Kamis, 27 Juli 2017   |   Jum'ah, 3 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 9.898
Hari ini : 96.393
Kemarin : 95.049
Minggu kemarin : 728.948
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.906.316
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Beluncur: Permainan Tradisional Melayu Bulungan, Kalimantan Timur


Beluncur adalah salah satu jenis permainan tradisional Melayu yang biasa dimainkan oleh anak-anak di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur. Permainan tradisional Beluncur yang menjadi khas anak-anak Melayu ini hampir mirip dengan permainan prosotan yang sudah sangat dikenal dan bahkan dikembangkan menjadi permainan modern. Permainan tradisional Beluncur adalah salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan karena banyak mengandung nilai-nilai yang positif dan memuat unsur-unsur kearifan lokal.

1. Asal-usul

Permainan tradisional adalah salah satu warisan kekayaan budaya yang memiliki banyak sekali nilai luhur. Permainan tradisional merupakan jenis kegiatan positif yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan media refleksi budaya bagi generasi muda. Selain itu, permainan tradisional juga memberikan kegunaan serta manfaat bagi perkembangan dan pertumbuhan anak (Krisdyatmiko, 1999). Permainan tradisional mempunyai hubungan yang erat dengan perkembangan intelektual, sosial, emosi, dan kepribadian anak (Iswinarti, 2005).

Permainan Beluncur yang menjadi salah satu permainan tradisional kegemaran anak-anak di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur, adalah permainan yang dilakukan dengan cara meluncurkan diri dari suatu tempat yang tinggi menuju ke bawah di mana terdapat permukaan air sebagai muara tujuannya. Oleh karena itu, permainan Beluncur ini sering dilakukan di dekat-dekat sungai atau genangan air dan para pemainnya harus berani kotor karena dipastikan akan berlumuran lumpur. Beluncur boleh jadi berasal dari kata “meluncur” karena permainan ini memang dilakukan dengan cara meluncur atau prosotan.

Asal-usul permainan tradisional Beluncur memang belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi, menurut cerita yang beredar di kalangan rakyat setempat, permainan ini sudah dikenal sejak lama, sejak zaman nenek moyang. Dahulu, penduduk Bulungan pada umumnya bertempat tinggal dengan membangun rumah di tepi-tepi sungai. Dari sinilah permainan Beluncur berasal di mana anak-anak dari keluarga yang tinggal di tepi sungai itu memainkannya saban sore hari dan setelah itu mereka langsung mandi di sungai sebelum petang menjelang. Maka tidak mengherankan apabila permainan ini hanya dikenal oleh anak-anak yang tinggal di tepi sungai, sedangkan mereka yang berdiam jauh dari sungai pada umumnya jarang mengenal permainan Beluncur ini (Bambang Suwondo, dkk., 1983:63).

Permainan Beluncur adalah jenis permainan individual. Artinya, peserta permainan ini bermain atas nama mereka sendiri, bukan terdiri dari beberapa orang dalam satu tim atau kelompok. Permainan Beluncur ini sangat berguna sebagai latihan keterampilan dan melatih daya cipta serta kekuatan badan. Oleh karena itu, orang yang terbiasa melakukan permainan ini akan mempunyai fisik sehat. Tujuan membiasakan memainkan Beluncur ini memang agar tubuh menjadi kuat sehingga dapat membantu orang tua mereka bekerja di ladang. Sedari belia, anak-anak di Bulungan biasanya membantu pekerjaan orang tuanya (Bambang Suwondo, dkk., 1983:63).

2. Peralatan Permainan

Untuk melakukan permainan Beluncur tidak diperlukan alat-alat atau bahan-bahan. Namun, setiap pemain harus membuat lapangan permainan, yaitu berupa tempat meluncur di tepi sungai. Lapangan permainan yang dipilih biasanya adalah tempat yang landai dan berlumpur sehingga tidak menyakiti tubuh pada saat meluncur.

3. Peserta Permainan

Pada umumnya, permainan Beluncur bisa dimainkan oleh siapa saja. Namun, yang biasa melakukan permainan ini adalah anak laki-laki yang berusia antara 5-15 tahun (Bambang Suwondo, dkk., 1983:63). Permainan Beluncur adalah permainan individual, oleh karena itu pelaksanaan perlombaan permainan ini bersifat perseorangan. Akan tetapi, permainan harus dilakukan oleh lebih dari satu orang, paling sedikit dua orang hingga berpuluh-puluh orang. Semakin banyak peserta yang ikut meluncur, jalannya permainan ini akan bertambah seru.

4. Tempat dan Waktu Permainan

Sesuai dengan namanya, permainan Beluncur harus dilakukan di tempat-tempat yang bisa digunakan untuk meluncur, atau untuk prosotan. Anak-anak di Bulungan biasanya melakukan permainan Beluncur ini di tepi sungai atau di tebing-tebing landai yang menjorok ke sungai. Saat ini, permainan Beluncur sudah dikenal luas di banyak tempat, bahkan sudah dimodifikasi dalam bentuk permainan modern, meskipun tidak melulu berakhir di tempat yang ada airnya. Di taman kanak-kanak atau taman bermain, misalnya, biasanya terdapat permainan prosotan yang pada dasarnya sama dengan permainan Beluncur. Atau di wahana-wahana permainan air (waterboom, misalnya), banyak juga disediakan tempat luncur yang beraneka-rupa, dengan berbagai level tantangannya, dan akan berakhir di air atau kolam renang, sama seperti halnya dalam permainan tradisional Beluncur.

Sedangkan untuk waktu diselenggarakannya permainan tradisional Beluncur, anak-anak di Bulungan biasanya melakukannya pada sore hari menjelang petang. Setiap mereka pulang dari bermain atau membantu orang tua di ladang, anak-anak Bulungan yang rumahnya tidak jauh dari sungai tidak akan melewatkan bermain Beluncur bersama teman-teman sebayanya. Setelah bermain Beluncur, mereka sekalian mandi di sungai yang sama sebelum bersama-sama pulang kembali ke rumah saat matahari mulai terbenam (Bambang Suwondo, dkk., 1983:64).

Waktu yang tepat untuk melakukan permainan Beluncur adalah bukan pada waktu musim hujan karena jika hujan turun biasanya air sungai akan penuh, pasang atau meluap, bahkan bisa terjadi banjir, dan itu mengakibatkan tebing, tepi, atau lereng sungai akan terbenam air. Sebaliknya, jika bukan pada waktu musim hujan, air sungai biasanya akan surut sehingga bisa digunakan untuk tempat meluncur dalam permainan Beluncur (Bambang Suwondo, dkk., 1983:64).

5. Persiapan dan Aturan Permainan

a. Persiapan

Sebelum melakukan permainan Beluncur, diperlukan persiapan, yaitu mula-mula para calon peserta mencari tempat yang akan dijadikan arena permainan. Tepi sungai atau lereng yang berujung di sungai biasanya menjadi tempat ideal untuk bermain Beluncur. Akan tetapi, tepi sungai atau lereng tersebut haruslah berkontur landai dan bebas dari benda-benda yang berpotensi membahayakan, misalnya sampah, pecahan kaca, ranting pohon, kayu, dan lain sebagainya.

Tempat yang paling baik untuk melakukan permainan Beluncur adalah area berlumpur yang mempunyai tekstur lumpur agak keras dan licin sehingga memudahkan ketika melakukan aksi peluncuran. Pertama-tama, tiap-tiap peserta membuat jalur luncuran masing-masing terlebih dulu. Cara membuat jalur yang nantinya digunakan sebagai tempat meluncur adalah, masing-masing peserta bersiap-siap di tempat sesuai pilihan yang akan digunakan untuk meluncur. Masing-masing peserta kemudian duduk di tempat itu, kemudian badan ditarik ke bawah sehingga meluncur. Bekas luncuran itu akan terlihat, dan lalu dibasahi dengan sedikit air agar licin dan jalur peluncuran sudah siap untuk digunakan untuk berlomba (Bambang Suwondo, dkk., 1983:64).

b. Aturan

Dalam melakukan permainan Beluncur, terdapat beberapa aturan dan ketentuan yang harus dipatuhi oleh semua pemain. Aturan-aturan dalam permainan Beluncur itu antara lain sebagai berikut:

  • Setiap pemain permainan Beluncur harus duduk pada jalur masing-masing dengan posisi kedua kaki lurus ke depan.
  • Tangan kiri dan tangan kanan digunakan sebagai alat pembantu untuk mendorong badan supaya dapat meluncur dengan cepat.
  • Sebelum melakukan peluncuran, semua pemain harus menunggu aba-aba dari orang yang telah ditunjuk menjadi pemimpin atau wasit. Setelah aba-aba diserukan, para peserta dengan serentak mulai meluncur sampai ke bawah di mana jalur luncuran biasanya berakhir di sungai yang tidak dalam (Bambang Suwondo, dkk., 1983:66).

6. Tahapan dan Tata Cara Permainan

Tahapan dan tata cara yang berlaku dalam permainan Beluncur adalah sebagai berikut:

  • Pada saat permainan akan dimulai, semua peserta harus duduk di jalur masing-masing sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
  • Setelah ada aba-aba dari pemimpin atau wasit yang sebelumnya telah ditentukan, maka semua peserta akan serentak melakukan peluncuran. Di Bulungan, aba-aba yang digunakan adalah dengan meneriakkan kata sin...duin...telu’..!, yang artinya: satu..dua..tiga..! Tepat pada saat hitungan telu’ atau ketiga, semua peserta akan segera meluncurkan diri dan berlomba-lomba sampai ke garis finish atau permukaan air sungai di ujung jalur luncur terlebih dulu, namun tidak boleh melanggar aturan.
  • Peserta yang ditentukan keluar sebagai pemenang adalah peserta yang pertama bisa mencapai permukaan air sungai di ujung jalur. Akan tetapi, semua peserta tidak diperbolehkan meloncat di tengah-tengah peluncuran dan harus tetap dalam posisi duduk sampai ke ujung jalur peluncuran.
  • Apabila ada peserta yang ketahuan meloncat sebelum tiba di ujung jalur peluncuran dengan maksud agar lebih dulu sampai ke tempat finish, maka jika peserta tersebut menang atau mencapai garis finish yang pertama, akan dianggap tidak sah atau kemenangannya dibatalkan (Bambang Suwondo, dkk., 1983:64). Namun jika peserta yang bersangkutan bukan merupakan orang yang pertamakali sampai ke garis finish, maka pelanggaran tidak yang telah dilakukannya dimaafkan karena hanya ada satu orang pemenang dalam permainan Beluncur ini.
  • Setelah permainan Beluncur ini dilakukan secara berulang-ulang dan para peserta sudah merasa lelah, maka perlombaan disudahi.
  • Setelah rangkaian perlombaan Beluncur diakhiri, maka sebagai tahap terakhir adalah menentukan siapa peserta yang akan dinyatakan sebagai keluar sebagai juara dari seluruh rangkaian perlombaan itu. Penentuan juara tersebut dilakukan dengan cara menghitung atau menjumlahkan total kemenangan masing-masing peserta dalam tiap-tiap sesi permainan atau peluncuran. Peserta yang memperoleh kemenangan terbanyak dalam tiap-tiap sesi peluncuran yang sudah dilakukan, maka dialah yang dinyatakan sebagai juara.
  • Oleh karena perlombaan ini hanya sekadar permainan yang menjadi kesukaan dan sering dimainkan oleh anak-anak untuk mengisi waktu dan bersosialisasi dengan teman-teman sepermainannya, maka biasanya tidak disediakan hadiah untuk peserta yang memenangkan perlombaan Beluncur ini. Demikian pula, bagi para peserta yang kalah pun tidak akan memperoleh hukuman apapun. Hanya saja, bagi peserta yang keluar sebagai pemenang akan merasa lega dan bangga karena kelebihan dan keterampilan yang dimilikinya mendapat pengakuan dari teman-temannya (Bambang Suwondo, dkk., 1983:66).

7. Keahlian Khusus

Untuk bisa memainkan permainan Beluncur pada dasarnya tidak harus memiliki keahlian khusus. Akan tetapi, anak yang memiliki kondisi fisik yang prima dan keterampilan yang baik akan membuka peluang semakin besar untuk memenangkan perlombaan. Selain itu, bentuk fisik seseorang juga berpengaruh. Anak yang mempunyai tubuh kecil atau langsing, misalnya, biasanya akan lebih cepat meluncur daripada anak yang berbadan besar atau gemuk. Namun, tentu saja kemampuan fisik dan skill individu tiap-tiap anak menjadi faktor yang paling menentukan.

8. Nilai-nilai

Menurut Suseno (1999) seperti yang dinukil dalam Naskah Publikasi Penelitian Dasar Keilmuan karya Iswinarti (2010), permainan Tradisional merupakan kekayaan budaya bangsa yang mempunyai nilai-nilai luhur untuk dapat diwariskan kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Selanjutnya dikatakan bahwa permainan tradisional merupakan permainan yang mengandung wisdom atau lebih tepatnya memuat nilai-nilai kearifan lokal yang luhur (Suseno dalam Iswinarti, 2010). Oleh karena itu, dalam permainan Beluncur terkandung banyak nilai sosial yang meliputi aspek fisik atau materi maupun aspek mental atau non materi, yaitu antara lain:

  • Meningkatkan ketahanan fisik dan stamina. Dengan melakukan permainan Beluncur, ketahanan tubuh seseorang akan meningkat karena permainan ini membutuhkan kondisi fisik yang cukup prima.
  • Meningkatkan ketahanan mental. Permainan Beluncur juga dapat membantu meningkatkan ketahanan mental, karena dalam permainan ini, peserta dituntut untuk menjaga kestabilan kondisi mental, misalnya dalam menjaga ego dan emosi.
  • Melatih sportivitas dan kejujuran dalam berkompetisi. Mekanisme dan ketentuan yang berlaku dalam permainan Beluncur sangat menjunjung semangat sportivitas dan kejujuran. Untuk meraih kemenangan, tiap-tiap peserta harus melakukannya dengan cara yang sesuai ketentuan atau tidak boleh melanggar aturan. Jika ada peserta yang memenangkan perlombaan namun menyalahi ketentuan yang telah ditetapkan, maka kemenangan itu akan dianggap tidak sah dan dibatalkan.
  • Menjalin silaturahmi, sosialisasi, dan kesetiakawanan dalam pergaulan. Permainan Beluncur tidak akan seru jika dimainkan sendiri, sehingga biasanya dimainkan oleh serombongan anak-anak yang rata-rata berusia sebaya. Oleh karena itu, permainan ini juga menjadi media yang baik untuk bersilaturahmi dan mempererat sosialisasi serta rasa setia kawan di antara kawan-kawan sepermainan.
  • Menjaga kelestarian tradisi dan kearifan lokal. Permainan Beluncur merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia. Dengan tetap memainkan permainan ini, maka hal itu secara tidak langsung juga merupakan wujud melestarikan tradisi dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang sangat berguna bagi pembentukan jatidiri dan karakter suatu bangsa.

9. Penutup

Permainan tradisional khas Indonesia, khususnya yang berasal dari bumi Melayu yang tersebar di berbagai tempat di Nusantara, merupakan potensi kekayaan bangsa yang harus dijaga kelestariannya. Hal ini berlaku juga untuk permainan Beluncur yang menjadi permainan favorit anak-anak Melayu di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur. Pada perkembangannya kemudian, permainan ini diadopsi menjadi permainan yang dikenal luas oleh semua kalangan di berbagai tempat, bahkan kemudian dikembangkan menjadi permainan dalam bentuk yang lebih modern. Namun, versi asli atau bentuk tradisional permainan Beluncur tetap dipertahankan dan masih sering dimainkan hingga saat ini.

(Iswara N Raditya/01/04-2011)

Sumber Foto: Reproduksi dari foto dalam http://mariejoseph.wordpress.com

Referensi:

Bambang Suwondo, dkk., 1983. Permainan Anak-anak Daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Fitri Astuti, 2009. “Efektivitas Permainan Tradisional untuk Meningkatkan Kreativitas Verbal pada Masa Anak Sekolah”. Skripsi. Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Iswinarti, 2005. “Permainan Tradisional Indonesia, dalam Tinjauan Perkembangan Intelektual, Sosial, Emosi, dan Kepribadian”, dalam Simposium Nasional: Memahami Psikologi Indonesia. Malang: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Iswinarti, 2010. “Nilai-nilai Terapiutik Permainan Tradisional Engklek pada Anak Usia Sekolah Dasar”, dalam Naskah Publikasi Penelitian Dasar Keilmuan. Malang: Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang.

Krisdyatmiko, 1999. Dolanan Anak: Refleksi budaya dan Wahana Tumbuhkembang Anak. Yogyakarta: Plan International Indonesia-Yogyakarta dan LPM Sosiatri Fisipol UGM.

Dibaca : 11.770 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password