Senin, 11 Desember 2017   |   Tsulasa', 22 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 4.113
Hari ini : 24.563
Kemarin : 43.322
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.944.199
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Silat Bayang Buayo (Sumatera Barat - Indonesia)

a:3:{s:3:

1. Asal Usul

Silat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip oleh (Maryono, 2000:5), adalah permainan (keahlian) dalam mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis, menyerang dan membela diri, baik dengan atau tanpa senjata. Lebih khusus lagi, silat diartikan sebagai “permainan yang didasari ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan atau tanpa senjata”, sedangkan bersilat bermakna “bermain dengan menggunakan ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri” (Kompas, 1996: 18). Lepas dari berbagai devinisi itu yang jelas bahwa gerakan-gerakan silat mengandung keindahan (seni). Oleh karena itu, silat sering disebut dengan “seni bela diri”.

Di pesisir selatan Sumatera Barat (Indonesia), tepatnya di daerah Bayang, ada sebuah seni bela diri yang disebut sebagai  Silat Bayang Buayo. Salah seorang pendekarnya, Haji Nasrul, mengatakan bahwa nama silat tersebut sangat erat kaitannya dengan jurus-jurus khas yang ada di dalamnya. Jurus-jurus itu sebagian besar diambil dari gerak-gerik seekor buayo (buaya) ketika sedang  menyerang musuh atau mangsanya. Oleh karena jurus-jurusnya menyerupai gerakan seekor buayo dan hanya ada atau berasal dari daerah Bayang, maka silat tersebut kemudian diberi nama “Silat Bayang Buayo”.

Jurus-jurus yang ada di dalam seni bela diri ini tergolong memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena tidak hanya memerlukan kecepatan dan ketepatan, tetapi juga keberanian menyerang lawan. Belum lagi, harus mempraktekkan teknik yang menjadi salah satu ciri khasnya, yaitu kombinasi antara melompat, jatuh berguling yang disertai dengan tendangan dan atau tangkapan. Selain itu, harus melakukan improvisasi gerak yang disesuaikan dengan reaksi dari lawannya. Oleh karena itu, seseorang baru dapat dikatakan mahir jika menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik tersebut.

2. Teknik-teknik Khas Silat Bayang Buayo

Ada dua jenis teknik atau gerakan yang dianggap paling “mematikan” dalam Silat Bayang Buayo. Teknik pertama, pesilat berada dalam posisi rebah menyamping dan bertumpu pada sikut kiri, sementara lawan yang berpisau menyerang dari arah atas (foto 1). Untuk menghindari serangan, pesilat merebahkan diri ke balakang kemudian menyilangkan kedua kakinya (menyerupai gunting), dengan maksud menahan lajunya tangan kanan lawan yang memegang pisau (foto 2). Kemudian pesilat memutar pergelangan kaki kanan ke arah kanan, sementara kaki kiri mengunci lipatan sikut kanan penyerang. Akibat gerakan ini penyerang terpelintir dan jatuh ke samping kiri (foto3). Untuk mengantisipai agar tidak jatuh cidera, lawan menggulingkan tubuhnya ke samping, sehingga posisinya menjadi telentang dan siap melakukan serangan balasan (foto 4). Kemudian, lawan melakukan tendangan dengan kaki kiri ke arah muka pesilat, namun hal itu disambut dengan tangkapan dan kuncian dengan tangan kanan, sementara tangan kiri merebut pisau dari tangan lawan (foto 5). Sambil tetap mengunci kaki, pesilat mengakhirinya dengan menjambak rambut lawan dan sekaligus menempelkan pisau ke leher bagian belakang lawan (foto 6).

   
Foto 1 Foto 2
   
Foto 3
Foto 4


Foto 5Foto 6

Teknik kedua, pesilat menanti serangan lawan dengan posisi di bawah, sementara lawan dengan pisau terhunus siap melakukan serangan (foto 7). Lawan melakukan sabetan ke arah leher pesilat, namun dapat dielakkan dengan cara merendahkan badan sambil memiringkan dan menurunkan kepala (foto 8). Pesilat kembali ke posisi semula, sementara lawan siap untuk melakukan serangan berikutnya (foto 9). Kali ini lawan melakukan tusukan ke leher pesilat sambil sedikit merendahkan kuda-kudanya, namun hal itu dapat dihindari oleh pesilat dengan cara memiringkan badan ke samping kanan sehingga pisau hanya sampai di dekat mulut saja (foto 10). Pesilat dengan sigap menggigit pisau, sementara tangan kirinya memegang pangkal telapak tangan lawan (foto 11). Setelah pisau terlepas dari genggaman penyerang, pesilat melanjutkan serangannya dengan memelintir tangan kanan lawan ke arah kiri, sehingga badan lawan menjadi miring ke kanan (foto 12). Karena keseimbangan badan lawan sudah hilang, maka dengan hanya sekali dorong, penyerang jatuh telentang (foto 13). Jika hendak mencelakakan lawan, maka pesilat dapat melakukan serangan balasan dengan menyabetkan pisau ke leher penyerang (foto 14 dan 15).

   
Foto 7 Foto 8
   
Foto 9 Foto 10
   
Foto 11 Foto 12
   
Foto 13 Foto 14


Foto 15

3. Nilai Budaya

Silat Bayang Buayo sebagai seni bela diri yang ada di daerah Bayang (Sumatera Barat), jika dicermati di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat menjadi acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kepercayaan diri, kedisiplinan, dan sportivitas.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan jurus-jurus dan teknik-teknik yang dilakukan, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Gerakan-gerakan itu dapat disamakan dengan olah raga karena otot-otot akan menjadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar, sehingga tubuh menjadi kuat dan sehat. Tubuh yang sehat, sebagaimana kata peribahasa (Mensana in Korporesano), di dalamnya terdapat jiwa yang sehat pula. Ini artinya, kesehatan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silat Bayang Buayo.

Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri Silat Bayang Buayo. Untuk dapat menguasainya dengan baik, maka diperlukan kerja keras, baik ketika berlatih maupun dalam pertandingan yang sebenarnya. Tanpa kerja keras, mustahil jurus-jurus dan teknik-tekniknya yang rumit itu dapat dikuasai secara sempurna. Tanpa kerja keras pula mustahil kemenangan dapat diperoleh dalam suatu pertandingan. Bertolak dari pemikiran itu, maka kerja keras merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silat Bayang Buayo.

Mempelajari seni bela diri Silat Bayang Buayo berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai seni bela diri Silat Bayang Buayo, seseorang akan menjadi percaya diri dan tidak takut dengan gangguan dan atau ancaman dari pihak lain. Bahkan, ia akan rela menolong orang yang tertindas. Bertolak dari pemikiran ini, maka kepercayaan diri merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silat Bayang Buayo.

Mempelajari seni bela diri Silat Bayang Buayo juga memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan persilatan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan persilatan, mustahil jurus-jurus dan teknik-teknik yang ditekuni dapat dikuasai dengan sempurna. Malahan, bukan hal yang mustahil dikeluarkan dari perguruan. Ini artinya, kedisiplinan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silat Bayang Buayo.

Untuk “mengasah” ilmu silat setiap muridnya, pada umumnya di dalam sebuah perguruan silat diadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut, tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada pesilat yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pesilat yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. Oleh karena itu, sportivitas merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Silat Bayang Buayo. (AG/bdy/47/7-07)

Sumber :

  • http://www.duel.melsa.net.id
  • Maryono, O‘ong. 2000. Pencak Silat. Yogyakarta: Galang Press.
Sumber : members.chello.at
Dibaca : 17.001 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password