Minggu, 20 Agustus 2017   |   Isnain, 27 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 2.332
Hari ini : 16.805
Kemarin : 26.357
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.019.617
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Prasasti Pagarruyung III (Kapalo Bukit Gombak I)

a:3:{s:3:

Prasasti ini terdiri dari satu baris tulisan, dan merupakan permulaan dari prasasti “Batu Beragung”.

Prasasti Pagarayung III dipahatkan pada batu abu-abu kecoklatan non artifisial. Ukuran batu, panjang 1,9m, lebar 66 cm, dan tebal 15 cm didaftar pertama kali pada `1977 dengan nama Prasasti Kapalo Bukit Gombak, karena berasal dari Bukit Gombak, sekitar 2 Km Utara.

Transkripsi:

Dware rasa bhuje rupe gatau warsascay karttike suklah pancatithis some bajrendra i...

Terjemahan:

Pada tahun Saka 1269 yang telah lalu, pada bulan Kartika saat paro (bulan) terang tanggal 5 hari Senin dalam yoga Bajra dan Indra

Prasasti di atas mempunyai huruf Jawa Kuna dalam bahasa Sanskrta. Pertanggalan Prasasti berupa Candra Sengkala,  yaitu Dware Rasa Bhuje Rupe. Dware bernilai 9, Rasa = 6, Bhuje = 2, dan rupe = 1, dibaca dari belakang 1269 Saka atau 1347 M. Jadi Prasasti tersebut dikeluarkan  pada hari Soma tanggal 15 suklapaksa (bulan terang) atau Senin tanggal 20 Oktober 1347 M. Prasasti PR III sebenarnya harus berisi suatu kejadian tertentu, tetapi karena ada bagian yang hilang, maka peristiwa tersebut tidak diketahui. Kalimat di atas bila dirangkai mempunyai makna bahwa manusia dalam kehidupan ini dibekali oleh rasa sebagai penggerak atau motivator segala tindakan, dan tindakan tersebut dilakukan dengan lengan/ tangan untuk mencapai tujuan atau sebagai pintu masuk agar selalu menjadi yang terdepan atau terbaik (MAM/sej/03/12-07)

Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

Dibaca : 8.797 kali.

Komentar untuk "prasasti pagarruyung iii"

21 Nov 2010. Nuraeni
Dware Rasa Bhuje Rupe, belum menyentuh secara keseluruhan maknanya bila menggunakan sansekerta tingkatan bawah. Makna yang pas bila dibaca dengan sansekerta level "TAHTA AGUNG" maknanya bukan secara tekstual mengacu ANGKA tapi pesan INTI. Saya seorang sejarahwan. Sekedar sharing pengetahuan. Terimakasih telah berbagi pengalaman.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password