Rabu, 29 Maret 2017   |   Khamis, 1 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 700
Hari ini : 22.593
Kemarin : 95.293
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.017.316
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Mematikan Tanah (Menetau)

a:3:{s:3:

Mematikan tanah adalah upacara untuk membuka lahan pertanian atau mendiri­kan bangunan, baik milik pribadi maupun umum. Upacara ini dikenal juga dengan menetau yang bertujuan untuk, antara lain: (1) sebagai penghormatan dan bujukan terhadap segala makhluk halus yang disebut puake atau penunggu yang ada di lahan itu, supaya pergi dan tidak mengganggu pemilik lahan atau penghuni bangunan; (2) sebagai permintaan maaf kepada segala makhluk yang mungkin teraniaya akibat pembukaan lahan dan pendirian bangunan tersebut, termasuk semut dan ulat sekalipun; (3) sebagai doa untuk keselamatan pemilik lahan dan penghuni bangunan serta warga kampung, terutama para pekerjanya, sekaligus sebagai ucapan terima kasih kepada warga yang hadir dalam upacara ini. Dalam portal ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan upacara menetau tersebut, khususnya mengenai upacara mendirikan bangunan.

1. Peralatan

Peralatan upacara menetau antara lain:

  1. Hewan sembelihan, biasanya kerbau, kambing dan beberapa ekor ayam.
  2. Seperangkat peralatan tepung tawar, yang terdiri dari: (1) daun setawar; (2) daun ati-ati dan daun sedingin; (3) daun ganda rusa; (4) bedak limau; (5) air percung (air wangi); dan (6) beras kunyit, beras basuh dan bertih.
  3. Tahi besi dan besi berani.
  4. Lumpur laut. Jika lumpur ini tidak tersedia, dapat diganti dengan tanah lumpur bekas rumah keluarga tertua.
  5. Inggu, sejenis kayu yang jika dibakar menimbulkan aroma yang tidak sedap.
  6. Daun juang-juang.
  7. Kemenyan dan setanggi yang dibakar.
  8. Obor.

2. Tata laksana

Upacara ini dilaksanakan di tempat yang akan didirikan bangunan dan dipimpin oleh pawang. Waktu pelaksanaannya ditentukan oleh Pawang, biasanya pagi hari antara jam 05. 00 sampai jam 09.00 pagi. Hari dan bulan biasanya dipilih Senin dalam bulan maulud dan Kamis dalam bulan haji (Dzulhijjah). Sementara untuk bulan-bulan lain yang dianggap baik adalah Rabu dan Jumat, yang paling dihindari adalah Selasa, karena dianggap tidak membawa keberuntungan, disebut juga hari naas.

Upacara ini menjadi tanggung jawab pemilik bangunan bila bangunan tersebut milik pribadi, dan menjadi tanggung jawab bersama, jika bangunan tersebut dipergunakan untuk keperluan umum. Prinsip penyelenggaraan bersifat musyawarah, mufakat dan gotong royong yang dikenal dengan betayan.

Sebelum sampai ke tempat upacara, Pawang biasanya memperingatkan seluruh peserta, meskipun sebenarnya mereka sudah tahu, bahwa di tempat upacara dilarang: (1) berbicara  cabul; (2) berseloroh atau tertawa keras; (3) melangkahi peralatan upacara; dan (4) memasuki areal upacara di lokasi bangunan yang akan didirikan sebelum diizinkan oleh Pawang. Jika para peserta melakukan salah satu dari pelanggaran tersebut, baik sengaja atau tidak, maka akan berakibat tidak baik, seperti terkena wabah penyakit, amukan binatang buas dan sebagainya.

Dalam pelaksanaan upacara, peserta tidak disyaratkan memakai pakaian tertentu, kecuali Pawang dan para pembantunya, pemuka adat, penghulu (Kepala Kampung). Namun demikian, peserta upacara biasanya lebih memilih untuk memakai pakaian Melayu Riau untuk menghadiri upacara tersebut. Paling kurang mereka memakai kopiah atau ikat kepala serta baju kemeja. Selain memakai pakaian Melayu, para orang tua juga memakai kain sarung.

Upacara dihadiri oleh undangan yang umumnya terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat, para orang tua dan laki-laki dewasa. Anak-anak tidak dibolehkan mengikuti upacara ini, karena dikhawatirkan akan mengganggu prosesi upacara atau membahayakan diri anak-anak itu sendiri. Bahaya tersebut adalah seperti terkena penyakit demam panas, mengigau yang disebut tetamas, keteguran atau tersapa, kaki membengkak, panas dan kemerah-merahan yang disebut kena jembalang tanah.

3. Doa-mantra

...........................

4. Nilai budaya

Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam upacara ini dilambangkan dengan benda-benda yang digunakan sebagai peralatan. Peralatan tersebut merupakan pertanda relasi antara manusia dengan makhluk halus (puake atau penunggu). Beberapa peralatan itu adalah:

  1. Tepung tawar, yang terdiri dari: (1) daun setawar, untuk menawar segala yang berbisa, termasuk mulut (lidah) manusia; (2) daun ati-ati dan daun sedingin. Daun-daun ini berguna untuk mendinginkan segala yang bersifat panas, termasuk hati manusia; (3) daun ganda rusa, untuk mengobati segala penyakit luar sekaligus menyempurnakan segala pekerjaan dan cita-cita yang terbengkalai; (4) bedak limau, untuk membersihkan hati dan jiwa; (5) air percung (air wangi); dan (6) beras kunyit, beras basuh dan bertih, sebagai lambang kemakmuran dan kebahagiaan seluruh makhluk sekaligus sebagai tebusan agar makhluk halus yang ada di sekitar tempat itu tidak mengganggu pemilik, penghuni dan masyarakat kampung.
  2. Tahi besi dan besi berani yang melambangkan kekuatan, kebulatan tekad serta kesungguhan hati pemilik bangunan atau lahan sebagai tangkal terhadap kemungkinan gangguan makhluk halus.
  3. Lumpur laut, jika tidak ditemukan, dapat diganti dengan tanah lumpur bekas rumah keluarga tertua. Lumpur laut atau penggantinya ini berguna untuk mengekalkan bangunan dan penghuninya, sehingga rumah itu didiami oleh pemilik bangunan sampai ajalnya tiba.
  4. Inggu yang berguna untuk tangkal segala jenis setan dan jin, terutama setan yang suka mengganggu anak-anak.
  5. Daun juang-juang. Daun ini berwarna merah, biasanya dapat ditemukan di atas tanah perkuburan, berguna untuk mengobati segala penyakit yang dibuat oleh manusia, seperti sihir, tenung dan sebagainya.
  6. Kemenyan dan setanggi yang dibakar, asapnya berfungsi untuk memberitahukan semua makhluk halus yang ada di sekitar tempat itu, bahwa mereka diundang untuk hadir dalam upacara. Pembakaran kemenyan dan stanggi juga bertujuan agar makhluk-makhluk tersebut menerima dengan senang hati segala bentuk sesembahan dan sajian yang disediakan.
  7. Obor yang biasanya dibuat dari kulit kayu atau damar. Penyalaan obor merupakan suatu tanda bagi makhluk halus yang ada di situ agar menyerahkan hak-hak mereka atas tanah tersebut kepada pemilik bangunan.


Sumber :

  1. Wahyuningsih dan Rivai Abu (peny), Arsitektur Tradisional Daerah Riau, Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pekanbaru, 1984
  2. ....., Atlas Kebudayaan Melayu Riau Tahap I, Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji, 2005
Dibaca : 12.501 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password