Minggu, 20 Agustus 2017   |   Isnain, 27 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 2.305
Hari ini : 16.778
Kemarin : 26.357
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.019.613
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Orang Talang Mamak (Riau - Indonesia)

a:3:{s:3:

1. Asal Usul

Talang Mamak adalah salah satu suku yang hidup di daerah kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Mereka tersebar di beberapa kecamatan, yakni Batang Gansal, Batang Cenaku, Kelayang, dan Rengat Barat. Suku ini dikenal pula dengan Suku Langkah Lama atau Suku Anak Dalam, ada pula yang menyebutnya Orang Talang Mamak.

Talang Mamak terdiri dari dua kata, yaitu "Talang" dan "Mamak". Talang berarti tempat atau ladang, dan Mamak berarti kerabat dari ibu yang harus dihormati. Jadi, Talang Mamak yang dimaksudkan di sini adalah tempat yang terhormat.

Berdasarkan cerita rakyat, suku Talang Mamak berasal dari lereng gunung Merapi, Sumatera Barat. Oleh karena terdesak penyebaran agama Islam, mereka bermigrasi dengan menelusuri Batang Kuantan. Migrasi ini dipimpin oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang. Ketika tiba di suatu daerah, Datuk Perpatih Nan Sebatang kawin dengan seorang perempuan daerah tersebut, kemudian melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Puteri Bertampuk Emas. Setelah itu mereka bermigrasi lagi dan menetap di hutan-hutan yang berada di wilayah kabupaten Indragiri Hulu sekarang. Namun, tidak ada kelanjutan cerita dari pendapat pertama ini. Pendapat kedua menjelaskan bahwa Talang Mamak berasal dari Suku Nan Enam di daerah Tiga Balai. Daerah inilah yang disebut-sebut sebagai daerah asal bagi suku Talang Mamak ini. Tetapi, data yang ditemukan hanya sebatas itu.

Pendapat terakhir menjelaskan bahwa Orang Talang Mamak termasuk keturunan Raja Indragiri. Hal ini dapat dilihat, hampir setiap hari raya Idul Fitri, Orang Talang Mamak ini berziarah ke bekas istana Indragiri yang ada di Rengat sekarang. Tetapi mereka tidak mau tinggal bersama keluarga kerajaan pada masa itu, karena mereka tidak mau menganut agama Islam sebagaimana raja Indragiri. Oleh karena itu, mereka mengasingkan diri dengan tinggal di daerah pedalaman. Di daerah pedalaman ini, mereka hidup sebagai petani, nelayan dan peramu. Kehidupan mereka berpindah-pindah dari satu teratak ke daerah lain. Teratak adalah bekas ladang padi yang sudah penuh ditanami pohon-pohon karet dan pohon lainnya. Di teratak ini terdapat beberapa keluarga yang masih ada hubungan kekerabatan atas dasar perkawinan. Setelah teratak tidak bisa ditanami padi lagi, mereka pindah ke daerah lain yang disebut Talang. Di sini, mereka membangun rumah dengan tongkat yang tinggi antara 3-4 meter untuk menghindari gangguan binatang buas. Oleh karena mereka tinggal lama di daerah ini, akhirnya mereka disebut Orang Talang Mamak.

2. Manusia dan Kematian

Menurut Orang Talang Mamak, manusia terdiri dari jasad dan roh. Jasad dapat dilihat dan diraba, sementara roh tidak demikian. Keberadaan roh hanya bisa dirasakan oleh manusia itu sendiri. Manusia dikatakan hidup bila roh masih ada di dalam jasadnya. Sebaliknya, jika roh sudah meninggalkan jasadnya, maka manusia tersebut dianggap telah mati. Dengan demikian, kematian adalah apabila roh sudah meninggalkan jasadnya. Maka, kematian itu hanya terjadi pada jasad manusia.

Orang Talang Mamak memaknai kematian dengan dua cara, yaitu:

  1. Kematian sebagai kesialan yang ada kaitannya dengan perilaku si mati ketika ia masih hidup. Jika semasa hidupnya, si mati banyak berbuat jahat, seperti membunuh atau mencelakai orang lain, maka kematiannya adalah suatu kesialan. Tetapi, jika semasa hidupnya, si mati selalu berbuat baik, maka kematian bukanlah sebagai kesialan. Berkaitan dengan kesialan, rumah yang ditimpa kesialan itu akan membawa malapetaka dengan kematian anggota keluarganya secara bergiliran. Untuk menghindarinya, anggota keluarga harus pindah ke daerah lain dan membuat rumah baru. Perpindahan ini dilakukan atas dasar petunjuk seorang dukun. Tetapi, tanah atau rumah yang ditinggalkan itu tidak boleh diganggu oleh siapapun, karena masih tetap jadi milik keluarga yang pindah. Dengan demikian, hampir setiap keluarga Orang Talang Mamak berpindah tempat, karena setiap mereka akan ditimpa kesialan ini. Ini pula yang menjadi salah satu alasan Orang Talang Mamak untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
  2. Kematian sebagai perpindahan roh dari dunia nyata ke dunia lain, yaitu dunia yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Roh akan menuju ke suatu tempat yang abadi selamanya. Tetapi tidak semua roh sampai ke tempat tujuannya dengan selamat, karena diganggu oleh roh lain. Roh yang diganggu ini akhirnya dikenal dengan roh sesat, Orang Talang Mamak menyebutnya roh jahat. Roh ini tinggal di pohon-pohon besar dan rimbun, di tanah yang berbusut, di bukit-bukit, di persimpangan jalan, di lembah-lembah, di tanjung dan di sungai-sungai. Bagi Orang Talang Mamak, tempat-tempat ini merupakan tempat yang disucikan dan harus dihormati dengan cara memberikan sesajian untuk roh yang berdiam di tempat-tempat tersebut. Mereka beranggapan roh itu dapat memberikan pertolongan jika dipuja, begitu pula sebaliknya.

Oleh karena begitu kuat kepercayaan mereka terhadap kekuasaan roh, maka setiap orang yang terkena penyakit selalu dikaitkan dengan gangguan roh tersebut. Jenis-jenis penyakit itu hanya dapat diketahui oleh seorang dukun, dan dia pula yang dapat mengobatinya. Dengan demikian, dukun merupakan orang yang sangat penting dalam kehidupan Orang Talang Mamak.

3. Penyelenggaraan Mayat

Setiap Orang Talang Mamak tidak menginginkan roh mereka sesat ketika mereka mati kelak. Mereka berharap roh mereka menuju ke tempat tujuan dengan selamat. Agar roh dapat selamat, maka jasadnya perlu dijaga dan dikuburkan dengan sempurna melalui beberapa tahap. Beberapa tahap tersebut adalah: menjaga, menurunkan, dan menguburkan mayat. Dalam portal ini, tahapan tersebut akan dibicarakan secara rinci dan sistematis.

a. Menjaga Mayat

Menjaga mayat dimaksudkan untuk menceritakan riwayat hidup mayat kepada setiap anggota yang hadir sambil menunggu kedatangan keluarga jauh dan tetangga. Waktu pelaksanaannya setelah seseorang dinyatakan mati. Jika seseorang mati di siang hari, maka dilaksanakan pada waktu itu juga, dan begitu pula sebaliknya. Tempat pelaksanaannya di tengah rumah. Khusus bagi pemuka masyarakat/adat, seperti batin, penghulu dan datuk, tahapan ini dilaksanakan selama tiga hari tiga malam.

Pihak-pihak yang terlibat pada tahap ini ialah: suami dan isteri, anak-anak bagi yang sudah mempunyai anak, keluarga pihak isteri dan suami, tetangga dan kaum kerabat, serta dukun.

Beberapa peralatan yang perlu dipersiapkan antara lain kemenyan, kayu gaharu, tembikar (tenggarang), perasopan (tembikar yang diberi bara kayu atau bara tempurung), tikar pandan, bantal dan kain panjang.

Prosesi dalam upacara:

Apabila mayat sudah terbujur kaku di tengah rumah, maka dipanggil seorang dukun. Setelah dukun datang, mayat segera dibaringkan telentang di tengah  rumah, ditutupi dengan kain panjang, sedangkan kepalanya tidak boleh dihadapkan ke pintu masuk. Kemudian, dukun meminta perasopan beserta segala peralatan yang diperlukan. Selanjutnya, perasopan ditaburi kemenyan dan gaharu.

Semua keluarga, kaum kerabat dan tetangga duduk mengelilingi mayat. Sambil menunggu kedatangan sanak keluarga yang lain (dari jauh), keluarga yang ada di rumah itu meratap atau menangis. Seorang wakil keluarga menceritakan riwayat hidup mayat. Cerita itu didengar oleh orang-orang yang hadir dengan perasaan sedih dan terharu. Tahapan ini baru berakhir setelah mayat diturunkan dari rumah.

Ada beberapa pantangan dan larangan yang harus dihindari pada tahapan ini, yaitu: tidak boleh memasak nasi di rumah mayat; tidak boleh makan sewaktu mayat di atas rumah; dan tidak boleh menebang kayu, karena dianggap mengganggu roh mayat.

b. Mayat Turun Rumah

Tahap kedua ini dimaksudkan untuk melepaskan keberangkatan mayat menuju ke tempat penguburan dengan segala keikhlasan, agar roh si mayat tidak ragu dan bimbang meninggalkan keluarganya, serta keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan kuat dalam menghadapi hidup selama ditinggalkan.

Tahapan ini dilaksanakan ketika  mayat turun dari rumah. Adapun tempatnya di halaman depan rumah. Semua keluarga dilibatkan dalam upacara ini, terutama keluarga dekat, seperti ayah, ibu dan kakak atau adik-adik si mayat. Peralatan yang harus disediakan antara lain usungan, beras kunyit, padi, pakaian dan wangi-wangian.

Prosesi dalam upacara:

Sebelum tahapan kedua ini dimulai, terlebih dahulu disiapkan sebuah usungan yang dibuat dari kayu, bambu atau rotan. Bagian bawah usungan harus dibuat dari papan. Usungan itu diletakkan di bawah, sebelum mayat disiapkan di tengah rumah. Sementara itu, di tengah rumah terdapat beberapa orang yang mengganti pakaian mayat dengan pakaian baru, seolah-olah ia akan pergi ke tempat yang jauh. Setelah itu, mayat diletakkan di atas pembaringan di tengah rumah. Ketika itu dukun membacakan mantera. Setelah pembacaan mantera, dukun memberi aba-aba agar usungan dibawa naik ke rumah, kemudian mayat diangkat secara perlahan, lalu dibaringkan di atas usungan yang  dilengkapi dengan bantal dan kain panjang. Ketika kegiatan itu berlangsung, semua keluarga si mayat menangis tersedu-sedu sambil meratap untuk memperlihatkan cinta kasih keluarga kepada si mayat yang sebentar lagi akan berangkat pergi. Ratapan itulah yang dapat menunjukkan betapa keluarga mencintai dan mengasihi si mayat. Semua orang yang datang berdiri dengan penuh khidmat.

Selanjutnya, usungan diturunkan secara perlahan ke halaman rumah yang diiringi oleh sanak keluarga. Usungan itu diangkat oleh empat orang pemikul usungan. Lalu, dukun memerintahkan sanak keluarga untuk merundukkan kepala ke bawah usungan secara bolak-balik sebanyak tiga kali. Perbuatan ini dimaksudkan sebagai tanda bahwa keluarga merelakan kepergian si mayat, dan diharapkan pula rohnya tidak kembali lagi sebagai roh yang sesat.

Setelah semua keluarga selesai merunduk, sekali lagi wakil dari anggota keluarga si mayat menyampaikan riwayat hidupnya, sambil diiringi dengan ratapan dan tangisan keluarga yang lain. Dalam menyampaikan riwayat hidup, wakil dari anggota keluarga ini menjelaskan pula harta benda dan warisan yang ditinggalkan oleh si mayat untuk anak isterinya. Semua yang hadir mendengarkan penyampaian wakil keluarga tersebut dengan penuh khidmat. Selanjutnya, salah seorang anggota keluarga menaburkan beras kunyit, bunga-bunga dan wangi-wangian serta padi ke usungan yang akan dibawa. Setelah itu dengan penuh rasa haru, usungan dilepas pergi ke tempat penguburan.

Di sepanjang jalan menuju ke tempat penguburan, ditaburkan pula padi sebagai sedekah kepada roh-roh yang tinggal di sepanjang jalan tersebut. Selama upacara ini berlangsung, para hadirin tidak dibenarkan berbicara keras, apalagi membicarakan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan dalam upacara tersebut, dan tidak dibenarkan juga menebang kayu. Apabila hal itu diabaikan, maka dapat pula menyebabkan roh mayat ini tersesat jalan.

c. Penguburan

Maksud dari tahapan ketiga ini untuk menyelamatkan mayat dari gangguan binatang, terutama binatang buas. Tempat pelaksanaannya di tanah perkuburan yang sudah ditentukan, dan waktunya di siang hari. Pihak-pihak yang terlibat dalam tahapan ini adalah anggota keluarga, para orang tua yang terpandang, batin dan termasuk pula dukun. Perlengkapan yang harus disediakan antara lain, cangkul, parang, kulit kayu, kayu pagar, pakaian, dan kain kuning (bagi pemuka mayarakat).

Prosesi dalam upacara:

Ketika tiba di lokasi penguburan, usungan mayat diletakkan di tempat yang datar dan teduh. Sementara itu beberapa orang segera menggali kubur dengan menggunakan cangkul dan penggali. Sambil menunggu lubang kubur selesai digali, para pengantar duduk berteduh tanpa bersuara lantang, apalagi suara yang berisi ucapan cabul. Setelah lubang kubur selesai digali, secara perlahan mayat dikeluarkan dari usungan, lalu dengan hati-hati mayat tersebut dimasukkan ke dalam lubang. Mayat diletakkan dalam keadaan duduk, disandarkan ke dinding lubang. Setelah mayat duduk dengan sempurna, semua barang miliknya yang paling disayangi semasa hidup diletakkan di pangkuannya. Kemudian lubang tersebut ditutupi dengan kulit kayu, lalu ditimbun dengan tanah secara perlahan hingga rata. Setelah itu, di atasnya ditaburkan padi sebagai pertanda ucapan selamat jalan sekaligus selamat tinggal kepada si mayat. Lalu, dukun membacakan mantera yang diikuti oleh hadirin dengan penuh khidmat. Dengan berakhirnya pembacaan mantera tersebut, maka berakhirlah tahapan penguburan ini.

Ketika pulang dari tempat penguburan, wakil dari keluarga yang meninggal mengundang orang-orang yang telah membantu dalam penyelenggaraan mayat tersebut, terutama pada tahapan penguburan. Undangan ini dimaksudkan untuk makan bersama sebagai tanda terima kasih. Biasanya, undangan itu diterima dengan senang hati, lalu mereka datang ke rumah tersebut. Setelah selesai acara makan bersama ini, maka selesai pula upacara kematian yang masih berlaku dalam masyarakat Orang Talang Mamak di Talang Jerinjing kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Sumber:

  1. http://id.wikipedia.org
  2. Kompas.co.id
  3. http://ciptakarya.pu.go.id
  4. Depdikbud, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Riau, Jakarta, 1985.
Dibaca : 22.881 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password