Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 3.851
Hari ini : 25.390
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.473.947
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Peneliti Melayu

Prof. Dr. Ding Choo Ming


Prof Dr. Ding Choo Ming

Riwayat Hidup

Prof. Dr. Ding Choo Ming adalah peneliti senior di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Beliau adalah profesor yang aktif menulis dan melakukan penelitian tentang berbagai kajian kemelayuan, termasuk di dalamnya adalah pantun dan manuskrip Melayu. Hasil penelitian maupun tulisannya sering dipublikasikan melalui jurnal, suratkabar, dan dibukukan. Beberapa tulisan beliau yang telah dibukukan antara lain, Raja Aisyah Sulaiman: Pengarang Ulung Wanita Melayu (1999) dan Kajian Manuskrip Melayu: Masalah, Kritikan, dan Cadangan (2003). Prof. Dr. Ding Choo Ming merupakan tokoh kunci yang berperan penting bagi pembuatan dan pengembangan portal studi dunia Melayu, termasuk di dalamnya portal www.malaycivilization.com dan www.atma.ukm.my (Ooi Kee Beng & Ding Choo Ming (eds.), 2007:ix).

Sebagaimana biodata yang tertulis dalam buku Ding Choo Ming, Manuskrip Melayu: Sumber Maklumat Peribumi Melayu (2008a), Prof. Dr. Ding Choo Ming (selanjutnya ditulis Ding Choo Ming) lahir di Sitiawan, Perak, Malaysia pada 7 Februari 1947. Pendidikan beliau dimulai dari Sekolah Rendah Pekan Gurney, Perak (1954-1959). Selanjutnya Ding Choo Ming melanjutkan ke Sekolah Menengah Nan Hwa, Sitiawan, Perak (1960-1965). Beliau kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Methodist Boys School, Kuala Lumpur (1966-1967). Pada 1968 beliau menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Universiti Malaya (UM) dan memperoleh gelar Sarjana Muda (B.Sc.) pada 1971 (Ding Choo Ming, 2008a:71). Selanjutnya beliau menempuh pendidikan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) hingga memperoleh gelar M.Sc. dan Ph.D.  Gelar M.Sc. diraihnya dengan tesis berjudul Manuskrip Melayu: Tinjauan Awal (1984-1988). Sedang gelar Ph.D diraihnya dengan disertai berjudul Kepengarangan Raja Aisyah Sulaiman di pinggir abad yang ke 19 (1988-1994) (http://www.atma.ukm.my/).

Setamat dari pendidikan di Universiti Malaya (UM), Ding Choo Ming sempat menjadi guru di Sekolah Sam Tet, Ipoh, Perak, Malaysia selama setengah tahun. Pekerjaan sebagai guru tidak bertahan lama karena beliau lebih memilih untuk menerima tawaran sebagai dosen di Jabatan Pengajian Melayu, Universiti Malaya (UM). Pekerjaan sebagai dosen juga tidak bertahan lama karena Ding Choo Ming kemudian memilih menjadi pembantu pustakawan di Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada April 1972. Lewat tugas sebagai pembantu pustakawan inilah, Ding Choo Ming berkesempatan untuk menjalani pelatihan ke College of Librarianship, Wales pada 1973. Program ini merupakan beasiswa Colombo yang diberikan kepada para pembantu pustakawan di UKM sebagai pelatihan menjadi profesional di bidang sains kepustakaan (Ding Choo Ming, 2008a:71).

Selepas menjalani pelatihan ke College of Librarianship, Wales, Ding Choo Ming ditempatkan di Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Sebagai seorang pustakawan, Ding Choo Ming terbiasa melihat, mereferensi, dan membaca berbagai literatur, baik sains perpustakaan, kebudayaan, manuskrip, maupun kesusastraan Melayu lainnya. Lewat kebiasaan ini pula Ding Choo Ming akhirnya mulai menulis tentang Melayu. Beliau memulai dengan menulis buku yang berjudul Bibliografi Sastera Kreatif Melayu: Jilid 1-Brunei, Malaysia, dan Singapura (1980) dan Bibliography of Bibliographies on Malaysia (1981) (Ding Choo Ming, 2003:372-373).

Tugas sebagai pustakawan membuat Ding Choo Ming memiliki data sumber tentang Melayu yang melimpah. Hal inilah yang membuat Ding Choo Ming produktif untuk menulis. Tulisan beliau akhirnya dikenal dan mulai dimuat di berbagai suratkabar dan jurnal. Selain menulis beliau juga mengikuti berbagai seminar di beberapa negara/kota seperti Australia, Hamburg, Hongkong, Leiden, London, Manila, Tokyo, dan lain-lain. Seminar-seminar tersebut berbicara mengenai sains perpustakaan, manuskrip Melayu, dan penelitian tentang Asia. Tidak jarang dalam sebuah seminar, Ding Choo Ming juga berperan aktif sebagai pemakalah. Setelah seminar biasanya kertas kerja ini diperbaiki dan diterbitkan ke dalam berbagai jurnal yang terbit di beberapa negara seperti Bangkok (Thailand), Kopenhagen (Denmark), Hongkong, Jakarta (Indonesia), Leiden (Belanda), Manila (Filipina), Seoul (Korea Selatan), Singapura, dan lain-lain (Ding Choo Ming, 2008a:71).

Pada 1989 beliau diangkat sebagai staf akademik (dosen) di Jabatan Sains Maklumat, Fakultas Sains Maklumat dan Teknologi, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Jabatan staf akademik tidak mengurangi produktivitasnya untuk terus menulis di berbagai suratkabar dan terus menulis buku. Pada 1999 terbit buku karangan Ding Choo Ming yang berjudul Raja Aisyah Sulaiman: Pengarang Ulung Wanita Melayu. Tulisan ini diterbitkan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) setelah dinyatakan sebagai pemenang dalam Hadiah Sastera Perdana Malaysia. Selain memenangkan Hadiah Sastera Perdana Malaysia, Ding Choo Ming juga telah menunjukkan prestasi, antara lain memenangkan anugerah yang sama untuk Kategori Esei Eceran (1996); Hadiah Esei Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Hal Ehwal Pengguna Malaysia (1999); dan Hadiah Penulisan Persatuan Pustakawan Melaysia (2001) (Ding Choo Ming, 2003:372-373).

Selama di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Ding Choo Ming juga terlibat sebagai editor Jurnal Sari, jurnal terbitan Alam dan Tamadun Melayu (ATMA). Tugas ini merupakan bagian dari kerjasama yang dilakukan oleh Fakultas Teknologi dan Sains Maklumat dengan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) dengan menugaskan Ding Choo Ming sebagai Felo Penyelidik Kanan (rekanan peneliti) di ATMA pada 1 April 1999. Selain menjadi editor, tugas utama bagi Ding Choo Ming adalah membuat dan mengembangkan portal tentang penelitian Dunia Melayu dengan website yang diberi nama www.malaycivilization.com (Ding Choo Ming, 2008a:71).

Selama di ATMA produktivitas menulis Ding Choo Ming tetap terpelihara. Beliau bahkan menjadi penulis kolom “Manuskrip Melayu” di Suratkabar Utusan Zaman selama 4 Juni 2000 sampai 17 Februari 2002 (Ding Choo Ming, 2008a:71). Kesempatan untuk menjadi kolumnis merupakan buah dari konsentrasi penelitian beliau seputar penelitian tentang manuskrip dan sastra Melayu lama, penjajahan maklumat Alam Melayu, pembinaan pangkalan data Alam Melayu, dan maklumat dalam masyarakat Melayu (Ding Choo Ming, 2003:372-373).


Prof Dr. Ding Choo Ming memperoleh gelar akademis,
Guru Besar di bidang Teknologi dan Sains Maklumat.

Atas kiprah dan jasanya pada pelestarian dan pengembangan budaya Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menganugerahkan kepada beliau gelar akademis, yakni Guru Besar di bidang Teknologi dan Sains Maklumat. Upacara pelantikan sebagai Guru Besar dilaksanakan pada Jum‘at, 28 November 2008, pukul 08.30 waktu setempat, di Bilik Senat Aras 5 Bangunan Canselori, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Selangor Darul Ehsan (http://melayuonline.com/).

Pemikiran

Manuskrip

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia manuskrip diartikan sebagai naskah tulisan tangan maupun ketikan (bukan cetakan) yang menjadi kajian filologi (Hasan Alwi, et. al., 2001:714). Dalam penulisannya, manuskrip dituliskan melalui beberapa media, seperti kertas, kulit binatang, batu, daun lontar, maupun bilah bambu. Isi dari manuskrip merupakan sebuah ajaran yang tidak jarang tersimpan dalam bahasa simbol. Kajian lebih lanjut untuk memaknai bahasa simbol inilah yang membuat manuskrip bisa dipahami sebagai kekayaan dunia kesusastraan. Hal ini dikarenakan isi dari manuskrip sebagaimana disampaikan oleh Ding Choo Ming (2003), memuat berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu tasawuf, sejarah undang-undang, pengobatan, legenda, puisi, dan sastra (Ding Choo Ming, 2003:1). Manuskrip menyimpan beragam petuah dan ajaran yang sangat berguna bagi generasi selanjutnya. Ding Choo Ming (2008a) memberikan contoh bahwa manuskrip Hikayat Indera Jaya menyimpan ajaran dan petuah tentang pengetahuan, kebijakan, hingga pandangan dunia dan juga kepercayaan Islam di kalangan orang Melayu dari kacamata Sufi (Ding Choo Ming, 2008a:28).

Dalam kebudayaan Melayu, manuskrip termasuk dalam kategori sastra Melayu tradisional. Menurut Ismail Hussein dalam bukunya The Study of Traditional Malay Literature With a Selected Bibliography (1974) dalam Ding Choo Ming (2003), bahwa sastra Melayu tradisional adalah segala yang tertulis dalam bahasa Melayu dalam bentuk manuskrip dan juga lisan sebelum abad ke-19, sebelum teknologi percetakan diperkenalkan oleh mubalig Eropa di Nusantara (Ding Choo Ming, 2003:1). Agak berbeda dengan Ismail Hussein, Ding Choo Ming lebih menspesifikkan waktu penulisan manuskrip Melayu, yaitu ditulis dengan huruf Jawi antara abad ke-13 sampai 19 (Ding Choo Ming, 2008a:58). Pada kurun abad ke-13 sampai 19 di ranah Melayu pengaruh istana, raja/sultan, dan kaum elit masih sangat kuat. Kuatnya pengaruh ini secara langsung berimbas pula dalam penulisan dan perkembangan manuskrip di ranah Melayu.


Beberapa contoh manuskrip Melayu.
Dari kiri ke kanan: Manuskrip Hang Tuah dan Sulalat al-Salatin.

Istana sebagai pusat kekuasaan memang menyediakan ruang bagi para penulis (pujangga). Pujangga dalam kajian ini diartikan sebagai penulis manuskrip di lingkungan istana. Meskipun demikian terdapat satu kelemahan dalam sistem ini. Pujangga yang menulis tentang istana “diharuskan” melahirkan karya yang eksklusif untuk raja dalam mempertahankan eksistensi kekuasaan. Di luar lingkungan istana muncul pula tradisi lisan yang menjadi kebudayaan masyarakat awam. Menurut Ismail Hussein dalam bukunya Sastera dan Masyarakat (1974) dalam Ding Choo Ming (2003), bahwa di luar lingkup istana lazim berkembang tradisi lisan yang dalam perkembangannya mempunyai kecenderungan terdapat proses saling mempengaruhi. Proses ini kemudian memunculkan anggapan bahwa sebagian dari penulisan manuskrip Melayu berawal dari tradisi lisan (Ding Choo Ming, 2003:10).

Proses saling mempengaruhi antara tradisi tulis dan lisan ternyata membuat kajian dalam penulisan manuskrip mengalami penyebaran yang tidak hanya terpusat di lingkup istana. Proses penyebaran ini semakin bertambah luas dengan masuknya pengaruh Hindu, Islam, dan kaum kolonialis ke ranah Melayu. Berbagai pengaruh inilah yang mengakibatkan sifat dari sastra Melayu, khususnya manuskrip Melayu tidak berkembang menurut garis lurus. Mengutip pendapat Anthony H. Johns dalam bukunya Islam in Southeast Asia: Reflections and New Directions (1975) dalam Ding Choo Ming (2003), bahwa manuskrip Melayu mempunyai sifat “a web of dinanism and tensions.” Justru dari keberagaman pengaruh inilah kebanyakan manuskrip Melayu mempunyai sifat, ciri, dan corak similary in variety, unity in diversity, dan sebagainya (Ding Choo Ming, 2003:10).

Masih menurut Johns, timbulnya keragaman dalam keseragaman itu disebabkan oleh, “.... the distribution and variety is not constant. It has been shifting and changing with the political and cultural history of the Indies since first sultanates were established at the end of the thirteenth century in a region of a variety of people, social structures, a means of livelihood, culture ....”. Sebaliknya, faktor kesamaan dalam penulisan manuskrip Melayu disebabkan keseragaman pada penggunaan bahasa Melayu (Ding Choo Ming, 2003:9).

Penyebaran manuskrip Melayu memunculkan beragam penelitian yang berdasarkan atas kajian nama, tempat, dan peristiwa. Di sinilah perlu diadakannya pemetaan terhadap manuskrip Melayu. Ding Choo Ming  (2005) menyatakan bahwa pemetaan terhadap penyebaran manuskrip Melayu ini berguna sebagai “graphic representation recording” penyebaran berbagai tradisi manuskrip (Ding Choo Ming, 2005:80). Tradisi dalam kajian ini bukan dimaksudkan untuk memetakan keragaman bahasa sebagaimana manuskrip di Nusantara, tetapi lebih dikhususkan untuk mengkaji manuskrip Melayu yang menggunakan bahasa Melayu. Tradisi di sini lebih berfungsi sebagai pemilahan jenis manuskrip Melayu yang didasarkan pada pemilihan judul dan penetapan tarikh (tahun) (Ding Choo Ming, 2003:79 & 86).

Perlu ditulis di sini bahwa tidak semua manuskrip yang ditemukan mencantumkan nama penulis, judul tulisan, dan angka tahun yang jelas. Beberapa ahli yang kemudian mengkaji manuskrip, mayoritas di antaranya melakukan studi perbandingan, khususnya untuk mengetahui tahun penulisan manuskrip tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Ding Choo Ming:

“Manuskrip Melayu sebelum ‘Zaman Islam‘ telah diubah sesuai dari masa ke masa. Dengan itu, kata-kata Sanskrit dan Melayu kuno telah banyak diganti dengan kata-kata Arab, Parsi, dan lain-lain kerana pengaruh kebudayaan Islam dan sebagainya. Akibatnya, manuskrip yang sepatutnya mempunyai identiti masa, daerah, dan budaya asal itu telah diganti dengan identiti daerah dan budaya masa yang kemudian. Dan, disebabkan manuskrip yang lama itu telah rosak dan hilang, sukarlah mendapat sumber yang baik untuk dibuat perbandingan” (Ding Choo Ming, 2003:126).

Kesulitan lain untuk mengkaji manuskrip adalah pemberian judul manuskrip. Menurut Ismail Hussein dalam buku  Pengumpulan Tradisi Sastera Lama (1972) dalam Ding Choo Ming (2003), bahwa, “Sastera Melayu tradisional baik sastera manuskrip atau sastera lisan itu sastera “participative,” dalam erti kata orang ramai turut sama dalam proses penciptaan karya. Selain itu, bahan sastera dan orang ramai sama-sama menjadi inspirasi kepada satu yang lain” (Ding Choo Ming, 2003:126). Hal ini berakibat pada pemberian judul manuskrip yang sebenarnya kurang sesuai dengan isi manuskrip di dalamnya.

E.U. Kratz dalam bukunya yang berjudul Peringatan Sejarah Negeri Johor: eine Malaiische Suelle zur GeschicHte Johor im 18. Jahrhundert (1973) dalam Ding Choo Ming (2003), telah memberikan judul Peringatan Sejarah Negeri Johor untuk sebuah manuskrip yang dikajinya. Judul tersebut dirasa kurang tepat ketika Virginia Matheson mengkaji manuskrip yang sama. Menurut Matheson dalam bukunya Concept of Malay Ethos in Indegenous Malay Writing (1976) dalam Ding Choo Ming (2003), menyatakan bahwa tema pokok manuskrip yang dikaji oleh Kratz tersebut berkisah tentang raja-raja Melayu di Riau, terutama Sultan Sulaiman dan para pengikutnya (Ding Choo Ming, 2003:79). Perdebatan tersebut hanya salah satu contoh dari beberapa perdebatan seputar pemberian judul pada sebuah manuskrip. Perdebatan yang dipicu dengan ketiadaan judul ketika manuskrip tersebut pertama kali ditemukan.

Ketiadaan judul manuskrip ketika ditemukan memang menjadi kendala utama. Menurut Ding Choo Ming (2003), kemungkinan ketiadaan judul dikarenakan penulis (pujangga) manuskrip pada masa itu mendapatkan kesulitan pemberian judul untuk karya-karya gineologi raja-raja yang isinya sangat beragam dengan ruang lingkup yang sangat luas. Kemungkinan lainnya, manuskrip tersebut ditulis bukan oleh satu orang penulis. Selain itu ada kalanya penulisan manuskrip tidak dalam satu waktu, tetapi bersambung dari penulis yang satu ke penulis yang lain dan dari masa yang satu ke masa berikutnya. Isi cerita bagian akhir telah menyimpang jauh dari isi cerita bagian awal (pertama) (Ding Choo Ming, 2003:81). Seperti disampaikan oleh Muhammad Haji Saleh dalam bukunya Renewing the Author: the Malay Author on page and stage (2004) dalam Ding Choo Ming (2005), bahwa “Masalah utama dalam pemetaan manuskrip ialah mencari tempat asalnya kerana bukan semuanya mempunyai maklumat pengarang, tarikh, dan tempat penulisannya. Walaupun sinario itu berubah dengan datangnya pengaruh Barat” (Ding Choo Ming, 2005:82).

Masalah yang disampaikan oleh Muhammad Haji Saleh merupakan sebagian dari masalah secara keseluruhan tentang pengkajian manuskrip Melayu. Selain masalah yang dikemukakan oleh Muhammad Haji Saleh, masalah lain dalam pengkajian manuskrip Melayu adalah penyelarasan anggapan tentang sejarah Melayu sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para orientalis. Ding Choo Ming menyebutkan bahwa manuskrip Melayu telah dianggap oleh para orientalis sebagai cerita fantasi dan dongeng karenanya masih dipertanyakan nilai kebenarannya (Ding Choo Ming, 2008a:59). Masalah pengkategorian manuskrip Melayu untuk bisa dimasukkan sebagai salah satu bukti sejarah atau sebatas karya sastra, memang membutuhkan pengkajian yang lebih mendalam. Banyaknya mitos dan cerita untuk mempertahankan keabsahan kedudukan seorang raja, membuat kajian manuskrip Melayu membutuhkan kerja ekstra untuk menempatkannya sebagai karya sastra atau sumber sejarah. Meskipun masih terjadi penyelarasan alur berfikir, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ribuan manuskrip Melayu sangat penting peranannya bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Manuskrip Melayu banyak memberikan pelajaran tentang pendidikan, sastra, penokohan, institusi sosial, kebudayaan, ekonomi, politik, hiburan, teknologi, pertanian, dan lain sebagainya (Ding Choo Ming, 2008a:59).

Penyelarasan atas anggapan pentingnya kajian secara serius terhadap manuskrip Melayu, menurut Ding Choo Ming harus dimulai dari peneliti yang berasal dari bangsa Melayu itu sendiri. Sudah saatnya para peneliti Melayu memberikan andil dalam usaha penulisan kembali maupun penelitian manuskrip Melayu. “Penyelidikan mesti terus dilakukan kerana hanya 30% daripada manuskrip yang berjumlah sekitar 10.000 judul dengan salinannya itu sudah dikaji, untuk dapat menafsir semua tanggapan sarjana Eropa yang mengkaji manuskrip Melayu lebih daripada perseptif sejarah” (Ding Choo Ming, 2008a:60). Penelitian manuskrip Melayu ini kemudian harus didokumentasikan dalam bentuk yang tidak lekang dimakan usia. Salah satu caranya dilakukan dengan mendigitalkan hasil penelitian manuskrip Melayu. Ding Choo Ming telah memulai dengan cara pembuatan portal www.malaycivilization.com. Di dalam portal inilah hasil penelitian tentang manuskrip Melayu tersimpan dengan aman. Hasil penelitian inipun dapat diakses oleh semua pihak yang berkeinginan untuk mengkaji lebih lanjut ataupun tertarik dengan kajian tentang manuskrip Melayu. Beberapa manuskrip yang telah didigitalkan misalnya Hikayat Indera Putera, Peluru Petunang, Sulatus Salatin, dan Warisan Perubatan Melayu (http://mymanuskrip.fsktm.um.edu.my/). Manuskrip Melayu merupakan aset yang tidak ternilai harganya. Warisan ini harus terus dilestarikan demi menjaga kekayaan intelektual generasi pendahulu, sekaligus media pembelajaran bagi generasi yang akan datang.

Pantun

Buah mengkudu ku sangka bidara
Kandis terletak di tangan puan
Pantun Melayu warisan kita
Tidak luput ditelan zaman (Zaitul Azma Zainon Hamzah, et.al., 2007:102)

Philip Ward dalam bukunya yang berjudul Indonesian Traditional Poetry (1975) dalam Ding Choo Ming (2007), menuliskan bahwa “Pantun is essentially an oral literature. Born orally, it continued its charm orally too, regardlness of the languages or the places. In this way, they are submerged in the daily life of the people (Ding Choo Ming, 2007:23). Senada dengan pendapat Ward, Ding Choo Ming (2008b:24) mempunyai pemikiran bahwa:

“Pantun, misalnya, berasal daripada sastera lisan. Semacam sastera rakyat yang selalu diperkatakan dalam buku sejarah sastera Melayu lama, ia digubal dan diperturunkan secara lisan daripada generasi yang lain dan juga dari satu tempat ke satu tempat yang lain. Tradisi lisanlah yang bertanggungjawab dalam penyebarannya daripada masa dahulu sehinggalah ia dicetak pada kurun ke-19 dan disebarkan ke seluruh dunia dan kini ia disebarkan juga di ruang siber”.

Argumen dari Ward maupun Ding Choo Ming secara tegas menandaskan bahwa pantun merupakan produk dari tradisi lisan. Tradisi lisan yang kemudian mampu memasuki ranah lain seperti syair, puisi, hikayat, sampai manuskrip. Di sinilah terjadi transformasi budaya dari tradisi lisan ke tradisi tulis.

Pantun merupakan kebudayaan bangsa Melayu. Pengkajian terhadap pantun merupakan upaya untuk tidak melupakan jejak masa lalu sekaligus melestarikannya. Sebagaimana diungkapkan Ding Choo Ming (2007), “... we cannot forget our local culture and heritage in facing forces of globalization in the 21st  century and beyond. It is only by remembering our local culture as our anchor in this borderless world that we can derive energi potentials for the bigger changes in store for us” (Ding Choo Ming, 2007:19).

Energi potensial yang berasal dari produk lokal bangsa Melayu ini ternyata juga memberikan kebanggaan bagi masyarakat dari ras lain untuk turut mengkajinya. Seperti yang disampaikan Ding Choo Ming, “... many non-indigenous ethnic groups too proud of their” (Ding Choo Ming, 2007:19). “Non-indigenous ethnic groups” yang dengan bangga bisa mengkaji dan melestarikan pantun Melayu misalnya kaum Baba dan Nyonya (sebutan untuk etnis peranakan Cina di Malaysia). Perasaan bangga ini dikarenakan kaum Baba dan Nyonya merasa memiliki dan menjadi bagian dari tradisi Melayu.

Kebanggan kaum Baba dan Nyonya (selanjutnya ditulis Peranakan Baba) sebagai salah satu pelestari pantun Melayu telah tampak sejak akhir abad ke-19. Keleluasaan kaum Peranakan Baba di akhir abad ke-19 dalam melestarikan pantun Melayu, salah satunya dipengaruhi oleh beberapa kemudahan dalam segi pendidikan dan perekonomian semasa penjajahan Inggris. Kemudahan ini berimbas pada peningkatan kualitas pendidikan dan taraf hidup Peranakan Baba. Ding Choo Ming (2008b) menyatakan  bahwa peningkatan tingkat pendidikan dan taraf hidup Peranakan Baba ternyata berimbas pula dengan lahirnya banyak karya sastra Peranakan Baba di akhir abad ke-19 (Ding Choo Ming, 2008b:25). Pernyataan Ding Choo Ming ini dikuatkan oleh Tan Sooi Beng dalam bukunya The Musical Life on the Baba and Nyonya (2002:70-73) dalam Ding Choo Ming (2008b), “Tertarik kepada pantun dan syair Melayu, ramai orang Peranakan Baba bukan sahaja boleh berjual beli pantun dan syair, malahan mendendangkan pantun dengan diiringi alat muzik, maka dikenal dengan nama berdondang sayang. Antara tokoh itu ialah Baba Chia Kim Teck yang juga telah diberi nama timbangan Raja Pantun Baba di upacara, pesta, atau perayaan lain sempena madjlis perkahwinan, hari jadi orangtua, hari lahir bayi, dan sebagainya yang diamalkan masyarakat Peranakan Baba dan Nyonya” (Ding Choo Ming, 2008b:25).

Pantun bisa diterima para Peranakan Baba karena beberapa unsur yang dibawakan oleh pantun Melayu tidak bertentangan dengan tradisi Peranakan Baba, misalnya agama Budha dan adat Cina yang merupakan tradisi dari daerah asal. Ding Choo Ming (2008b) memberikan argumen bahwa kemampuan pantun Melayu untuk menyusup ke dalam budaya Peranakan Baba juga disebabkan oleh tema kasih sayang dan romantisme (percintaan) yang terdapat dalam pantun Melayu. Tema ini pada dasarnya merupakan tema umum (universal) yang terdapat dalam pantun di berbagai belahan dunia (Ding Choo Ming, 2008b:33). 

Menurut Ding Choo Ming (2008b), akulturasi antara pantun Melayu yang kemudian merasuk ke dalam kebudayaan Peranakan Baba di Malaysia, akhirnya melahirkan beberapa penulis, editor, dan sastrawan Melayu yang berasal dari Peranakan Baba. Beberapa di antaranya adalah Hay Yam, Baba Chia Kim Teck, Wan Boon Seng, Lim Hook Chee, Bateck, dan Baba Cheong Tat. “Mereka inilah yang telah mengarang, menggubal dan mengimprovisasi pantun Melayu, selain menciptakan pantun dan syair yang baru. Sebahagian besar pantun Peranakan Baba – istilah generik untuk pantun, syair, seloka, gurindam, dondang sayang, keroncong, teka-teki, malahan karya sastera yang berunsur puisi yang telah diterbitkan dalam bentuk buku atau disiarkan secara bersiri dalam akhbar Peranakan Baba semasa” (Ding Choo Ming, 2008b:27). Pantun Melayu karya Peranakan Baba tersebut misalnya dalam karya Wan Boon Seng, Nyanyi-an Extra-turn & Pantons: Kronchongs, Stambols, Special Extra-turn Song (1993) dalam Ding Choo Ming (2008b), “Sin-nio kena puji hampir tersenyum/Pantat-nya kena chubit oleh Sangkehum/Lankhek pon terbatok sengaja berdehum/Sudah terlihat hal Sangkehum” (Ding Choo Ming, 2008b:10).


Buku Pantun Peranakan Baba: Mutiara Gemilang
Negeri-negeri Selat karya Ding Choo Ming

Kapasitas pantun Melayu sebagai salah satu hasil kebudayaan Melayu sudah semestinya dilestarikan. Hal ini ini penting karena pantun merupakan produk kebudayaan Melayu yang mencerminkan tradisi seni dan sastra Melayu. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa pantun bisa merasuk ke berbagai perbedaan, seperti etnis, agama, dan politik. Seperti disampaikan oleh Farish Noor dalam bukunya From Majapahit to Putrajaya: searching for another Malaysia (2005) dalam Ding Choo Ming (2007):

“Firstly, pantun has all the qualities an identity symbol should possess: indigenous, beautiful, finest quality, popular, durable, distinctive, easily memorable, functional, long history, among many other. Secondly, it cannot be based on ethnicity, or politics, or religions which may be too sensitive, divisive, unstable and self-defeating in pluralistic societies, as the issues of identity is about belonging, togetherness and a bigger grouping ...” (Ding Choo Ming, 2007:28).

Berbagai usaha harus dilakukan agar warisan kebudayaan Melayu ini tidak punah. Perbedaan etnik, agama, dan kultur yang terdapat dalam Dunia Melayu sudah selayaknya dikesampingkan demi proses pelestarian yang berkelanjutan. Ding Choo Ming (2007) telah memberikan beberapa masukan agar aset yang tidak ternilai harganya ini tetap dapat dilestarikan. Beberapa masukan tersebut adalah:

“We must consciously reject the divisive forces of religion, ethnicity, and politics, and adopt a wide and all-embracing culture and tradition which is our heritage, history, and past. We must think interm of our survival in a bigger regional space and stronger unity bond. We have to start a conscious internal critique of our mixed, hybrid, and plural societie. We have to create a collective identity to pursue our regional destiny together” (Ding Choo Ming, 2007:28).

Selain masukan di atas, Ding Choo Ming juga mengajak kaum akademisi untuk terus mengkaji pantun Melayu. Pangkalan Data Sejuta Pantun yang mendapat dukungan penuh Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) merupakan salah satu langkah yang telah ditempuh untuk mendokumentasikan pantun Melayu sekaligus hasil penelitian tentang pantun Melayu. Pemikiran Ding Choo Ming ini telah terwujud secara konkret dengan mendigitalkan pantun Melayu melalui website www.malaycivilization.com. Tujuan dari digitalisasi pantun ini menurut Ding Choo Ming (2007):

“... because digital pantun can be accessed in more ways than linearly printed books. All the pantun in the portal can be searching by key word, subject, author, contributor, type, date, language, and name of place of origins. Thus from retrieval point of point, digital pantun is far more superior than the printed pantun which were relatively easy to be accessed in library” (Ding Choo Ming, 2007:30).

Kiprah Ding Choo Ming dalam mengkaji khasanah Dunia Melayu khususnya pantun Melayu sepantasnya mendapat apresiasi tersendiri. Atas usahanya yang gigih, maka Anugerah MelayuOnline 2009 memberikan penghargaan kepada Ding Choo Ming sebagai Peneliti dan Penggagas Digitalisasi Sejuta Pantun Melayu melalui www.malaycivilization.com, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), (http://melayuonline.com/).

Portal

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, portal diartikan sebagai pintu gerbang (Hasan Alwi, et. al., 2001:889). Dalam dunia cyber, portal bisa diartikan sebagai pintu gerbang untuk menjelajah ke dunia tanpa batas. Dunia yang tidak mengenal ras, agama, umur, jenis kelamin, maupun tingkat pendidikan. Sebuah dunia yang mengesampingkan perbedaan demografi. Dunia cyber memungkinkan terjalinnya komunikasi dan tukar menukar informasi, bahkan yang bersifat hiburan sekalipun. Dalam satu waktu orang bisa berkomunikasi, berbagi informasi di dua belahan dunia yang berbeda. Arus pengetahuan juga bisa terpublikasi lewat dunia yang satu ini. Portal mampu mencakup dan mengakses semua ilmu pengetahuan, termasuk tentang Dunia Melayu. Portal pada dasarnya memang merupakan pangkalan data.

Berpijak dari kemampuan portal inilah, Ding Choo Ming mendapat tugas untuk mengembangkan studi dunia Melayu melalui dunia cyber. Tugas ini diberikan pada beliau terkait dengan kerjasama antara Fakultas Teknologi dan Sains Maklumat dengan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) dengan menugaskan Ding Choo Ming sebagai Felo Penyelidik Kanan (rekanan peneliti) di ATMA pada 1 April 1999 (Ding Choo Ming, 2008a:71). Tugas dari ATMA untuk mengembangkan Dunia Melayu melalui dunia cyber diujudkan oleh Ding Choo Ming dengan melahirkan portal www.malaycivilization.com.

Ding Choo Ming mendesain www.malaycivilization.com sebagai portal untuk menampung ragam kajian dunia Melayu. www.malaycivilization.com merupakan portal milik ATMA yang pada tahap awal pembuatannya ibiayai oleh dana dari Skim Geran Demonstrator Application Grant Scheme (DAGS), Majlis Teknologi Maklumat Negara (NITC) (Rumaizah Mohammed, et.al., 2004:29). Portal ini sengaja ditujukan untuk menampung, mengembangkan, dan mempublikasikan pernak-pernik seputar kebudayaan Melayu ke seluruh dunia. Mulai sejarah, karya sastra, pantun, kamus, dan database tentang Dunia Melayu bisa diakses lewat portal ini. Sebagaimana tertera dalam tampilan beranda pada www.malaycivilization, beberapa karya tersebut misalnya: Adat Perpatih, Borneo Homeland, Karya Jawi (Jawi Works), N.A. Halim‘s Special Collection, Malay World Database (PADAT), Malay Dictionary of End Syllables, Malay Dictionaries by Non-Malays, Online SARI Journal, Peribahasa (Malay Proverbs), Pantun Baba (Baba‘s Pantun), 1 Juta Pantun Melayu, Tenas Effendy‘s Special Collection, Za‘ba‘s Collection, Koleksi Khas Yang Quee Yee, dan The Theory of Language Koineization (www.malaycivilization.com).


Tampilan portal www.malaycivilization.com

Selain menyajikan informasi yang secara online, www.malaycivilization.com juga menyajikan literatur tentang Dunia Melayu dalam bentuk CD (compaq disc). Bentuk CD bisa dipesan dengan membeli secara online. Beberapa CD tersebut misalnya: Syair Ken Tambuhan, Sejarah Melayu, dan Sejarah Melayu dalam bahasa Arab (www.malaycivilization.com). Data software sampai data fisik memang sengaja disajikan dalam portal ini. Tujuannya agar semua lapisan masyarakat bisa mengakses melalui beberapa tampilan. Inisiatif ini memungkinkan persebaran informasi menjadi lebih efektif. Atas inisiatif inilah beberapa kalangan memberikan penilaian yang positif tentang www.malaycivilization.com. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Johan Jaaffar (Direktur New Straits Times Press Berhad, pemimpin Media Prima Berhad dan salah satu pimpinan Dewan Bahasa dan Pustaka), ”Saya melihat kemungkinan mewujudkan perpustakaan digital untuk sejarah dan tamadun orang Melayu...ATMA sudah menunjukkan jalannya...” (Berita Minggu, 19 Maret 2006 dalam www.malaycivilization.com)

Bagi Ding Choo Ming kajian tentang Dunia Melayu lewat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), harus dilihat dalam konteks pelestarian budaya maupun implementasinya. Lembaga kebudayaan maupun institusi pemerintah berkewajiban untuk terus menggalakkan pelestarian dan pengembangan budaya lewat teknologi tersebut (http://melayuonline.com/news/?a=a). ATMA telah memulai lewat kajian kebudayaan yang bersifat ilmiah. Sifat ini sengaja dibangun karena bagi Ding Choo Ming implementasi tentang kebudayaan yang salah tafsir dan terlalu dangkal pengertiannya perlu didekonstruksi.

Ding Choo Ming mencontohkan bahwa banyak definisi tentang budaya Melayu yang dikemukakan oleh pakar asing, seperti Thomas S. Raffles (Inggris) dan Snouck Hurgronje (Belanda), yang mengacu pada pengertian kebudayaan secara umum, di mana kebudayaan merupakan hasil karya manusia yang diciptakan guna mempertahankan kelangsungan kehidupan manusia. Wujud kebudayaan itu, jelas Ding Choo Ming, dapat berupa bahasa, kesenian, struktur masyarakat, serta nilai-nilai yang digunakan sebagai acuan dalam bertindak dan bertingkah laku dalam budaya Melayu. Namun, definisi tersebut belum memberikan pemahaman tentang bagaimana memajukan masyarakat maupun kebudayaan Melayu. Pembinaan terhadap masyarakat sekaligus juga harus diiringi dengan pembinaan terhadap budayanya, sehingga kemajuan suatu masyarakat juga selaras dengan kemajuan budayanya. Di sinilah, menurut Ding Choo Ming letak pentingnya penggunaan TIK dalam pelestarian budaya, khususnya budaya Melayu. Pendapat Ding Choo Ming ini sesuai dengan ramalan Alvin Toffler,  "Evolusi ini pun berubah dari sumber daya alam (natural resources) menuju pengetahuan (knowledge), di mana penggunaan teknologi semakin intensif". (http://melayuonline.com/news/?a=a).

Karya

Berikut ini merupakan beberapa karya yang telah dihasilkan oleh Ding Choo Ming, baik dalam bentuk buku, jurnal, dan prosiding, sebagaimana dimuat dalam www.atma.ukm.my. Karya tersebut antara lain:

1. Karya tulis Ding Choo Ming dalam bentuk buku, antara lain:

  • A Bibliography of Bibliographies on Malaysia, Petaling Jaya: Hexagon, 1981.
  • Raja Aisyah Sulaiman: Pengarang Ulung Wanita Melayu, Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1999.
  • Kajian Manuskrip Melayu: Masalah, Kritikan, dan Cadangan, Kuala Lumpur: Utusan Publications, 2003.
  • Consistinent, Coast, Ocean: Dynamics of Regionalism in Eastern Asia. Jointly edited with Dr. Ooi Kee Beng. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), 2007.
  • Continent, Coast and Ocean: Dynamics of Regionalism in East Asia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies (ISAS), 2007.
  • Manuskrip Melayu: Sumber Maklumat Peribumi Melayu, Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia, 2008.
  • Pantun Peranakan Baba: Mutiara Gemilang Negeri-Negeri Selat, Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), 2008.

2. Karya tulis Ding Choo Ming yang dimuat dalam bentuk jurnal, antara lain:

  •  “New System New Rules: Development and Trends in Serials Subscriptions”, Sekitar Perpustakaan, bil. 38 (2004):15-24.
  • “Penutupan Akhbar Utusan Melayu: Nasib Tulisan Jawi”, Pemikir. Bil. 45 (Jul-Sep 2006):19-42.
  • “Penglibatan Bukan Melayu dalam Pengajian Dunia Melayu”, Pemikir. Bil. 43 (Jan-Mac 2006):165-181.
  • “Boosting the Malay World‘s Cultural Heritage: Digital Empowerment Through ATMA‘s Portal on Malay World Studies”, Beringin 2 (2006):25-36.
  • “Japanese Occupation and Malayan Literary Works”, Southeast Asia Journal (Seoul) 16:1(2006):161-198.
  • “Our Culture is Our Future”, Jurnal ASWARA 2:1 (2007):29-40.

3. Karya tulis Ding Choo Ming yang dimuat dalam bentuk prosiding (kumpulan makalah dalam suatu seminar atau konferensi yang kemudian dibukukan dengan waktu terbit tidak berkala), antara lain:

  • “Publishing a Scholarly Journal on the World Wide Web”, Persidangan Kebangsaan Penerbitan Ilmiah 2007: Pemeriksaan Penerbitan Ilmiah. 9-11 Januari 2007, di Persadar Johor, Johor Baru.
  • “Kearifan Lokal yang Terkandung Dalam Naskah Nusantara”, Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XI: Kearifan Lokal yang Terkandung dalam Naskah Nusantara di Bima, Nusa Tenggara Barat, 26-29 Juli 2007.
  • Capaian Jurnal UKM di Internet, Sanggar Jurnal, Penerbit UKM, 16 Februari 2007 di Hotel Quatoria Bangi.
  • “Sumbangan Yang Quee Yee kepada Universiti Kebangsaan Malaysia”, dalam rangka Majlis Pelancaran Memoir Yang Quee Yee: Penoreh Getah dan penyusun Kamus (dalam bahasa Cina) di Chinese Assembly Hall, Kuala Lumpur, pada 9 April 2007.
  • “Memperkatakan Pangkalan Data Sejuta Pantun di Perpustakaan Negeri Sarawak“, bersama Dr Supyan Husin pada 25 Mei 2007.
  • “Koleksi Karya Dalam Jawi Bentuk Digitial dari 1920-1960“, Seminar Kebangsaan Tulisan Jawi: Sejarah, Seni dan Warisan: anuran lembaga Muzium Negeri Pahang, 2-5 Juli 2007 di Kuantan, Pahang (www.atma.ukm.my).
  • “Role of the Pantun in Building Cultural Identity in the Malay World 21st Century and Beyond”, Seminar Pantun Melayu: Semalam, Hari ini, dan Esok, pada 6-7 Desember 2007 bertempat di Dewan Persidangan PPPI kampus induk UKM Bangi (Ding Choo Ming, 2007:18-43).

Penghargaan

Lewat berbagai upaya yang telah beliau lakukan dalam mengkaji literatur Melayu, maka sejumlah penghargaan dianugerahkan kepada Ding Choo Ming. Penghargaan tersebut antara lain:

  • Anugerah APC Terbanyak (Kakitangan Akademik), Anugerah dalam rangka Sambutan 35 Tahun UKM – Majelis Penyampaian Anugerah Kualiti ke 13 (UKM) (2005).
  • Hadiah Perak: Pangkalan Data Koleksi Tenas Effendi dan Sukukata Akhir Bahasa Melayu (Ekspo Penyelidikan & Inovasi UKM, 2005)
  • Hadiah Gangsa: Sukukata Akhir Bahasa Melayu. IPTA R&D 2005: Prosperity through Global Research & Innovation (2005)
  • Anugerah APC Terbanyak, Anugerah dalam rangka Sambutan 35 Tahun UKM, Majelis Penyampaian Anugerah Kualiti ke 13 (UKM)  (2005).
  • Hadiah Gangsa: Sukukata Akhir Bahasa Melayu. IPTA R&D 2005: Prosperity through Global Research & Ijnnovation, 30 Sep-2 Okt 2005 di PWTC (http://atma.ukm.my).
  • Anugerah Guru Besar di bidang Teknologi dan Sains Maklumat oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada 28 November 2008 (http://melayuonline.com/).
  • Anugerah MelayuOnline 2009 untuk kategori Peneliti dan Penggagas Digitalisasi Sejuta Pantun Melayu melalui www.malaycivilization.com, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) (http://melayuonline.com/).

(Tunggul Tauladan/tkh/02/07-2009)

Referensi

Ding Choo Ming., 2003. Kajian Manuskrip Melayu: Masalah, Kritikan, dan Cadangan, Kuala Lumpur: Utusan Publication & Distributor Sdn Bhd.

Ding Choo Ming., 2005. Projek Pemetaan Manuskrip Pribumi Nusantara. Disampaikan dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara IX di Keraton Buton, Sulawesi Tenggara pada 5-8 Agustus 2005. Dalam Kumpulan Artikel Prof. Ding Choo Ming Jilid I. Tidak diterbitkan.

Ding Choo Ming., 2007. Role of the Pantun in Building Cultural Identity in the Malay World 21st Century and Beyond. Disampaikan dalam Seminar Pantun Melayu: Semalam, Hari ini, dan Esok di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi pada 6 dan 7 Desember 2007. Dalam Hussin, Supyan & Ming, Ding Choo (eds.), 2007. Prosiding Seminar Pantun Melayu: Semalam, Hari ini, dan Esok, Bangi: Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysis (UKM).

Ding Choo Ming., 2008a. Manuskrip Melayu: Sumber Maklumat Peribumi Melayu, Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Ding Choo Ming., 2008b. Pantun Peranakan Baba: Mutiara Gemilang Negeri-negeri Selat, Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Hasan Alwi, et. al., 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi 3. Cetakan 1. Jakarta: Balai Pustaka.

Ooi Kee Beng & Ding Choo Ming (eds.)., 2007. Consistinent, Coast, Ocean: Dynamics of Regionalism in Eastern Asia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).

Rumaizah Mohammed et.al., 2004. Pengajian Alam Melayu di Pentas Global: Teknologi Maklumat dan Penstrukturan Ilmu di ATMA, UKM. Jurnal SARI. Vol. 22.

Zaitul Azma Zainon Hamzah et.al., 2007. Pemikiran dan Peradaban Bangsa dalam Pantun Melayu. Disampaikan dalam Seminar Pantun Melayu: Semalam, Hari ini, dan Esok di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi pada 6 dan 7 Desember 2007. Dalam Hussin, Supyan & Ming, Ding Choo (eds.), 2007. Prosiding Seminar Pantun Melayu: Semalam, Hari ini, dan Esok, Bangi: Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysis (UKM).

Artikel di Internet

http://74.125.153.132/. Diakses pada 31 Juli 2009.

http://mymanuskrip.fsktm.um.edu.my/. Diakses pada 25 Juli 2009

http://www.atma.ukm.my/infoProfDing.html. Diakses pada 16 Juli 2009.

http://www.malaycivilization.com/. Diakses pada 17 Juli 2009.

Ali Rido, “Ding Choo Ming (Konsultan MelayuOnline.com) Raih Gelar Guru Besar,” tersedia di http://melayuonline.com/. Diakses pada 14 Juli 2009.

Tasyriq Hifzhillah, “Pentingnya TIK dalam Pelestarian Budaya,” tersedia di http://melayuonline.com/. Diakses pada 14 Juli 2009.

Tasyriq Hifzhillah, “Perayaan Milad MelayuOnline.com II: BKPBM Taja Anugerah MelayuOnlione 2009,” tersedia di http://melayuonline.com/. Diakses pada 16 Juli 2009.

Sumber foto

  • http://bukuria-malaysia.com/
  • http://www.malaycivilization.com
  • http://mediumbooks.net/
  • Lanang, Tun Seri., 1997. Sulalat al-Salatin ya‘ni Perteturunan Segala Raja-raja (Sejarah melayu). Dikaji dan diperkenalkan oleh Muhammad Haji Saleh. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Ding Choo Ming., 2008b. Pantun Peranakan Baba: Mutiara Gemilang Negeri-negeri Selat, Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
Dibaca : 18.140 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password