Kamis, 19 Oktober 2017   |   Jum'ah, 28 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 1.653
Hari ini : 9.236
Kemarin : 36.877
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.487.695
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Dewi Dja (Soetidjah)

Dewi Dja adalah aktris utama dari kelompok opera Melayu bernama Dardanella yang begitu mashyur di tahun 1930-1940-an. Lahir di Sentul, Yogyakarta pada 1 Agustus 1914, Dewi Dja dan Dardanella berjasa besar dalam mengenalkan kebudayaan Melayu dan Indonesia bahkan sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah negara.


Dewi Dja menarikan tari kreasinya sendiri

Repro foto di buku Gelombang Hidupku:
Dewi Dja dari Dardanella: Ramdhan K.H., halaman 172

1. Riwayat Hidup

“Air mataku menetes lagi. Entah mengapa. Barangkali karena cintaku sedemikian besar kepada sesuatu yang jauh daripadaku. Aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa! Seluruh hatiku tercurah baginya. Indonesiaku, engkau jauh di mata, tetapi senantiasa dekat di hatiku, bahkan menggelepar hidup di dalam jantungku.” (Ramadhan K.H., 1982:317)

Penggalan dia atas adalah kata-kata otentik yang keluar dari mulut Dewi Dja. Perempuan kelahiran Sentul, Yogyakarta 1 Agustus 1914 ini adalah perempuan Indonesia asli yang teramat sukar untuk ditemukan padanannya. Dia adalah aktris utama dari kelompok opera Melayu bernama Dardanella yang begitu mashyur di tahun 1930-1940-an. Dewi Dja juga sering dipanggil dengan Devi Dja, sedang orang luar menjulukinya dengan Star from the East atau Bintang Timoer. Dia bersama kelompok opera Melayu Dardanella berjasa besar dalam mengenalkan kebudayaan Melayu dan Indonesia. Melalui seni peran, tari, musik serta banyak cabang seni lain, dia telah mengenalkan budaya Indonesia ke depan etalase negara di seantero dunia, bahkan sebelum nama Indonesia itu dikumandangkan sebagai nama sebuah negara. Meskipun Dewi Dja memiliki jasa besar terhadap kebudayaan, jejak rekam perjalanan hidupnya adalah barang yang langka ditemui saat ini (www.kompas.com).

Dewi Dja lahir dengan nama Misria. Waktu kecil bocah ini sakit-sakitan hingga oleh seorang dukun disarankan untuk diganti namanya. Nama Misria pun diubah oleh kakek neneknya menjadi Soetidjah. Nama panggilan Soetidjah adalah Idjah atau Dja, dari panggilan itulah Dja diambil, sedangkan Dewi adalah nama yang diberikan oleh Susuhunan Keraton Surakarta, saat Dja tampil di Keraton Surakarta.

Soetidjah semenjak kecil sudah larut dalam kesenangan seni. Sembari memegangi kebaya neneknya, Sriatun, Soetidjah suka menguntit perjalanan kakeknya berkeliling untuk mengamen. Kakeknya bernama Satiran. Dia adalah pemain gendang keliling. Kemiskinan yang mendera keluarga ini menjadi alasan mereka sering mengamen. Beberapa kali Satiran memiliki pekerjaan yang lebih baik dari mengamen. Dia pernah menjadi mandor perkebunan karet atau onderneming di daerah Jember, Jawa Timur. Namun dia keluar karena memaki atasannya pada saat disuruh menjilati kotoran ayam yang terinjak oleh si Belanda. Sewaktu pulang dari kejadian itu, Satiran mengeluh pada Sriatun dan Soetidjah yang waktu itu masih kecil, “Aku disuruhnya menjilat kakinya, karena ada kotoran ayam yang terinjak olehnya di tangga rumahnya. Ia memaki-maki aku seperti anjing edan. Dasar...!” (Ramadhan K.H., 1982:17). Setelah keluar, Satiran memilih untuk kembali kepada kecintaannya, mengamen atau mbarang keliling dari rumah ke rumah. Saat mengamen Satiran memainkan gendang sedang Sriatun memainkan sebuah siter (semacam gitar khas Jawa yang berdawai 13). Tidak ketinggalan, Soetidjah selalu mereka ajak. “Kadang-kadang aku duduk di emper toko, melepaskan lelah barang sejenak, mengikuti kedua orang nenekku yang dengan isyarat menyuruhku untuk cepat berdiri” (Ramadhan K.H., 1982:14).

Orang tua kandung Soetidjah sendiri bernama Adiredjo dan Sriami. Adiredjo adalah anak satu-satunya dari Satiran dan Sriatun, Sedang ibu Soetijah, Sriami, berdarah Madura. Pernikahan Adiredjo dengan Sriami tidak direstui oleh Satiran dan Sriatun. Hal itulah yang menjadi sebab Soetidjah diambil dari orang tuanya. Ketidakcocokan antara mertua dan menantu ini, oleh Dewi Dja sangat disayangkan mengingat mereka sebenarnya memiliki latar belakang sosial yang sama. Seperti yang dikatakan Dewi Dja dalam biografinya: “Di tengah kehidupan yang miskin seperti ini timbul juga sifat aneh yang sama sekali tidak ada gunanya: tidak menyukai seseorang tanpa alasan yang kuat. Pak Satiran tidak menyukai menantunya, Sriami” (Ramadhan K.H., 1982: 15).

Keluarga Dewi Dja serupa dengan orang pribumi lain di zaman kolonial yang miskin, tidak berpendidikan bahkan sering kelaparan. Soetidjah yang saat itu masih berumur dua tahun seringkali hanya makan satu kali sehari. Selama mereka berkeliling mengamen, pelepas dahaga mereka hanya sekadar teh encer dalam botol yang dibawa dari rumah. Kemiskinan yang dialami keluarga inilah yang membentuk kejiwaan Dewi Dja tetap kuat di kemudian hari.

Dalam masa keliling mengamen ini Dewi Dja secara simultan menguasai berbagai jenis tari maupun tembang yang mengiringi. Suatu waktu keadaan ekonomi keluarga ini membaik. Atas bantuan seorang Arab bernama Muhammad Buchori dan keluarga Belanda bernama Meneer Heins, Satiran akhirnya membentuk stambul[1] bernama “Stamboel Pak Adi”. Peruntungan rombongan stambul ini ternyata lumayan bagus. Kolaborasi nyanyian lagu Belanda yang dibawakan oleh keluarga Meneer Heins dan nyanyian Dewi Dja kecil mampu menyedot perhatian tidak hanya warga pribumi, melainkan juga orang-orang Belanda. Stambul ini telah dikenal luas di beberapa kota seperti Situbondo, Jember, Banyuwangi, Pasuruan bahkan Surabaya.

Saat Stamboel Pak Adi tampil di Rogojampi, Banyuwangi, kelompok Opera Melayu bernama Dardanella juga manggung di daerah yang sama. Dardanella sendiri saat itu sudah menjadi kelompok seni pertunjukan yang terkenal. Didirikan oleh Piedro Klimanov pada 1926 di Sidoarjo, setiap pertunjukkan Dardanella selalu dibanjiri penonton. Tokoh utama Dardanella saat itu adalah Miss Riboet II yang begitu terkenal dengan lakon “Kopi Soesoe”. Piedro adalah imigran asal Rusia yang bernama asli Willy Klimanov. Piedro mengawali perjalanan di dunia seni pertunjukan dengan bekerja di sebuah kelompok stambul bernama Komedi Stamboel yang didirikan oleh August Mahieu pada 1891. Setelah perjalanannya bersama Komedi Stamboel berakhir, Piedro lantas mendirikan The Malay Opera Dardanella. Nama ini sempat beberapa kali diganti, namun dari semua nama itu yang membawa peruntungan baik adalah Dardanella. Dardanella adalah nama sebuah selat di Turki yang dekat dengan kota Troy.

Singkat cerita, pentas di Banyuwangi mempertemukan Dardanella dengan Dewi Dja. Rupanya, diam-diam Piedro memperhatikan penampilan Dewi Dja saat menyanyikan lagu Kopi Soesoe bersama kelompoknya. Tak sekadar untuk urusan pertunjukan saja, beberapa waktu setelahnya, Piedro dengan bantuan Camat Rogojampi melamar Dewi Dja untuk diperistri. Dewi Dja saat itu baru berusia 14 tahun dan masih buta huruf. Dengan pergolakan keyakinan karena harus menikah dengan agama yang berbeda, Dewi Dja akhirnya menikah secara Katolik. Pernikahan ini secara praktis membuat Dewi Dja bergabung dengan Dardanella. Nama baptis Dewi Dja adalah Ernesta yang kemudian disingkat menjadi Erni (Ramadhan K.H., 1982: 111). Seusai menikah, nama Erni inilah yang dipakai keluarga intern Dardanella sebagai nama panggilan Dewi Dja. Meskipun menikah secara Katolik, sepanjang hayatnya, Dewi Dja tetap mengaku Islam.

Saat Dewi Dja berusia 17 tahun, Dardanella pertama kali bermain di luar negeri. Tur pementasan ini dinamai Piedro dengan Tour d’Orient. Dimulai dari Singapura, Opera Melayu ini melanglang buana ke negara-negara di lima benua.  Di usia yang lagi “seger-seger”-nya ini, Dewi Dja menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Dardanella. Oleh Piedro, konsep Dardanella saat tampil di luar negeri kebanyakan menampilkan tari-tarian dan lakon dalam bahasa tubuh yang lebih mudah ditangkap penonton. Oleh karena itu, nama Dardanella pun diganti dengan nama The Royal Bali-Java Dance. Jumlah personel rombongan yang ikut ke Singapura ini mencapai 150 orang, jumlah yang fantastis untuk sebuah kelompok seni pertunjukkan baik masa lalu maupun kini.

Di Singapura, Dardanella kembali menerima seorang aktor blasteran AS-Filipina bernama Henry L. Duarte. Setelah Singapura, tour d’Orient Dardanella berlanjut ke Hongkong, Cina, kemudian kembali lagi ke Singapura. Setelah itu, Dardanella kembali berangkat menuju ke barat, yakni India. Saat tampil di New Delhi, pertunjukan mereka disaksikan oleh Mahatma Gandhi dan juga filsuf serta sastrawan pemenang Nobel asal India, Rabrindanath Tagore. Selain New Delhi, mereka juga berpentas di Calcuta, Madras, dan Bombay. Di Rangoon, pertunjukan Dardanella pada bulan Mei 1937 disaksikan oleh Jawaharlal Nehru. Dewi Dja bahkan menyimpan semacam tulisan pendek[2] yang diberikan salah satu pemimpin besar India tersebut (Ramadhan K.H., 1982:141).


Tulisan
tangan dari Jawaharlal Nehru untuk Dewi Dja

Repro foto di buku Gelombang Hidupku:
Dewi Dja dari Dardanella: Ramdhan K.H., halaman 100

Setelah India dikunjungi, Dardanella lantas menuju Karachi, Bagdad, Basra, Beirut, Kairo, Yerusalem, lantas menyeberang ke Eropa melalui Athena, hingga Roma, Italia. Namun sebelum memulai tour ke Eropa, tepatnya seusai merampungkan film Dokter Syamsi di India, sebagian besar anggota Dardanella memutuskan untuk pulang ke asalnya. Anggota yang tersisa dari kepulangan ini  hanya berjumlah 36 orang saja. Andjar Asmara, penulis skenario utama Dardanella, termasuk anggota yang memilih pulang. Perpisahan ini membawa kesedihan yang luar biasa bagi Piedro dan Dewi Dja. Serupa dengan mereka, anggota yang pulang juga merasakan kepedihan.

Rombongan yang tersisa tetap berbulat tekad untuk melanjutkan pertunjukan ke Eropa. Dewi Dja sendiri memiliki obsesi terpendam untuk tampil di Roma. Sebab menurutnya, kebanggaan seorang penari adalah saat bisa mempertunjukkan gerakan tubuhnya di gedung-gedung megah yang ada di Eropa (Ramadhan K.H.: 1982:156). Setelah Roma dan Milan, Dardanella lantas menuju ke Barat, yakni ke Bern, Swiss. Di sinilah Dewi Dja pertama kali menyentuh salju. Setelah Swiss mereka menuju Paris, Prancis. Di pusat kesenian Eropa ini, Dardanella mendapat sambutan yang luar biasa atas penampilan mereka yang menawan. Dewi Dja bahkan dipuji dan diajak bertemu berkali-kali oleh Maurice Chevalier[3].

Setelah Prancis, Dardanella lantas menuju Amsterdam dan Rotterdam, Belanda. Dari negeri yang menjajah tanah air Dewi Dja ini, Dardanella lantas menuju Berlin, Jerman. Setelah tampil di Berlin, Dardanella keliling ke Leipzig, Baden-Baden, Kohl dan Muenchen. Meskipun sempat ditangkap selama tiga hari oleh Gestapo Nazi karena menyalakan kompor di dalam kamar hotel, pertunjukan Dardanella di Muenchen justru sempat akan disaksikan oleh Adolf Hitler. Namun karena terjadi situasi darurat, der fuhrer batal hadir. Tour di Jerman ini juga mendapat sambutan hangat. Meskipun dengan ketegangan tinggi, Dardanella kerap menghibur tentara-tentara Nazi, dan sebagaimana di tempat lain, di Jerman pun Dardanella menjadi incaran wartawan yang haus akan seni dari Timur.

Setelah Jerman, Dardanella lantas menuju ke Polandia, langsung ke pusatnya, yaitu Warsawa. Saat bermain di Warsawa, Dardanella bermain dengan gelisah. Benar saja, sekitar pukul 03.00 di hari yang sama saat mereka meninggalkan Warsawa, Jerman menyerang Polandia (Ramadhan K.H., 1982: 176-177), yang menabuh genderang Perang Dunia II. Dengan perasaan was-was, Dardanella akhirnya bisa kembali ke Amsterdam yang menjadi tujuan pamungkas pertunjukan Dardanella di Eropa. Carut-marut dan kegelisahan Perang Dunia II memaksa Piedro memutuskan untuk menyeberangi Lautan Atlantik menuju Amerika dengan menggunakan kapal Rotterdam. Bisa jadi hingga sekarang kapal Rotterdam ini adalah  kapal Belanda yang terakhir kali berlayar ke Amerika (www.forumkami.com).

Keputusan perpindahan Dardanella ke Negeri Paman Sam diambil Piedro karena Amerika relatif lebih menjanjikan. Di samping itu, di Amerika kegelisahan perang seperti di Eropa tidak dirasakan. Dengan perhitungan ini dan ditambah nama besar Dardanella dan Dewi Dja, Piedro akhirnya mendapatkan sponsor dari Columbia untuk mementaskan karya-karya mereka di hampir seluruh kota besar Amerika. Di Amerika mereka berkeliling menggunakan trem ke hampir seluruh negara bagian Paman Sam. Setelah tour ini selesai, tawaran manggung untuk Dardanella semakin kecil. Hal tersebut dikarenakan dampak dari Perang Dunia II juga berimbas pada keadaan ekonomi Amerika. Alhasil, beberapa anggota Dardanella memilih untuk pulang ke Indonesia. Setelah itu semangat anggota Dardanella yang tersisa mulai luntur.

Dengan keadaan seperti itu Dardanella kesulitan untuk bertahan hidup di Amerika. Piedro dan Dewi Dja akhirnya membuka sebuah nightclub bernama Sarong Room di Chicago. Sayang sekali, klub tersebut terbakar habis pada 1946. Akibat dari peristiwa kebakaran tersebut dan ditambah dengan perselingkuhan Piedro dengan teman dekat Dewi Dja, rumah tangga Dewi Dja dan Piedro tidak bisa dipertahankan. Mereka lalu memutuskan untuk bercerai (Ramadhan K.H., 1982: 212). Tak lama setelah perceraiaan itu, Piedro jatuh sakit karena TBC dan meninggal dunia di Chicago pada tahun 1952. Meskipun mengalami depresi, Dewi Dja memutuskan tetap bertahan di Amerika walaupun waktu itu dia baru bisa menulis. Dewi Dja akhirnya menikah untuk kedua kalinya dengan seorang Indian bernama Acce Blue Eagle. Namun pernikahan tersebut juga tidak bertahan lama. Dalam biografinya, Dewi Dja menyatakan bahwa Acce tidak suka melihat Dewi Dja berkumpul dengan orang-orang Indonesia yang ada di Amerika, padahal pergaulan itu adalah dunia Dewi Dja, terlebih setelah kabar kemerdekaan Indonesia didengar oleh Dewi Dja.

Tidak seberapa lama setelah bercerai, Dewi Dja memutuskan untuk pindah ke Los Angeles dan berkarir di sana. Dia lalu menikah lagi dengan orang Indonesia asal Gresik yang menetap di Amerika bernama Ali Assan. Dari Ali Assan ini Dewi Dja memperoleh satu anak perempuan yang diberi nama Ratna Assan. Keluarga ini akhirnya tinggal di kawasan Mission Hill, San Fernando Valley, 22 km sebelah Utara Los Angeles. Namun lagi-lagi pernikahan ketiga Dewi Dja ini juga tidak bertahan lama. Hanya saja Dewi mengaku sangat beruntung karena dari pernikahan tersebut dia mendapatkan seorang buah hati yang telah begitu lama dia idamkan.

Pada tahun 1970 Dewi Dja pernah memimpin float Indonesia atau float Indonesian Holiday, dalam Rose Parade[4] di Pasadena. Disponsori oleh Union Oil, Dewi Dja menjadi orang pertama Indonesia yang memimpin rombongan dalam parade yang sudah menjadi tradisi nasional Amerika itu. Setelah parade tersebut, Dewi Dja secara rutin mendapatkan semacam dana pensiun dari Union Oil yang cukup untuk menopang hidupnya bersama Ratna. Dewi Dja akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 19 Januari 1989 dan dimakamkan tak jauh dari tempat tinggalnya. Sebagaimana yang ditulis di halaman terakhir biografi Dewi Dja, Ramadhan K.H., sempat menggambarkan kebanggaan Dewi Dja sewaktu menerima tanda penghargaan dari Union Oil atas partisipasinya dalam Rose Parade, kepada Ratna Assan, Dewi Dja mengatakan:

"Ini Ratna, bacalah! Penghargaan bagi kalian, bagi kita."

”Lain kali kita harus membuat sesuatu yang lebih bagus lagi, Ratna. Berbuat lebih bagus lagi.”[5]

“Ya Mamah. Kali lain kita harus mempertunjukkan sesuatu yang lebih bagus lagi".

Air mataku menetes lagi, kata Dewi Dja. Entah mengapa. Barangkali karena cintaku sedemikian besar kepada sesuatu yang jauh daripadaku. Aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa! Seluruh hatiku tercurah baginya. Indonesiaku, engkau jauh di mata, tetapi senantiasa dekat di hatiku, bahkan menggelepar hidup di dalam jantungku! (Ramadhan K.H., 1982: 317)

Dewi Dja sempat berberapa kali kembali ke tanah air. Pada tahun 1959, Dewi mengunjungi teman-teman bekas anggota Dardanella yang masih hidup di Gedung Pers Surabaya. Dalam kunjungan tersebut, Dewi Dja juga mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Bung Karno.

Sedangkan pada Agustus 1982, Dewi Dja juga sempat kembali lagi ke Indonesia untuk memenuhi undangan panitia Festival Film Indonesia serta menjenguk kawan lamanya, Tan Tjeng Bok, yang sakit di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta. Mengenai kunjungan ini, Majalah Tempo sempat menulis kerinduan Dewi Dja: 

Ia mengaku sudah tidak ingin makanan enak atau pakaian yang indah-indah. Dan ingin sekali berlama-lama tinggal di perkampungan desa di Indonesia. "Saya ingin merasakan suasana yang rileks dan tenteram," katanya dengan polos. Dan dengan lirih ia pun berkata: "Saya ingin membuat kuburan di sini, kalau bisa dekat makam Bung Karno di Blitar". (Majalah Mingguan Tempo Edisi 25/XII 21 Agustus 1982)

Matthew Cohen PhD, salah satu staf pengajar di University of London dalam satu diskusi yang berlangsung pada tanggal 28 Maret 2009 tentang kesenian Bali-Jawa di Amerika, mengatakan bahwa Dewi Dja adalah salah satu tokoh kesenian Indonesia yang sukar ditemukan padanannya. Cohen bahkan berminat untuk mendokumentasikan kembali kehidupan Dewi Dja dan kelompok Dardanella dalam sebuah buku yang sedang disusunnya, bertajuk Performing Java and Bali on International Stages: Routes from the Indies, 1905-1952 (www.indonesianperformance.blogspot.com). Apresiasi tersebut tentunya sepadan dengan perjuangan Dewi Dja dan Dardanella dalam mengenalkan kebudayaan Melayu dan Indonesia.

Menengok perjalanan Dewi Dja dan Dardanella, bisa disimpulkan bahwa kebudayaan dan kesenian juga memiliki pengaruh yang besar dalam dinamika masyarakat. Oleh karena itu adalah sesuatu yang absurd jika memposisikan kebudayaan dan kesenian hanyalah sebagai subsistem dari politik dan ekonomi yang biasanya mendominasi masyarakat. Melalui gerak dalam lenggak-lenggok tariannya, Dewi Dja bisa membuktikan bahwa kesenian dan kebudayaan juga merupakan diplomasi yang efektif. Pembuktian itu bahkan sudah dilakukan Dewi Dja dan Dardanella jauh sebelum konsep negara Indonesia itu secara legal ada. Pembuktian tersebut juga membalikkan keadaan. Saat seni pertunjukan Belanda pada dekade 40-an belum bergaung, seni pertunjukan Indonesia sudah berlabuh di Hollywood, Amerika. Meskipun hampir separo hidupnya buta huruf, Dewi Dja tetap memberikan kemampuan orisinilnya untuk membantu keadaaan bangsanya. Dewi Dja dan Dardanella merupakan potret bagaimana keteguhan visi dari sebuah komunitas mampu membawa pada cita-cita yang justru sering dianggap tidak memungkinkan.

Karya dan Pemikiran

Seni Tetaer

Peran yang dimainkan Dewi Dja saat awal bergabung dengan Dardanella masih peran-peran kecil, bahkan acapkali hanya mendapat peran sebagai penari selingan. Keadaan demikian justru memberikan peluang bagi Dewi Dja untuk bisa mempelajari berbagai jenis tari dari tempat-tempat yang dikunjungi Dardanella. Artis utama Dardanella saat itu masih dilakoni oleh Miss Riboet II dan Fifi Young. Sedang sang aktor adalah Tan Tjeng Bok yang dijuluki Dauglas Fairbank van Java (Dauglas Fairbank dari Jawa) karena kepiawaiannya berakting koboi dan memainkan pedang seperti Dauglas Fairbanks dalam film Robin Hood, The Mask of Zorro dan Three Musketeers. Aktor primadona lain adalah seorang Betawi bernama Astaman. Bintang Dewi Dja baru muncul saat dia diminta menggantikan Miss Riboet II yang jatuh sakit, yakni untuk berperan sebagai Soekaesih dalam lakon Dokter Syamsi tatkala Dardanella tampil di Medan. Sejak saat itu karir Dewi Dja perlahan bisa menyaingi kepopuleran Miss Riboet II maupun aktris lain. Nama Miss Dja pun menjadi nama rutin yang tertulis dalam reklame pertunjukkan Dardanella.

Pada awal dekade 30-an, Dewi Dja dan Dardanella sudah mampu berkeliling kota-kota besar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, bahkan Maluku dan Sulawesi. Mereka hilir-mudik berganti kota sembari mencari dan menerima tokoh bertalenta. Saat di Solo mereka bertemu dengan Suhadi, komponis musik utama Dardanella yang piawai memainkan berbagai alat musik. Di Ambon mereka merekrut Ferry dan Eddy de Cock. Sedang di Jakarta mereka menerima Andjar Asmara, wartawan Bintang Timoer dan Bintang Hindia,  menjadi konseptor dan penulis skenario cerita-cerita utama Dardanella. Di tahun 1934, secara rutin Dardanella bermain di gedung Thalia Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Pertunjukan mereka berlangsung tiap malam kecuali malam Jumat. Setiap pertunjukan Dardanella di Thalia selalu dibanjiri penonton. Penonton menilai nama besar Dardanella sepadan dengan performa yang ditampilkan Dardanella. Pendekatan baru pada hiburan yang dikonsep oleh Piedro diterjemahkan begitu baik dalam lakon-lakon yang dibawakan oleh Dardanella. Meskipun baru, pendekatan tersebut tetap bisa membawa pesan moral. Mengenai pesan moral yang disampaikan Dardanella ini majalah Pandji Poestaka terbitan tahun 1934 sempat menulis bahwa cerita mereka membawa “tjermin perbandingan bagi jang telah berpengalaman dan tjontoh-teladan bagi jang masih moeda belia, jang beloem banjak mengetjap garam penghidoepan” (www.bataviase.wordpress.com).

Kecantikan dan keahlian Dewi Dja dalam bermain mampu membuat gedung Thalia menjadi hening dan sunyi senyap. Saat memerankan adegan-adegan mengharukan, Dewi Dja selalu bisa membuat penonton mengikuti alur emosi yang dialaminya. Sangat sering tetes airmatanya ikut membuat penonton mengucurkan airmata. Tatkala layar diturunkan, tepuk tangan riuh membahana menyadarkan penonton bahwa adegan tersebut hanyalah sebuah pentas. Fluktuasi emosi penonton tatkala layar turun ini ditulis oleh Pandji Poestaka bahwa mereka bukan berada “dalam boeajan ‘seriboe satoe malam’, tetapi hanja sekadar dikagoemkan oleh Miss Dja di atas panggoeng” (www.bataviase.wordpress.com). Riuhan tawa penonton juga sebanding dengan kurasan air mata yang dibangun dari adegan-adegan mengharukan Dewi Dja. Andjar Asmara yang saat itu masih menjadi wartawan Bintang Hindia menulis, “Lebihnya lagi Miss Dja mempunyai bakat, mempunyai talent untuk bermacam-macam permainan. Saksikan perempuan muda ini yang menjadi ˝ Watt[6] bermain dengan Astaman yang membikin Tuan terpingkal-pingkal, seolah-olah ˝ Watt dari bioskop yang diturunkan ke gedung Thalia” (Ramadhan K.H., 1982:81). Kepiawaian Dewi Dja ini juga sering berbuah ajakan dari para pembesar kerajaan untuk bermain dan undangan untuk menghadiri perjamuan makan malam di kerajaan. Saat perjamuan makan malam di Keraton Solo, Dewi Dja bahkan mendapat saran dari Susuhunan Keraton agar kata Miss diganti saja menjadi Dewi. Tentu saja Dewi Dja menerima saran tersebut. Dari situlah nama Dewi berasal (Ramadhan K.H., 1982:81).

Dewi Dja adalah penerjemah dari visi teater Piedro. Tanpa Dewi Dja, Dardanella sukar untuk menemukan tokoh sentral di panggung. Dalam waktu relatif singkat kejelian manajemen Piedro dan penampilan Dewi Dja mampu membuat Dardanella besar. Piedro memasukkan banyak unsur baru dalam konsep pertunjukkan opera kala itu. Tari, musik dan humor diramunya menjadi sebuah bagian yang tidak terpecah. Konsep ini berbeda dari konsep sebelumnya yang menjadikan tari, musik maupun humor hanya sebagai selingan menuju babak selanjutnya. Konsep baru ini juga yang membuat Piedro harus selalu mencari tokoh multitalenta dan berparas rupawan dalam setiap lakon yang dimainkan Dardanella. Alhasil, jadilah Dardanella sebuah opera Melayu gaya baru yang cepat meraih ketenaran. Gaya baru Dardanella ini bahkan menjadi rujukan setiap kelompok teater yang muncul setelahnya, seperti Tjahaja Timoer, Orion, Opera Batak dan sebagainya. Oleh Piedro dan Dewi Dja, Dardanella berhasil dibuat lebih membumi dari teater bangsawan dan lebih hidup daripada film bisu hitam putih. Bisa jadi konsep baru yang dibawa Piedro ini juga dipengaruhi perkembangan seni sirkus Rusia di awal abad 20 yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan drama dalam ruangan (www.bataviase.wordpress.com).

Kebaruan yang dibawa oleh Dewi Dja dan Dardanella juga berlaku di luar konteks teknis seni pertunjukan. Oleh semua anggota Dardanella, bahasa Melayu tidak hanya digunakan sebatas sebagai pengantar gagasan saja melainkan sudah menjadi bentuk ucapan praksis untuk menyatakan visi kemerdekaan perjuangan Indonesia. Dalam setiap performanya, Dardanela juga mengkampanyekan kepada penontonnya penggunaan bahasa Melayu yang menjadi induk dari bahasa Indonesia. Relasi ini bisa menjadi contoh tentang sinergi peristiwa Sumpah Pemuda dengan seni pertunjukan yang diusung Dardanella. Tak sekadar itu, visi tentang tanah air, bangsa, dan negara yang terbebas dari penjajahan juga selalu dipaparkan oleh Dardanella dan divisualisasikan dengan apik oleh Dewi Dja. Lakon-lakon yang ditulis anggota Dardanella, Kwee Tek Hoay dan Andjar Asmara seperti “De Ross van Serang”,  “Annie van Mendut”, “Lily van Cikampek”, “Sungai Berantas”, “Fatimma”, Maharani” dan “Nyai Dasima” sudah menceritakan fakta kehidupan sosial yang ada di zaman kolonial. Lakon-lakon tersebut dikelompokkan menjadi Indische Roman (Ramadhan K.H. 1982: 85-89). Di samping itu ada pula lakon yang secara khusus menceritakan tentang pengasingan para tokoh kemerdekaan berjudul “Perantaian 99”. Lakon-lakon tersebut secara terang-terangan sudah berisi sindiran-sindiran sosial terhadap pemerintah kolonial. Lakon-lakon tersebut terbukti efektif untuk mempropagandakan semangat kemerdekaan Indonesia kepada penonton.

Seni Tari dan Film

Saat tinggal Los Angeles, Dewi Dja bekerja sebagai pengajar tari. Pertama kali Dewi Dja diterima mengajar di American Ballet School, lalu Paramount Picture. Nama besarnya lantas menjadi magnet bagi sekolah-sekolah tari lain yang memintanya untuk mengajar. Selain mengajar, Dewi Dja juga mendapat berbagai macam tawaran untuk menjadi koreografer dalam film-film Hollywood (www.forumkami.com), antara lain Road to Singapore (1940), Road to Morocco (1942), The Picture of Dorian Gray (1945), Three Came Home (1950) dan Road to Bali (1952). Di Los Angeles Dewi Dja juga rutin mengisi acara televisi lokal untuk menunjukkan tari-tari yang berasal dari tanah airnya.

Di Hollywood, Dewi Dja sempat menari di depan Claudette Colbert (aktris pemenang Academy Award) yang takjub oleh gerak tangan dan kerling mata Dewi Dja.


Dewi Dja Menari di depan Claudette Cilbert,
menjelang pembuatan film "Three Came Home"
yang diproduksi oleh 20th Century Fox

Repro foto di buku Gelombang Hidupku:
Dewi Dja dari Dardanella: Ramdhan K.H., halaman 170

Dari pergaulan di Hollywood ini, Dewi Dja berteman dengan selebriti Hollywood antara lain Greta Garbo, Carry Cooper, Bob Hope, Dorothy Lamour, dan Bing Crosby. Di samping itu dia juga bersahabat karib dengan Albert Lewin, sutradara dari film The Moon Sixpence yang bercerita tentang riwayat hidup pelukis Prancis, Paul Gauguin. Dalam film ini, Dewi Dja hampir menjadi aktris utama, namun karena bahasa Inggrisnya kurang fasih dia digantikan aktris lain yang bernama Doris Dudley. Meskipun gagal, dalam film ini Dewi Dja tetap mendapat peran pembantu dan mengajarkan tari kepada aktris utamanya. Sebagai sesama seniman, Dewi Dja dengan Albert Lewin saling mengagumi. Albert bahkan pernah meminta Dewi untuk menunjukkan keluwesan alamiah dia saat berdiri dari duduk di depan aktris-aktris Hollywood saat itu. “Coba dapatkan seorang bintang Hollywood yang mana saja dan akan kubayar dia kalau bisa melakukan hal seperti yang dilakukan oleh wanita Indonesia ini,” begitulah kata-kata Albert Lewin (Ramadhan K.H., 1982: 198). Anak Dewi Dja, Ratna Assan juga sempat bermain sebagai pemeran pendukung dalam film Papillon (1973) yang dibintangi Steve McQuin dan Dustin Hoffman. Tapi Ratna Assan kemudian tidak melanjutkan karir aktingnya di Hollywood, sesuatu yang amat disesali Oleh Dewi Dja mengingat anaknya itu fasih berbahasa Inggris, tidak seperti dirinya (www.forumkami.com).

Sajian tarian yang ditampilkan oleh Dewi Dja pada dasarnya mengambil pola dan bentuk dari tari-tari nusantara yang dipelajari oleh Dewi Dja saat Dardanella tampil di berbagai daerah nusantara. Hal tersebut bisa terlihat saat Dardanella mementaskan lakon cerita “Fatimma”. Dalam lakon ini Dewi Dja menampilkan tari-tarian Bali. Keluwesan dan lentik jari serta lototan mata khas penari Bali berbuah komentar pujian penonton. Pandji Poestaka pun menulis, “Biarpoen kami beloem pernah menjaksikan tari Bali sedjati, akan tetapi dalam mata kami Miss Dja telah mempertoendjoekkan tari jang gilang-gemilang hasilnja” (www.bataviase.wordpress.com). Keluwesan serupa juga terlihat saat Dewi Dja tampil dalam cerita “Maharani”. Cerita “Fatimma” dan “Maharani” merupakan pertunjukan yang paling disukai oleh penonton di Thalia.

Diplomasi

Di awal masa kemerdekaan Indonesia, Dewi Dja sempat bertemu delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir untuk mendapatkan pengakuan Internasional terhadap kemerdekaan Indonesia di markas PBB New York tahun 1947. Oleh Sjahrir, Dewi Dja sempat diperkenalkan sebagai duta kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Amerika. Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal, Dewi Dja memiliki sikap yang konsisten mengenai visi kemerdekaan tanah airnya yang waktu itu sedang berada di ambang kelahiran.

Momen di PBB ini membawa Dewi Dja duduk satu deretan dengan Sutan Sjahrir dan H. Agus Salim, menghadapi masyarakat terpelajar Amerika di New York. “Benar juga, aku diajak Bung Sjahrir supaya duduk di kursi yang membelakangi dinding itu, berderet bersamanya. Malahan aku didudukkan berdampingan sekali dengannya di tengah... Pak Haji Agoes Salim duduk di di sebelah kiriku, teralang oleh Bung Sjahrir dan seorang lagi laki-laki lain,” tutur Dewi Dja dalam biografinya (Ramadhan K.H., 1982: 220).


Duduk berderet di belakang meja dari kiri ke kanan: Wani (nomor 3),
Dewi Dja (nomor 5), Sutan Syahrir (bomor 6) dan Haji Agoes Salim (nomor 9)

Repro foto di buku Gelombang Hidupku:
Dewi Dja dari Dardanella: Ramdhan K.H., halaman 235)

Kehadiran delegasi utusan Presiden Soekarno ini membuat Dewi Dja terharu, sebab cita-cita sepanjang hayat Dewi Dja tentang kemerdekaan tanah airnya akhirnya bisa tercapai. Dewi Dja bahkan diminta untuk turut serta dalam usaha pengakuan kemerdekaan tersebut. Dewi Dja sendiri ingat dan berkata, Aku pun senang sekali sewaktu mereka mengatakan, bahwa mereka pun mengenal namaku, Miss Dja, Devi Dja. Itu satu-satunya hartaku yang ada: nama (Ramadhan K.H., 1982: 219).

Selain Sutan Sjahrir dan H. Agus Salim, dalam delegasi tersebut juga terdapat tokoh-tokoh kemerdekaan lain, seperti Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Sudjatmoko, Charles Tambu, Nico Palar, Soedarpo Sastrosatomo, Didi Djajadiningrat, dan lain-lain. Dalam perjamuan di Hotel Commodore, seusai delegasi ini menyampaikan orasinya di Gedung PBB, Dewi Dja berkesempatan memperkenalkan budaya Indonesia melalui tari yang dia bawakan bersama dua anggota Dardanella yang tersisa, yakni Wani dan Tina. H. Agus Salim juga mengenal nama Dewi Dja dan Dardanella. Beliau bahkan pernah menyaksikan pertunjukkan Dardanella dan menulis resensinya di surat kabar Pemandangan. “Betul, betul, Pak. Saya ingat. Andjar Asmara dulu memperlihatkan tulisan Bapak itu kepada kami semua,” kata Dewi Dja kepada H. Agus Salim (Ramadhan K.H., 1982: 223).

Tak seberapa lama setelah kunjungan delegasi tersebut, Dewi Dja dikagetkan dengan berita terlantarnya ratusan pelaut asal Indonesia di Texas, San Fransisco dan Ellis Island (Ramadhan K.H., 1982: 225). Para pelaut tersebut adalah awak kapal-kapal Belanda yang menolak kembali karena tuntutan kenaikan upah mereka tidak direalisasikan. Mereka terkatung-katung selama lebih dari sebulan. Sedangkan Amerika hanya memiliki batas untuk menampung pelaut asing yang singgah selama 30 hari. Dewi Dja pun tergerak memperjuangkan nasib mereka agar tidak dikembalikan ke kapal Belanda oleh imigrasi Amerika. Selain itu, saat isu tentang perbudakan warga Indonesia di Los Angeles marak, Dewi Dja juga berperan besar agar warga Indonesia tersebut dibebaskan. Dengan campur tangan Dewi Dja dan seorang Staf  KJRI RI Los Angeles, Pruistin Tines Ramadhan, serta Dirjen Protokol Konsuler di Deplu Pejambon waktu itu, Joop Ave, persoalan imigrasi tersebut itu bisa diselesaikan. Para pemuda warga negara Indonesia tersebut akhirnya dibebaskan (www.kabarinews.com).

Adi Tri Pramono, Redaktur di WisataMelayu.com

Daftar Referensi

Buku:

  • Boen Sri Oemarjati. 1971. Bentuk lakon dalam sastra Indonesia. Jakarta: Gunung Agung
  • Ramadhan K.H. 1982. Gelombang hidupku: Dewi Dja dari Dardanella. Jakarta: Sinar Harapan.

Sumber Internet

  • Admin, 2009. Dewi Dja dari Dardanella. [Online]: TopMDI. Artikel tersebut diiunduh dari: http://topmdi.net [Diakses pada 26 November 2009].
  • Bataviase, 2008. Dardanella dan opera Melayu. [Online]: Bataviase Wordpress. Artikel tersebut diiunduh dari: http://bataviase.wordpress.com [Diakses pada 26 November 2009]
  • Hairus Salim HS, 2008. Dardanella, peran yang diabaikan. [Online]: Kompas.com  Artikel tersebut diunduh dari: http://m.kompas.com [Diakses pada 5 Desember 2009].
  • Pak Puh, 2009. Tonil.[Online]; Facebook. Artikel tersebut diunduh pada dari: http://bs-ba.facebook.com [Diakses pada 5 Desember 2009].
  • Tk, 1982. Primadona yang rindu pulang.  Jakarta: Majalah Tempo (Edisi Agustus 1982) Artikel tersebut diiunduh dari: http://majalah.tempointeraktif.com pada 26 November 2009].
  •  Toto ST Radik, 2007. Teater. [Online]: Rumah Dunia. Artikel tersebut diunduh pada dari: http://www.rumahdunia.net [Diakses pada 5 Desember 2009].
  • Yayat Suratmo, 2009. Kisah: Devi Dja, Wanita Jawa Yang Menembus Hollywood. [Online]: Kabarinews.com. Artikel tersebut diunduh pada dari: http://www.kabarinews.com/printFriendly.cfm?articleID=33329 [Diakses pada 8 Januari 2009].


 

[1] Stambul merupakan jenis seni pertunjukan yang menyajikan cerita-cerita dari Istanbul (dahulu ibukota Turki).

[2]In gratitude to a great dance use for her beautiful dancing. Rangoon Jawaharlal Nehru, May 11, 1937”. (Dengan rasa terima kasih kepada seorang penari wanita yang besar bagi tariannya yang  indah. Rangoon. Jawaharlal Nehru, 11 Mei 1937). 

[3] Aktor, penyanyi dan  penghibur populer asal Prancis ". Lagu-lagunya antara lain "Louise", "Mimi", dan "Valentine". Ciri khasnya adalah topi dari jerami dan tuxedo, yang selalu dikenakannya di panggung.

[4] Rose Parade merupakan festival bunga, musik dan kesenian lain serta olahraga yang diadakan setiap tahun di Pasadena. Parade ini pertama kali diadakan pada 1 Januari 1890.

[5] Kutipan tersebut dikatakan oleh  Dewi Dja.

[6] ˝ Watt adalah nama sepasang pelawak film bisu yang sangat digemari saat itu sehingga lazim menjadi ukuran kelucuan.

 
Dibaca : 5.216 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password