Jumat, 26 Mei 2017   |   Sabtu, 29 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 5.774
Hari ini : 31.386
Kemarin : 127.290
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.468.268
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Begito (Ikrar Menjadi Saudara Dunia Akhirat)

a:3:{s:3:

Kata “gito” berasal dari bahasa Sansekerta gita, yang berarti nyanyian atau lagu. Nyanyian atau lagu tersebut diperdengarkan dalam suatu upacara untuk menjalin kekerabatan antara dua pihak. Dalam perkembangannya, karena dalam upacara ini selalu diiringi gito (lagu), maka akhirnya upacara menjalin kekerabatan ini disebut upacara begito. Menurut orang tua tempatan, lagu-lagu yang dilantunkan dalam upacara tersebut mengandung harapan agar peserta upacara dalam keadaan selamat.

Dalam upacara begito, ada dua konsep penting: gito dan begito. Pada awalnya gito berarti nyanyian, kemudian maknanya berubah menjadi saudara, sementara begito merujuk pada proses pelaksanaan upacara gito (upacara mengangkat saudara). Jadi, orang yang begito adalah orang yang melaksanakan upacara adat untuk mengangkat saudara yang sebelumnya tidak memiliki ikatan kekerabatan. Selanjutnya, dua pihak yang telah melakukan upacara begito tersebut akan memiliki ikatan persaudaraan yang sama dengan ikatan saudara kandung. Upacara ini berlaku dalam masyarakat adat kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau, Indonesia. Dalam portal ini dijelaskan lebih rinci tentang upacara adat begito yang masih dilaksanakan di daerah kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau, Indonesia.

1. Peralatan

  • Sebuah mangkuk untuk menampung darah dari masing-masing yang melakukan upacara begito.
  • Sehelai tikar dan satu buah bantal.

2. Tata laksana

Ada dua cara untuk mewujudkan ikatan persaudaraan dalam upacara begito ini, yaitu:

  • Bertukar darah, yaitu kedua saudara yang akan melakukan upacara begito menusuk jari mereka masing-masing hingga mengeluarkan darah, kemudian saling menempelkan darah yang keluar tersebut sebagai tanda sehidup-semati dunia-akhirat. Ada juga dengan cara meneteskan darah ke dalam mangkuk, darah tersebut kemudian diaduk bersama-sama, lalu disiram ke badan, atau bahkan diminum, sekalipun hanya seteguk.
  • Cara lain adalah kedua belah pihak yang bergito duduk di atas satu bantal yang dialas satu tikar, atau disebut juga "selapik seketiduran, sebantal setali darah". Kemudian keduanya mengucapkan sumpah "pergitoan" yang intinya kedua belah pihak sudah mengangkat sumpah sebagai saudara. Apabila sudah bergito, maka hubungan persaudaraan menjadi kokoh sebagaimana dikatakan di dalam ungkapan : “Apabila sudah bergito, yang jauh menjadi dekat, yang renggang menjadi rapat, yang kawan jadi kerabat, yang saudara bertambah erat”, atau dikatakan “Apabila gito sudah diikat, di situlah saudara dunia akhirat”.

3. Nilai Budaya

Begito merupakan adat yang diwariskan secara turun temurun, yang tidak hanya dilakukan oleh rakyat biasa, tetapi juga para raja dan pembesar kerajaan. Secara historis, hal ini dapat ditelususri dalam sejarah Raja-raja di kerajaan Pelalawan. Sejarah pelalawan mencatat, bahwa Sultan Assyadisyarif Abdurrahman yang berkuasa tahun 1798-1822 M melakukan upacara begito dengan Maharaja Lela II (1775-1798 M), Raja Pelalawan yang ia gantikan. Setelah itu, ia memberikan gelar Datuk Engku Raja Lela Putera kepada Maharaja Lela II yang berlaku sampai ke anak cucunya. Dengan pergitoan itulah pucuk pemerintahan di Pelalawan berjalan aman dan damai, karena semua pihak merasa hidup bagaikan bersaudara kandung tanpa silang sengketa dan segala buruk sangka. Tali gito itu kemudian berkembang dengan terjadinya perkawinan antara anak cucu kedua raja, sehingga persebatian semakin kokoh antar dua keluarga besar tersebut.

Selain itu, hubungan persaudaraan ini diikat pula dengan beberapa pantang larang, antara lain: (1) pantang saling menganiaya; (2) pantang saling mengusik; (3) pantang saling memburukkan; (4) pantang iri dan  dengki, dan seterusnya. Sebaliknya, kedua pihak diwajibkan untuk saling membantu, saling mengingatkan, tolong menolong baik ketika senang maupun susah. Dalam ungkapan adat dikatakan: “Hidup seaib dan semalu, hidup senasib dan sepenanggungan, seiya sekata muka belakang, tolong menolong tiada berkelang”.

Dari uraian di atas, dapat dilihat betapa pentingnya upacara adat ini dalam masyarakat adat Pelalawan. Nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya sangat dalam, yaitu ikatan persaudaraan yang begitu kuat menyamai posisi saudara kandung. Posisi ini berdampak pada tidak boleh saling menikahi bagi keluarga saudara gito, atau, jika ingin menikahi, diharuskan untuk menebus dengan tebusan adat tertentu. Kesimpulannya, pengangkatan saudara gito merupakan salah satu wadah untuk mempererat hubungan antara anggota masyarakat maupun pesukuan atau kaum, sehingga terwujudlah masyarakat yang aman dan sejahtera yang dilandasi oleh solidaritas antar sesama.

4. Doa-mantra

(Data belum ditemukan)


Sumber:

  1. www.sinarharapan.co.id
  2. …., Upacara Adat Begito dan Peletakan Batu Asas Istana Sayap Pelalawan, …, Pangkalan Kerinci, 2003.
Dibaca : 10.290 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password