Selasa, 27 Juni 2017   |   Arbia', 2 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 3.295
Hari ini : 20.083
Kemarin : 30.666
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.698.809
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Orang Riau Lautan (Riau - Indonesia)

a:3:{s:3:

Bagi orang Melayu yang tinggal di Kepenghuluan Cate Rempang (nama daerah), peristiwa kematian merupakan peristiwa besar yang dihadapi oleh seseorang. Sesuai dengan keyakinan agama yang dipeluknya yaitu Islam, kematian berarti terjadinya perpindahan roh manusia dari jasadnya ke alam barzakh. Oleh karena agama penduduk daerah ini kebanyakan beragama Islam, maka proses atau upacara kematiannya disesuaikan dengan ajaran agama tersebut dengan rangkaian upacaranya sebagai berikut.

1. Merahap mayat

Bagi orang Melayu, apabila seseorang meninggal dunia, jenazahnya harus cepat-cepat dirahap, yaitu tubuh jenazah tersebut harus dibetulkan posisinya. Posisi jenazah yang baik adalah kaki lurus, kedua tangan diletakkan tertelungkup di atas dada. Mata dan mulut tertutup dan menghadap kiblat.

Upacara ini bertujuan untuk membetulkan keadaan jenazah agar tidak menakutkan bagi orang-orang yang datang berziarah. Selain itu jenazah yang sudah dirahap dijaga dengan baik oleh keluarga si mati, biasanya dengan membaca ayat-ayat suci al-Quran bagi yang mau. Upacara ini dilaksanakan di rumah si mati, yang diselenggarakan oleh orang-orang yang memang sudah biasa mengurus jenazah. Pelaksanaannya dilakukan setelah seseorang benar-benar telah menghembuskan nafas terakhir.

Alat-alat yang disediakan untuk upacara ini antara lain: (1) minyak kelapa, (2) secarik kain putih (3) sepotong besi dan pedupaan, dan (4) sehelai kain panjang untuk menutup jenazah.

Sesuai dengan ajaran Islam, semua orang Melayu berkeinginan agar jenazah secepatnya dikembumikan. Semakin cepat dikebumikan semakin baik.

Pantangan-pantangan yang harus dihindari antara lain adalah: (1) Apabila jenazah sudah dirahap, tidak boleh sama sekali dilangkah kucing, sebab jika terjadi hal yang demikian, jenazah dapat bangun tetapi dalam keadaan yang sangat mengerikan, (2) Merahap jenazah tidak boleh dilakukan dengan kasar, tetapi harus dengan lembut da keikhlasan di dalam hati.

2. Memandikan jenazah

Setelah semua keluarga ahli waris serta sanak saudara mengetahui dan menghadiri kematian salah seorang warganya yang pada saat itu sudah dirahap, maka segera pula disiapkan untuk dimandikan jenazah tersebut. Memandikan jenazah dimaksudkan untuk membersihkan sekaligus mensucikan karena akan menghadap Yang Maha Suci.

Memandikan jenazah dilaksanakan setelah persiapan-persiapan selesai dikerjakan. Misalnya membuat keranda (usungan), menggali kubur, dan tidak ada lagi ahli waris yang ditunggu. Penyelenggaraan ini dilaksanakan di rumah si mati, yang ditata sedemikian rupa sehingga terlindung dari penglihatan orang banyak. Penyelenggara secara teknis, dilakukan oleh orang-orang yang memang sudah mempelajari tata pelaksanaan memandikan jenazah secara Islam. Selain itu, keluarga-keluarga atau teman-teman dekat yang ikhlas membantu juga dilibatkan, terutama untuk memangku jenazah. Jika semua berhalangan, maka terpaksa diganti tempat pemangkuan jenazah tersebut dengan batang pisang.

Pelatan-peralatan yang dipakai untuk melaksanakan upacara memandikan jenazah adalah: (1) air bersih secukupnya, (2) sepotong sabun mandi, (3) kapur barus yang sudah dihaluskan, (4) gaharu, cendana dan daun bedara, (5) sampul tangan yang terbuat dari kain putih, dan (6) sehelai kain basahan.

Ada beberapa pantangan dalam memandikan jenazah bagi pelaksana teknisnya, yaitu (1) orang yang memangku dilarang menangis, (2) orang yang memandikan (disebut juga : meriba) tidak boleh merasa jijik, ia harus ikhlas, dan (3) menggosok badan jenazah tidak boleh dengan kasar, tetapi harus dengan lemah lembut.

3. Mengafani dan menyembahyangkan jenazah

Setelah jenazah dimandikan dan diwudhu’kan, lalu jenazah dikafankan, kemudian dishalatkan. Upacara mengafankan bertujuan untuk memberikan pakaian yang bersih kepada jenazah, agar dapat menghadap Tuhan Yang Mahakuasa dengan penuh kesucian. Mengafankan jenazah dilakukan setelah jenazah dimandikan, dilaksanakan di rumah si mati. Pelaksana teknis mengafankan jenazah biasanya dilakukan oleh orang-orang yang ditunjuk untuk memandikan jenazah tersebut yang sudah paham dengan tata cara Islam.

Beberapa peralatan yang perlu dipersiapkan untuk mengafani jenazah adalah (1) kain kafan berwarna putih; panjang kurang lebih  14 m untuk laki-laki dewasa dan 15 m untuk perempuan dewasa; untuk anak-anak sesuai dengan kebutuhan (2) wangi-wangian yang tidak mengandung alkohol.

Cara mengafani jenazah adalah sebagai berikut:

  1. Pada bagian dubur, kemaluan, kaki, perut, dada, ketiak, telinga dan kepala ditutupi dengan lempengan kapas. Kemudian kain kafan di bagian ujung kaki dilipat dan diikat. Kapas yang diletakkan di bagian kepala dibentuk seperti peci. Kemudian disimpulkan ke bagian kepala dan diikat seperti ikatan sorban. Bagian telinga, hidung, pipi, dahi, diigosokkan dengan minyak atta yang harum baunya. Bila terdapat sisa dari minyak atta tersebut, maka direnjiskan pada kain kapan. Setelah itu, jenazah ditutup dengan kain kapan sehingga menutup seluruh tubuhnya. Sebelum diikat, seluruh keluarga, ahli waris diberi kesempatan untuk melihat wajah jenazah untu terakhir kali dan ketika itu diperbolehkan untuk mencium jenazah sebagai tanda kasih sayang dan ucapan selamat jalan kepada orang yang telah meninggalkan keluarga itu.

  2. Setelah dikafani, jenazah tersebut diangkat secara perlahan, lalu diletakkan melintang ke arah kiblat. Maka dilanjutkan pula dengan upacara menyembahyangkan jenazah.

  3. Untuk menyelenggarakan upacara sembahyang, diminta kesediaan beberapa orang yang ikhlas bersedekah untuk melakukan upacara tersebut yang dipimpin oleh seorang imam. Bagi orang Islam, jumlah orang yang sebaik-baiknya yang diharapkan dalam upacara menyembahyangkan tersebut minimal 44 orang. Jika jumlah ini tercapai, diyakini jenazah tersebut akan diringankan dari siksaan kubur. Tempat melakukan sembahyang jenazah itu di tengah eumah yang telah dibersihkan. Jika ada masjid terdekat atau surau, sebaiknya jenazah disembahyangkan di sana. Maka, berakhirlah acara menyembahyangkan jenazah, selanjutnya jenazah tersebut dibawa ke tempat pemakaman untuk dikuburkan.

4. Penguburan

Upacara ini dikenal dengan upacara penguburan. Ada juga yang menyebutnya dengan pemakaman. Bagi orang Melayu lautan yang beragama Islam, siapa saja yang meninggal harus dikuburkan, karena menurut Islam menusia berasal dari tanah, oleh karena itu harus kembali ke asalnya, yaitu tanah.

Upacara penguburan ini dipimpin oleh seorang imam yang mempunyai pengetahuan menguburkan jenazah bedasarkan hukum Islam.

Perlengkapan yang diperlukan adalah secerek (1 teko) air dan sebuah piring.

Bagi orang Melayu kampung Cate, yang dimaksud dengan kuburan ialah sebuah lubang berbentuk persegi panjang yang dalamnya lebih kurang 2 meter. Panjang dan lebar lubang tergantung seberapa besar jenazah. Biasanya sebelum lubang kubur digali, terlebih dahulu tukang gali kubur mengukur panjang tubuh jenazah. Pengukuran itu perlu dilakukan agar lubang yang digali tidak terlalu kecil atau sebaliknya.

Setelah jenazah disembahyangkan, lubang kubur sudah digali, dengan perlahan jenazah diangkat, lalu diletakkan di atas usungan yang telah dialas dengan sehelai tikar. Usungan ditutupi dengan kain yang bertuliskan ayat-ayat suci, seperti kalimah syahadat. Setelah itu, usungan jenazah dengan perlahan di bawa turun ke halaman rumah, lalu dilanjutkan ke tempat penguburan.

Ketika usungan jenazah mulai bergerak meninggalkan rumah, salah satu dari ahlul bait mengambil sebuah piring, lalu melemparkan piring itu ke atas tangga hingga pecah. Tujuan dari pemecahan piring tersebut agar segala kemalangan yang terjadi di rumah itu ikut serta bersama-sama orang yang meninggalkan rumah menuju kuburan.

Setelah jenazah sampai di kubur, usungan diturunkan perlahan-lahan kemudian diletakkan di tepi lubang kubur. Kain penutup diambil dan diletakkan ke tanah. Tiga atau empat orang turun ke dalam lubang kubur. Setelah orang-orang berada di dalam lubang kubur siap, maka beberapa orang dengan hati-hati dan penuh khidmat mengangkat jenazah tersebut dengan cara : kedua belah tangan berada di bawah badan jenazah; mengangkat jenazah dilakukan secara serempak. Setetah mereka menuju lubang kubur, lalu jenazah tersebut diserahkan kepada orang yang berdiri berjejer di pinggir lubang. Orang-orang yang berada di dalam lubang itu harus juga menerima jenazah dengan kedua belah tangan berada di bawah badan jenazah. Setelah jenazah terletak dengan baik di atas lengan keempat orang tersebut, secara perlahan mereka meletakkan jenazah ke dasar kubur. Kemudian ditutup dengan peti mati yang disebut long. Sebelum ditutup, letak jenazah dimiringkan ke arah kiblat. Kemudian dibuka semua tali pengikat jenazah yang dikenal dengan ikat lima.

Setelah selesai melakukan pekerjaan tersebut, barulah jenazah ditutupi dengan long. Sebelum ditimbuni dengan tanah, ke-4 orang yang berada di dalam kubur itu naik ke atas. Kemudian tanah lubang tersebut ditimbun dengan tanah secara perlahan sehingga tidak menimbulkan bunyi. Menurut keyakinan orang Melayu Cate, apabila menimbun tanah kubur dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi, maka jenazah yang ada di dalam lubang kubur itu akan merasakan sakit yang dapat didengar oleh hewan-hewan seperti ayam, itik dan lain sebagainya. Setelah lubang ditimbun menjadi rata dengan tanah, ditancapkan sepasang nisan sebagai tanda kuburan seseorang.

Kemudian imam mengambil cerek air dan menyiramkan air ke nisan, dimulai dari bagian kepala sampai nisan bagian ujung kaki. Penyiraman ini dilakukan berulang kali seperti semula. Ketika menyiramkan air tersebut, imam membaca beberapa doa yang tidak dapat didengar dengan jelas oleh orang ramai. Setelah itu dikembangkan sehelai tikar beralas kain di tepi kubur tersebut. Tikar tersebut digunakan sebagai tempat duduk bagi orang-orang yang membacakan talqin untuk si mati. Ketika pembacaan talqin dimulai, semua yang hadir duduk sambil memusatkan perhatian kepada imam.

Talqin berarti mengajar. Jadi, tujuan pembacaan talqin itu adalah mengajar jenazah agar bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Mungkar dan Nangkir ketika kubur ditinggal minimal 7 langkah dari kuburan si mati. Ketika jenazah itu ditinggalkan, maka dia bangun dan melihat serta menyadari dirinya bahwa ia telah mati. Lalu jenazah didatangi oleh malaikat tersebut dengan menanyakan beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Pembacaan talqin ini merupakan wadah pendidikan terakhir bagi manusia, sesuai dengan ajaran Islam bahwa manusia itu dididik sejak ia berada dalam kandungan hingga ke liang lahat. Akhir dari pembacaan talqin ditutup dengan doa, sebagai akhir dari upacara penguburan.

Sudah menjadi kebiasaan pula bagi Orang Cate, bahwa orang-orang yang mengantar jenazah dijemput makan di rumah yang meninggal. Ajakan tersebut sebagai tanda terima kasih kepada semua yang hadir yang telah membantu pelaksanaan penguburan seluruh upacara kematian tersebut.

5. Tahlil

Tahlil adalah sejenis kenduri dengan membacakan doa-doa bagi orang yang baru meninggal. Maksud dan tujuan dari upacara tahlil itu adalah memohon kepada Allah agar dapat meringankan siksaan terhadap hambanya yang baru saja meninggal khususnya, semua umat Islam umumnya.

Upacara ini dilaksanakan pada malam setelah selesai pemakaman jenazah. kemudian dilanjutkan dengan tahlil pada malam-malam berikutnya dengan beberapa istilah, seperti menujuh hari, mendua puluh hari, mengempat puluh hari dan seterusnya.  

Sumber :

Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Riau, Jakarta, 1985.

Dibaca : 18.766 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password