Senin, 27 Februari 2017   |   Tsulasa', 30 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 4.172
Hari ini : 36.193
Kemarin : 70.200
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.814.701
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Orang Mantang (Riau - Indonesia)

a:3:{s:3:

Dalam tradisi masyarakat mantang ditemukan beberapa upacara daur hidup seseorang seperti: upacara kehamilan, nujuh bulan, kelahiran, perkawinan dan kematian. Setiap upacara tersebut diadakan secara sederhana.

Peristiwa kematian mempunyai arti penting dalam kehidupan Orang Mantang. Oleh sebab itu, peristiwa ini diikuti dengan suatu upacara yang telah lama berurat berakar dalam masyarakat tersebut. Upacara kematian dari suatu masyarakat tidak terlepas dari pandangan masyarakat tersebut tentang arti dan makna kematian yang dihadapi seseorang. Demikian juga yang terjadi di dalam masyarakat Orang Mantang yang masih menganut kepercayaan animisme. Kepercayaan tersebut senantiasa hadir mewarnai setiap tingkah laku, sikap, simbol-simbol dan benda-benda yang disediakan dalam setiap jenis upacara.

Masyarakat Orang Mantang yang masih sederhana ini tidak mengenal tingkatan-tingkatan sosial atau pelapisan sosial. Setiap anggota masyarakat Orang Mantang selalu melaksanakan upacara yang serupa di dalam setiap upacara.

Dalam bagian ini akan dilukiskan upacara kematian yang terdapat dalam masyarakat Orang Mantang. Yang dimaksud dengan upacara kematian ialah tata cara atau adat istiadat yang dilakukan ketika melaksanakan upacara tersebut. Perlu dijelaskan di sini bahwa uraian upacara kematian Orang Mantang ini hanya melukiskan upacara kematian yang biasa dilakukan terhadap orang dewasa, baik yang tinggal di rumah maupun yang tinggal di sampan-sampan.

Sebelum menjelaskan setiap fase upacara kematian tersebut, ada baiknya diuraikan terlebih dahulu arti kematian itu dalam pandangan Orang Mantang. Dalam kesederhanaannya, Orang Mantang berpikir bahwa peristiwa kematian sebagai suatu peristiwa perpindahan manusia dari dunia yang nyata ke dunia yang tidak nyata atau dunia roh. Menurut Orang Mantang dunia roh itu tempatnya di pulau-pulau yang terletak di sebelah barat dan utara dari tempat kediaman. Dunia roh itu dibayangkan sebagai dunia abadi yang selalu tenang dan tentram sepanjang masa. Setiap orang yang mati, rohnya pasti akan pergi ke tempat tersebut. Namun dalam perjalanan menuju ke dunia abadi itu, roh si mati tidak pergi secara langsung. Biasanya ia singgah ke beberapa tempat yang biasa ia datangi semasa hidupnya. Setelah mengembara dengan cara singgah di beberapa tempat, akhirnya roh itu akan sampai ke tempat yang abadi.

Menurut kepercayaan Orang Mantang, setiap orang mati tidak akan mendapat ganjaran atas segala perbuatan yang pernah ia lakukan di dunia. Di dunia roh tidak ada pengadilan terhadap segala perbuatan baik atau buruk. Dengan demikian apabila seseorang telah mencapai dunia roh, berarti hidupnya telah tentram dan damai. Namun yang terpenting dalam peristiwa kematian itu ialah agar roh tidak tersesat dalam perjalanannya menuju dunia abadi tersebut.

tersesat dalam pemahaman Orang Mantang ialah roh orang mati tersebut tersangkut pada tempat-tempat tertentu, seperti pada pohon-pohon, batu-batu besar, di ujung tanjung di muara-muara sungai dan sebagainya. Roh yang tersesat itu tidak akan sampai ke tempat yang dicita-citakan oleh setiap Orang Mantang dalam meghadapi masa kematian. Roh-roh yang tersesat itu akan menjadi roh-roh jahat yang dapat mengganggu dan menimbulkan malapetaka bagi manusia. Berdasarkan kepada keyakinan yang semacam itu, setiap Orang Mantang berusaha agar rohnya apabila mati kelak tidak tersesat dalam perjalanannya. Perjalanan yang tersesat atau yang lurus dalam mencapai dunia abadi itu sangat tergantung pada tingkah laku yang di lakukan oleh manusia semasa hidupnya. Orang yang selama hidupnya selalu berbuat baik sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya, pastilah rohnya dapat berjalan lurus menuju ke tempatnya yang abadi, dan begitu juga sebaliknya.

Dengan demikian, sudah menjadi pedoman hidup bagi setiap Orang Mantang, jika ingin hidup tentram di dunia roh, maka harus meninggalkan perbuatan tercela dan harus melakukan semua perbuatan yang dianggap baik dan terpuji. Perbuatan tercela itu menurut mereka adalah, seperti mencuri, menipu, mengumpat orang, berzina, membunuh, melawan orang tua dan sebagainya. Semenjak kecil, anak-anak telah dididik oleh orang tuanya dan anggota masyarakat agar selalu patuh dan selalu berbuat baik kepada siapapun juga. Semua harapan itu diharapkan terwujud setelah nantinya mereka pindah ke alam roh.

Proses pindah ke alam roh ini melalui beberapa rangkaian kegiatan yang terjelma dalam penyelenggaraan beberapa jenis upacara sebagai berikut:

1. Sebelum memandikan

Upacara ini dilaksanakan setelah seseorang dinyatakan telah meninggal dunia (mati). Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka sesegera mungkin dilakukan upacara sebelum memandikan bangkai. Upacara ini dapat dikatakan sebagai awal dari keseluruhan rentetan upcara kematian yang telah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Orang Mantang. (Bagi Orang Mantang, orang yang sudah meninggal disebut bangkai).

Sedangkan maksud dan tujuan upacara sebelum memandikan ini adalah:

  • Orang yang baru meninggal tidak boleh langsung dikuburkan. Ia harus dibersihkan atau dimandikan, didoakan dan sebagainya. Untuk melakukan pekerjaan tersebut memerlukan waktu persiapan. Dengan demikian bangkai tersebut harus dibaringkan dulu untuk sementara di rumah sambil menunggu upacara berikutnya.

  • Tujuan yang lainnya untuk menunggu kedatangan sanak keluarga yang bertempat tinggal agak jauh dari tempat itu, atau menunggu orang yang paling dekat dengan si bangkai (saudara sedarah) yang pada saat terjadi peristiwa kematian itu ia sedang berada di laut atau di suatu tempat yang agak jauh.

  • Sudah menjadi tradisi pula bahwa sanak saudara, sahabat kenalan yang mendengar berita kemalangan itu terjadi segera datang menjenguk sambil ingin melihat wajah orang yang telah meninggal itu, sebelum ia dikuburkan.

  • Sebelum bangkai tersebut dijenguk oleh semua orang yang ingin melihat wajahnya terakhir kali, maka bangkai tersebut harus dipersiapkan dulu sebelum dilihat oleh orang, agar orang yang melihatnya tidak merasa jijik atau ketakutan. Mata dan mulut yang terbuka, harus ditutup, pakaiannya diganti, badannya dibersihkan, dan ruangan rumah dirapikan pula.

  • Letak, posisi dan anggota tubuhnya harus segera diatur, sebelum badan bangkai menjadi dingin dan kaku. Apabila tubuh bangkai telah dingin dan kaku, maka amat sulit mengatur anggota tubuh tersebut sesuai dengan posisi yang seharusnya menurut keyakinan Orang Mantang ketika bangkai dikuburkan.

Upacara ini diselenggarakan sebelum bangkai dimandikan, yaitu ketika terjadinya musibah menjelang bangkai dikuburkan. Dengan kata lain saat senggang menjaga bangkai atau menunggu sampai upacara bangkai dimandikan, dilakukan upacara sebelum dimandikan.

Bangkai ini diletakkan di suatu tempat di tengah rumah atau di tengah sampan. Bangkai itu ditutup dengan sehelai tikar pandan. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh seorang dukun yang akan memimpin seluruh upacara kematian. Upacara sebelum memandikan merupakan sederetan dari salah satu bagian upacara memandikan.

Pihak-pihak yang dilibatkan dalam upacara ini adalah keluarga, terutama yang masih ada hubungan darah. Walaupun demikian, masyarakat Orang Mantang secara umum turut terlibat dalam peyelenggaraan itu. Jadi, segala hal yang terjadi pada seuatu keluarga merupakan tanggungan bersama.

Untuk melaksanakan upacara ini, keluarga menyiapkan peralatan-peralatan untuk mengadakan upacara kematian. Peralatan yang disiapkan dalam upacara ini adalah antara lain: sehelai tikar atau kajang, tempat pembaringan bangkai.

Pelaksana teknis ditunjuk oleh kepala suku setempat. Biasanya kepala suku menetapkan saat penguburan, tanah yang digali sebagai tempat penguburan, orang yang akan melaksanakan upacara, menunjuk tempat bahan-bahan yang akan dipakai dan sebagainya. Sementara itu orang yang telah mati dipangku oleh anggota-anggota keluarganya. Mukanya harus menghadap ke sebelah barat atau utara. Setiap orang dibenarkan menangis sebagai tanda ikut berduka cita, namun harus dijaga jangan sampai air mata keluar, terlebih lagi di saat melepaskan nafas terakhir. Menurut mereka, apabila air mata keluar itu menetes menimpa badan bangkai, ia akan merasakan sakit dan penderitaan, sementara orang menangis itu berdosa besar, yang menyebabkan rohnya tercacat jika ia mati kelak. Oleh sebab itu, apabila ada anggota keluarga mati, maka setiap anggota lain mencoba menahan diri sedapat mungkin agar tidak menangis dengan mengeluarkan air mata.

Merupakan pantangan besar menguburkan bangkai seseorang pada malam hari, karena roh-roh jahat bergentayangan di daerah perkuburan pada malam itu. Roh-roh itu dapat mengganggu orang-orang yang ikut melaksanakan upacara tersebut. Selain itu, bangkai yang terbujur di tengah rumah harus dijaga dengan hati-hati menjelang pagi. Orang yang bertugas menjaga bangkai tersebut tidak boleh tidur sama sekali hingga pagi. Jika ia merasa mengantuk, tugasnya harus digantikan oleh orang lain. Selama menjaga bangkai itu orang harus khidmat, dilarang berbicara keras-keras atau membicarakan hal-hal yang tidak baik. Tidak dibolehkan tertawa atau bertindak kasar. Di sepanjang malam dibakar kemenyan di atas tempat bara (semacam pedupaan). Maksudnya untuk memanggil roh-roh nenek moyang yang terdahulu, agar mereka tahu bahwa salah seorang dari anggota keluarganya akan datang ke tempat mereka dan akan hidup bersama di tempat yang abadi itu. Semua pihak yang mengikuti upacara sebelum dimandikan atau yang duduk mengelilingi bangkai dilarang berbicara.

Menghadapkan muka atau tubuh bangkai ke sebelah barat atau utara, bermakna bahwa setiap orang yang meninggal akan menuju pulau-pulau di sebelah barat atau utara tempat leluhur berkumpul. Sementara bangkai diselimutkan dengan tikar atau kajang, menandakan bahwa seseorang itu telah berpindah alam dari alam dunia ke alam roh.

2. Mandi

Setelah sanak saudara, handai tolan dan tetangga-tetangga berkumpul, dan tidak ada lagi yang akan ditunggu kedatangannya, dukun setempat memulai upacara memandikan bangkai. Tujuannya adalah untuk membersihkan segala kotoran yang ada di badannya, karena akan menuju ke tempat suci. Menurut kepercayaan Orang Mantang, orang meninggal itu dapat dihapuskan dari segala dosa yang telah dia perbuat selama ia masih hidup dengan melaksanakan upacara memandikan bangkai sebelum dikuburkan. Apabila tubuh bangkai itu telah bersih, dan segala dosanya telah terhapus, maka roh si mati akan dapat pergi dengan tenang dan tidak mendapat gangguan dari roh-roh jahat. Dengan bersihnya tubuh si mati dari noda dan dosa, dia akan diterima oleh leluhurnya dengan senang hati di tempat yang ditujunya.

Upacara memandikan bangkai dilaksanakan di waktu siang hari dengan keizinan dari pihak keluarga si mati. Biasanya keluarga si mati segera memberikan izin untuk memandikan bangkai, apabila mereka merasa bahwa tidaka da lagi orang-orang yang penting yang harus mereka tunggu kedatangannya. Apabila dukun itu telah dibenarkan untuk memandikan bangkai tersebut, ia pun mulai bersiap untuk melaksanakan upacara.

Sebelum bangkai diangkat dari tempatnya, terlebih dahulu dipersiapkan tempat menyelenggarakan upacara memandikan bangkai. Tempat yang dipilih untuk mengadakan upacara ini ialah bagian tengah rumah atau di bagi tengah sampan.

Untuk memangku bangkai diminta dari kalangan keluarga paling kurang 4 orang, tergantung pada kesediaan dan keikhlasan seseorang.  Seandainya tidak ada yang mau dari kalangan keluarga, maka dari sahabat-sahabat dekat yang bersedia memangku bangkai tersebut. Dalam istilah Orang Mantang, memangku lebih dikenal dengan meriba bangkai.

Sebelum upacara memandikan bangkai dimulai, terlebih dahulu dipersiapkan peralatan pemandian, antara lain:

  • Tempayan yang berisi air tawar
  • Gentong yang terbuat dari tempurung kelapa
  • Sabut kelapa
  • Beras yang sebelumnya ditumbuk dengan campuran sedikit kunyit (kasai).
  • Tikar atau kajang dan tali
  • Usungan

3. Penguburan

Setelah upacara memandikan selesai dan bangkai sudah dimasukkan ke dalam usungan, maka upacara yang selanjutnya adalah membawa bangkai ke suatu tempat peristirahatan terakhir. Melepaskan bangkai meninggalkan rumah merupakan suatu peristiwa yang harus dilalui dengan suatu upacara yang disebut penguburan.

Tujuan ini bermaksud untuk melepaskan keberangkatan si mati dengan doa dan harapan, agar rohnya selamat sampai ke tempat yang dituju. Selain itu, bangkai yang dikubur itu jangan sampai diganggu oleh binatang-binatang buas dan roh-roh jahat. Penguburan dilaksanakan di siang hari, setelah selesai melalui upacara memandikan bangkai. Penyelenggaraan upacara penguburan dilaksanakan di tempat yang terpilih, yaitu daerah tempat mereka tinggal. Biasanya mereka memilih lokasi yang dekat dengan laut atau di tepi pantai, dan sedikit agak jauh dari tempat mereka tinggal. Apabila ada seseorang yag meninggal pada masa pengembaraan mereka, bangkai tersebut dikuburkan di tepi pantai sekitar tempat sementara mereka berlabuh. Kemudian mereka segera meninggalkan tempat itu, karena mereka menganggap tempat itu mendatangkan sial.

Dalam melaksanakan upacara penguburan persiapan dan perlengkapan upacara dapat dibagi dalam dua tahap:

  1. Persiapan sebelum bangkai diturunkan ke dalam lubang kubur (lubang kubo) yaitu penggali, parang dan cangkul. Lubang kubur dibuat dengan panjangnya sepanjang badan bangkai, lebar 60 cm dan dalam lebih kurang 1 m. Biasanya lubang kubur dibuat menghadap ke arah mata angin barat atau utara. Setelah lubang kubur dibuat, di bagian samping kiri atau kanan di dasar lubang kubur dibuat lagi lubang liang untuk menyimpan bangkai. Lubang liang dibuat sesuai dengan tubuh bangkai.

  2. Alat-alat dan persiapan upacara penguburan:
  • Kayu kecil dengan ukuran lebih kurang sehasta sebanyak 7 batang (tongkat neraka).
  • Sehelai tikar atau kajang yang diletakkan di atas papan penutup lubang liang.
  • Sepiring makanan
  • Sebungkus rokok, dan
  • Setempayan air.

Proses pelaksanaan penguburan ini diawali dengan meletakkan bangkai di dalam usungan. Sesampainya di tempat penguburan, bangkai segera diturunkan perlahan-lahan dengan bantuan beberapa orang penggali kubur. Kemudian secara khidmat bangkai tersebut dimasukkan ke dalam lubang liang. Setelah itu lubang liang ditutup dengan papan usungan dan sehelai tikar di atasnya. Sebelum dimasukkan ke dalam lubang liang, tikar penutup bagian mukanya harus dibuka. Hal ini dimaksudkan agar bangkai tersebut dapat bernafas dengan leluasa selama berada di dalam lubang kubo. Setelah bangkai diletakkan secara tepat, dukun atau kepala suku yang memimpin upacara itu memberi perintah untuk menimbuni lubang kubo dengan tanah secara perlahan-lahan. Tanah sebagai penimbun itu dipecah-pecah halus, agar tidak terlalu berat menimpa tubuh bangkai. Menurut kepercayaan mereka apabila tanah penimbun itu kasar, maka bangkai akan merasa sakit dan dia akan meratap. Ratapan itu tidak terdengar oleh manusia, tetapi dapat didengar oleh hewan-hewan seperti ayam, anjing, semut dan lain-lain. Maka dari itu dari pihak keluarga memohon agar penimbunannya dilakukan dengan lambat dan penuh kasih sayang. Sebelum lubang kubo tertutup dengan tanah secara utuh, diminta kepada anggota keluarga yang hadir untuk melemparkan tanah tiga jonjot (kepal) ke dalam lubang kubo. Perbuatan ini megandung makna bahwa sanak keluarga si mati yang masih tinggal telah  merelakan kepergian si mati. Harapan mereka agar si mati tidak usah lagi merasa bimbang untuk meninggalkan sanak familinya yang masih hidup.

Setelah lubang kubo ditimbun, dan di dekat kuburan diletakkan sepiring makanan, sebungkus rokok, satu tempayan air dan sebuah serampang. Barang-barang ini disimbolkan sebagai bekal bagi si mati dalam perjalanannya menuju tempat kediamannya yang baru.

Setelah meletakkan benda-benda sebagai simbol yang melengkapi perjalanan si mati menuju tempatnya yang baru, maka semua pengantar jenazah pulang kembali ke rumah masing-masing. Dengan demikian selesailah upacara penguburan tersebut.  

4. Kenduri tolak tanah

Setelah upacara penguburan, pada malam harinya semua keluarga si mati, tetangga dan handai tolan berkumpul di rumah si mati atau di sampan orang yang baru meninggal. Mereka berkumpul untuk melaksanakan kelanjutan dari upacara kematian, yaitu upacara kenduri tolak tanah.

Maksud dan tujuan dari kenduri ini adalah memberi makan dan memohon kepada si penunggu tanah agar dapat menjaga dengan baik si mati yang baru dikuburkan itu. Dengan demikian, mudah-mudahan si mati terhindar dari ganngguan, baik gangguan dari binatang-binatang buas maupun gangguan dari roh-roh jahat.

Perlengkapan untuk kenduri tolak tanah ini adalah makanan, seperti pisang, kacang, roti, atau apa saja yang ingin disediakan oleh pihak keluarga si mati. Selain dari pada itu pedupaan disiapkan pula.

Dalam upacara ini semua orang laki-laki duduk berkeliling di tengah rumah atau sampan. Orang-orang perempuan menyiapkan hidangan di dapur. Jika di sampan, perempuan-perempuan duduk di bagian belakang sampan. Biasanya pada saat seperti itu, semua sampan yang berada dalam kelompok tersebut didekatkan ke sampan orang yang mati tersebut.

Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun atau kepala suku. Sebelum upacara dimulai, disediakan makanan alakadarnya seperti kacang, pisang, roti dan sebagainya. Setelah itu baru upacara dimulai. Pada awalnya, dukun atau kepala suku membaca beberapa mantera dengan wajah yang bersungguh-sungguh, di dekatnya terletak tempat bara yang terus-menerus ditaburi kemenyan, sehingga menimbulkan asap dan bau ke seluruh ruangan. Ketika itu, semua yang hadir menundukkan kepala. Bersamaan dengan itu dukun atau kepala suku yang memimpin upacara melemparkan sedikit dari makanan yang tersedia itu ke tanah sebagai isyarat memberikan makanan kepada penunggu tanah. Setelah selesai pembacaan mantera, dukun atau kepala suku memberikan aba-aba bahwa upacara telah selesai. Selanjutnya tuan rumah mempersilahkan semua hadirin untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Upcara tolak tanah ini mengandung maksud memohon keselamatan tubuh orang yang baru saja dikuburkan itu.

5. Kenduri selamat

Setelah selesai upacara keduri tanah, dilanjutkan pula dengan suatu upacara balas jasa dan ucapan terima kasih dari keluarga si mati. Kenduri ini dikenal oleh Orang Mantang dengan istilah kenduri selamat.

Upacara ini bertujuan untuk menyampaikan rasa terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan oleh semua pihak kepada keluarga yang mendapat musibah. Pihak keluarga si mati sengaja mengundang orang-orang yang mengikuti rentetan upacara yang telah diselenggarakan itu. Juga mendoakan keselamatan si mati dalam perjalanannya.

Upacara ini dilaksanakan di rumah atau sampan si mati sendiri yang dipimpin oleh seorang kepala suku. Penyelenggaraan upacara ini pada waktu malam hari, setelah malam upacara tolak tanah. Pihak yang dilibatkan dalam upacara ini adalah semua yang telah mengikuti serentetan upacara sebelumnya.

Proses pelaksanaannya adalah dengan cara membakar kemenyan di atas pedupaan. Setelah asap kemenyan menyebarkan bau ke seluruh ruangan, maka si dukun membacakan mantera-mantera yang hampir tidak kedengaran oleh hadirin. Ketika itu hadirin yang hadir mengikuti dalam keadaan hening. Menurut kepercayaan mereka, pada waktu ini roh-roh nenek moyang dan roh orang yang baru saja meninggal di rumah tersebut hadir. Oleh karena itu setiap orang harus sungguh-sungguh dan tidak boleh bersikap gegabah atau sombong. Isi mantra yang dibaca oleh dukun adalah memohon agar roh si mati dapat menuju tempatnya yang abadi dan tidak tersesat dalam perjalanan atau tidak mendapat gangguan dari roh-roh jahat lainnya di sepanjang perjalanan. Selama upacara itu berlangsung, di tengah rumah atau sampan diletakkan tempat tidur si mati lengkap dengan pakaiannya. Tempat tidur dan pakaian si mati yang diletakkan di tengah-tengah upacara itu sebagai simbol bahwa roh si mati hadir dalam upacara tersebut.

Setelah dukun atau kepala suku selesai membacakan mantera yang berhubungan dengan upacara tersebut, maka tuan rumah mempersilahkan para hadirin untuk mencicipi makanan dan minuman yang telah disediakan seadanya. Maka dengan demikian, berakhirlah upacara kenduri selamat ini.

Sumber :

Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Riau, Jakarta, 1985.
Dibaca : 13.639 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password