Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 889
Hari ini : 3.570
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.019.246
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Latar Belakang Sejarah Kesusastraan Melayu Masa Pengaruh India-Hindu/Buddha

Gugusan Pulau-pulau Melayu bertebaran di sekitar garis khatulistiwa. Udara di gugusan ini jauh lebih panas daripada di belahan dunia yang lain karena sinar matahari jatuh tegak lurus dengan planet Bumi. Akibatnya, ketika zaman es berakhir, di gugusan ini es mencair lebih cepat dan air juga menguap lebih cepat daripada di belahan Bumi yang lain.

Konon, jika pada pagi hari orang yang berdiri di sebelah barat gugusan ini, misalnya di India atau Jazirah Arab, melemparkan pandangannya ke arah timur, dia akan melihat lengkungan pelangi di atas Gugusan Pulau-pulau Melayu, sehingga orang kemudian menyebut gugusan ini sebagai Negeri di bawah Pelangi. Tetapi, bagi orang-orang Melayu Deutero atau Purba sendiri, yang merupakan penduduk asli gugusan ini, posisi ini memberkati mereka dengan iklim tropis dan curah hujan yang tinggi. Sehingga, pada dasarnya orang Melayu Purba hanya mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.

Setiap musim menghasilkan cuaca, arah angin, dan kondisi alam yang berbeda-beda. Ini berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan orang Melayu Purba, mulai dari cara mengelola usaha pertanian, peternakan, maritim, hingga susunan kemasyarakatan.

Pelayaran perdagangan India – Negeri di bawah Pelangi

Angin musim terutama berpengaruh pada pola pelayaran di Kepulauan Melayu dan menentukan berbagai kegiatan yang dilakukan dengan perahu, baik penangkapan ikan maupun—yang lebih penting lagi—pelayaran perdagangan dari dan ke Kepulauan Melayu. Angin musim inilah yang kemudian menyebabkan Kepulauan Melayu pada abad-abad pertama Masehi menjadi bagian dari lalu lintas perdagangan internasional.

Mungkin orang Melayu Purba pada saat itu berdagang dengan cara barter atau mungkin juga sudah mengenal mata uang. Bagaimanapun cara mereka berdagang, yang pasti mereka telah memiliki pranata yang memungkinkan mereka memperoleh manfaat dari hubungan-hubungan perdagangan.

Pranata itu berupa kerajaan yang berpusat di daerah-daerah aliran sungai atau tepi laut dan mengontrol bandar-bandar yang dapat disinggahi oleh kapal samudera dari luar kawasan kepulauan. Selain berfungsi mengintegrasikan penduduk kerajaan, sungai juga berfungsi sebagai perbatasan bagi kerajaan-kerajaan yang tidak membangun perbatasan buatan. Ukuran kerajaan-kerajaan ini tergantung pada besar-kecilnya jumlah penduduknya dan mungkin tidak memiliki perbatasan yang dapat dilihat dengan mata kasar, namun terdapat lingkungan pengaruh yang berpusat di kraton (Noriah Mohamed, 2000:22).

Pihak luar pertama yang menjalin hubungan dagang dengan orang Melayu Purba adalah India dan disusul oleh sejumlah kecil pedagang Arab. Mulanya, hubungan perdagangan India tidak dilakukan dengan penduduk Kepulauan Melayu, melainkan dengan Cina. Jalur yang ditempuh adalah jalur darat yang panjang, berliku-liku dan berbahaya. Jalur ini melintasi daratan Asia Tenggara dan Asia Tengah.

Orang Cina menyukai barang-barang dari Asia Barat, seperti bahan untuk membuat wangi-wangian, kaca, dan batu-batu permata dari Laut Tengah dan Jazirah Arab. Namun, jarak dari Cina ke India dan Asia Barat sangat jauh, sehingga orang Cina membeli barang-barang kesukaan mereka itu dari para pedagang India yang bersedia membelinya di Asia Barat karena jarak antara India dengan sumber komoditi lebih dekat.

Para pedagang India mungkin hanya berhenti sampai di tepian Semenanjung Melayu yang dapat mereka capai dengan menyisir pantai Asia Tenggara. Kemudian para pedagang Cina yang telah menunggu di sana membeli barang-barang yang dibawa dari India, lalu kembali melalui Semenanjung Melayu, menembus Funan, dan tiba kembali di Cina.

Rupanya para pedagang India semakin tertarik dengan Kepulauan Melayu karena kawasan persinggahan ini kemudian mampu menyediakan komoditi yang laku dijual baik di India sendiri maupun Cina, terutama kayu gaharu atau cendana dan cengkeh. Sehingga, perdagangan India pun semakin sering dilakukan dengan penduduk di Kepulauan Melayu.

Para pelaut dan pedagang India tidak merasa kesulitan untuk mencapai Semenanjung Melayu atau bagian-bagian Kepulauan Melayu yang lain di sisi barat. Setelah mempelajari pola angin, para pelaut dan pedagang India mengerti bahwa mereka dapat mengarahkan haluan mereka ke timur dan berlayar dengan angin musim yang sedang berhembus dari buritan, dan tiba di Semenanjung Melayu. Untuk perjalanan kembali, mereka tinggal menunggu angin musim yang berhembus ke arah yang berlawanan.

Dengan teknologi pelayaran yang telah dikembangkan dalam pelayaran perdagangan ke Asia Barat, para pelaut dan pedagang India tidak kesulitan untuk mengembangkan pelayaran pantai di sepanjang pesisir Asia Tenggara menjadi pelayaran samudera yang menyeberangi Samudera Hindia dan mencapai Sumatera dan Semenanjung Melayu (Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1994:9). Dalam pelayaran ini, mereka tidak hanya menggunakan perahu-perahu kecil yang menyusur pantai, tetapi juga kapal-kapal kayu yang berukuran beberapa ratus ton dan dapat memuat penumpang sampai dua ratus orang (J.C. Van Leur dalam Marwati & Nugroho, 1994:9).

Karena kayu gaharu dan beberapa komoditi khas Kepulauan Melayu yang laris biasanya dibudidayakan di kawasan timur kepulauan dan para pedagang India mungkin tidak tahu cara berlayar ke sana, maka para pedagang Kepulauan Melayu yang berlayar ke timur untuk mengambil kayu gaharu, lalu berlayar kembali ke barat dan menimbun barang bawaan mereka di pusat-pusat perdagangan dan menjualnya ketika para pedagang India tiba. Ini menunjukkan bahwa orang Melayu Purba pada saat itu adalah para pelaut yang ulung dan telah memiliki pengetahuan yang tinggi tentang pelayaran sehingga mampu mengarungi lautan yang terbentang di antara pulau-pulau Melayu.

Sementara itu, Cina juga semakin tertarik dengan Asia Tenggara. Sekitar abad pertama Masehi, Cina meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke wilayah Funan, yaitu Tongkin, Vietnam. Namun, perluasan wilayah ini tidak dimaksudkan sebagai penaklukan, tetapi menjadi bagian dari strategi perdagangannya dengan Asia Barat yang diantarai oleh India.

Kerajaan Cina rupanya tidak begitu menganggap penting wilayah di sebelah selatan sungai Yangtze yang penduduknya tidak berbudaya Cina. Dan kebudayaan Cina tidak memberikan pengaruh yang luar biasa kepada kebudayaan Melayu kecuali di daerah Tongkin dan sekitar sungai Mekong. Namun, hubungan antara Cina dan penduduk di bagian lain Kepulauan Melayu pada masa itu adalah hubungan yang sangat erat.

Kerajaan Cina sangat teliti dan rapi dalam mendokumentasikan berbagai peristiwa resmi dan kenegaraan yang dianggap penting dan dalam catatan itu tercantum bukti-bukti interaksi antara Kaisar dengan penduduk K‘un-lun. K‘un-lun adalah sebutan dalam bahasa Cina untuk menyebut semua bangsa yang berdiam di Asia Tenggara.

Marwati & Nugroho (1993) menguraikan bahwa dalam catatan-catatan itu tercantum banyak keterangan bahwa kerajaan-kerajaan K‘un-lun sering mengirimkan utusan ke Cina untuk berbagai keperluan, mulai dari meminta perlindungan hingga diplomasi dagang. Misalnya, pada tahun 430 M seorang utusan datang dari Ho-lo-tan, sebuah negeri di She-P‘o. She-p‘o adalah Jawa. Pada bulan ke-7 tahun yang sama, datang lagi seorang utusan dari Ho-lo-tan. Sang utusan menyampaikan surat yang berisi permintaan agar Kaisar Cina memberi perlindungan dari jauh kepada Ho-lo-tan yang sedang berperang dengan tetangganya. Sejak 441 M, sebuah kerajaan bernama Kan-t‘o-li, mengirim utusan ke Cina, dan disusul dengan utusan lain pada tahun-tahun selanjutnya. Dari catatan-catatan itulah dapat diketahui bahwa Kepulauan Melayu pada abad-abad pertama Masehi telah sangat maju perkembangan kebudayaannya, terutama setelah menyerap pengaruh dari India.

Pengaruh India

Kebudayaan India mempengaruhi kebudayaan Melayu sedemikian rupa sehingga kebudayaan Melayu berkembang pesat dan—yang lebih penting—mulai dapat mengekalkan bukti-bukti kegemilangannya dalam bentuk artefak-artefak sejarah dan budaya yang kaya. Tahap evolusi kebudayaan Melayu yang dipengaruhi oleh kebudayaan India ini biasa disebut sebagai Zaman Melayu Kuno.

Proses penyerapan kebudayaan India oleh orang Melayu Purba tidak mungkin disebabkan oleh penaklukan India terhadap penduduk Melayu Purba karena tidak ada monumen atau prasasti yang pernah dibuat untuk merayakan kemenangan India baik di India sendiri maupun di Kepulauan Melayu.

Orang India juga tidak mungkin melakukan kolonialisasi di Kepulauan Melayu karena dalam kolonialisasi, semua sistem dan norma kehidupan masyarakat di tanah asal dibawa serta ke tanah koloni: tidak terdapat bukti-bukti kesejarahan dari zaman ini yang murni bersifat India karena sebagian besar telah berwujud sebagai artefak yang bersifat sinkretik, di mana ciri kemelayuan berpadu dengan ciri India.

Yang pasti, orang India datang ke Kepulauan Melayu dengan niat damai untuk berdagang dan mereka tinggal di blok-blok perkampungan tersendiri di pusat-pusat perdagangan yang dikontrol oleh raja Melayu. Hingga kini jejak-jejak perkampungan itu masih lestari, dan bahkan terus berkembang, di pusat-pusat perekonomian di kawasan Melayu, yaitu sebagai Kampung Keling.

Mungkin kelas pedagang ini melakukan perkawinan campuran dengan orang Melayu Purba. Namun, perkawinan semata tentu tidak bakal memberikan pengaruh yang luas terhadap masyarakat Melayu Purba. Tetapi kemungkinan besar dari kelas pedagang inilah berita tentang Kepulauan Melayu terdengar di India dan selanjutnya memicu gelombang interaksi yang lebih intensif antara India dengan Kepulauan Melayu.

Agen penting dalam interaksi yang kian intensif ini adalah raja Melayu sendiri dan golongan cendekiawan India, dan selanjutnya cendekiawan Melayu, yaitu para pendeta Buddha dan brahmana Hindu. Harus diingat bahwa kontak awal India dengan Kepulauan Melayu bertepatan dengan pesatnya perkembangan Buddhisme di India. Para pendeta Buddha saat itu menyebar ke berbagai penjuru Asia, mulai dari Tibet hingga Cina dan tentu juga Kepulauan Melayu.

Marwati dan Nugroho (1993) menerangkan bahwa orang Melayu Purba, karena ingin menyamai taraf kebudayaan yang difasilitasi oleh Buddhisme, kemudian mengundang para pendeta Buddha, tetapi mungkin mereka juga pergi ke tanah suci Buddha dan belajar di pusat-pusat agama Buddha seperti Nagapatam, Nalanda dan lain-lain. Para utusan Melayu kemudian kembali sambil membawa kitab-kitab suci dan pengetahuan yang selanjutnya menjadi modal untuk membangun kebudayaan Melayu Kuno.

Yang menarik adalah peranan para brahmana Hindu. Mereka tidak dibebani kewajiban untuk menyebarkan agama Hindu sebagaimana para pendeta Buddha. Dan pada dasarnya seseorang tidak dapat menjadi Hindu, tetapi seseorang itu lahir sebagai Hindu (Marwati & Nugroho, 1993:25). Lagipula, pada dasarnya Hindu bukan agama untuk umum, dalam arti bahwa pendalaman agama tersebut hanya mungkin dilakukan oleh golongan brahmana. Sehingga, wewenang untuk melaksanakan upacara dan ritual Hindu hanya dikuasai oleh golongan brahmana.

Selanjutnya, Marwati dan Nugroho (1993) juga menerangkan bahwa sekte Hindu yang besar pengaruhnya di Kepulauan Melayu adalah Saiva-Siddhanta, yang memberikan wewenang hanya kepada golongan brahmana untuk melaksanakan upacara vratyastoma, yakni upacara penghinduan seseorang. Hindu dan kebudayaannya diduga masuk ke Kepulauan Melayu melalui upacara ini, yakni ketika seorang raja Melayu Purba mengundang brahmana India untuk melaksanakan upacara penghinduan, sebagaimana yang terjadi pada raja Mulawarman di kerajaan Kutai.

Para brahmana kemudian memperoleh kedudukan yang tinggi dan berpengaruh bukan hanya dalam bidang keagamaan tetapi juga dalam pemerintahan, peradilan perundang-undangan dan sebagainya. Kontak yang paling intensif antara pengusung budaya India dengan penduduk Kepulauan Melayu ini terjadi pada golongan elite masyarakat. Karena besarnya pengaruh golongan ini, maka dengan sendirinya akan tersebar pengaruh di kalangan yang lebih luas.

Pada masa kuno ini, yang berlangsung dari sekitar abad ke-5 M hingga sekitar abad ke-15 M, orang Melayu Kuno mulai mampu membangun kerajaan yang lebih tertata dan kuat, lengkap dengan tata negara dan pemerintahan, militer, dan kekuatan ekonomi yang memungkinkan mereka untuk mempengaruhi pergaulan internasional di kawasan Melayu. Kutai dan Tarumanegara, dua kerajaan pertama di Kepulauan Melayu yang mengembangkan kebudayaan yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan India, mungkin memang belum mampu menjadi kekuatan internasional yang diperhitungkan, tetapi kerajaan-kerajaan berikutnya, seperti Sriwijaya, Melayu Kuno, adalah kerajaan-kerajaan yang telah mampu menunjukkan diri kepada dunia luar dengan meninggalkan candi-candi, prasasti-prasasti, dan artefak-artefak sejarah lain yang tinggi mutunya, bahkan meluaskan kekuasaannya hingga hampir mencakup seluruh Kepulauan Melayu.

Daya gerak yang mendorong evolusi budaya Melayu Kuno, dan juga kesusastraannya, adalah perpaduan dari daya gerak ekonomi, politik, dan keagamaan. Salah satu ciri utama dari kerajaan Melayu besar yang terlibat dalam perdagangan internasional dengan India, Arab, dan Cina sejak zaman kuno hingga masuknya pengaruh Islam adalah bentuk politik konfederasi. Kerajaan Melayu yang tergolong besar tidak pernah merupakan kerajaan yang berdiri sendiri, melainkan gabungan dari negara-negara kota, yang memiliki corak susunan sosial dan perkembangannya masing-masing serta tidak terikat dalam satu kesatuan politik yang bulat (Braginsky, 1998:18), yang disatukan dengan cara damai maupun paksa.

Kepentingan ekonomi negara-negara kota Melayu tersebut adalah perdagangan internasional. Setiap negara Melayu Kuno pada dasarnya adalah entitas politik-ekonomi yang menguasai bandar-bandar yang berada di jalur lintasan perdagangan antara India dan Cina. Pendapatan kerajaan, selain berasal dari kegiatan perdagangan saudagar setempat termasuk sang raja, berasal dari bea cukai yang dibayarkan oleh kapal-kapal dagang yang singgah di bandar.

Dengan demikian, kekayaan suatu kerajaan Melayu sangat tergantung pada banyak atau sedikit kapal yang singgah. Ini tentu sangat ditentukan oleh letak bandar yang strategis, keteraturan perdagangan, keselamatan pelayaran, dan keberhasilan dalam memerangi bajak laut di perairan yang dikuasai kerajaan. Namun, ini juga berarti bahwa suatu kerajaan Melayu harus mampu menciptakan gangguan keamanan di perairan yang dikuasai kerajaan lain agar kapal-kapal dagang singgah hanya di bandar yang aman saja, yaitu bandar yang dikuasai oleh kerajaan penyerang (Braginsky, 1998:18)

Fungsi administratif dan kemiliteran yang kuat ini hanya dapat dicapai jika tercipta sentralisasi yang kokoh. Sebab, misalnya, jika kekuatan militer tersebar merata di antara kerajaan-kerajaan Melayu Kuno, maka akan timbul kerusuhan di jalur perdagangan, karena setiap kerajaan akan memaksa kapal-kapal untuk singgah di bandarnya masing-masing. Maka volume perdagangan akan mengecil dan semua kerajaan yang terlibat persaingan akan menderita kerugian besar.

Jadi, setiap kali perdagangan internasional menguntungkan dunia Melayu, selalu muncul satu negara atau kerajaan pusat yang memegang kekuasaan sentral untuk mengendalikan situasi, baik melalui jalur diplomasi damai untuk membentuk konfederasi tanpa peperangan maupun dengan jalan penaklukan. Kekuasaan pusat yang terbesar pada masa kuno adalah imperium maritim Sriwijaya pada abad ke-7 M. Namun, sentralitas kekuasaan yang dipaksakan secara militer saja tentu tidak akan mampu menjamin stabilitas. Karena itu, seorang raja Melayu yang besar harus merupakan raja yang secara ideologis diagungkan sehingga tercipta kesadaran yang mutlak tentang persatuan di sekeliling seorang raja yang diagungkan. Sehingga, kesetiaan mutlak seorang abdi atau kawula kepada raja merupakan tema yang abadi dalam kesusastraan Melayu Tradisional, sebagaimana yang terlihat dalam epigrafi Telaga Batu dari abad ke-7 M dan diteruskan oleh Hikayat Raja Pasai dan Sulalat-us-salatin (Sejarah Melayu) pada tahap evolusi kebudayaan selanjutnya.

Konsep tentang raja Melayu yang diagungkan ini adalah konsep Melayu asli, yang ternyatakan dalam berbagai bentuk menurut situasi keagamaan pada masing-masing tahap perkembangan kebudayaan. Menurut konsep dewaraja ini, raja adalah pemusatan semacam kekuatan magis, yang akan menjamin kesejahteraan dan kekebalan negeri, baik dari bencana pengacauan dalam negeri maupun serangan dari luar (Braginsky, 1998:19).

Kesusastraan Melayu pada masa pengaruh India

Mungkin bentuk sastra yang paling luas tersebar pada masa ini masih bentuk-bentuk sastra yang berbasis-lisan, seperti pantun, mantera dan cerita prosa rakyat. Namun, dengan diserapnya bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Melayu dan adopsi aksara India seperti huruf Palawa, orang Melayu Kuno tentu juga telah menghasilkan bentuk-bentuk kesusatraan tertulis.

Karena besarnya pengaruh kebudayaan India, kesusastraan tertulis Melayu Kuno pastilah merupakan perpaduan dari kesusastraan rakyat lisan dan kebudayaan India. Sayangnya, tidak ada peninggalan kesusastraan tertulis berbahasa Melayu yang tersisa dari zaman kebesaran kerajaan Kan-t‘o-li, Melayu Kuno, maupun Sriwijaya. Ini berbeda dari kesusastraan Jawa Kuno dari masa kebesaran Majapahit yang meninggalkan warisan sastra berupa manuskrip-manuskrip kuno seperti yang banyak dijumpai di Bali.

Tetapi orang Melayu Kuno tentu telah mampu menghasilkan bentuk-bentuk tulisan yang kemudian dapat dianggap sebagai karya sastra. Kemampuan orang Melayu Kuno untuk menghasilkan kesusatraan tertulis dikuatkan oleh kenyataan bahwa Sriwijaya pada masanya telah menjadi salah satu pusat bagi dunia Buddha.

Pada abad ke-7 M, musafir Cina I Ching mencatat tentang adanya seribu orang biarawan Buddha di Sriwijaya, dan menasehati musafir sebangsanya yang hendak belajar di India agar singgah dan belajar kepada para guru di Sriwijaya, sebagai persiapan untuk pelajaran lebih lanjut (Takasuku dalam Braginsky, 1998:31). Para pemimpin agama Buddha yang terkemuka juga pernah mengajar di Sriwijaya, misalnya Dharmapala dari Kanci, Syakyakitri, dan Dharmakitri, sementara pusat-pusat agama Buddha di Semenanjung Melayu, yakni di Ligor dan Kedah, masih dikontrol oleh Sriwijaya (Braginsky, 1998:31).

Pusat agama Buddha sebesar Sriwijaya tentu tidak hanya menghasilkan epigrafi saja, tetapi juga tradisi tulisan yang di antaranya berfungsi sebagai penopang tradisi keagamaan. Pusat tradisi sastra tertulis Melayu Kuno adalah tradisi kanon keagamaan, yaitu sebuah korpus kitab-kitab suci autentik yang merupakan pegangan. Korpus kitab inilah yang menentukan “gambaran dunia”, Weltanschauung, yang khas dari kebudayaan tertentu, termasuk konsep manusia, teleologi kegiatan manusia, kaidah-kaidah etika dan estetika, dan sebagainya (Braginsky, 1998:33).

Karya-karya tulis selain kanon keagamaan adalah tafsir-tafsir dan teks-teks yang berdampingan dengan kanon. Ke dalam golongan ini dapat dimasukkan karangan-karangan keagamaan, historiografi, puji-pujian bagi dewa dan raja, akta-akta resmi dan sebagainya. Walaupun tidak melaksanakan fungsi estetik, namun teks-teks pendamping ini mengandung anasir-anasir estetik yang sangat mencolok. Bentuk-bentuk sastra lainnya barangkali berupa cerita rekaan dan puisi liris (Braginsky, 1998:34).

Salah satu ciri penting sastra Melayu Kuno adalah dwibahasa, di mana pusat teks digubah dalam bahasa sakral supraetnis, yaitu bahasa Sanskerta, sementara bagian-bagian teks yang lain digubah dalam bahasa Melayu Kuno (Braginsky, 1998:34). Karya berbahasa sakral supraetnis (Sanskerta) adalah khasanah bersama yang mendukung tradisi keagamaan dan sistem sastra secara keseluruhan. Sehingga, akses terbesar terhadap tradisi tulis Sriwijaya tentu dimiliki kelas cendekiawan yang tergolong sebagai kelas elit dalam susunan kemasyarakatan.

Sifat komprehensif bahasa sakral ini juga yang rupanya menyebabkan sastra tertulis Melayu Kuno lenyap dengan cepat ketika pengaruh Islam masuk ke Kepulauan Melayu. Namun, anasir-anasir sastrawi dari zaman ini berhasil melestarikan diri dalam karya-karya sastra pada abad-abad berikutnya, bahkan pada karya sastra yang sangat Islam-sentris, seperti yang dapat dijumpai dalam Hikayat Seri Rama, Hikayat Langlang Buana, dan lain-lain.

Kesusastraan lisan Melayu Kuno mungkin masih diamalkan oleh orang-orang awam dan dilaksanakan seperti pada abad-abad sebelumnya dengan beberapa penyesuaian menurut tren keagamaan yang sedang berlaku. Mungkin orang Melayu kebanyakan masih mengucapkan mantra sebelum membuka ladang di hutan, namun dengan mengganti nama roh yang ditakutinya dengan nama yang diambil dari khasanah religius Hindu atau Buddha.

Mungkin mereka juga berkumpul di sekitar seorang pencerita desa yang menceritakan tentang peperangan dari Mahabharata atau Ramayana, yang telah diubah di sana-sini karena si pencerita mendengar versi yang lebih baru setelah mendengarnya di sekitar istana raja.

Di pusat kerajaan sendiri, seorang pencerita mungkin sedang mengisahkan tentang Seri Rama dan Hanuman di balairung yang dipenuhi olah raja dan keluarganya, mungkin disertai dengan musik dan tari-tarian juga. Sedangkan di biara-biara Buddha yang sunyi, para bhiksu menyalin kitab-kitab suci untuk dibaca oleh para pelajar agama dan membaca kitab-kitab itu secara bersama-sama pada saat upacara keagamaan. Tetapi karya-karya sastra yang tertulis dari zaman, yang jumlahnya tentu sangat banyak dan kualitasnya tinggi, karena sebab-sebab yang tak diketahui, menghilang dan tak dapat dijumpai lagi oleh generasi Melayu selanjutnya.

____________

Referensi

Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Cetakan ke-8. Jakarta: Balai Pustaka.

Noriah Mohamed, 2000. Sejarah sosiolinguistik bahasa Melayu Lama. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia.

V.I. Braginsky, 1998. Yang indah, berfaedah, dan kamal sejarah sastra Melayu dalam abad 7-19. Diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Hersri Setiawan. Jakarta: INIS.

(An. Ismanto/10/08-09)

Dibaca : 15.984 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password