayan menyelenggarakan ritual gawe pati (Cederoth, 1996).

Upacara gawe pati dilaksanakan dengan menggabungkan antara tatacara agama dan adat. Keduanya berjalan beriringan, seperti tidak dapat dipisahkan. Dalam satu ritual mensalatkan mayat misalnya, bacaan dan rukun salat memakai cara agama, namun kyai harus memakai pakaian adat, membakar kemenyan, serta terlebih dahulu mengunyah pinang dan sirih. Malam hari dalam memperingati tiga hari pasca kematian sampai seribu hari, para kyai membaca Al-quran sambil minum brem. Seusai mayat dikubur, kyai memberikan pesan pada yang mati dengan memakai bahasa Arab dari tulisan pada daun lontar, disusul pemangku adat mengucapkan pesan yang sama dengan bahasa Sasak.

B. Peralatan, Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Gawe pati dilakukan oleh kyai dan pemangku adat, serta dibantu oleh masyarakat. Waktu pelaksanaan terbagi dalam dua bagian besar, yaitu sebelum dan sesudah penguburan mayat. Tempat pelaksanaan di rumah orang yang meninggal, khususnya di berugaq (pendopo kecil di depan rumah).

Peralatan yang harus disediakan pada upacara gawe pati meliputi ;

  • Kain warna putih (mori), untuk membungkus mayat
  • Kain batik (jarik), untuk menutupi mayat
  • Keranda dari bambu, untuk mengotong mayat
  • Air untuk memandikan mayat

Adapun alat pelengkap upacara gawe pati antara lain ;

  • Sesajen
  • Kemenyan
  • Brem
  • Sirih dan pinang
  • Tembakau
  • Perlengkapan untuk memandikan mayat
  • Perlengkapan untuk mengkafani (membungkus) mayat
  • Perlengkapan untuk pemakaman mayat
  • Bunga-bunga untuk nyekar (ditabur di kuburan)

C. Prosesi pelaksanaan

Prosesi pelaksanaan ritual gawe pati terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu upacara sebelum (persiapan dan ritual sebelum penguburan) dan ritual sesudah penguburan mayat. Setiap orang yang ingin mengikuti prosesi pelaksanaan gawe pati, dianjurkan memakai pakaian adat, minimal dodot (kain pelapis pinggang, terkadang dapat diganti dengan sarung), dan sapo‘ (ikat kepala).

1. Upacara sebelum mayat dikuburkan

a. Persiapan

Setelah seseorang dinyatakan meninggal dunia, anggota keluarga, handai tolan, dan tokoh adat segera mempersiapkan segala sesuatu untuk pelaksanaan gawe pati, seperti mengumumkan kepada masyarakat dengan mendatangi saudara-saudara atau dengan menggunakan hp (handphone), membersihkan rumah yang meninggal, mengambil dan mengupas kelapa untuk keperluan memasak, mempersiapkan alat-alat untuk ritual memandikan, mengkafani (membungkus) dan mensalatkan mayat, menggali kubur, mempersiapkan kemenyan, bunga-bunga untuk nyekar (ditabur di kuburan), pinang dan sirih, menumbuk padi dengan lesung (balok kayu dengan cekungan di tengahnya), serta memotong kerbau untuk meriyap (makan bersama).


Kaum perempuan menumbuk padi dengan lesung, kaum lelaki mengupas, dan memeras santan, serta prosesi potong kerbau

b. Ritual sebelum mayat dikuburkan

Sebelum dimandikan, mayat terlebih dahulu diletakkan di berugaq. Mayat diletakkan di atas meja dari kayu, didekatnya diletakkan lentera dan kemenyan. Beberapa kyai membaca al-quran  (jika waktunya malam hari, menggunakan memakai obor).

Selanjutnya mayat diletakkan di atas berugaq yang telah disiapkan untuk dimandikan. Memandikan mayat dipimpin oleh kyai dan pemangku adat, dibantu keluarga dan kerabat. Jika mayatnya perempuan, maka keluarga yang membantu memandikan harus juga kaum perempuan.  Jika mayatnya laki-laki, maka keluarga yang membantu memandikan juga harus kaum laki-laki. Mereka yang memandikan mayat diharuskan memakai pakaian adat sesuai yang telah ditentukan. Kaum perempuan melilitkan kain batik (jarik) sampai atas payudara, sedangkan kaum laki-laki memakai dodot (kain batik pelapis celana, khusus kyai warna hitam), sapo‘ (ikat kepala, khusus kyai warna putih) dan bertelanjang dada. Mayat dimandikan dengan menggunakan alat-alat tradisional.


Alat untuk memandikan mayat

Proses selanjutnya adalah mengkafani (membungkus) mayat. Pengkafanan mayat juga dipimpin oleh kyai dan pemangku adat. Mayat dibungkus dengan kain warna putih (mori), kemudian dimasukkan ke dalam keranda yang terbuat dari bambu. Selanjutnya keranda dibungkus dengan kain-kain dari kaum perempuan yang menginginkan berkah dari mayat (biasanya kain batik atau jarik atau kain dengan tenun Sasak). Setelah tidak ada lagi kain yang ingin dibalutkan, keranda dibalut kembali dengan mori untuk pelapis terakhir, kemudian diikat dengan selendang tenun Sasak. Karena banyaknya kain yang dibalutkan, keranda kelihatan menjadi besar.


wujud keranda setelah dibungkus

Setelah dikafani (dibungkus), mayat disalatkan hanya oleh para kyai. Ketika mensalatkan kyai harus memakai pakaian khusus, yaitu baju putih, dodot (kain pelapis pinggang) warna hitam, dan sapo‘ (ikat kepala) warna putih. Jumlah kyai yang mensalatkan tergantung keinginan keluarga yang meninggal, jika mereka mempunyai cukup uang, maka akan mengundang kyai yang banyak, namun jika tidak maka minimal akan disalatkan oleh lima orang kyai.


Para kyai sebelum mensalatkan mayat

Seusai disalatkan, mayat kemudian dibawa ke makam untuk dikuburkan. Mayat diangkat oleh laki-laki yang khusus bertugas menggotong mayat. Mereka harus berpakaian adat, dodot (kain pelapis pinggang, terkadang hanya memakai sarung), sapo‘ (ikat kepala), serta bertelanjang dada. Sesampai di kuburan, mayat diletakkan didekat liang kubur, untuk disalatkan kembali, dan selanjutnya pelan-pelan dimasukkan ke liang kubur.


Para Kyai sedang mensholatkan mayat di dekat liang kubur

Ritual pada tahap ini diakhiri dengan mentalqin (membacakan pesan) untuk mayat. Pesan disampaikan dua kali, pertama dengan bahasa Sasak oleh pemangku adat, kedua dengan bahasa arab yang dibaca dari daun lontar oleh kyai. Pesan berisi tentang pertanyaan dan jawaban yang harus diberikan oleh mayat kepada malaikat yang akan mendatanginya nanti.


Suasana saat pembacaan pesan pada mayat

2. Ritual setelah penguburan mayat

Ritual pada tahap ini dimulai dengan selamatan nyusur tanaq (pemakaman), yaitu selamatan sesaat setelah penguburan mayat. Selamatan diisi dengan berdo‘a disambung dengan makan bersama (meriyap). Selanjutnya pada malam harinya, masyarakat Bayan berkumpul di kuburan, mereka tidak tidur semalaman sambil bermain kartu dan minum brem, di atas batu nisan kuburan.

Pada hari ketiga juga dilakukan ritual Nelung (tiga hari). Ritual diisi dengan membacakan Al-quran untuk roh mayat, agar tenang di alam halus, sambil minum brem (minuman tradisional Bayan). Kegiatan yang sama dilakukan saat ritual mituq (ketujuh), nyiwaq (kesembilan), matang puluh (keempat puluh), nyatus (keseratus), dan nyiu (keseribu). Orang Bayan meyakini tepat pada ritual yang keseribu (nyiu) ini, roh orang yang sudah meninggal telah sepenuhnya diterima di dunia para leluhur atau terangkat menuju lingkaran leluhur (keluhuran).

Tahap ini di tutup dengan ritual naonin (selamatan tiap tahun), yaitu ritual selamatan yang bertujuan untuk mengawal roh agar tetap tenang di alam halus. Orang Bayan menyebut ritual ini dengan mengasuh mayat. 


Para kyai sedang membaca Al-quran

D. Do‘a-do‘a

Upacara gawe pati memuat banyak ritual, dan dalam setiap ritual mempunyai do‘a-doa tersendiri. Do‘a dibacakan dalam dua bahasa, Arab dan Sasak. Salah satu do‘a yang dibaca dalam ritual gawe pati adalah do‘a yang berisi pesan untuk mayat.

Sebelum berdo‘a, pemangku adat sebelumnya berkata;

Wahai saudara-saudara yang datang disini maupun yang di rumah, hari ini si….(sebut nama yang meninggal), maka dari saya mewakili keluarga memohon kepada saudara untuk memaafkan si….(...), jika mempunyai kesalahan. Selain itu jika si…(…) mempunyai hutang, nanti dipersilahkan menghubungi keluarga yang ditinggalkan. Silahkan ya..

Kemudian masyarakat yang ikut hadir di kuburan menjawab; ya…

Selanjutnya kyai berkata;

Wahai saudaraku yang meninggal, nanti kamu akan didatangi oleh utusan Tuhan, dia akan bertanya siapakah Tuhanmu, siapa Nabimu, apa agamamu. Untuk itu nanti jawablah dengan baik, bahwa Tuhanmu Allah, Nabimu Muhammad, dan agamamu Islam.

Setelah itu kyai berdo‘a;

Ya Allah, semoga saudaraku tenang di alam sana, kamu terima rohnya dengan baik, diterima amal perbuatannya, dan dimaafkan kesalahannya.

Do‘a-do‘a lain yang dibaca, yaitu;

  • Do‘a memandikan mayat
  • Do‘a membungkus mayat
  • Do‘a mensalatkan mayat
  • Do‘a selamatan dari hari ketiga (nelung) sampai keseribu (nyiu).


Kuburan setelah selesai dido‘akan

E. Nilai-nilai

Bagi orang Bayan gawe pati mempunyai nilai-nilai luhur dalam kehidupan mereka, antara lain:

  1. Nilai kebersamaan. Melaksanakan gawe pati dengan gotong royong, tentu saja semakin menambah solidaritas antar sesama orang Bayan. Nilai ini tampak sekali dalam kegiatan persiapan sebelum mayat dikuburkan.
  2. Nilai penghormatan pada kerabat atau leluhur yang terlebih dahulu meninggal. Nilai ini tercermin dalam pelaksanaan gawe pati itu sendiri. Ritual dilakukan agar roh mayat dapat tenang masuk ke alam halus dan diterima oleh leluhur yang lain.
  3. Nilai ketaatan pada ajaran agama. Nilai ini tercermin dari pelaksanaan ritual yang runtut dan tertib sesuai dengan ajaran agama.  
  4. Nilai menjaga adat budaya. Nilai ini tercermin dari pelaksanaan gawe pati yang juga memasukkan unsur-unsur budaya, seperti diharuskannya para kyai dan masyarakat memakai pakaian adat, minum brem, tidak tidur semalaman di kuburan dan membakar kemenyan.  

F. Penutup

Upacara gawe pati dimaksudkan orang Bayan untuk menghormati para kerabat dan leluhur mereka yang terlebih dahulu meninggal. Gawe pati diselenggarakan secara bergotong royong oleh seluruh masyarakat Bayan. Jika demikian halnya, selain untuk untuk memuliakan leluhur, gawe pati juga merupakan media yang positif untuk merekatkan hubungan antar sesama manusia Bayan. Gawe pati juga menjadi media yang harmonis, ketika ajaran agama dan adat bergabung.

yusuf efendi (bdy/06/23-09)

Referensi

  • Bartolomew, John Ryan. 2001. Alif Lam Mim Kearifan Masyarakat Sasak. Yogyakarta: Tiara Wacana
  • Budiwanti, Erni. 2000. Islam Sasak, Wetu Lima versus Wetu Telu. Yogyakarta: Kanisius.
  • Cederoth, S. 1996. From Ancestor Worship to Monontheism Politics of Religion in Lombok. Temenos 32,7-36

Sumber foto: Foto koleksi melayuonline.com

Sumber internet: http://melayuonline.com/

Dibaca : 5.548 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password