Senin, 20 Februari 2017   |   Tsulasa', 23 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 3.472
Hari ini : 29.031
Kemarin : 23.996
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.764.109
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Galah (Riau)

Istilah permainan galah lebih dikenal di Kepulauan Natuna, sementara di beberapa daerah Kepulauan Riau lainnya lebih dikenal dengan nama main galah panjang. Di daerah Riau Daratan, permainan galah panjang ini disebut main cak bur atau main belon. Permainan galah termasuk dalam kategori permainan hiburan yang dirmainkan secara kolektif oleh dua kelompok: penyerang dan penghadang. Biasanya, anak-anak bermain galah pada waktu sore atau malam hari di saat terang bulan.

1. Pemain dan tempat permainan

Jumlah pemain per kelompok antara 3-6 orang dengan usia antara 7-20 tahun, boleh dimainkan oleh anak laki-laki, anak perempuan atau campuran antara keduanya. Main galah dilakukan di tanah lapang yang berukuran 12 x 6 m. Di tanah lapang tersebut dibuatkan garis lurus memanjang dan garis galah lintang. Garis lurus memanjang disebut garis galah panjang atau lunas galah, letaknya di tengah-tengah, lurus pada garis-garis lintangnya; sementara garis galah lintang pada posisi sejajar, jaraknya sama antara satu dengan lainnya, berjumlah sesuai dengan jumlah pemain dikurangi 1. Jika satu regu berjumlah 6 orang, garis galahnya 6-1=5. Untuk lebih jelas, berikut ini dibuatkan denah permainan tersebut.

 

2. Aturan permainan

Ada beberapa aturan main yang harus disepakati sebelum permainan dimulai yaitu:

  1. Ada dua jenis tangkap dalam permainan ini: tangkap lekat dan tangkap sekedar menyentuh tubuh atau anggota badan lainnya. Bila yang disepakati adalah tangkap lekat, maka penghadang harus menangkap penyerang dengan cara merangkul hingga bergumul. Si penyerang boleh meronta, tapi tidak boleh meninju; sebaliknya, bila yang disepakati hanya dengan menyentuh tubuh atau anggota badan penyerang, maka penghadang cukup menyentuh tubuh atau anggota badan penyerang tersebut.
  2. Bila pihak penghadang memangkah kaki penyerang hingga terjatuh, maka penyerang dibebaskan naik ke galah atas dan dibebaskan pula turun hingga mendapatkan nilai caboo (mendapatkan point) sekali.
  3. Bila penyerang keluar dari garis permainan, atau memperlambat waktu dengan cara duduk-duduk di lapangan permainan, maka dilakukan tukar bebas, yaitu penghadang berganti posisi menjadi penyerang, karena penyerang dianggap telah melakukan kesalahan.

3. Proses permainan

Permainan ini terdiri dari penghadang dan penyerang. Pihak penghadang dipimpin oleh penjaga lunas, yaitu pemain yang berjaga di garis galah panjang. Penjaga lunas bebas menggunakan galah, boleh ke atas dan ke bawah di sepanjang galah tersebut untuk mengejar para penyerang yang masuk, sedangkan pemain-pemain yang lain menjaga garis galah lintang.

Berbeda dengan kelompok penghadang, kelompok penyerang tidak memiliki struktur pimpinan dan anggota.

Proses permainan galah diawali dengan sut untuk mencari pihak yang kalah dan yang menang. Pihak yang kalah menjadi penghadang, sementara yang menang menjadi penyerang. Teknis pelaksanaan sut adalah dengan mengadu salah satu di antara tiga jari tangan yang diperbolehkan, yaitu ibu jari, jari telunjuk dan jari kelingking. Jika ibu jari diadu dengan jari kelingking, yang menang adalah jari kelingking; jika jari telunjuk diadu dengan ibu jari, yang menang adalah ibu jari; dan jika jari telunjuk diadu dengan jari kelingking, maka yang menang adalah jari telunjuk. Selain itu, jika jari-jari yang diadu itu sama, seperti jari kelingking dengan jari kelingking, jari telunjuk dengan telunjuk, maka sut harus diulang.

Selanjutnya, kedua kelompok mulai mengatur siasat untuk memulai permainan. Kelompok penghadang berjaga di garis galah yang sudah tersedia, ketua kelompok berjaga di garis galah panjang, sementara anggota-anggota yang lain masing-masing berjaga di garis-garis galah lintang sesuai dengan jumlah mereka per kelompok. Di lain pihak, kelompok penyerang berusaha untuk memasuki garis galah panjang atau lintang yang dijaga oleh kelompok penghadang, baik dari sisi kiri atau kanannya. Bila salah seorang penyerang sudah dapat memasuki garis lintang satu, maka dia akan berusaha untuk menerobos garis lintang berikutnya. Para penyerang yang lain juga harus melakukan hal yang sama. Apabila salah satu pemain dari kelompok penyerang dapat melewati garis galah hingga ke atas, kemudian berhasil kembali ke garis galah pertama dan meneriakkan caboo,maka kelompok penyerang tersebut mendapat sekali caboo. Seiring dengan teriakan caboo tersebut, maka permainan dinyatakan selesai dan harus dimulai kembali dari awal untuk pengumpulan poin (caboo) berikutnya.

Dalam permainan ini, suatu penyerangan dianggap batal, jika salah seorang dari kelompok penyerang dapat ditangkap oleh kelompok penghadang, baik tangkap lekat atau hanya disentuh. Seiring dengan itu, kemudian terjadi pergantian posisi, kelompok penghadang berganti posisi menjadi penyerang, dan sebaliknya. Begitulah selanjutnya proses permainan ini, kelompok yang menjadi penghadang dan penyerang akan berganti posisi silih berganti.

Setelah permainan usai, maka dihitunglah jumlah caboo masing-masing kelompok, yang paling banyak mengumpulkan caboo dinyatakan sebagai pemenang. Kelompok yang kalah dikenakan sanksi, dengan mendukung (menggendong dari belakang) kelompok yang menang di sepanjang lunas galah panjang secara bolak balik. Inilah akhir dari permainan galah tersebut.

4. Nilai budaya

(Dalam Proses Pengumpulan Data)

Sumber:
Depdikbud, Permainan Rakyat Daerah Riau, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pekanbaru, 1984.

Dibaca : 27.665 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password