Rabu, 1 Oktober 2014   |   Khamis, 6 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.680
Hari ini : 11.200
Kemarin : 22.967
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.178.320
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Bagang (Sulawesi Selatan)

a:3:{s:3:

1. Pengantar

Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi yang tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Provinsi yang luasnya 62.482,54 km2 ini pada tahun 2003 berpenduduk 8.233.375 jiwa. Secara astronomi terletak pada koordinat 0012‘--80 Lintang Selatan (LS) dan 116048‘--122036‘ Bujur Timur (BT). Sedangkan, secara administratif provinsi ini membawahi 20 kabupaten, 3 kotamadya, 285 kecamatan dan 664 kelurahan (www.wikipedia.org).

Provinsi yang beribukota di Makassar1) ini sebagian besar daerahnya di kelilingi oleh pantai. Daerah Mamuju, Majene, Polmas, Pinrang, Pare-pare, Barru, Pangkep, Maros, Ujung Pandang, Gowa, dan Takalar misalnya, daerah-daerah tersebut berbatasan dengan pesisir selatan Makassar. Kemudian, Jenepoponto, Bantaeng, Selayar, dan Bulukumba berbatasan dengan pesisir laut Flores. Dan,  Luwu, Wajo, Bone dan Sinjai berbatasan dengan pesisir Teluk Bone. Hanya daerah Tana Toraja, Enrekang, Sidrap dan Sopeng yang wilayahnya tidak berbatasan dengan laut karena berada di pedalaman. Keadaan geografis yang demikian pada gilirannya membuat sebagian besar masyarakatnya hidup sebagai nelayan, terutama masyarakat yang daerahnya berbatasan dengan laut. Di dalam menangkap ikan mereka menggunakan berbagai macam peralatan, seperti: jala rompong, banrong, bubu, belek, bagang, dan pakkaja. Namun dalam kesempatan ini hanya satu alat penangkap ikan saja yang akan dibahas, yaitu“bagang”. Alat penangkap ikan ini dipilih karena proses pembuatannya relatif rumit dan memerlukan kerjasama antar nelayan. Disamping itu, disertai juga dengan upacara tertentu agar proses pembuatannya berjalan dengan lancar dan setelah beroperasi dapat menangkap ikan dalam jumlah banyak. Sedangkan, alat-alat penangkap ikan lainnya belum dapat disajikan karena masih dalam proses pengolahan data.

2. Proses Pembuatan Bagang

Bagang, sebagaimana telah disinggung di atas, adalah alat penangkap ikan. Alat ini berupa bangunan yang didirikan di laut dengan bahan bambu dan batangan kayu. Bentuknya menyerupai rumah kecil. Bangunan ini dilengkapi dengan jaring dan lampu gas (stromking). Oleh karena bangunannya menyerupai rumah, maka biasanya dijadikan tempat istirahat (tidur) oleh pemiliknya pada malam hari.

Ada dua macam bagang, yaitu: bagang tancap dan bagang monang/bagang lopi (bagang terapung). Bagang tancap ialah bagang yang tiangnya ditancapkan pada dasar laut, sehingga tidak dapat dipindah-pindahkan. Sedangkan, bagang terapung tidak menggunakan tiang, tetapi menggunakan perahu2). Dengan perkataan lain, bagang ini didirikan di atas perahu, sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Pembuatan bagang tancap maupun bagang terapung dilakukan secara gotong-royong antar nelayan. 

a. Pembuatan Bagang Tancap

Untuk mendirikan bagang tancap paling tidak membutuhkan 5--10 orang. Pekerjaan ini diawali dengan pencarian atau pengumpulan bambu yang tua dan panjang. Bambu-bambu itu sebagian dibuat rakit yang pada saatnya akan ditarik dengan perahu untuk membawa bambu yang diperlukan ke tengah laut (lokasi yang diinginkan).  Sementara itu, bambu-bambu yang lain dipilih sebagai fondasi. Bambu-bambu ini pada salah satu ujungnya (bagian pangkal) diruncingi dan setiap ruasnya dilubangi agar air dapat masuk, sehingga tidak mengambang. Ketika bambu-bambu itu sudah ada di lokasi yang telah ditentukan, maka beberapa orang akan menyelam ke dasar laut untuk mengetahui kedalaman dan sekaligus untuk mengetahui lunak dan kerasnya tanah dasar laut.  Ini penting karena ada kaitannya dengan sisa bambu yang muncul di permukaan air (setelah ditanam). Biasanya kedalaman yang diperlukan adalah sekitar 9--10 depa3). Sedangkan, sisa bambu yang muncul di permukaan air kurang lebih 1 depa.

Setelah bambu yang berfungsi sebagai tiang tertanam (membentuk segi empat dan setiap sisinya bertiang 6--7 buah), maka bagian atasnya yang kurang lebih 1,5 meter dari permukaan air laut disambung dengan bambu lainnya hingga mencapai ketingginan 2--3 depa. Kemudian, tiang-tiang yang membentuk sisi-sisi bagang dihubungkan dengan bambu yang arahnya berlawanan (horisontal atau sejajar dengan permukaan air laut). Bambu-bambu tersebut diikat dengan ijuk, pasak, dan kaso. Dengan demikian, kedudukan tiang-tiangnya menjadi semakin kuat dan kokoh. Selanjutnya, kurang lebih 2 depa dari salah satu sisi bagang diberi deretan bambu yang dibuat rapat. Bambu-bambu yang berfungsi sebagai lantai ini juga setiap ujungnya diikat dengan tali ijuk. Di atas deretan bambu inilah didirikan bilik (kamar) yang diberi dinding dan atap yang berupa daun rumbia. Dengan demikian, si pemilik atau siapa saja yang ada di bagang dapat terhindar dari dinginnya udara malam, terpaan angin laut, dan derasnya air hujan. Sedangkan, di tengah-tengah sisi-sisi bagang lainnya, masing-masing dipasangi bambu yang mencuat ke atas dan membentuk segi tiga. Pada puncak bambu yang membentuk segi tiga itu masih ditambah dengan satu bambu lagi yang dihubungkan dengan bagian depan lantai bilik.

Selanjutnya adalah pemasangan jaring. Luas jaring sesuai dengan luas bagang. Jaring ini diberi bingkai dan dipasang di bawah lantai. Untuk menurunkan dan menaikkannya dibuat alat pemutar yang diletakkan di sudut bagang. Agar ketika diangkat atau diturunkan tetap seimbang kedudukannya (tidak berat sebelah), setiap sudut jaring diikat pada tiang bambu yang ditancapkan di dasar laut. Untuk penerangan yang sekaligus menarik perhatian ikan-ikan digunakan lampu stromking yang digantungkan di bawah bilik. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah bagang tancap ini kurang lebih 6--10 hari.

b. Pembuatan Bagang Terapung

Pembuatan bagang ini tidak serumit bagang tancap karena cukup dilakukan di tepi pantai. Caranya, setelah bahan dan peralatan tersedia (bambu, perahu, pengikat, dan daun rumbia), maka dua buah perahu yang telah disediakan, satu dengan lainnya dihubungkan dengan bambu, sehingga membentuk segi empat. Selanjutnya, sama seperti pembuatan bagang tancap, yaitu pembuatan bilik dan pemasangan tiang bambu membentuk segi tiga. Setelah itu, bagang yang belum diberi jaring itu didorong beramai-ramai ke laut. Ketika sudah ada di laut, barulah dipasang jaring.

Sebagai catatan, sebelum bagang dibuat, khususnya bagang tancap, biasanya ada upacara yang disebut mattoana tasik. Upacara ini dilakukan agar pembuatan bagang berlangsung lancar, berfungsi dengan baik dan menghasilkan ikan yang berlimpah. Upacara yang memerlukan kelengkapan seperti: telur ayam, beras berwarna, pisang raja dan daun sirih ini dipimpin seorang dukun (sonro). Setelah sonro membacakan doa yang intinya untuk keselamatan dan kesejahteraan, maka kelengkapan upacara dihanyutkan ke laut.

3. Penutup

Letak geografis Sulawesi Selatan yang sebagian besar wilayahnya berbatasan dengan laut pada gilirannya membuat mata pencaharian yang dilakukan sebagian besar masyarakat adalah nelayan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya para nelayan di Sulawesi Selatan menciptakan peralatan penangkapan ikan. Salah satu dari sekian banyak peralatan untuk menangkap ikan yang mereka gunakan adalah bagang. Pembuatan alat ini dilakukan secara gotong-royong di kalangan para nelayan. Nilai gotong-royong yang dijunjung tinggi ini disebabkan karena pembuatan bagang relatif rumit dan membutuhkan pekerja dalam jumlah banyak. Dan, agar pembuatan bagang berlangsung lancar dan setelah jadi diharapkan akan dapat menangkap ikan yang banyak, maka perlu adanya upacara mattoana tasik demi keselamatan pekerja dan kesejahteraan pemiliknya. Upacara dipimpin oleh seorang dukun yang oleh masyarakat setempat disebut sonro. (AG/bdy/62/9-07)

Sumber :

  • Tim Koordinasi Siaran. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • www.wikipedia.org
Sumber : life.sinchew-i.com

 

1) Nama ibukota ini sempat diganti dengan “Ujungpandang”. Namun, sekarang kembali lagi ke semula, yaitu Makassaar.

2) Pada nelayan Kepulauan Riau jenis bagang ini didirikan bukan di atas perahu, tetapi di atas beberapa drum besi/plastik yang disatukan (diikat satu dengan lainnya).

3)  Depa adalah kurang panjang yang dilakukan dengan cara merentangkan tangan (orang dewasa) secara horisontal. Satu depa kurang lebih satu setengah meter.

Dibaca : 8.747 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password