Minggu, 28 Mei 2017   |   Isnain, 2 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 5.948
Hari ini : 46.044
Kemarin : 72.249
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.481.690
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Peneliti Melayu

Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno


Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno

Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno adalah peneliti kesusastraan Melayu di Indonesia. Salah satu obyek penelitian, yang juga sekaligus disertasi beliau untuk memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Sastra di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1988 adalah “Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan teks dan analisis resepsi”.

1. Riwayat Hidup

Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno adalah peneliti kesusastraan Melayu di Indonesia. Beliau telah menekuni bidang penelitian, khususnya tentang kesusastraan Melayu, sejak masih duduk di bangku kuliah. Bahkan, disertasi beliau untuk memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Sastra di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1988 mengambil judul “Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan teks dan analisis resepsi”.

Chamamah Soeratno juga melakukan penelitian tentang karya-karya Nuruddin Arraniri. Bersama dengan peneliti lain seperti Prof. Dr. Sulastrin Sutrisno dan Prof Siti Baroroh Baried, pada tahun 1982 Chamamah Soeratno terlibat dalam sebuah tim yang menerbitkan hasil penelitian yang diberi judul “Memahami karya-karya Nuruddin Arraniri”.

Chamamah Soeratno menganggap bahwa sastra adalah media yang paling efektif, yaitu sebagai “means that not transmitable by other means”. Karya sastra bisa dikatakan sebagai media yang tidak tergantikan oleh media lain. Sehubungan dengan kelebihan karya sastra tersebut, Chamamah berusaha untuk menggali beberapa naskah sastra yang dianggap memiliki kemampuan untuk menyusup bahkan mempengaruhi kebudayaan lain. Salah satunya adalah naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain (http://wajirannet.blogspot.com/).

Siti Chamamah Soeratno dilahirkan di Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 24 Januari 1941 (http://kabare.jogja.com/). Nama Soeratno adalah nama dari suami yang dinikahinya pada tahun 1966. Ibu dari Ahmad Syauqi dan Nurul Chusna ini menempuh pendidikan awal di SD Ngupasan, kemudian berlanjut ke SMP Putri Muhammadiyah. Setelah tamat SMP, anak dari pasangan KH Hanad Noor-Hj Juhariah ini melanjutkan sekolah di SMA yang dibentuk oleh ayahnya. Chamamah lupa apa nama SMA tersebut (http://www.kr.co.id/).

Setelah tamat SMA, putri dari salah satu tokoh pendiri Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini menempuh pendidikan Strata 1 di Fakultas Sastra UGM. Gelar Strata 2 diperolehnya dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial di Perancis. Ketika berusaha untuk memperoleh gelar Strata 2 tersebut, Chamamah Soeratno juga aktif melakukan penelitian dan belajar bahasa Perancis dan Arab.

Upaya tersebut membuahkan hasil karena penelitian yang telah dimulai sejak menempuh pendidikan Strata 2 mengantarkannya untuk meraih gelar Strata 3 di UGM. Bahkan, penelitian yang kemudian dijadikan desertasi doktoralnya tersebut ditempuh melalui kerjasama dari beberapa negara, yaitu Belanda, Jerman, Inggris dan Italia.

Akhirnya, penelitian yang presentasinya dilakukan di UGM dengan pembimbing dari Belanda, yaitu Prof Dr A Teeuw, tersebut berhasil mengukuhkan dirinya sebagai peneliti kesusastraan Melayu melalui disertasinya yang berjudul “Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan Teks dan Analisis Resepsi” pada tahun 1988 (http://www.kr.co.id/).

Bersama karibnya, Prof. Dra Hj. Siti Baroroh Baried (alm), Chamamah Soeratno termasuk ke dalam 7 orang profesor yang berasal dari daerah Kauman di Yogyakarta. Lima orang profesor lainnya adalah Prof. KH Farid Ma’ruf (alm), Prof. Dr. Tujimah, Prof Dr. H. Ahmad Sumitro, Prof. Dr. Hj. Siti Dawiesah Ismadi, dan Prof. H. Zamroni, Ph.D. Sama halnya seperti Prof. Dra Hj. Siti Baroroh Baried (alm), Chamamah Soeratno juga mengabdikan ilmunya di almamater yang membesarkannya, yaitu UGM (http://kauman.info/).

Sebagian besar kehidupan Chamamah Soeratno diabdikan untuk almamaternya. Sebelum mendapatkan gelar profesor di Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Yogyakarta, Chamamah mengajarkan tentang Studi Sastra dan Filologi (bahasa Arab). Beliau menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Sastra Arab, Kepala Jurusan Sastra Perancis, dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya, UGM  (http://icrs.ugm.ac.id/).

Di luar pengabdiannya di UGM, Chamamah Soeratno juga mempunyai beragam aktivitas, mulai dari mengajar (dosen) di STIE YKPN, UNY, Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga), IAIN Wali Songo Semarang, dosen tamu di Universitas Gunadarma Jakarta, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, anggota Internasional Conference Religion of Peace, hingga didaulat untuk menjadi pembicara dalam berbagai talkshow, dialog interaktif, ceramah, dan seminar baik di dalam maupun di luar negeri seperti di Dubai, Mesir, Australia, Swiss, dan negara-negara di Eropa lainnya. Sejumlah tempat pernah pula disinggahi oleh Chamamah dalam perjalanan dan kunjungan dinas kegiatan sosial ke berbagai wilayah di tanah air, seperti Aceh, Palembang, dan Kalimantan (http://kabare.jogja.com/ dan http://www.kr.co.id/).

2. Pemikiran

Naskah sebagai peninggalan produk masa lampau seringkali mengandung berbagai informasi tentang aspek kehidupan masyarakat lampaunya, baik aspek ekonomi, politk, maupun sosial budaya (Siti Chamamah Soeratno, 1997:10). Untuk itulah, kajian tentang naskah perlu terus digali karena selain sebagai bagian dari khazanah kekayaan budaya bangsa, naskah juga sekaligus sebagai guru yang baik jika manusia setelahnya mampu “membaca” naskah dengan baik pula. Beberapa naskah yang digali oleh Chamamah Soeratno berpusat di ranah kesusastraan Melayu, yaitu Hikayat Iskandar Zulkarnain  dan karya-karya dari Nurrudin Ar Raniri.

Naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain sebenarnya telah menarik perhatian Chamamah sejak menempuh pendidikan Strata 2 di Perancis. Berawal dari ketertarikan inilah, Chamamah kemudian melakukan penelitian hingga menjadikan naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain sebagai disertasinya yang berjudul “Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan Teks dan Analisis Resepsi” yang kemudian dibukukan oleh Balai Pustaka pada tahun 1991 dengan judul Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi.

“Perkenalan” dengan sosok Iskandar Zulkarnain dimulai ketika Chamamah Soeratno mendapatkan dana dari Pemerintah Perancis untuk belajar di negara asal Napoleon Bonaparte tersebut pada tahun 1976-1977 (Soeratno, 1997:ix). Di Bibliotheque Nationale di Paris, Chamamah menemukan naskah kesusastraan Melayu, Hikayat Iskandar Zulkarnain dan mulai tertarik untuk mendalaminya. Ketertarikan tersebut semakin kuat ketika Prof. Dr. Denys Lombard, seorang Indonesianis, menjadi pembimbing penelitian sekaligus tesisnya di Perancis.

Ketika masih menempuh pendidikan Strata 2, penelitian Chamamah belum begitu mendapatkan respon. Baru pada tahun 1979-1981, tepatnya pada Penataran Tenaga Ahli Kesusatraan Jawa dan Nusantara, yang diadakan oleh Konsorsium Sastra dan Filsafat Fakultas Sastra UGM, penelitian Chamamah tentang naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain mendapatkan apresiasi (Soeratno, 1997:ix). Bahkan, Prof. Dr. A. Teeuw, yang kemudian menjadi pembimbing disertasi Chamamah Soeratno, menyarankan untuk mengembangkan hasil penelitian itu dengan menggunakan beberapa teori sastra, yaitu dengan teori filologi, struktural, dan resepsi.

Teori filologi yang digunakan oleh Chamamah menitikberatkan pada pernyataan bahwa suatu teks akan berubah dalam penurunannya. Perubahan akan terlihat pada naskah-naskah salinannya, yaitu berupa bentuk yang rusak dengan bacaan yang berbeda-beda (varian). Dengan demikian, banyaknya jumlah naskah salinan dapat melahirkan variasi teks yang banyak pula. Metode filologi bertujuan untuk menemukan bentuk semula teks, yaitu bentuk awal dari teks yang telah diciptakan oleh pengarangnya atau sekurang-kurangnya bentuk teks yang diperkirakan paling dekat dengan wujud teks awal yang disebut arketip (Soeratno, 1991:12).

Teori struktural dipakai oleh Chamamah sebagai sebuah pisau analisis untuk memahami pendekatan bahwa suatu karya sastra, dalam hal ini naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain, adalah satu struktur yang bersifat otonom (A. Teeuw, 1984:120 dalam Soeratno, 1991:15). Sifat otonom yang terstruktur dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain merupakan satu ciptaan sastra yang dibangun dalam struktur yang utuh dan lengkap, di mana nilai keutuhannya dibina dan didukung oleh dirinya sendiri. Hal ini berarti antara satu unsur dengan unsur lainnya dalam satu karya sastra masing-masing memiliki koherensi intrinsik, satu unsur dengan unsur lainnya saling berkaitan, saling mendukung, saling menyusun dengan tata aturannya sendiri (Scholes, 1974 dalam Soeratno, 1991:15).

Teori resepsi dijadikan sebagai salah metode penelitian karena teori ini memungkinkan peneliti untuk melihat kemajemukan pembaca, yang merupakan variabel, dalam menyingkapi (memahami) naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain maupun produk transformasinya. Apabila sambutan terhadap teks maupun tranformasinya mendapatkan apresiasi yang bermacam-macam, maka hal itu menandakan adanya sambutan yang intensif terhadap teks. Gejala seperti inilah yang memerlukan pendekatan estetik resepsi dari pihak peneliti sehingga lewat keragaman naskah dapat ditelusuri tentang sejarah resepsi teks tersebut dalam interaksinya dengan faktor-faktor sosio-budaya. Salah satu cara untuk melacak sambutan dari pembaca atas sebuah teks dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian atas kritik sastra tentang teks tersebut (Soeratno, 1991:21-22).

Perpaduan antara penelitian (yang sifatnya masih sementara) dengan teori sastra (sesuai saran A Teeuw) akhirnya menghasilkan fondasi dasar tentang penelitian naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain. Penelitian ini kemudian kembali mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Belanda yang memberikan dana kepada Chamamah untuk lebih mendalami penelitian di Leiden, Belanda. Pada tahun 1983-1984, Chamamah melakukan penelitian di Leiden. Di tempat inilah Chamamah memperoleh berbagai data yang mendukung proses penelitian, baik data pustaka maupun masukan dari beberapa profesor di Leiden. Salah satunya adalah informasi sekaligus pendapat dari Prof. Dr. Voorhoeve tentang adanya naskah Hikayat Iskandar yang masih utuh (Soeratno, 1997:ix).

Penyempurnaan akhir dari penelitian Chamamah tentang naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain dilakukan dengan kembali ke Leiden untuk menyempurnakan serta memeriksa data-data sumber. Dengan bantuan dana dari World Bank XVII, pada bulan Desember 1987-Juli 1988, Chamamah melakukan penelitian akhir untuk menyelesaikan kajian naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain di Leiden, Belanda (Soeratno, 1997:ix-x).

Hikayat Iskandar Zulkarnain adalah salah satu karya sastra Melayu yang diciptakan pada abad ke-15. Bersama-sama dengan teks Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Sri Rama, Hikayat Iskandar Zulkarnain merupakan tiga teks Melayu yang tertua (Soeratno, 1991:2).

Menurut Sir Richard Winstedt (1940:163) dan Djamaris (1973:20) dalam Soeratno (1991:1), dalam pemahamanan masyarakat Melayu, tokoh Iskandar yang mendapatkan gelar “Zulkarnain” dipandang sebagai seorang yang agung, perkasa, pemberani, berjiwa besar, dan cendekiawan. Iskandar diyakini sebagai orang yang menurunkan raja-raja Melayu. Menurut Rangkuti (1952) dalam Soeratno (1991:1), Iskandar adalah tokoh penyebar agama Islam di tanah Melayu dan seorang teladan yang terus diceritakan dengan citra keteladanan dan kebesaran.

Dalam penelitiannya, Chamamah Soeratno menemukan bahwa tokoh Iskandar Zulkarnain tidak hanya ada di dalam kebudayaan (kesusastraan) Melayu saja, melainkan terdapat pula di beberapa budaya lainnya. Di dalam kebudayaan masyarakat Sumatra Utara, tepatnya Batak Mandailing misalnya, tokoh Iskandar Zulkarnain diakui sebagai penguasa segenap penduduk bumi. Keturunan Iskandar diramalkan akan menjadi penguasa di seluruh Pulau Sumatra (Soeratno, 1991:1). Tokoh Iskandar juga disinggung dalam cerita pewayangan di Kelantan. Di sini, sosok Iskandar digambarkan sebagai Iskandar, putera Raja Rum yang menikah dengan seorang putri dari Cina (Rentse, 1933:246 dalam Soeratno, 1991:2).

Dalam kebudayaan Jawa, sosok Iskandar juga dikenal dalam karya sastra Jawa yang berjudul Sultan Iskandar yang menjadi koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, dan karya yang berjudul Cariyosipun Kanjeng Sultan Iskandar (Cerita Sultan Iskandar) yang tersimpan di Kraton Surakarta. Masih di dalam budaya Jawa, figur Iskandar juga tersirat dalam karya sastra yang berjudul Menak Pangeran Kelan wonten Nagari Jamintoran dan Serat Nawawi. Kedua karya sastra Jawa ini merepresentasikan sosok Iskandar sebagai pemuka, penyebar agama Islam, dan sumber ajaran moral (Soeratno, 1991:3).

Di dalam budaya masyarakat Bugis, teks Hikayat Iskandar Zulkarnain juga mendapatkan tanggapan secara konkret. Bentuk transformasi naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain terdapat dalam naskah sastra Bugis yang berjudul Hikayat Iskandar Zulkarnain (Matthes, 1875:28 dalam Soeratno, 1991:3). Chamamah kemudian mengembangkan penyelidikan tentang kemiripan judul dalam teks Bugis ini dengan naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain. Hasilnya, ternyata teks Hikayat Iskandar Zulkarnain dalam sastra Bugis ini cukup mempengaruhi penciptaan teks karya sastra Bugis lainnya seperti Khbar Al-Akhirat (Soeratno, 1991:3).

Dalam khasanah sastra Indonesia, pada tahun 1959 terbit satu karya berjudul Aleksander Raja Masedonia, teks yang dinyatakan sendiri oleh penciptanya, Heru Utomo, sebagai karya terjemahan Alexander of Macedon karangan Harold Lamb. Dalam karya ini (Aleksander Raja Masedonia) dinyatakan bahwa tokoh Aleksander adalah nama lain dari Iskandar Zulkanain. Di sini Iskandar digambarkan sebagai seseorang yang gagah dan berhasil melakukan perjalanan bahkan penaklukan ke berbagai negeri (Heru Utomo, 1959 dalam Soeratno, 1991:4).

Karya sastra Indonesia lain yang berjudul Iskandar Zulkarnain yang terbit pada tahun 1974 juga menceritakan tentang tokoh Iskandar yang digamabrkan sebagai seorang pemuda yang tampan dan gagah, berpendidikan tinggi, cerdas, ahli tata negara yang ulung, dan tokoh yang berhasil menaklukan dunia. Disebutkan pula bahwa Iskandar Zulkarnain mendapat gelar “Yang Agung” karena sumbangannya yang besar dalam perkembangan peradaban dunia (Ali Marsaban dan X. S. M. Ondang Nazar, 1974 dalam Soeratmo, 1991:4-5).   

Sampai tahun 1981, masih terdapat sambutan terhadap teks Hikayat Iskandar Zulkarnain pada masyatrakat sastra Indonesia, yaitu dengan terbitnya karya Aleksander Agung dalam seri biografi. Iskandar di sini dinyatakan sebagai nama lain dari Alexander yang Agung. Iskandar dinyatakan sebagai panglima perang terbesar pada abad ke-2 M, seorang “pemandu” bangsa, dan pendiri kora (Soeratno, 1991:5).  

Naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain tidak hanya berpengaruh pada berbagai kebudayaan yang tersebut di atas, melainkan telah menyebar dan mempengaruhi pula berbagai kebudayaan lain, baik di daerah semenanjung maupun di daerah Indonesia lainnya, seperti Aceh, Minangkabau, Bengkulu, Palembang, Banjar, dan Bima. Khalid Thaib, dalam penelitiannya mengenai teks-teks Melayu yang tergolong pada sastra sejarah, menyimpulkan bahwa tradisi Iskandar penting bagi teks-teks sastra sejarah (Klaid Thain, 1981:226 dalam Soeratno, 1991:3).

Sebagaimana disampaikan di atas, umumnya representasi tokoh Iskandar di berbagai kebudayaan tersebut lebih mengutamakan penggambaran sosok Iskandar sebagai seseorang yang menurunkan garis raja-raja atau lebih menitikberatkan pada segi keturunan. Hal ini tidak lepas dari kebudayaan feodal para raja di ranah Melayu yang masih menggunakan kultus individu sebagai produk legitimasi kekuasaan. Iskandar digambarkan memiliki sifat yang nyaris sempurna sehingga dianggap sebagai sosok yang cocok untuk menjadi moyang para raja.

Chamamah kemudian merangkum berbagai naskah dalam kesusastraan Melayu yang menyiratkan penulisan tentang sosok Iskandar. Teks-teks Melayu tersebut adalah Sejarah Melayu, Misa Melayu, Adat Raja-Raja Melayu, Hikayat Andalas, Hikayat Palembang, Hikayat Aceh, Undang-Undang Melayu, Tambo Minangkabau, Asal Usul Bangkahulu, Hikayat Banjar, dan teks Bima yang berjudul Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa dan Hikayat Raja Jin dengan Raja Iskandar Zulkarnain (Soeratno, 1991:4).

Bahkan, menurut Chamamah, Bustanussalatin dan Tajussalatin yang notabene merupakan kitab tuntunan bagi para raja Melayu, memuat ajaran tradisi Iskandar yang ada dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain. Dengan memanfaatkan unsur-unsur teks yang ada dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain, sejumlah ajaran yang tertulis dalam kedua kitab tuntunan tersebut dinyatakan berasal dari Iskandar Zulkarnain, misalnya ajaran untuk menjadi raja yang harus selalu sadar akan fungsinya sebagai penggembala bagi rakyat dan mempertanggungjawabkan gembalaannya kepada Tuhannya (Soeratno, 1991:4).

Naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain ternyata memberikan pengaruh terhadap penciptaan karya sastra di berbagai kebudayaan. Atas dasar kenyataan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengamati secara literer pertalian antara Hikayat Iskandar Zulkarnain dengan berbagai tranformasi yang meresap ke dalam berbagai kebudayaan tersebut. Dari penelitian tersebut akhirnya dapat disimpulkan bahwa naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain berperan secara fungsional bagi perkembangan sastra Melayu (Soeratno, 1991:5-6).

Naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain sanggup berpengaruh dan bertransformasi ke dalam berbagai kebudayaan karena tokoh sentral, yaitu Iskandar, digambarkan sebagai seorang “Raja Diraja” yang mendapatkan perlindungan, pertolongan, dan bimbingan dari Tuhan (Soeratno, 1991:234). Di sisi lain, terdapat pertalian yang erat antara Iskandar dan unsur kekuasaan yang diwujudkan dalam bentuk “karunia”, yaitu bahwa kerajaan Iskandar dapat terbentuk dan ada karena semata-mata merupakan limpahan karunia dari Tuhan.

Unsur Tuhan kemudian diwujudkan dalam bentuk pertolongan, perlindungan, dan bimbingan kepada Iskandar melalui wujud Nabi Khidir (Soeratno, 1991:234). Pertalian ini kemudian menimbulkan hubungan ketergantungan antara Iskandar kepada Nabi Khidir dan Tuhan. Dari sini terlihat bahwa Iskandar tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari Tuhan yang mewujud melalui Nabi Khidir.

Nabi Khidir, dalam khazanah spiritual Islam, dikenal sebagai sosok yang misterius. Ia disebut-sebut sebagai seorang yang memiliki ilmu ladunni, ilmu yang datang langsung dari rahmat Tuhan. Nurcholish Masjid pernah menulis bahwa Nabi Khidlir (al-khidlr) sesungguhnya adalah perlambang dari kebenaran yang selalu hijau dan tak pernah mati (khidir artinya hijau). Dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain, Chamamah Soeratno menerjemahkan peran Nabi Khidir sebagai guru bagi Iskandar dalam menempuh berbagai perjalanan. Nabi Khidir dipandang sebagai seorang guru yang “mahatahu”. Khidir paham segala faktor geografis, jenis tanah, arah mata angin, arah sumber air, dari asal-usul suatu bangsa sampai kitab-kitab mereka (http://majalah.tempointeraktif.com/).

Di sisi lain, peran secara langsung antara Nabi Khidir sebagai kepanjangan tangan dari Tuhan kepada Iskandar merupakan suatu karunia yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya. Dari sini kemudian terlihat bahwa Iskandar adalah seorang “Raja Diraja” yang kebesarannya tidak hanya mempunyai aspek sekuler saja melainkan juga spiritual. Dapat disimpulkan bahwa naskah Hikayat Iskandar Zulkarnain menampilkan Iskandar sebagai seorang “Raja Diraja” yang mempunyai kekuasaan yang sangat besar tetapi sekaligus hamba Tuhan yang taat (Soeratno, 1991:234). Konsep raja seperti inilah yang menjadi idaman bagi banyak kebudayaan sehingga dipakai dalam penyusunan berbagai teks kesusastraan dalam masing-masing kebudayaan.

3. Karya

Berikut ini adalah hasil karya Siti Chamamah Soeratno dalam bentuk karya tulis. Karya-karya tersebut antara lain:

a. Buku

  1. Siti Chamamah Soeratno, 1981. Kharisma tokoh Indonesia lama dan masalah-masalahnya. Yogyakarta:Proyek PPPT UGM.
  2. Siti Chamamah Soeratno et.al., 1985. Pengantar teori filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  3. Siti Chamamah Soeratno, 1991. Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi. Jakarta: Balai Pustaka.
  4. Siti Chamamah Soeratno, 1994. “Variasi sebagai Bentuk Kreativitas Pengarang Kedua dalam Dunia Sastra Melayu Hikayat Banjar” dalam Pengarang dan Kepengarangan Melayu.. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  5. Siti Chamamah Soeratno et.al., 2001. Khasanah budaya Kraton Yogyakarta II, Yogyakarta: Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia & IAIN Sunan Kalijaga.
  6. Siti Chamamah-Soeratno, 2001. Penelitian sastra: Tinjauan teori dan metode
  7. Ketua tim penerbitan buku Kraton Jogja: The History and Culture Heritage (2004).
  8. Siti Chamamah Soeratno et.al., 2009. Muhammadiyah sebagai gerakan seni dan budaya: Suatu warisan intelktual yang terlupakan. Yogyakarta: Kerjasama LPM Universitas Ahmad Dahlan dengan Lembaga Seni Budaya PWM DIY dan Pustaka Pelajar.

b. Penelitian

  1. Siti Chamamah Soeratno et.al., 1982. Memahami karya-karya Nuruddin Arraniri. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahsa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Siti Chamamah Soeratno et.al., 1995. “ Dimensi sosial keagamaan dalam Keluarga Permana: analisis semiotik = Sociotic Dimension in "Keluarga Permana": a semiotic analysis” dalam Jurnal iBerkala Penelitian Pasca Sarjana 1995, VII (3).
  3. Siti Chamamah Soeratno, 2005. “Perlawanan Wanita Terhadap Dominasi Patriarki Dalam Teks Tarling Cirebon: Sebuah Analisis Semiotika Riffatere = The Fight of Woman Toward the Domination of Patriarchy In The Tarling Cirebon Text: A Riffatere Semiotic Rev” dalam Jurnal Humanika 2005, XVIII (2).

c. Makalah dan Artikel

  1. Siti Chamamah Soeratno, 1976. “Une version Malaise du Roman d’Alexandre d’apres le Manuscrit Oriental Mal. Pol. 101 de la Bibliotheque Nationale de Paris”. Memoire untuk Ecole des Hautes Etudes en sciences Sociales. Paris.
  2. Siti Chamamah Soeratno, 1980. “Khadlir est proce, dieu est loin”. Dalam Archipel 15:85-95.
  3. Siti Chamamah Soeratno, 1984. “Penelitian sastra dari sisi pembaca: Suatu pembicaraan metodologi” dalam Jabrohim (ed). Masyarakat Poetika Indonesia. Yogyakarta : IKIP Muhamadyah.
  4. Siti Chamamah Soeratno, 1989. “Sastra sebagai satu wahana Islamisasi Melayu: satu tinjauan pragmatis”dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia XI se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kaliurang, Yogyakarta, 16-17 Oktober 1989 
  5. Siti Chamamah Soeratno, 1990. “Hakikat penelitian sastra” dalam Gatra No. 10/11/12. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.
  6. Siti Chamamah Soeratno, 1993. “Kemajuan penelitian Sastra Indonesia: Konsep penelitian dan sejarah perkembangannya” dalam Kongres Bahasa Indonesia VI, Jakarta, 28 Oktober-2 November 1993.
  7. Siti Chamamah Soeratno, 1994. “Keberadaan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia: Tinjauan atas sumbangannya bagi perkembangan bahasa Indonesia”. Makalah Seminar untuk Seminar Pekan Budaya Arab. Yogyakarta: IMABA UGM.
  8. Siti Chamamah soeratno, 1995. “Citra Iskandar Zulkarnain dalam tradisi Bima: kajian atas cerita asal bangsa jin dan segala dewa-dewa” dalam Simposium Internasional Kajian Budaya Kawasan Sekitar Pasifik Barat Daya, Manado, Febuari 1995
  9. Siti Chamamah Soeratno, 2002. “Islamisasi sebagai pembina kebesaran Melayu: Analisis kontekstual data Islamisasi Nusantara”.
  10. Siti Chamamah Soeratno. 2003. “Filologi sebagai pengungkap orisinalitas dan transformasi produk budaya” disampaikan dalam Pembukaan Kuliah Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 1 September 2003. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (http://gemasastranusantara.wordpress.com/).

(Tunggul Tauladan/pen/01/06-2010).

Sumber Foto: http://melayuonline.com

Referensi

“Prof Dr Siti Chamamah Di Balik Kraton Jogja The History and Culture Heritage“ diunduh dari http://www.kr.co.id pada tanggal 25 Mei 2010
“Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno” diunduh dari
http://icrs.ugm.ac.id pada tanggal 25 Mei 2010.
“Tinjauan filologi pada naskah Babad Pasanggrahan Dalem Ngeksipurna” diunduh dari http://gemasastranusantara.wordpress.com pada tanggal 20 Mei 2010.
“Tujuh profesor di Kauman” diunduh dari http://kauman.info pada tanggal 25 Mei 2010.
A. Teeuw, 1984. Sastra dan ilmu sastra: Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Ali Marsaban dan X. S. M. Ondang Nazar, 1974. Iskandar Zulkarnain (Iskandar yang Agung). Bandung: Penerbit GANACI N.V.   
Anker Rentse, 1933. “Notes on Malay beliefs”, dalam JIMBRAS II (2):245-251 dalam Siti Chamamah Soeratno. 1991, Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi. Jakarta: Balai Pustaka.
Heru Utomo, 1959. Aleksander Raja Masedonia dalam Siti Chamamah Soeratno. 1991, Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi. Jakarta: Balai Pustaka.
Robert Scholes, 1974. Structuralism in literature: an Introduction. New Haven: Yale University Press dalam Siti Chamamah Soeratno. 1991, Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi. Jakarta: Balai Pustaka.
Seno Joko suyono, “Iskandar, Nabi Khidir, dan perjalanan itu” diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com pada tanggal 25 Mei 2010
Sir Richard Winstedt, 1940. “Alexander the Great and the mount Meru and Chula legends”, dalam JIMBRAS 18 (2):163 dalam Siti Chamamah Soeratno. 1991, Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi. Jakarta: Balai Pustaka.
Siti Chamamah Soeratno. 1991, Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi. Jakarta: Balai Pustaka.
Theresia Andayani, “Sesrawungan: Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno” diunduh dari http://kabare.jogja.com pada tanggal 25 Mei 2010.
Wajiran, “Sastra dan perubahan masyarakat” diunduh dari http://wajirannet.blogspot.com pada tanggal 25 Mei 2010.
Dibaca : 16.672 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password