Selasa, 12 Desember 2017   |   Arbia', 23 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 2.819
Hari ini : 19.297
Kemarin : 37.335
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.950.875
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Abdul Malik Karim Amrullah, H (HAMKA)

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Haji Abdul Malik Karim Amrullah akrab dipanggil Hamka, dilahirkan pada tanggal 17 Februari 1908 M di desa Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indoensia. Disamping sebagai ulama dan aktifis politik, ia juga seorang sastrawan Indonesia. Ayahnya bernama Syeikh Abdul Karim bin Amrullah, dikenal dengan Haji Rasul, pelopor gerakan islah atau tajdid (pembaharuan) di Minangkabau yang dikembangkannya setelah pulang dari Mekkah tahun 1906 M. Dalam kehidupan sehari-hari, Hamka juga akrab dipanggil Buya. Kata buya berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, artinya ayahku. Panggilan Buya di kalangan masyarakat Minangkabau menunjuk pada seseorang yang dihormati.

Hamka memulai riwayat pendidikannya di Sekolah Dasar Maninjau, meskipun hanya sampai kelas dua. Pada usia 10 tahun, ia mulai tekun mempelajari agama dan bahasa Arab di Sumatera Thawalib, sebuah perguruan yang didirikan ayahnya di Padangpanjang. Ia juga pernah mengikuti pelajaran agama di surau dan masjid yang diberikan oleh beberapa ulama terkenal, seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Ilmu yang diperoleh Hamka tidak hanya melalui proses belajar dari para ulama, tetapi ia juga belajar secara autodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, baik kajian keislaman maupun Barat, seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik. Berbekal bahasa Arab yang fasih, ia dapat mengkaji beberapa karya ulama dan pujangga besar dari Timur Tengah, di antaranya karya Zaki Mubarak, George Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui media bahasa Arab pula, ia meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman, seperti Albert Camus, William James, Sigmun Freud, Arnold J. Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga tekun membaca dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh terkenal di Jakarta, seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ahmad Rasyid Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo.

Hamka memulai karirnya sebagai guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi Medan tahun 1927 dan guru agama di Padangpanjang tahun 1929. Tahun 1951, diangkat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. Kemudian tahun 1957, ia dilantik sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan di Universitas Muhammadiyah Padangpanjang tahun 1958. Selain itu, ia juga pernah diangkat sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta.

Selain di dunia akademik, Hamka juga aktif dalam organisasi Islam, misalnya menjadi salah seorang pelopor pendiri organisasi Muhammadiyah di Padangpanjang, sebagai reaksi terhadap khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat (1925); menjabat Ketua Cabang Muhammadiyah Padangpanjang (1928); mendirikan Pusat Latihan Pendakwah Muhammadiyah (1929); menjadi Konsul Muhammadiyah di Makassar (1931); Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat (1946); sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1953); sebagai Menteri Agama Indonesia (1977), dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia hingga tahun 1981.

Di kancah politik, Hamka mulai aktif pada tahun 1925 dengan menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, ia menentang kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di Medan. Pada tahun 1947, ia diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia. Ia juga pernah menjadi anggota Konstituante dari Masyumi dan sebagai juru kampanye dalam Pemilihan Umum 1955. Sekitar tahun 1966, ia diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia, dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pendidik dan aktifis organisasi, Hamka juga memiliki pekerjaan lain, yaitu sebagai wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, ia menjadi wartawan pada beberapa surat kabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, ia bekerja sebagai editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar, sekaligus sebagai editor. Ia juga pernah menjadi editor dalam beberapa majalah, di antaranya Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. Selain itu, ia juga pernah memimpin beberapa majalah, di antaranya Pedoman Masyarakat (1936-1942), Panji Masyarakat (1956), dan Mimbar Agama, terbitan Departemen Agama (1950-1953).

Sebagai seorang penulis, Hamka telah menghasilkan karya ilmiah keislaman dan karya-karya lain seperti novel dan cerpen. Karya terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Sementara, karya novelnya yang pernah mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka‘bah dan Merantau ke Deli.

Hamka meninggal dunia pada tanggal 24 Juli 1981 di Jakarta dalam usia 73 tahun.

2. Pemikiran

(dalam proses pengumpulan data)

3. Karya-karya

Sebagai ulama dan sastrawan, Hamka telah melahirkan banyak karya ilmiah, novel dan cerpen, yaitu:

  1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3 (ditulis dalam huruf Arab).
  2. Si Sabariah, (1928)
  3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq, tahun 1929).
  4. Adat Minangkabau Dan Agama Islam, (1929).
  5. Ringkasan Tarikh Ummat Islam, (1929).
  6. Kepentingan Melakukan Tabligh, (1929).
  7. Hikmat Isra dan Mikraj.
  8. Arkanul Islam, di Makassar (1932).
  9. Laila Majnun. Jakarta: Balai Pustaka (1932).
  10. Majallah Tentera (4 nomor), Makassar (1932).
  11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor), Makassar (1932).
  12. Mati Mengandung Malu, (Salinan Al-Manfaluthi) (1934).
  13. Di Bawah Lindungan Ka‘bah.  Jakarta: Pendoman Masyarkat, Balai Pustaka (1936).
  14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka (1937).
  15. Di Dalam Lembah Kehidupan.  Jakarta: Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka (1939).
  16. Merantau ke Deli, (1940).
  17. Margaretta Gauthier, (terjemahan, tahun 1940).
  18. Tuan Direktur, (1939).
  19. Dijemput Mamaknya, (1939).
  20. Keadilan Ilahy, (1939).
  21. Tashawwuf Modern, (1939).
  22. Falsafah Hidup, (1939).
  23. Lembaga Hidup, (1940).
  24. Lembaga Budi, (1940).
  25. Majallah Semangat Islam, (zaman Jepang, 1943).
  26. Majallah Menara, Padangpanjang (1946).
  27. Negara Islam, (1946).
  28. Islam dan Demokrasi, (1946).
  29. Revolusi Pikiran, (1946).
  30. Revolusi Agama, (1946).
  31. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, (1946).
  32. Dibantingkan Ombak Masyarakat, (1946).
  33. Di dalam Lembah Cita-cita, (1946).
  34. Sesudah Naskah Renville, (1947).
  35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, (1947).
  36. Menunggu Beduk Berbunyi, Bukittinggi (1949).
  37. Ayahku, Jakarta (1950).
  38. Mandi Cahaya di Tanah Suci, (1950).
  39. Mengembara Di lembah Nil, (1950).
  40. Di tepi Sungai Dajlah (1950).
  41. Kenangan-kenangan Hidup 1, (Autobiografi, sejak lahir 1908 hingga tahun 1950).
  42. Kenangan-kenangan Hidup 2.
  43. Kenangan-kenangan Hidup 3.
  44. Kenangan-kenangan Hidup 4.
  45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1, (ditulis tahun 1938).
  46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
  47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
  48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
  49. Pedoman Mubaligh Islam, cetakan 1 (1937). 
  50.  Pribadi (1950).
  51. Agama dan Perempuan (1939).
  52. Muhammadiyah Melalui 3 Zaman, Padangpanjang (1946).
  53. 1001 Soal Hidup, (kumpulan karangan dalam Pedoman Masyarakat, dibukukan tahun 1950).
  54. Pelajaran Agama Islam (1956).
  55. Perkembangan Tashawwuf dari Abad ke Abad,  (1952).
  56. Empat Bulan di Amerika, Jilid 1 (1953).
  57. Empat Bulan di Amerika, Jilid 2.
  58. Pengaruh Ajaran Muhammad Abduh di Indonesia, (Pidato untuk Doktor Honoris Causa di Kairo tahun 1958).
  59. Soal Jawab 1960, (disalin dari karangan-karangan majalah Gema Islam).
  60. Dari Perbendaharaan Lama. Jakarta: Pustaka Panjimas (1963).
  61. Lembaga Hikmat. Jakarta: Bulan Bintang (1953).
  62. Islam dan Kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang (1972).
  63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, (1970).
  64. Sayid Jamaluddin al-Afghany,  Jakarta: Bulan Bintang (1965).
  65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), Jakarta: Bulan Bintang (1963).
  66. Hak Asasi Manusia Dipandang Dari Segi Islam, (1968).
  67. Falsafah Ideologi Islam,  (1963).
  68. Keadilan Sosial Dalam Islam, (1950).
  69. Cita-cita Kenegaraan Dalam Ajaran Islam (kuliah umum di Universitas Kristen tahun 1970).
  70. Studi Islam, Jakarta: Panji Masyarakat (1973).
  71. Himpunan Khutbah-khutbah.
  72. Urat Tunggang Pancasila.
  73. Doa-Doa Rasulullah S.A.W,  (1974).
  74. Sejarah Islam di Sumatera.
  75. Bohong di Dunia.
  76. Muhammadiyah di Minangkabau, (disampaikan dalam Kongres Muhammadiyah di Padang tahun 1975).
  77. Pandangan Hidup Muslim, (1960).
  78. Kedudukan Perempuan Dalam Islam, (1973).
  79. Tafsir al-Azhar, Juz 1-30 (1966).

4. Penghargaan

Atas jasa dan karya-karyanya, Hamka telah menerima anugerah penghargaan, yaitu:

  1. Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo (tahun 1958).
  2. Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (tahun 1958).

Sumber : id.wikipedia.org

Dibaca : 19.518 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password