Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 527
Hari ini : 433
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.268.814
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Al-Hilal (Katangka) Makasar

1. Sejarah Pembangunan

Dalam kehidupan sehari-hari, Masjid al-Hilal lebih dikenal dengan nama Masjid Katangka. Nama Katangka berasal dari nama daerah tempat berdirinya masjid. Menurut sebuah prasasti, Masjid Katangka ini didirikan pada tahun 1603 M, namun, fakta ini diragukan oleh para sejarawan. Pendapat lain mengatakan bahwa, masjid ini didirikan pada awal abad ke-18 M.

Pendirian masjid dilakukan seiring dengan gencarnya proses Islamisasi di Makasar. Konon, pendirinya adalah seorang ulama besar dari Sumatera Barat, yang diberi gelar Daeng Bandang oleh masyarakat setempat. Pada zamnnya, masjid ini termasuk besar dan mewah, mengingat konstruksi bangunan yang terbuat dari batu bata. Setidaknya, ini menandakan bahwa masjid ini termasuk penting pada zamannya.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, lokasi halaman masjid juga digunakan sebagai tempat pemakaman untuk para kerabat pendiri masjid dan pemuka agama. Khusus makam pendiri masjid dan kerabat dekatnya, terdapat cungkup di atasnya yang mirip kubah.        

2. Lokasi

Masjid Katangka terletak di jalan Syech Yusuf, dekat perbatasan antara kota Makasar dengan kabupaten Gowa. Lebih kurang 500 meter dari masjid, terdapat makam ulama sufi terkenal: Syech Yusuf.

3. Luas

Masjid Katangka berukuran 13.20x13.20 m.

4. Arsitektur

Masjid Katangka berdenah bujur sangkar, dengan dinding yang terbuat dari batu bata sangat tebal (120 cm). Arsitektur masjid menunjukkan adanya pengaruh arsitektur joglo Jawa, ditandai dengan adanya empat tiang besar di bagian tengah dalam, identik dengan soko guru dalam arsitektur joglo. Uniknya, keempat tiang tersebut tidak terbuat dari kayu seperti lazimnya arsitektur tradisional di nusantara saat itu, tapi dari pasangan batu bata dengan model silindris gemuk, seperti arsitektur Yunani Dorik.

Di atas keempat tiang Dorik tersebut, terdapat dinding dari luar yang menyembul ke atas, dengan atap yang berbentuk piramidal. Dinding tersebut memisahkan antara dua tumpuk (lapis) atap: atap paling atas dan atap di bawahnya. Atap bagian atas berbentuk piramidal, dengan bahan dari genting

Pada dinding bagian atas, yang dibentuk oleh empat tiang (soko guru) bagian tengah-dalam, terdapat jendela pada tiap sisinya. Karena berbentuk bujur sangkar, maka terdapat empat jendela. Jendela tersebut tidak berfungsi sebagai ventilasi, tetapi sebagai hiasan semata.

Masjid ini juga mempunyai serambi yang menyatu dengan atap utama. Serambi ini, selain berfungsi sebagai ruang peralihan sebelum masuk ke dalam masjid, juga sering digunakan sebagai tempat belajar mengaji.

Untuk masuk ke dalam ruang shalat utama, terdapat tiga buah pintu. Jumlah pintu yang tiga buah ini juga menunjukkan adanya pengaruh arsitektur joglo Jawa, di mana, untuk masuk ke ruang ndalem (ruang privat) juga terdapat tiga pintu.

Keunikan masjid ini adalah, walaupun didirikan di Makasar, namun tidak tampak pengaruh arsitektur lokal. Mungkin arsitektur masjid ini bagian dari proses modernisasi konstruksi lokal Makasar.

5. Perencana

Tidak diketahui secara pasti, siapa perencana Masjid Katangka ini. Ulama Minang, Daeng Bandang yang tertulis di atas masih bersifat dugaan.

6. Renovasi

Usia masjid yang sudah sangat tua, namun masih berdiri kokoh hingga saat ini, secara jelas menunjukkan bahwa masjid ini pernah direnovasi. Namun, data lengkap mengenai proses renovasi tersebut masih dalam pengumpulan.

Dibaca : 7.512 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password