Jumat, 26 Mei 2017   |   Sabtu, 29 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 11.525
Hari ini : 109.281
Kemarin : 92.738
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.465.194
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Manyanggar Padang: Upacara Keselamatan Nelayan di Kalimantan Selatan



Menyanggar Padang secara umum berarti upacara memohon keselamatan dari malapetaka yang disebabkan oleh makhluk gaib penunggu tempat kerja (sawah, laut, danau, atau hutan). Sebagai sebuah tradisi tahunan, upacara ini sarat dengan nilai kepedulian terhadap lingkungan.

1. Asal-usul

Upacara Manyanggar Padang merupakan upacara tradisional nelayan di perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam bahasa Banjar, upacara Manyanggar diartikan sebagai mambarasahi padang mambari-bari urang nang kada dilihat, yakni selamatan agar terhindar dari malapetaka dan bencana yang disebabkan oleh makhluk yang tidak terlihat. Sementara itu, Padang berarti tempat bekerja seperti tanah, sawah, danau, atau hutan. Dengan demikian, Manyanggar Padang secara umum berarti upacara memohon keselamatan bagi orang yang bekerja di suatu tempat agar terhindar dari malapetaka yang disebabkan oleh makhluk tidak terlihat yang merupakan penunggu tempat kerja (Sama’ani dkk, 2005; Sjarifudin, 1987/1988).

Upacara yang biasanya diselenggarakan setahun sekali[1] ini bermula dari kepercayaan masyarakat Banjar bahwa seluruh tempat yang ada di bumi ini dihuni oleh makhluk gaib. Oleh karena itu, apabila manusia ingin bekerja di salah satu bagian bumi, maka manusia harus meminta izin terlebih dahulu kepada makhluk gaib penghuni tempat tersebut. Tujuannya agar makhluk gaib itu tidak menggangu, atau bahkan bersedia membantu manusia agar mendapatkan hasil yang melimpah. Salah satu cara meminta izin itu adalah dengan membuat upacara persembahan sesaji (Sjarifudin, 1987/1988).

Salah satu profesi orang Banjar adalah menjadi nelayan di danau. Menurut Sjarifudin (1987/1988), danau dihuni oleh dua makhluk gaib, yaitu datu penunggu atas danau dan bawah danau. Datu penunggu atas danau adalah Datu Dagalung, Pangeran Sarianata, dan Pangeran Hidayat, sedangkan datu penunggu bawah danau yang secara struktural berada di bawah perintah Pangeran Hidayat terdiri dari Datu H. Barangsa, Datu Ibrahim, dan Datu Lamat.

Upacara Manyanggar Padang merupakan upacara bersama seluruh nelayan yang hidup di sekitar danau. Oleh karena itu, upacara ini dipersiapkan, direncanakan, dan didanai secara kolektif oleh nelayan. Tidak heran jika dalam setiap pelaksanaannya, upacara ini berlangsung meriah dan ramai. Bahkan, banyak tetangga desa serta wisatawan yang datang untuk menyaksikan upacara ini.

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara Manyanggar Padang umumnya digelar setahun sekali, yaitu menjelang musim kemarau, ketika air danau mulai surut (ditandai dengan hilangnya tanaman enceng gondok). Upacara ini digelar selama sehari semalam dan hari pelaksanaan biasanya hari ahad (Minggu). Rangkaian upacara dimulai pada Sabtu malam/malam minggu yang diisi dengan mempersiapkan peralatan dan bahan serta berdoa/selamatan, kemudian dilanjutkan pada pagi hari hingga siang pada hari Minggu. Puncak acara pada hari Minggu ini berupa ritual persembahan sesaji.[2]

Tempat pelaksanaan upacara Manyanggar Padang dipusatkan di dua tempat terpisah, yaitu di rumah penduduk untuk persiapan dan selamatan (baandi-andi)[3] dan di danau untuk puncak acara. Pelaksanaan puncak acara di danau ini dilaksanakan di tiga lokasi berbeda, yaitu:

  • Kepala danau yang dipercaya sebagai tempat tinggal Datu H. Barangsa
  • Mungkur panjang (badan danau) yang dipercaya sebagai tempat tinggal Datu Ibrahim
  • Mungkur kambing (ekor danau) yang dipercaya sebagai tempat Datu Lamat

3. Pemimpin dan Peserta Upacara

Upacara Manyanggar Padang dipimpin oleh dua orang yang masing-masing disebut Pangeran dan Kai. Pada saat berlangsungnya upacara, Pangeran mengenakan baju teluk belanga warna kuning sementara Kai mengenakan baju teluk belanga warna hitam. Keduanya akan dibantu oleh bidan (dukun bayi) dan kepala desa.Adapun peserta upacara ini adalah para nelayan danau desa setempat ditambah beberapa nelayan dari desa tetangga. Upacara ini juga disaksikan oleh masyarakat luas. Karena hanya digelar setahun sekali, upacara tradisi ini tampak sangat meriah dan semarak.

4. Peralatan dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam upacara Manyanggar Padang cukup sederhana, yaitu:ancak dari anyaman bambu untuk tempat sesaji, pohon pisang untuk hiasan sesaji, dan daun kelapa untuk hiasan sesaji.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan upacara Manyanggar Padang adalah sebagai berikut.

  1. Parapah kambing (panggang kepala kambing), yaitu sesaji untuk Nabi Khidir yang dipercaya memelihara ikan di dalam air. Dengan sesaji ini, Nabi Khidir dimohon untuk menutup lubang-lubang keluar ikan. Kambing dipilih yang berwarna hitam atau warna belang hitam putih sesuai permintaan datu penungggu danau.
  2. Parapah ayam (panggang ayam), yaitu sesaji untuk Datu Bagalung. Ayam dipilih yang berwarna putih, hitam atau hirang, disesuaikan dengan permintaan datu penunggu danau.
  3. Dodol yang terdiri dari dua macam, yaitu dodol biasa dan dodol banar (agak lembek).
  4. Wajik.
  5. Kakoleh, yaitu kue dari tepung beras.
  6. Pisang Mahuli, pisang emas, pisang susu, dan kelapa muda.
  7. Cingkaruk, yaitu sesaji untuk datu yang berada di bawah danau. Sesaji ini terbuat dari ketan yang digoreng.
  8. Jiwakan, yaitu kue yang dibentuk seperti ikan di danau tempat upacara dilakukan.
  9. Nasi lemak atau ketan, yaitu sesaji untuk para wali. Sesaji ini dibuat oleh perempuan yang sudah tua dan berhenti haid. Dibuat tiga macam nasi lemak, yaitu putih, kuning, dan hirang yang dimasak tanpa diberi bumbu dan dibentuk setengah lingkaran (bola).
  10. Bubur habang (merah) dan putih.
  11. Kue-kue yang dimakan setiap hari oleh penduduk.
  12. Ikan gabus yang dibelah perutnya.
  13. Sirih pinang dan tembakau.
Beras.

5. Proses Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara Manyanggar Padang dibagi dalam 3 (tiga) tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

a. Persiapan

Persiapan upacara Manyanggar Padang dimulai sehari sebelum puncak acara. Pada tahap ini, hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat nelayan berdasarkan arahan dari pangeran, kai, bidan, dan kepala desa adalah sebagai berikut:

  • Musyawarah antara masyarakat nelayan dengan para orangtua kampung dan ketua adat tentang waktu dan teknis pelaksanannya,
  • Kapan, di mana, dan bagaimana teknis pengumpulan dana, dan
  • Memilih dan menentukan apa dan siapa yang akan menyiapkan bahan sesaji.

b. Pelaksanaan upacara

Pelaksanaan upacara Manyanggar Padang terbagi dalam tiga tahap, yaitu pelaksanaan ritual baandi-andi (berdoa dan selamatan), ritual persembahan sesaji, dan ritual memulai pengambilan ikan.

1. Ritual baandi-andi (berdoa dan selamatan)

Ritual baandi-andi, yaitu pembacaan mantra-mantra (doa) dan selamatan dilaksanakan pada malam hari sebelum puncak acara. Ritual ini dilakukan di rumah salah satu nelayan. Sesaji yang telah disiapkan sebelumnya dibacakan mantra hingga menjelang pagi. Hal ini dilakukan agar para dewa memberi berkah terhadap sesaji yang ada dan agar upacara esok hari berjalan dengan lancar.

Ritual baandi-andi saat ini diganti dengan pelaksanaan shalat maghrib dan shalat hajat secara berjamaah dan diteruskan dengan membaca surat Yasin serta doa selamat di masjid kampung yang dipimpin oleh imam masjid. Pada saat pembacaan doa ini, biasanya Pangeran dan Kai akan mengalami kesurupan (trance). Dalam kondisi ini, Pangeran dan Kai akan menyampaikan kepada para datu penunggu danau bahwa esok hari masyarakat akan pergi ke danau dengan membawa berbagai sesaji yang diminta oleh para datu untuk melaksanakan upacara Manyanggar Padang.

Masyarakat biasanya membawa air putih dalam botol pada saat pelaksanaan shalat dan pembacaan doa di masjid. Botol tersebut dibuka tutupnya dan diletakkan di tempat yang telah ditentukan. Selesai berdoa, botol dibawa pulang dan airnya diminum oleh seluruh keluarga dengan harapan mencari berkah dari air yang telah didoakan, misalkan untuk menyembuhkan penyakit.

Pentas seni tari japin yang dipercaya sebagai permintaan datu penunggu danau digelar setelah shalat isya’. Selain japin, ada pula gagandutan (dangdut) yang dipentaskan oleh kelompok musik yang diundang. Ketika musik diperdengarkan, penduduk pun ikut berjoget.

2. Ritual persembahan sesaji

Masyarakat mulai bersiap untuk berangkat menuju danau ketika matahari mulai bersinar. Pertama-tama, Pangeran akan memberi isyarat berupa ucapan kepada para datu penunggu danau bahwa rombongan masyarakat sebentar lagi akan berangkat ke danau. Setelah itu, tari japin dan iringan musik dibunyikan selama beberapa saat sebagai tanda agar masyarakat bersiap berkumpul untuk berangkat ke danau.

Beberapa orang kemudian memasukkan sesaji-sesaji yang telah disiapkan ke dalam ketinting atau jukung (perahu) yang sudah menunggu. Selanjutnya, perahu secara beriringan berangkat menuju ke tengah danau. Perahu paling depan dengan bendera warna kuning hitam adalah perahu Pangeran dan Kai.

Kai terus berdoa di hadapan sesaji persembahan selama perjalanan menuju danau agar para datu penunggu danau berkenan menerima sesaji dan tidak menggangu jalannya upacara. Sesaji-sesaji itu nantinya akan diletakkan di tiga bagian danau, yaitu bagian kepala (hulu) danau, mungkur panjang, dan mungkur kambing.[4]

a. Ritual di kepala (hulu) danau

Seluruh perahu pengiring membentuk lingkaran dan menyisakan perahu Pangeran dan Kai di tengah lingkaran setelah tiba di bagian kepala (hulu) danau. Sejurus kemudian, Pangeran mengambil dan memecahkan kelapa tua yang sudah dihilangkan sabutnya. Setelah itu, Pangeran mengambil gula habang yang sudah disiapkan dan memasukkannya ke tengah kelapa tadi dan menyatukannya kembali.

Pangeran kemudian mengambil telur ayam yang masih mentah, lalu memecahkannya dan meminum isinya. Sambil membawa kelapa tadi, dengan sigap pangeran menyelam ke danau untuk menyerahkan sesaji kelapa beserta gula merah sebagai persembahan kepada datu penunggu kepala (hulu) danau.

Suasana di perahu senyap selama Pangeran menyelam. Masyarakat yang berada di atas perahu diam sambil berdoa agar Pangeran cepat kembali ke permukaan. Masyarakat takut kalau-kalau Pangeran tidak kembali akibat datu penunggu kepala (hulu) danau tidak menerima persembahan itu. Ketika Pangeran muncul ke permukaan danau, masyarakat bersorak gembira karena kemunculan Pangeran merupakan tanda bahwa datu penunggu kepala (hulu) danau menerima persembahan itu. Rombongan selanjutnya meneruskan perjalanan ke bagian danau kedua, yaitu mungkur panjang.

b. Ritual di mungkur panjang

Perahu Pangeran dan Kai tetap memimpin di depan selama perjalanan menuju bagian mungkur panjang. Setelah tiba di bagian mungkur panjang, perahu pengiring kembali membentuk lingkaran dan menyisakan perahu Pangeran dan Kai di tengah lingkaran. Sejenak kemudian pangeran melakukan ritual yang sama persis seperti yang dilakukan di lokasi kepala (hulu) danau. Pangeran mengambil kelapa tua, memasukkan gula merah ke dalamnya, dan meminum isi telur ayam mentah, lalu menyelam di danau untuk menyerahkan persembahan ke datu penunggu danau. Setelah pangeran muncul lagi ke permukaan, semua orang di atas perahu bersorak gembira. Upacara pun dilanjutkan ke bagian ketiga danau, yaitu mungkur kambing.

c. Ritual di mungkur kambing

Ritual di mungkur kambing ini merupakan ritual penutup dan paling penting. Hal ini dikarenakan bagian danau mungkur kambing dipercaya oleh masyarakat sebagai bagian lubang yang tembus ke danau lainnya. Oleh karena itu, kepala kambing yang dipersiapkan sebagai persembahan dianggap sebagai simbol penutup lubang tersebut agar ikan-ikan tidak lari dan hanya berkumpul di danau tersebut.

Pangeran memulai ritual di mungkur kambing dengan membakar kemenyan dalam sebuah tempat yang terbuat dari tanah sambil diiringi bacaan Al-fatihah, shalawat nabi, dan kumandang adzan dari salah satu nelayan. Seiring dengan itu, Pangeran mengambil kepala kambing yang telah disiapkan kemudian mencucinya pelan-pelan dengan air danau sambil membacakan mantra.

Setelah itu, Pangeran melompat ke danau dan menyelam menuju dasar danau dengan membawa kepala kambing tersebut. Suasana kembali lengang. Orang-orang di atas perahu berdoa semoga Pangeran cepat muncul kembali ke permukaan danau, karena itu merupakan tanda jikalau datu penunggu danau merestui upacara ini.

Sejenak kemudian Pangeran muncul di permukaan danau, dan orang-orang di atas perahu pun bersorak gembira sambil diiringi kidung-kidung tradisi dan tepuk tangan. Pangeran kemudian ditarik ke atas perahu oleh bidan dan dijabat tangannya. Setelah itu, Pangeran memberitahukan jikalau datu penunggu danau merestui upacara tersebut. 

c. Penutup

Rangkaian upacara Manyanggar Padang dianggap selesai dengan selesainya ritual di mungkur kambing. Upacara ditutup dengan membagi-bagikan seluruh sesaji dan makanan kepada semua peserta upacara tersebut. Mereka kemudian makan bersama. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Selepas beristirahat, para nelayan akan mulai menangkap ikan di danau. Namun, sebelum itu, biasanya mereka kembali membuat ritual kecil berupa doa dan mempersembahkan sesaji.

6. Doa-doa

Terdapat beberapa doa dan mantra yang dibaca pada upacara Manyanggar Padang ini, antara lain doa keselamatan, doa permohonan izin untuk mengambil ikan di danau, doa persembahan sesaji, dan doa permohonan agar mendapatkan ikan yang banyak. Doa dibaca oleh Kai diiringi kepulan asap dupa. Dalam memanjatkan doa, terkadang Kai mengalami kesurupan (trance) karena dimasuki oleh roh datu penunggu danau.

7. Pantangan atau Larangan

Terdapat beberapa pantangan atau larangan dalam upacara Manyanggar Padang ini, antara lain:

  • Perempuan yang sedang haid dilarang ikut mempersiapkan segala sesaji dan persembahan,
  • Pada saat membuat kue-kue yang dijadikan persembahan, siapa saja dilarang untuk mencicipi bahan yang sedang dibuat. Jika pantangan ini dilanggar, maka persembahan justru akan diterima oleh makhluk gaib lain, bukan datu penunggu danau yang dimaksud, dan
  • Selama digelarnya upacara ini, seluruh peserta upacara dilarang membuat keonaran yang akan mengganggu konsentrasi Pangeran dan Kai dalam berdoa.

8. Nilai-nilai

Upacara Manyanggar Padang memuat nilai-nilai kehidupan yang positif bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut.

  • Kebersamaan. Nilai ini tercermin dari perayaan upacara yang dipersiapkan dan digelar secara kolektif. Dalam kondisi ini, masyarakat merasakan kebersamaan. Hal ini penting karena kebudayaan tersebut bersentuhan langsung dengan aspek ekonomi. Nilai ini juga tercermin ketika seluruh masyarakat pergi bersama-sama naik jukung (perahu) menuju tempat ritual. Mereka mengikuti ritual bersama secara khidmat, membaca doa, bersorak, dan akhirnya makan bersama. Suasana ini tentu saja akan menguatkan rasa solidaritas bersama sebagai satu suku Banjar yang berbudaya.
  • Sakralitas. Nilai ini tercermin dalam berbagai ritual dan bacaan doa yang membutuhkan konsentrasi, ketenangan jiwa, dan keikhlasan seluruh peserta upacara. Hal ini tampak sekali pada saat pelaksanaan ritual persembahan sesaji di tiga bagian danau. Dalam suasana itu, masyarakat pasrah kepada Yang Maha Kuasa ketika menunggu Pangeran muncul ke permukaan danau setelah menyelam. Begitu pangeran muncul ke permukaan, seketika rasa pasrah itu meluap menjadi kegembiraan. Bagi mereka, tentu saat ini begitu menegangkan dan mengharukan.
  • Peduli terhadap lingkungan. Orang Banjar tampaknya sangat menyadari bahwa danau sebagai tempat mencari penghidupan sangat penting untuk dijaga. Dalam konteks kebudayaan, upacara Manyanggar Padang merupakan simbol kepedulian orang Banjar terhadap lingkungan. Berbagai mitos tentang datu penunggu danau sengaja dikonstruksi agar mereka tidak sembarangan memperlakukan danau karena danau adalah sumber kehidupan.

9. Penutup

Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang banyak dilintasi aliran sungai menjadi penanda bahwa air sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan orang Banjar. Upacara Manyanggar Padang merupakan bukti bagi hal tersebut. Selain sebagai sebuah perayaan budaya, upacara ini menjadi bukti keunikan dan keterikatan orang Banjar terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, upacara ini perlu diapresiasi dengan berbagai kegiatan budaya lain yang berorientasi pada kelestarian lingkungan. Mengingat Kalimantan merupakan salah satu paru-paru dunia, sebagaimana diamanatkan dalam Kongres Kebudayaan Banjar ke-2 pada 4-7 April 2010 yang lalu.

(Yusuf Efendi/bdy/26/05-10).

Sumber foto: Melayuonline.com

Keterangan foto utama: Aktifitas pasar apung Kuin, Kalimantan Selatan

Referensi

Sam’ani dkk, 2005. Urang Banjar dan kebudayaannya. Kalimantan Selatan: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah.

Sjarifudin, 1987/1988. Upacara tradisional Manyanggar Padang di Desa Bangkau. Kalimantan Selatan: Museum Negeri Lambung Mangkurat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, 2010. Menahapi kebudayaan Banjar, “Gasan Sasangga Banua”. Makalah-makalah pada Kongres Kebudayaan Banjar ke-2 4-7 April 2010. Kalimantan Selatan: Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.



[1] Menurut Sam’ani dkk (2005), dikarenakan biaya yang besar serta penghasilan nelayan yang semakin berkurang, saat ini upacara Manyanggar Padang diadakan lima tahun sekali.

[2] Pada zaman dahulu, upacara Manyanggar Padang digelar selama lima hari. Namun, seiring perkembangan zaman, pelaksanaan upacara ini berangsur-angsur berubah menjadi dua hari dan akhirnya dipersingkat menjadi sehari semalam (Sjarifudin, 1987/1988).

[3] Menurut Sjarifudin (1988/1987), saat ini ritual baandi-andi diganti dengan shalat hajat 2 rakaat di masjid kampung.

[4] Masyarakat nelayan pada umumnya tidak mengetahui kenapa bagian-bagian danau tersebut disebut kepala danau, mungkur panjang, dan mungkur kambing. Penamaan dan penentuan tempat tersebut hanya diketahui oleh Pangeran,, Kai, dan dukun bayi berdasarkan bisikan gaib dari datu penunggu danau (Sjarifudin, 1987/1988).

Dibaca : 7.210 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password