Jumat, 21 Juli 2017   |   Sabtu, 26 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 4.702
Hari ini : 41.681
Kemarin : 75.246
Minggu kemarin : 692.982
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.874.388
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Ahmad Syafi’i Ma’arif

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Ahmad Syafii Maarif akrab dipanggil Syafii Maarif, dilahirkan di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, Indonesia, pada tanggal 31 Mei 1935 dari pasangan bapak Marifah Rauf (1900-1955) dan ibu Fathiyah (1905-1937). Ia adalah anak bungsu dari empat orang bersaudara. Ayahnya adalah orang terpandang di Sumpur Kudus yaitu sebagai kepala suku Melayu dengan gelar Datuk Rajo Melayu dan merangkap sebagai kepala Nagari yang dijabatnya hingga 1946. Semasa kecil, ia hidup dalam lingkungan keluarga Islam yang tekun beribadah. Ia juga memiliki beberapa kegemaran, seperti: olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, menonton sepak bola dan menembak burung.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh Syafii Maarif dimulai di tingkat dasar yaitu Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ibtidaiyah Sumpur Kudus (tamat 1947), kemudian masuk ke tingkat menengah pertama Madrasah Muallimin di Balai Tangah, Lintau, Sumatera Barat (1950-1953). Setelah itu, ia pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah (tamat 1956). Setelah itu, ia meneruskan pendidikan ke Universitas Cokroaminoto, Solo, dan meraih gelar sarjana muda pada jurusan Sejarah Budaya (1964). Gelar sarjana Sejarah ia peroleh di IKIP Yogyakarta (1968). Untuk menekuni ilmu sejarah, ia kemudian mengikuti program master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, Amerika Serikat dan berhasil mengantongi ijazah Master (1980), dengan judul tesis: Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (1959-1965). Atas jasa Amien Rais yang telah memperkenalkan dan memintakan rekomendasi kepada Fazlur Rahman, Syafii Maarif diterima di Universitas Chicago, dan berhasil meraih gelar doktor pada program studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, dengan disertasi: Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia. Selama kuliah di Chicago, Syafii Maarif secara intensif juga aktif melakukan pengkajian al-Qur‘an, dibimbing langsung oleh seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam yaitu Fazlur Rahman. Di sana pula, ia sering terlibat diskusi dengan beberapa tokoh Indonesia seperti Nurcholish Madjid (Alm.) dan Amien Rais yang juga sedang mengikuti program doktornya.

Aktivitas yang pernah dilakoni Syafii Maarif sebagian besar bergelut di dunia akademik, antara lain: mengajar di PGA Muhammadiyah di Lombok Timur selama satu tahun (1956-1957), menjadi asisten dosen untuk mengajar Sejarah Indonesia Kuno di FKIS IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) dan asisten Sejarah Islam di UII Yogyakarta (1967), Guru Besar Filsafat Sejarah di IKIP Yogyakarta (1997), dan Dosen Pascasarjana IAIN Yogyakarta. Ia juga pernah tercatat sebagai dosen tamu untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib dan Islam dan Perubahan Sosial di Asia Tenggara di Universitas Kebangsaan Malaysia (1990-1992), dan pernah menjadi anggota Kelompok Pemikir Masalah Agama Departemen Agama (1984). Selain itu, ia juga pernah aktif dalam berbagai organisasi seperti: Anggota Muhammadiyah (1955), Anggota HMI (1957-1968), Pengurus HMI Surakarta (1963-1964), Pejabat Sementara Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah selama tujuh tahun (1998-2005).

Di sela-sela kesibukannya, ia tetap aktif menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar, baik dalam maupun luar negeri. Sampai akhir tahun 2005, ia telah mengunjungi sejumlah negara untuk menjadi pemakalah, tenaga pengajar, ataupun sebagai tamu undangan, di antaranya: Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Thailand, Pakistan, India, Iran, Iraq, Jordan, Malata, Libia, Inggris, Belanda, Australia, Saudi Arabia. Tulisan-tulisannya, sebagian besar menyangkut persoalan-persoalan pemikiran keislaman dan telah dipublikasikan di sejumlah media cetak seperti: majalah Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Genta dan SKH Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Selain itu, ia juga pernah menjadi korektor dan redaktur majalah Suara Muhammadiyah dan sekaligus dipercayakan mengurus iklan majalah hingga 1972 di bawah pimpinan alm. H.A.Basuni.

Kini, dalam usia senjanya, Syafii Maarif tidak lagi memiliki kedudukan atau jabatan formal, baik sebagai Ketua PP Muhammadiyah maupun sebagai PNS (dosen). Namun, sebagai sosok intelektual muslim yang memiliki komitmen kebangsaan, kritis, tegas, dan bersahaja, undangan sebagai pembicara dari berbagai kalangan dan  beragam latar belakang masih terus mengalir. Saat ini, ia bersama istrinya Ny. Hj. Nurkhalifah dan anak semata wayangnya, Mohammad Hafiz, tetap menikmati hari-harinya. Ia berharap di sisa akhir hidupnya, mampu menghasilkan karya besar tentang Islam dan kemanusiaan, dan akan menjadi sumbangan besar bagi peradaban manusia.      

2. Pemikiran

Pola pemikiran Syafii Maarif banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Fazlur Rahman setelah mengalami “pencucian otak” melalui kuliah dan berbagai diskusi bersama Fazlur Rahman di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Aspek pemikiran Syafii Maarif yang perlu diketengahkan dalam portal ini, adalah: pemikirannya tentang Islam, hubungan Islam dan negara, toleransi inter dan antar agama, posisi perempuan dalam politik, dan perkawinan monogami dan poligami.

a. Pandangan Syafii Maarif tentang Islam

Islam bagi Syafii Maarif adalah sumber moral dan utama. Alquran adalah Kitab Suci untuk memandang dunia secara jelas dan sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal.

b. Hubungan Islam dan Negara (Indonesia)

Ketika pertama kali mengikuti kuliah Fazlur Rahman di Chicago, Syafii Maarif pernah berkata: “Professor Rahman, please give me one fourth of your knowledge of Islam, I will convert Indonesia into an Islamic state”. Namun, setelah mengikuti kuliah selama beberapa bulan, kalimat itu tidak pernah lagi diucapkan karena sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. Yang terpenting adalah moral Islam harus dijadikan sebagai dasar perilaku bagi masyarakat, jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Adapun perangkat hukum-hukum Islam, dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. Ia mengacu pada istilah Hatta yang berbunyi “janganlah gunakan filsafat gincu, tampak tetapi tak terasa; pakailah filsafat garam, tak tampak tapi terasa,”. Artinya, negara Indonesia adalah sebuah negara yang berasaskan pancasila (bukan Islam), akan tetapi nilai-nilai moral Islam harus selalu diketengahkan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat; meskipun “negara Islam” tidak tampak, tapi moral Islam tetap dijalankan.

c. Toleransi inter dan antar agama

Syafii Maarif mengakui bahwa ia mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama apapun, bahkan dengan seorang atheis dengan syarat masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi di atas prinsip: ”Bersaudara dalam perbedaan, dan berbeda dalam persaudaraan”. Pemahamannya ini didasarkan pada Alquran dalam surah al-Baqarah: 256 dan surat Yunus: 99. Baginya planet bumi ini bukan hanya untuk satu pemeluk agama saja, tetapi untuk semua. Semuanya punya hak yang sama untuk hidup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas keadilan dan toleransi.

d. Posisi perempuan dalam politik

Pendangan Syafii Maarif tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berdasarkan pada Alquran surat al-Hujurat: 3 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung, yaitu berisi tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa, laki-laki maupun perempuan. Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin oleh ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah, asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Posisi pemimpin, laki-laki maupun perempuan, akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Menurutnya, pemimpin perempuan yang ideal harus memenuhi syarat yaitu: memiliki kemampuan prima, bermoral, dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun, pada saat ia sudah banyak waktu untuk berkiprah di bidang politik. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suami, sekiranya ia masih bersuami.

e. Sistem perkawinan monogami atau poligami

Syafii Maarif berkeyakinan bahwa sistem perkawinan yang benar menurut Alquran adalah monogami. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. Secara tersirat, dalam Alquran surat Annisa: 3 terkesan selintas dibolehkan beristri lebih dari satu. Tetapi, kesan itu akan berguguran jika dihubungkan dengan ayat 129 pada surat yang sama. Kalau ayat 3 mensyaratkan berlaku adil terhadap istri-istri, namun ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin, sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. Dengan memadukan kedua ayat ini, maka ia menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami, poligami hanya pada kasus-kasus yang sangat darurat.

3. Karya-karya

Sebagai sosok intelektual Islam, Syafii Maarif telah melahirkan beberapa karya berupa buku yang telah dipublikasikan, yaitu:

  1. Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, diterbitkan oleh Yayasan FKIS-IKIP Yogyakarta (tahun 1975).
  2. Dinamika Islam, diterbitkan oleh Shalahuddin Press (tahun 1984).
  3. Islam, Mengapa Tidak?, diterbitkan oleh Shalahuddin Press (tahun 1984).
  4. Percik-Percik Pemikiran Iqbal (bersama M. Diponegoro), diterbitkan oleh Shalahuddin Press (tahun 1984).
  5. Islam dan Masalah Kenegaraan, diterbitkan oleh LP3ES (tahun 1985).
  6. Titik-Titik Kisar di Perjalananku: Otobiografi Ahmad Syafii Maarif, diterbitkan oleh Ombak di Yogyakarta (tahun 2006). 
  7. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin(1959-1965),/ Jakarta: Gema Insani Press (1996).

4. Penghargaan

(dalam proses pengumpulan data)

Kredit foto: www.tokohindonesia.com
Dibaca : 17.117 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password