Pengobatan Tradisional Penyakit Dalam Orang Melayu Banjar, Kalimantan Selatan (Bagian I)
Pengobatan tradisional orang Melayu Banjar untuk penyakit dalam pada umumnya menggunakan ramuan berbahan daun, biji, dan akar pohon yang mudah ditemukan di lingkungan dan hutan di Kalimantan Selatan.
1.Pendahuluan
Suku Banjar terdiri dari 3 sub-etnis yang berbeda, yaitu Pahuluan, Batang Banyu, dan Kuala. Suku ini adalah suku terbesar di Kalimantan Selatan yang biasa disebut sebagai orang Banua(Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, 2010). Orang Banua punya beragam pengetahuan, salah satunya tentang pengobatan tradisional, khususnya untuk penyakit luar, yang masih dilestarikan hingga kini (Yustan Azidin dkk., 1990).
Pengobatan tradisional orang Banjar untuk penyakit dalam berupa ramuan-ramuan alam yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Adapun yang termasuk penyakit dalam antara lain: ayan, encok, sakit kuning, malaria, dan lain sebagainya. Penyakit luar banyak jenisnya dan disebabkan oleh banyak hal. Ada juga penyakit yang dipercaya disebabkan oleh gangguan makhluk halus (Azidin dkk., 1990).
Ramuan-ramuan tersebut terdiri dari akar-akaran, biji-bijian, dan daun-daunan yang ditambah dengan doa-doa yang telah diajarkan oleh leluhur Banjar ratusan tahun silam. Kenyataan ini membuktikan kedekatan mereka terhadap alam. Pemberian alam dimanfaatkan sebagai obat dan menghasilkan pengetahuan tentang obat. Ini semakin membuktikan kebesaran kebudayaan Melayu secara umum (Sam'ani, dkk., 2005; Alfani Daud, 1997).
2.Penyakit dan Pengobatan Tradisional Banjar
Kategorisasi penyakit dalam dan pengobatannya menurut orang Banjar adalah sebagai berikut:
No
Nama Penyakit
Jenis atau Ragam Penyakit
Pengobatan
1
Ayan atau gila babi
Ayan
Bungkah (umbi) dan bawang putih dipirik hingga halus lalu bentuk bulat-bualt seperti pil tablet. Tablet diminum sekali sehari selama seminggu.
2
Encok (katur-katur)
Linu sendi
Daun belimbing wuluh (tunjuk) muda ditumbuk dengan sahang sampai halus dan teteskan cuka. Setelah menjadi param kocok, gosokkan pada persendian yang linu.
3
Sakit kuning
Sakit kuning (kena wisa)
Minum inggu (getah tumbuhan) sebesar telur cecak dengan air panas
Bakar kunyit secukupnya, parut, campur dengan air putih, dan embunkan semalam, lalu minum pada sore hari
Bakar batu yang besar, lalu penderita diminta mengencingi batu tersebut saat pagi hari
Masukkan irisan kuku, cabi, pandan, lengkusa, dan tilasan ke dalam air, selimuti penderita dengan kain tebal, lalu mandikan
Iris buah pinang kecil-kecil, jemur, goreng hingga kehitam-hitaman, dan tumbuk hingga halus, seduh dengan air panas, lalu diminumkan.
4
Malaria
Malaria
Rebus batang brotowali dengan 4 gelas air, lalu minum setiap pagi dan malam hari
Makan empedu ayam bersama pisang selama 3 hari berturut-turut
Rendam buah nangka belanda (sirsak) dengan air bersih, lalu minum airnya sebanyak seperempat tiga kali sehari
Rebus pucuk daun pepaya, lalu makan sebagai lalapan.
5
Reumatik (katur tulang)
Reumatik
Parut lengkuas hingga halus, campur dengan santan kelapa, tumbuk sahang hingga halus, rebus semuanya, beri sedikit garam, lalu minum 3 kali sehari
Remas daun ubi kayu hingga hancur, campur dengan kapur sirih, lalu gosokkan pada bagian yang sakit
Bersihkan akar hahambin buah, campur dengan asam kamal, remas-remas hingga hancur, campurkan air, lalu minumkan pada penderita
Tumbuk daun sembung, kencur, pupur biji hingga halus, campurkan air, setelah jadi salep, lalu gosokkan pada urat yang linu.
Pingsan (siup)
Pingsan
Minumkan kopi pahit dan telur ayam mentah, lalu seka tubuh penderita dengan air kerak nasi.
7
Salah urat (tasilahu atau tapalicuk)
Bengkak kebiru-biruan
Tumbuk buah pala dan kunyit hingga halus, beri sedikit air hingga berbentuk salep, lalu balurkan pada tubuh yang bengkak.
8
Patah tulang
Patah tulang
Tumbuk daun laka hingga halus, campur dengan kapur sirih, lalu gosokkan pada tulang yang patah.
9
Sakit kepala
Sakit kepala yang disertai panas dingin
Remas daun rajababangun, campur dengan kulit bawang merah dan air, lalu usapkan pada sela-sela rambut di kepala
Tumbuk daun puri, bawang putih, sahang hingga halus, campur dengan cuka sebanyak 1 sendok makan, lalu oleskan pada kening beberapa kali
Campur daun gali-gali dengan nasi, lalu dimakan
Ambil 7 pucuk daun jaruju, masukkan dalam wadah berisi air bersih, remas, lalu sapukan pada kepala
Kupas buah asam tandui, iris-iris dagingnya hingga halus, campur dengan kapur sirih, beri air secukupnya, kocok sampai rata, lalu sapukan pada syaraf kepala.
10
Demam
Panas dingin (mariap dingin)
Rebus daun lambai-lambai, masukkan pisau atau batu sebagai syarat, lalu mandikan si sakit dengan air tersebut
Bersihkan akar bilaran, rendam selama 3 jam, lalu minumkan pada si sakit
Remas daun paku rait, campur dengan garam, lalu balurkan pada seluruh badan si sakit saat matahari terbenam
Dudukkan si sakit pada punggur (akar pohon) kelapa yang belum berbuah, lalu guyur dengan air
Remas daun asam kama, campur dengan kapur sirih, bentuk seperti pil, lalu minum 3 kali sehari
Rebus daun penawar sampai, lalu minum airnya.
11
Muntah-muntah
Disertai perut mual dan kepala pusing
Minumkan air hangat, parut bawang merah yang dicampur minyak kelapa, lalu balurkan pada tulang belikat, persendian, dan pergelangan kaki.
12
Muntah darah (muak darah)
Disertai batuk berat secara tiba-tiba
Bersihkan akar lalai gajah dan balah pinggan, rendam dengan air bersih, lalu minum airnya dan knyah akarnya
Rendam akar pohon sinagur yang belum berbuah, minum airnya 3 kali sehari seperempat gelas.
13
Mabuk (mauk)
Disertai mules dan pusing
Tumbuk akar pohon sukun secukupnya, rebus, lalu minum air 1 kali sehari.
14
Sakit mata (sakit mataan)
Disertai kotoron mata dan bengkak
Remas bunga melati hingga lunak, lalu tempelkan pada kening tiap hari dengan remasan yang baru
Teteskan mata dengan air yang ada pada tumbuhan bamban (tumbuhan liar di rawa)
Tumbuk daun sirih hingga lumat, peras airnya, lalu teteskan pada mata yang sakit
Teteskan air kencing pada mata yang sakit.
15
Hidung berdarah (rastung)
Mimisan
Bersihkan akar pohon mengkudu, rebus, lalu minum airnya setiap pagi dan malam hari (akar hendaknya diambil hari jumat setelah waktu dzuhur)
Gulung daun sirih lalu masukkan ke lubang hidung sambil kepala disiram dengan air dingin.
16
Sakit gigi
Gigi berlubang, bengkak atau lubang berisi nanah
Aduk biji pupur, garam secukupnya, dan air hingga kental, lalu balurkan pada bagian kulit tepat di gigi yang sakit
Tumbuk daun pulut-pulut bayi dan bawang putih, lalu oleskan pada bagian luar kulit tepat di gigi yang sakit
Potong kayu ulin sepanjang jari, ambil serai sebatang, sesendok garam, rebus semua dalam panci, lalu kumur-kumur dengan airnya selagi hangat sampai habis
Rebus daun benalu, garam dan sepotong kayu ulin, lalu pakailah airnya untuk berkumur
Bakar tempurung kelapa hingga keluar buih, lalu oleskan buih tersebut pada bagian kulit tepat di gigi yang sakit
Makan belimbing wuluh 5 biji dicampur dengan garam ketika sakit baru mulai
Iris pepaya muda hingga keluar getahnya, ambil dengan kapas getah tersebut, lalu sumpalkan pada gigi yang sakit
Gulung kapas sebesar lubang gigi, celupkan pada minyak kelapa, bakar kapas tersebut namun jangan sampai habis, lalu sumpalkan pada lubang gigi
Tumbuk daun sirih, kapur, sebiji cengkeh dan gambir, lalu kunyah seperti makan sirih
Tumbuk janar dan garam, lalu masukkan ke lubang gigi.
17
Penyakit telinga
Congek
Tumbuk bubuk bumbu lalu usapkan ke dalam telinga menggunakan kapas.
18
Sariawan (malatup)
Disertai bibir pecah-pecah
Bakar daging kelapa lalu dikunyah
Rendam buah selasih dan penawar semangkok lalu minum airnya.
19
Batuk (batukan)
Disertai selesma
Rebus air perasan limau dan madu hingga mendidih lalu minum setiap pagi dan malam hari hingga batuknya hilang
Jemur kembang belimbing sampai kering, campur dengan gula batu, rebus keduanya, lalu minum airnya 3 kali sehari sampai batuknya hilang.
20
Asma (manggah)
Sesak napas
Bersihkan dan rebus akar pohon bangkinang, lalu minum airnya
Bersihkan dan rebus akar kayu sumpit selama sehari, lalu minum airnya. Masak daging trenggiling, lalu dimakan.
21
Sakit perut
Kembung
Tumbuk pucuk daun mali-mali, kulit dalam bawang merah, dan kapur sirih hingga halus dan berbentuk seperti salep, lalu gosokkan pada perut yang sakit
Tumbuk daun tampurisi dan kapur sirih hingga halus, lalu telan dalam bentuk tablet atau gosokkan ke perut
Giling daun jalukap dan kapur sirih hingga mengeluarkan air, lalu oleskan pada perut
Giling pucuk daun nangka Belanda, campur dengan kapur sirih, lalu balurkan pada perut
Giling buah belimbing tunjuk yang masak, campur sedikit kapur sirih, lalu balurkan ke perut
Makan bauh buti
Ambil tembakau, beri sedikti air, lalu tempelkan pada perut yang sakit. Atau giling pucuk daun ilalang, pucuk daun nangka Belanda, dan kapur sirih hingga mengeluarkan buih, lalu oleskan buih tersebut pada perut yang sakit.
3.Nilai-nilai
Pengetahuan orang Banjar tentang beragam pengobatan tradisional terhadap penyakit dalam mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan, antara lain:
Melestarikan tradisi. Nilai ini tercermin dari kepercayaan orang Banjar terhadap pengetahuan ini, apalagi klasifikasi penyakit dan ramuan ini hingga sekarang masih dipraktekkan oleh masyarakat Banjar.
Penghargaan terhadap alam/ramah lingkungan. Nilai ini tercermin dari bahan-bahan ramuan yang diambil dari alam, yakni hasil kebun atau hutan.
Menghargai kesehatan. Pengetahuan ini juga sebagai bukti bahwa leluhur Banjar sangat menghargai kesehatan. Klasifikasi penyakit dan ramuannya memperlihatkan bahwa segala penyakit dalam dapat disembuhkan dengan obat yang sederhana.
Nilai ekonomis. Nilai ini tercermin dari asal ramuan yang semuanya tidak perlu dibeli. Dengan demikian, sehat dalam pengetahuan orang Banjar tidak harus membeli obat yang mahal.
4.Penutup
Pengobatan tradisional Melayu Banjar menjadi bukti bahwa kebudayaan Melayu memiliki pengetahuan yang luas dalam hal pengobatan tradisional. Kekayaan pengetahuan ini hingga kini telah dikembangkan oleh orang modern menjadi pengobatan modern yang berbasis ramuan tradisional. Dengan demikian, pengetahuan ini penting untuk terus dilestarikan agar tidak punah.
(Yusuf Efendi/Bdy/98/10-2011)
Referensi
Alfani Daud, 1997. Islam dan masyarakat Banjar; Deskripsi dan analisa kebudayaan Banjar. Jakarta: Rajawali Press.
Sam'ani dkk., 2005. Urang Banjar dan kebudayaannya. Kalimantan Selatan: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, 2010. Menahapi kebudayaan Banjar, “Gasan Sasangga Banua”, dalam Kongres Kebudayaan Banjar II, Tanggal 4-7 April 2010. Kalimantan Selatan: Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Yustan Azidin dkk., 1990. Pengobatan tradisional daerah Kalimantan Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional.