Jumat, 23 Juni 2017   |   Sabtu, 28 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 696
Hari ini : 334
Kemarin : 24.957
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.673.907
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kuntau (Kelantan - Malaysia)

a:3:{s:3:

1. Asal Usul

Kelantan (Kelantan Darul Naim) adalah sebuah negeri (daerah setingkat provinsi) yang tergabung dalam negara Malaysia. Negeri ini masyarakatnya terdiri atas berbagai etnik (heterogen). Jumlah penduduknya sekitar 1.313.014 jiwa, dengan komposisi (berdasarkan etnik): Melayu (95%), Cina (3,8%), India (0,3%), dan lain-lain (0,9%). Ini berarti penduduknya sebagian besar adalah pendukung budaya Melayu.

Pada daerah yang penduduknya berasal dari berbagai etnik ini tidak mungkin pendukung etnik tertentu hanya berinteraksi dengan sesamanya (pendukung budaya yang sama), tetapi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus berinteraksi dengan pendukung etnik lainnya. Ini bermakna bahwa di sana terjadi kontak antarbudaya. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi dalam kontak-kontak budaya, yaitu asimilasi dan akulturasi. Asimilasi adalah munculnya budaya yang sama sekali baru sebagai akibat dari adanya kontak-kontak budaya yang berbeda, sedangkan akulturasi adalah munculnya “budaya baru” yang merupakan campuran dari unsur-unsur dua atau lebih budaya yang berbeda. Oleh karena itu, dalam kontak-kontak antarbudaya yang sering terjadi adalah akulturasi dan bukan asimilasi, termasuk yang terjadi di negeri Kelantan Darul Naim. Salah satu wujud akulturasi dari adanya kontak antara budaya Melayu dan Cina adalah sebuah seni bela diri yang disebut sebagai Kuntau, karena merupakan gabungan seni bela diri Melayu dan Cina.

Hasan bin Husin adalah orang Melayu-Kelantan Darul Naim yang sejak kecil sangat tertarik pada seni bela diri. Ketertarikannya itu membuat ia mempelajari berbagai jenis bela diri yang ada di daerahnya (Kelantan), terutama seni bela diri dari perguruan Silat Elang Merah yang dipimpin oleh kakek dari ayahnya, dan Kuntau Gee Sing yang dipimpin oleh kakek dari ibunya. Jurus-jurus yang ada di kedua perguruan itulah yang kemudian digabungkannya dan diberi nama Kuntau (seni bela diri Kuntau)

2. Perkembangan Seni Bela Diri Kuntau

Pada awal tahun 1980-an, untuk menjaga agar seni bela diri ini tidak hilang ditelan zaman, Hasan bin Husin menyusun kembali gerakan-gerakannya dan  mendaftarkannya ke Gabungan Persatuan Seni Silat Negeri Kelantan. Tujuannya  adalah agar seni bela diri tersebut dapat diakui secara resmi oleh negara. Namun, baru diterima secara resmi sebagai suatu lembaga di bawah Gabungan Persatuan Seni Silat Kelantan  pada tanggal 17 Oktober 1984.

Sekitar pertengahan tahun 1990-an, sekali lagi Hasan bin Husin menyusun kembali sistem latihannya. Dalam hal ini dibantu oleh tiga orang Master, yaitu: Mohamad Sajeri bin Abdullah, Mohamad Zahir bin Ramli dan Cigu Mohamad Amin bin Abu. Tujuan dari penyusunan sistem latihan ini adalah untuk lebih memantapkan gerakan-gerakan yang terdapat dalam Kuntau agar tersusun secara sistematis.

Selang beberapa tahun, setelah sistem pelatihannya mulai tersusun secara sistematis, pada 20 April 1999 Hasan bin Husin mendaftarkan Kuntau menjadi sebuah akademi, dengan nama “Akademi Seni Silat Gerak Kuntau”. Tujuannya adalah agar dapat mengajarkan silat Kuntau pada masyarakat luas serta dapat mengeluarkan sijil. Selain itu, kehadiran Kuntau di tanah Melayu diharapkan dapat menambah khasanah seni bela diri Melayu.

3. Tingkatan-tingkatan dalam Kuntau

Tingkatan-tingkatan dalam perguruan Kuntau disimbolkan dengan ikat pinggang (sabuk) yang beraneka warna, bergantung tingkatan seseorang. Jadi, dengan melihat warna sabuk yang dikenakan oleh seseorang, dapat diketahui tingkatan pemakainya. Warna-warna sabuk yang menunjukkan tingkatan atau kedudukan seseorang dalam perguruan Silat Kantau adalah sebagai berikut: (1) warna putih menandakan bahwa pemakainya adalah seorang murid baru di dalam perguruan; (2) warna putih strip kuning menandakan bahwa pemakainya telah lusus ujian tingkat satu; (3) warna kuning menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat dua; (4) warna kuning strip hijau menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat tiga; (5) warna hijau menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat empat; (6) warna hijau stirp biru menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat lima; (7) warna biru menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat enam; (8) warna merah strip putih menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat tujuh; (9) warna merah menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat delapan; dan (10) warna hitam menandakan bahwa pemakainya telah lulus ujian tingkat terakhir.

Sebagai catatan, orang yang mendapatkan sabuk hitam dianggap telah menguasai semua jurus atau gerakan Kuntau. Oleh karena itu, dianggap  mahir dan diperbolehkan “turun gunung” untuk mengamalkan ilmunya pada masyarakat luas. Namun, apabila ia ingin tetap berada di perguruan dan menjadi pengajar, maka harus memenuhi syarat-syarat khusus, diantaranya adalah: (1) masih aktif dalam seni silat gerak Kuntau lebih dari satu tahun setelah mendapatkan sabuk hitam; dan (2) mahir dalam semua gerakan silat Kuntau. Semua penilaian ini dilakukan oleh guru utama. Apabila, berdasarkan penilaian, orang tersebut memenuhi persyaratan di atas, maka akan diangkat menjadi pengajar di perguruan.

Sama seperti para murid, para pengajar pun juga mengenakan sabuk dengan warna-warna tertentu sesuai dengan tingkatannya, yaitu: (1) warna hitam dengan satu strip putih sebagai tanda telah mendapat ijazah satu kali; (2) warna hitam dengan dua strip putih sebagai tanda telah mendapat ijazah dua kali; (3) warna hitam strip kuning sebagai tanda telah mendapatkan ijazah tiga kali; (4) warna hitam strip hijau sebagai tanda telah mendapatkan ijazah empat kali; (5) warna hitam strip biru sebagai tanda telah mendapatkan ijazah lima kali; dan (6) warna hitam strip merah hanya dikhususkan bagi guru utama dalam perguruan.

Dalam seni bela diri Kuntau ini, selain menggunakan teknik-teknik gerakan (jurus-jurus) tangan kosong, juga mempergunakan beberapa senjata. Penggunaan senjata dalam seni bela diri ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: senjata wajib dan senjata pilihan. Senjata wajib adalah senjata yang harus dikuasai penggunaannya oleh murid. Senjata-senjata itu adalah: tongkat rotan, pedang dan senjata kembar. Sedangkan, senjata pilihan adalah senjata yang jenisnya boleh ditentukan atau dipilih oleh murid sendiri, diantaranya adalah: keris, tongkat rantai, tekpi, tonfa dan lain-lain. Penggunaan senjata tersebut baru diajarkan ketika murid telah mendapatkan sabuk hitam, karena dianggap sangat berbahaya dan beresiko tinggai apabila diajarkan pada murid yang masih belum berpengalaman (pemegang sabuk selain warna hitam).

4. Nilai Budaya

Kuntau sebagai suatu seni bela diri yang tumbuh dan berkembang di Negeri Kelantan Nurul Daim, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kedisiplinan, kepercayaan diri, kesetiakawanan, dan sportivitas.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan jurus-jurus dan teknik-teknik yang dilakukan, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Gerakan-gerakan Kuntau, yang merupakan gabungan antara seni bela diri Cina dan Melayu, harus dilakukan sedemikian rupa sehingga otot-otot tubuh akan menjadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar. Ini akan membuat tubuh menjadi kuat dan sehat. Tubuh yang kuat dan sehat pada gilirannya akan membuat jiwa yang sehat pula, sebagaimana kata peribahasa yang berbunyi “Mensana in Korporesano” (Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula). Ini artinya, kesehatan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Kuntau.

Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri Kuntau. Untuk dapat menguasainya dengan baik, maka diperlukan kerja keras, baik ketika berlatih maupun dalam pertandingan yang sebenarnya. Tanpa kerja keras mustahil jurus-jurus dan teknik-tekniknya yang rumit itu (karena gabungan dari seni bela diri Cina dan Melayu) dapat dikuasai secara sempurna. Tanpa kerja keras pula mustahil kemenangan dapat diperoleh dalam suatu pertandingan. Bertolak dari pemikiran itu, maka kerja keras merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Kuntau.

Mempelajari seni bela diri Kuntau, sebagaimana seni bela diri lainnya, berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai seni bela diri Kuntau seseorang akan menjadi percaya diri dan karenanya tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain. Bertolak dari pemikiran ini, maka kepercayaan diri merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Kuntau.

Mempelajari seni bela diri Kuntau juga memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan persilatan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan persilatan mustahil jurus-jurus dan teknik-teknik yang ditekuni dapat dikuasai dengan sempurna. Malahan, bukan hal yang mustahil apabila dikeluarkan dari perguruan. Ini artinya, kedisiplinan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Kuntau.

Perguruan seni bela diri Kuntau adalah suatu keluarga besar. Artinya, orang-orang yang belajar di perguruan tersebut, satu dengan lainnya, menganggap tidak hanya sebagai saudara seperguruan tetapi juga teman seperguruan. Sebagai seorang saudara dan seorang teman tentunya akan tidak saling menyakiti, tetapi justeru saling tolong-menolong. Bahkan, rela berkorban demi kebaikan dan atau keselamatan teman. Bertolak dari pemikiran itu, dan ini sering terjadi di kalangan mereka, maka kesetiakawanan merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni bela diri Kuntau.

Untuk “mengasah” ilmu Kuntau setiap muridnya, pada umumnya diadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut, tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada pesilat yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pesilat yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. Oleh karena itu, sportivitas merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam seni Silat Kuntau. (AG/bdy/49/7-07)

Sumber :

  • http://www.silatkuntau.cjb.net.
  • http://www.wikipedia.org.
Kredit foto : static.flicker.com
Dibaca : 15.290 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password