Senin, 1 Mei 2017   |   Tsulasa', 4 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 4.608
Hari ini : 54.684
Kemarin : 41.330
Minggu kemarin : 454.924
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.236.386
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Orang Barok (Kepulauan Riau - Indonesia)

a:3:{s:3:

1. Asal Usul

Kata “Barok” diambil dari nama sebatang pohon, yaitu pohon bebarok. Pohon ini terdapat di sebuah hutan yang terletak di dekat pemukiman penduduk yang tinggal di Pulau Lipan. Menurut ceritanya, ada orang tua yang ingin membuat sampan dengan menebang pohon bebarok tersebut. Selama tujuh hari ia menebang pohon itu, namun tidak bisa tumbang. Pada hari kedelapan, ia merasa lega karena pohon yang ia tebang tersebut dapat ditumbangkan. Tapi, kelegaan itu hanya sesaat, sebab tidak lama berselang pohon yang ia tebang tegak kembali. Dari pohon tersebut keluar pula seorang anak muda yang tampan, kemudian berkata: “Jangan kau tebang pohon ini, ini rumahku”. Orang tua tersebut kagum bercampur rasa takut, lalu dengan tergopoh-gopoh ia pulang dan menceritakan kejadian tersebut ke penduduk setempat. Pendek cerita, anak muda yang keluar dari pohon bebarok itu kemudian dinobatkan menjadi raja, yang dikenal dengan Raja Barok. Lalu, orang yang tinggal di daerah ini dikenal dengan Orang Barok.

Menurut versi lain, Orang Barok yang tinggal di Pulau Lipan berasal dari Sungai Buluh, sebuah desa yang terletak di bagian utara Pulau Singkep. Jarak antara Pulau Lipan dengan Sungai Buluh kira-kira 45 menit dengan kendaraan kapal motor, atau 1, 5 jam dengan kendaraan perahu dayung. Sebelumnya, Pulau Lipan ini tidak pernah dihuni oleh siapapun. Namun, dengan kebijakan pemerintah setempat, pada tahun 1953 pulau ini diperkenalkan kepada penduduk yang ada di Sungai Buluh dengan cara memindahkan mereka ke Pulau Lipan tersebut dilengkapi dengan peralatan rumah tangga. Inilah awal dari penghunian Pulau Lipan. Orang Barok yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah orang-orang yang tinggal di Pulau Lipan, desa Panuba, kecamatan Lingga, kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

2. Kematian menurut Orang Barok

Bagi Orang Barok, kematian bukan akhir dari kehidupan, melainkan jalan bagi seseorang untuk pindah dari dunia nyata ke dunia tidak nyata, yaitu dunia roh. Dunia roh ini terletak di sebelah barat, digambarkan sebagai dunia yang abadi, tenang dan tentram sepanjang masa. Roh tidak boleh tersesat ketika menuju ke tempat tersebut, jika tersesat, maka roh itu tidak akan dapat berkumpul dengan para pendahulunya.

Penyebab roh tersesat antara lain karena roh itu tidak dipedulikan oleh pihak keluarga. Ia tidak diberikan sesajian sebagai medianya untuk makan. Bila ia tidak dipedulikan, maka ia akan kembali ke dunia nyata dan mengganggu sanak keluarga atau orang-orang yang tidak berdosa. Gangguan itu bisa berupa penyakit atau kematian salah satu anggota keluarga tersebut. Roh seperti inilah yang sangat ditakuti oleh Orang Barok.

Apabila gangguan itu terjadi juga, maka mereka berusaha untuk mengusir roh tersebut dengan bantuan seorang dukun, agar ia tidak mengganggu mereka dan dapat kembali ke tempat semula, serta memohon maaf atas kelalaian mereka. Dengan bantuan dukun, pihak keluarga berjanji tidak akan menyia-nyiakan roh itu lagi. Oleh karena itu, sering didapati Orang Barok melakukan kenduri yang mereka sebut dengan beri ruwah, yaitu kenduri yang dilakukan untuk memperingati dan memberi makan roh yang sudah mendahului mereka. Kenduri ini biasanya dilakukan satu kali dalam setahun. Agar roh tidak tersesat, setiap orang yang masih hidup berkewajiban untuk berbuat baik dengan mematuhi norma-norma yang berlaku di dalam masyarakatnya.

3. Penyelenggaraan Mayat

Pada dasarnya roh ada kaitan dengan jasad yang ia tinggalkan. Jasad harus dikuburkan dengan sempurna agar roh dapat menuju ke tempat yang abadi dalam keadaan selamat. Dalam penyelenggaraan mayat, Orang Barok membagi beberapa jenis kematian, di antaranya mati terbunuh dan mati biasa. Masing-masing jenis ini dibedakan dalam penyelenggaraannya. Tetapi, portal ini hanya membicarakan penyelenggaraan kematian dari jenis kamatian biasa yang dibagi atas empat tahap, yaitu:

a. Sebelum dimandikan

Tahap pertama ini disebut dengan tahap menunggu mayat.  Pada tahap ini pihak keluarga harus menjaga mayat secara bergiliran, dan tidak boleh tidur, agar mayat tersebut tidak diganggu oleh roh-roh jahat yang ada di sekitarnya. Tahapan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada seluruh sanak keluarga melihat wajah si mayat untuk yang terakhir kalinya sebelum dikuburkan, dan memberikan kesempatan pula kepada orang yang datang untuk menyatakan belasungkawa serta sikap solidaritas mereka terhadap keluarga yang terkena musibah tersebut. Tempat pelaksanaannya di rumah keluarga mayat, baik ia mati di sana, di laut, di hutan atau di tempat lain.

Teknis penyelenggaraannya diakukan oleh seorang dukun atau pemuka masyarakat yang berpengalaman. Jika yang meninggal itu laki-laki, maka laki-laki pula yang melaksanakan tahapan tersebut, dan sebaliknya. Tahap pertama ini cukup penting untuk mengatur mayat agar tidak kaku ketika dimandikan nanti.

Persiapan dan perlengkapan yang perlu disediakan pada tahap ini adalah:

  • Sehelai tikar dan sebuah bantal
  • Sehelai kain panjang
  • Pedupaan
  • Kemenyan
  • Secarik kain atau sepotong tali
  • Sepotong kayu gaharu
  • Sebilah pisau kecil

Prosesi dalam upacara:

Apabila seseorang akan menghembuskan nafas terakhir, maka pihak keluarga memangku dan menghadapkan mukanya ke arah barat sambil menangis, tapi air mata tidak boleh menetes ke tubuh orang yang akan meninggal itu. Setelah menghembuskan nafas terakhir, pihak keluarga mayat meluruskan tangannya, menutup mata dan merapatkan mulutnya jika terbuka. Hal ini dilakukan agar mayat tersebut tidak tampak menakutkan.

Tubuh mayat ditutupi dengan sehelai kain atau tikar yang sudah usang, jika kain tidak ada. Bagian muka mayat sengaja dibiarkan terdedah (terbuka) agar semua orang yang datang dapat melihat muka mayat tersebut dengan mudah. Di atas kepalanya diletakkan sepotong kayu gaharu sebagai tanda untuk memberitahukan kepada semua sanak saudara dan roh-roh nenek moyang yang mendahuluinya bahwa ada salah seorang keluarga yang baru saja meninggal dunia dan sebentar lagi akan datang ke tempat mereka untuk hidup bersama. Sementara di atas perutnya diletakkan sebilah pisau kecil sebagai tangkal.

Selanjutnya, pihak keluarga memberitahukan pada penduduk kampung bahwa salah satu warga mereka telah meninggal dunia. Mereka berbondong-bondong datang menjenguk ke rumah yang ditimpa kemalangan itu dengan wajah sedih dan penuh haru, karena mungkin saja orang yang meninggal tersebut orang tua yang baik hati dan bijaksana, mungkin pula anak kecil yang lucu yang amat mereka senangi.

Untuk menampakkan rasa solidaritas, penduduk kampung ini menunda segala aktivitas yang sudah direncanakan dengan ikut berkabung sedalam-dalamnya untuk melepas kepergian salah satu warga yang meninggal dunia tersebut. Kaum perempuan membawa apa saja yang diperlukan untuk meringankan beban keluarga yang ditimpa musibah, ada yang membawa sagu, minyak kelapa, minyak lampu dan sebagainya. Sementara kaum laki-laki datang untuk membantu segala keperluan yang berkaitan dengan penyelenggaraan mayat ini.

Setelah penduduk kampung kumpul di rumah yang ditimpa musibah, tugas-tugas mulai dibagi. Beberapa orang diminta untuk menggali kubur, mengambil air untuk memandikan mayat, membuat papan usungan dan sebagainya. Mayat yang terbaring di tengah rumah dijaga oleh sanak keluarga secara bergiliran. Selain mereka, ada juga tamu yang duduk di dekat mayat tersebut.

b. Mandi

Sebelum mayat dikuburkan, terlebih dahulu ia harus dimandikan agar bersih dari segala kotoran, karena ia akan pergi ke suatu tempat yang suci. Selain itu, tahapan ini bertujuan pula untuk menghabiskan segala dosa yang pernah dilakukannya semasa hidup.  

Tahapan ini dilaksanakan di siang hari demi kemudahan pekerjaannya. Ada juga yang mengerjakannya di pagi atau sore hari, tetapi tidak dibolehkan pada malam hari. Tempat pelaksanaannya di tepi pantai yang berpasir yang didinding dengan kain panjang atau kajang (sejenis atap yang dibuat dari nipah atau mengkuang) agar proses pelaksanaannya tidak dilihat oleh orang, khususnya ketika bagian-bagian terlarang dibersihkan.

Prosesi dalam upacara:

Sebelum tahap memandikan mayat ini dilaksanakan, terlebih dahulu disiapkan tempat pelaksanaan, yaitu di tepi pantai yang berpasir. Mayat diturunkan dari rumah, lalu dibawa dengan hati-hati ke tepi pantai yang berpasir tersebut. Sesampainya di situ, mayat diletakkan di atas pasir dalam keadaan telentang, kepalanya diarahkan ke barat. Seluruh pakaiannya dilepas, kecuali pada bagian vital yang ditutupi dengan secarik kain atau tikar. Setelah itu, tukang mandi membacakan mantera-mantera yang berbunyi antara lain: “biar selamat engkau berjalan, jangan sampai sesat. Jangan teringat pada kami yang tinggal”. Kemudian ia mengambil air asin di pinggir pantai, lalu menyiramkan ke seluruh tubuh mayat secara berulang-ulang dari kepala hingga ke ujung kaki. Sambil menyiram, ia mengambil isi sabut kelapa yang sudah disayat-sayat kecil, lalu digosokkan ke tubuh si mayat. Ini dimaksudkan agar badan mayat bersih dari semua kotoran yang melekat. Ketika itu, semua orang diperbolehkan hadir untuk menyaksikan jalannya upacara tersebut. Mereka dimintakan untuk berkhidmat dan tidak membuat keributan atau percakapan-percakapan yang menimbulkan kebisingan. Setelah selesai dimandikan, badan mayat dikeringkan dengan sehelai kain, kemudian seluruh tubuhnya ditaburi dengan bedak langir yang terbuat dari beras yang ditumbuk halus, lalu dicampuri dengan sedikit kunyit. Kegunaannya untuk menghilangkan bau badan mayat yang kurang enak.

Setelah itu, badan mayat dibungkus dengan dua lembar tikar yang terbuat dari daun pandan atau mengkuang. Satu tikar dibuat seperti baju, sementara yang satu lagi digunakan untuk pembungkus seluruh tubuh mayat, terkecuali bagian muka yang dibiarkan terbuka. Sebelum dibungkus, kedua tangan mayat dilipat di atas dada, mulut ditutup rapat, kaki diluruskan dan dirapatkan. Setelah itu, dimasukkanlah tikar sebagai bajunya, kemudian seluruh tubuhnya dibungkus dengan tikar yang satu lagi. Pada bagian ujung kepala, dada, pinggang dan ujung kaki diikat dengan tali. Setiap kali melakukan pekerjaan itu, tukang mandi terus menerus membaca beberapa mantera. Mulutnya berkomat kamit, kadang-kadang ia menghembus ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. Setelah selesai dimandikan, mayat tersebut diletakkan di atas usungan dan dibawa kembali ke halaman rumahnya untuk menantikan tahap selanjutnya, yaitu tahap penguburan.

c. Penguburan

Penguburan mayat dilakukan di tempat tertentu, sesuai dengan tempat yang telah dipilih oleh warga kampung Orang Barok, dan pelaksanaannya di siang hari. Tahapan ini dimaksudkan antara lain: (1) agar roh mayat dapat melakukan perjalanannya ke arah barat, tempat nenek moyangnya berkumpul dengan tenang; (2) agar rohnya tidak diganggu oleh roh-roh jahat yang dapat menyesatkan roh yang baru tersebut; dan (3) sebagai penghormatan terakhir kepada mayat.

Perlengkapan yang harus disediakan dalam tahapan ini antara lain: beberapa bilah parang, cangkul, tujuh batang kayu kecil, sepiring nasi, sebungkus rokok, setempayan air mawar yang sudah dimanterai dan sepasang nisan.

Prosesi dalam upacara:

Ketika mayat dimandikan, beberapa orang bekerja menggali kubur di suatu tempat yang dekat dengan pantai dan rumah-rumah penduduk. Orang tidak boleh berlaku ceroboh atau membuang kotoran di sekitar tempat itu. Setelah kubur selesai digali, barulah mayat diberangkatkan dari rumah. Mayat diangkat dan dipikul oleh empat orang laki-laki menuju ke tempat penguburan. Sanak keluarga dan handai tolan diperbolehkan pergi untuk menyaksikan penguburan tersebut.

Setelah sampai di tempat penguburan, usungan mayat diletakkan dengan hati-hati di tepi lubang kubur yang sudah digali. Di sini, disediakan pula alat-alat seperti sepiring makanan, sebungkus rokok dan setempayan air mawar.

Setelah semua sanak keluarga hadir, dukun yang diserahi untuk memimpin tahapan ini memberi aba-aba bahwa acara akan dimulai. Setelah ia membaca beberapa mantera, lalu ia menyuruh beberapa orang laki-laki turun ke dalam lubang kubur untuk meletakkan mayat di tempat persemayamannya. Kemudian, mayat diturunkan secara perlahan, dibaringkan ke dasar lubang dengan posisi miring. Setelah itu ditancapkan tujuh kayu kecil, agar posisi mayat tersebut tidak berbalik. Beberapa orang laki-laki tersebut naik ke permukaan. Lalu, secara perlahan kuburan tersebut ditimbun dengan tanah, kemudian di atas kuburnya ditancapkan sepasang nisan sebagai tanda bagi kuburan si mayat. Di atas kubur pada bagian kepalanya diletakkan sepiring makanan, rokok dan setempayan air mawar. Menurut Orang Barok, makanan yang disediakan itu adalah sebagai bekal si mayat selama dalam perjalaannya. Makanan itu tidak boleh dimakan oleh orang yang masih hidup. Apabila pantangan ini tidak dipatuhi, maka orang tersebut mendapatkan malapetaka. Tetapi, tidak ada penjelasan lebih lanjut seperti apa malapetaka yang menimpanya. Dengan diletakkan makanan di perkuburan ini, maka selesailah upacara penguburan. Semua orang pulang ke rumah masing-masing.

Sudah menjadi kebiasaan, bagi orang yang membantu pelaksanaan penguburan, seperti dukun, tukan mandi mayat dan tukang gali kubur diundang ke rumah keluarga mayat untuk makan bersama, sebagai tanda ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelenggaraan penguburan tersebut.

d. Kenduri

Kenduri ini bertujuan: (1) untuk memohon keselamatan agar roh si mayat sampai ke tempat tujuan; (2) untuk berterima kasih kepada semua orang kampung yang telah membantu menyelenggarakan upacara kematian tersebut. Selain itu, tersirat pula tujuan untuk menghibur keluarga yang ditimpa kemalangan agar mereka tidak sedih.

Kenduri ini dilaksanakan pada malam hari setelah mayat dikuburkan pada siang harinya. Ada juga sebagian melaksanakannya pada sore hari, tergantung pada keinginan pihak keluarga. Tempatnya di rumah tempat mayat dibaringkan selama penyelenggaraan upacara kematian berlangsung, tidak harus selalu di rumah milik orang yang mati tersebut.

Kenduri ini dipimpin oleh seorang dukun dan dibantu oleh pihak keluarga si mayat. Pihak keluarga menyiapkan peralatan yang diperlukan selama upacara berlangsung. Orang Barok tidak diundang dalam upacara kenduri ini, tetapi mereka tetap datang untuk ikut mendoakan roh si mayat.

Selanjutnya, dukun memulai kenduri dengan membacakan beberapa mantera. Semua yang hadir diharap diam sambil mendengar dukun membacakan mantera. Setelah beberapa kali dukun membacakan mantera, maka selesailah prosesi kenduri ini. Orang yang hadir dibolehkan bicara dan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Dengan demikian, selesailah upacara kenduri tersebut.

Dengan berakhirnya tahapan kenduri ini, maka berakhir pula upacara kematian yang dilaksanakan oleh Orang Barok yang berdiam di Pulau Lipan, desa Panuba, kecamatan Lingga, kabupaten Lingga, propinsi Kepulauan Riau.

Sumber:

  1. Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Riau, Jakarta, 1985.
  2. http://www.batampos.co.id
Dibaca : 10.358 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password