Kamis, 25 Mei 2017   |   Jum'ah, 28 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 7.449
Hari ini : 45.258
Kemarin : 92.738
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.459.788
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Peneliti Melayu

Prof. Dr. Mohammed Amin Sweney


Amin Sweeney adalah salah satu peneliti sastra Melayu yang ahli di bidangnya. Ia telah menghasilkan banyak karya dari hasil penelitiannya dalam bentuk buku, artikel, dan tulisan-tulisan lain.

1. Riwayat Hidup

Amin Sweeney lahir di Belanda pada tanggal 13 Desember 1937 (The Brunei Times, 2010). Meskipun telah melahirkan banyak karya, tidak banyak yang menyebut riwayat hidup Amin Sweeney secara lengkap dan utuh. Hanya potongan berita di sana-sini ketika ia meninggal dunia.

Perkenalannya dengan dunia Melayu berawal ketika ia mengikuti wajib militer melalui British Army pada tahun 1958. Ia dikirim ke Malaya untuk menumpas gerakan komunis. Selama Malaya, Amin Sweeney lebih memilih bersama tentara Melayu sehingga ia dipindahkan dari Malaka ke Kluang. Kala itu, Amin sudah berpangkat letnan dan mengajar tentara Melayu bahasa Inggris. Ia sendiri mempelajari bahasa Melayu dan agama Islam. Setahun kemudian, ia kembali ke London untuk kemudian menyatakan masuk Islam di Masjid London (Ajip Rosidi, 2011; The Brunei Times, 2010).

Didorong oleh ketertarikannya pada bahasa dan sastra Melayu, Amin Sweeney melanjutkan pendidikannya di School of Oriental and African Studies, Universitas London, dan selesai tahun 1967. Pada tahun 1970, ia menyelesaikan program doktoral dengan disertasi tentang sastra Melayu (The Brunei Times, 2010).

Setelah lulus dari Universitas London, Amin Sweeney kemudian meniti karir di Universiti Kebangsaan Malaysia di mana Amin menjadi dosen dan profesor selama 7 tahun sejak 1970. Setelah itu, ia menjadi penasihat pada program pascasarjana di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Ketua Department of South and Southeast Asian Studies antara tahun 1986-1991 (The Brunei Times, 2010).

Amin kemudian menjadi anggota Komite Eksekutif di Center for Southeast Asia Studies, University of  California, Berkeley, Amerika Serikat, antara tahun 1991 hingga 1998. Ia mendapat gelar Profesor Emeritus pada tahun 1998, tahun ini sekaligus menandai masa ia pensiun dari jabatannya di universitas tersebut (Ajip Rosidi, 2011).

Setelah ia pensiun dari University of California, Amin Sweeney pindah ke Indonesia mengikuti istri terakhirnya, Sastri Sunarti binti Yahya Bagindo Alam. Istrinya adalah orang Minangkabau yang bekerja di Pusat Bahasa di Jakarta. Amin Sweeney mempunyai tiga orang anak. Seorang anaknya yang perempuan, Fauziah Maire Sweeney, adalah buah dari pernikahannya dengan Sastri. Dua anaknya yang lain, Abdul Mubin Sweeney dan Maria Sweeney, merupakan hasil perkawinan Amin Sweeney dengan istri pertamanya (The Brunei Times, 2010).

Jabatan terakhir yang ia emban sebelum wafat adalah pemimpin redaksi www.Horisononline.com. Dua minggu sebelum ia meninggal, ia baru saja selesai menerjemahkan buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit ke bahasa Inggris. Buku itu adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh Taufiq Ismail pada kurun tahun 1953-2008 (Taufiq Ismail, 2010).

Amin Sweeney menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 13 November 2010, di kediamannya di Cibeureum, Cipayung, Jawa Barat. Ia wafat pada usia 72 tahun dan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa.

2. Pemikiran

Amin Sweeney termasuk salah satu tokoh yang sangat peduli terhadap karya sastra Melayu, terutama sastra Melayu tradisional. Selama 10 tahun sejak pensiun pada 1998, ia mengerjakan buku tiga jilid berjudul Karya Lengkap Abdullah Abdul Kadir Munsyi. Ketiga buku itu diterbitkan pada tahun 2005 (jilid pertama), tahun 2006 (jilid kedua), dan tahun 2008 (jilid ketiga).

Buku itu menjelaskan karya pengarang Melayu yang terkenal, Munsyi Abdullah bin Abdul Kadir, sekaligus membeberkan pengeliruan yang dilakukan peneliti sebelumnya. Dalam buku Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir jilid 2, Amin mengkritik pengeliruan oleh Winstedt pada karya Munsyi Abdullah, Syair Singapura Terbakar dan Syair Kampung Gelam Terbakar yang berlanjut hingga abad ke-20 oleh para sarjana Inggris (www.MelayuOnline.com). Karya ini juga membuka berbagai persoalan-persoalan yang secara historis keliru pada karya Abdullah bin Abdul Kadir. Buku ini juga membahas secara mendalam tentang sastra lisan dan pernaskahan (Kompas, 19 Februari 2009).

Perhatian Amin Sweeney terhadap sastra lisan Melayu terlihat dari beberapa judul buku yang ia tulis, misalnya A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World (1987), Malay Shadow Puppets (1972), Studies in Malaysian Oral and Musical Tradition (1974), dan lain sebagainya. Ia juga mengkritik para peneliti Kolonial yang banyak meneliti sastra Melayu seperti Wilkinson, Overbeck, Hooykaas, Skinner, dan sarjana Barat yang lain.

Bagi Amin Sweeney, para sarjana Barat Kolonial dalam meneliti budaya dan sastra Melayu menggunakan kriteria, penggolongan, dan ukuran Eropa ketika meneliti budaya Melayu. Bahkan, tak jarang mereka memaksakan sistem ilmiah Barat kepada budaya Melayu. Sikap sarjana Barat yang demikian, menurut Amin, muncul karena ledakan pengetahuan yang setelah peristiwa Revolusi Industri sehingga sejarah kemudian yang menjadi ukuran ilmiah. Para sarjana Barat menggunakan peristiwa di luar teks, yang dianggap sebagai teks “sejarah”, untuk menafsirkan sembarang tulisan Melayu (Amin Sweeney, 2005: 9-10).

Amin Sweeney kemudian menemukan benang merah dari tanggapan sarjana-sarjana zaman kolonial terhadap sastra Melayu, yaitu “realisme”. Para intelektual Orientalis tersebut menganggap bahwa realisme adalah ukuran mutlak untuk membedakan kesusastraan yang baik ala Eropa dan persuratan yang buruk model Melayu tradisional. Padahal mestinya realisme yang dianggap sebagai yang paling ilmiah itu hanyalah sebuah konvensi. Sedangkan universalitas sebuah konvensi hanya berlaku untuk wilayah-wilayah tertentu (Amin Sweeney, 2005: 14).

Karya-karya Amin Sweeney memperlihatkan bagaimana tanggapannya terhadap keangkuhan kaum intelektual Eropa. Pandangan Eropasentris yang menjadi pegangan dalam melakukan penelitian budaya dan sastra Melayu oleh peneliti kolonial itu dengan tegas ditentangnya. Misalnya, ia mempermasalahkan pendekatan periodisasi perkembangan sastra Melayu yang digunakan Winstedt dalam salah satu karyanya: A Full Hearing, Orality and Literacy in the Malay World. Winstedt menekankan beberapa hal dalam mengkaji dan menjelaskan sastra Melayu, yaitu: (a) keberagaman versi-versi teks; (b) para pengarang dan asal-usulnya; (c) pentarikhan karya; dan (d) pengaruh-pengaruh luar yang mendasari karya tersebut selain muatan teks (Azhar Ibrahim Alwee, 2002: 6).

Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, masih banyak sumbangan pemikiran Amin Sweeney bagi perkembangan budaya Melayu. Bahkan ia bukan hanya menyumbangkan gagasan, namun juga tenaga melalui berbagai jabatan yang ia emban.

3. Karya

Amin Sweeney termasuk salah satu peneliti Melayu yang produktif. Hal tersebut dapat dilihat beberapa karyanya dalam berbagai jenis tulisan. Karya-karya Amin Sweeney antara lain:

a. Buku

  • 2008. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 3, Hikayat Abdullah. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient.  
  • 2007. Keindonesiaan dan Kemelayuan dalam Sastra. Depok: Desantara. Buku ini ditulis bersama para penulis dari Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia.
  • 2006. Karya Lengkap Abdulah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 2, Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient.
  • 2005. Karya Lengkap Abdulah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient.
  • 1994. Malay Word Music: a Celebration of Oral Creativity. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan, Malaysia.
  • 1987. A Full Hearing: Orality and Literacy n the Malay World. Berkeley: University of California Press.
  • 1980. Reputations Live On: an Early Malay Autobiography. Berkeley: University of California Press.
  • 1980. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Berkeley: Center for South and Southeast Asia Studies, University of California.
  • 1974. Studies in Malaysian Oral and Musical Traditions: Music in Kelantan, Malaysia, and Some of Its Cultural Implications. Ann Arbor: Center for South and Southeast Asian Studies, University of Michigan. Ditulis bersama William P. Malm.
  • 1972. The Ramayana and the Malay Shadow-Play. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
  • 1972. Malay Shadow Puppets: The Wayang Siam of Kelantan. London: British Museum.

b. Artikel

Beberapa karya artikel Amin Sweeney antara lain.

  • 2006. “Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi: a Man of Bananas and Thorns”, dalam jurnal Indonesia and the Malay World, Januari 2006.
  • 1968. “Cyril Skinner, The Civil War in Kelantan in 1939”, dipublikasikan dalam Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Volume 31, Issue 01, Februari 1968.
  • 1992. “Malay Sufi Poetics and Uropean Norms”, dipublikasikan dalam Journal of American Oriental Society, Vol. 112. No. 1 Januari-Maret, 1992.

c. Makalah

  • 2004. “Beberapa Renungan Mengenai Struktur Puisi Tradisional Melayu”, pernah disampaikan dalam Seminar Internasional Kebudayaan: Minangkabau dan Potensi Etnik dalam Paradigma Multikultural yang diselenggarakan oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Minangkabau, Jurusan Sastra Daerah, Universitas Andalas, pada 23-24 Agustus 2004.
  • 2002. “Jangan Bungkam Suaraku, Jangan Bunuh Bidangku: Penghilangan dan Penyesatan dalam Pengkajian Sastra Melayu/Indonesia”, disampaikan dalam “International Workshop: The History of Translation in Indonesia and Malaysia” di Paris pada 2-5 April 2002.
  • 2002. “Di Bawah Pucuk Gunung Es Terjemahan Tertulis: Interaksi Lintas Media Dalam Bahasa Melayu”, disampaikan dalam “International Workshop: The History of Translation in Indonesia and Malaysia” di Paris pada 2-5 April 2002.

4. Penghargaan

Amin Sweeney telah memberikan sumbangan yang besar terhadap kebudayaan Melayu dan secara lebih luas umum Asia. Karena sumbangannya itulah pada tahun 1998, ia mendapat gelar Profesor Emeritus dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

(Mujibur Rohman/bdy/25/03-2011)

Sumber foto: www.lidahibu.com

Referensi

Ajip Rosidi. “Dari Rakyat oleh Rakyat untuk Rakyat, Prof. Dr. Mohammed Amin Sweeney (1938-2010) Perhatian terhadap Sastra Lisan”, dalam Horison Online, Selasa, 18 Januari 2011. [Online] Terdapat di: http://horisononline.com [Diunduh pada 20 Maret 2011].

Amin Sweeney, 2005. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient.

Azhar Ibrahim Alwee, 2002. “Orientalisme dalam Pengajian Melayu”. [Online] Terdapat di: http://www.sabrizain.org [Diunduh pada 20 Maret 2011].

MelayuOnline.com, 2010. “Syair Kampung Gelam Terbakar”. [Online] Tersedia di: http://melayuonline.com [Diunduh pada 20 Maret 2011].

Taufiq Ismail, 2011. “Pak Amin dan Saya Baca Puisi, di Kaki Gunung Singgalang Merapi”, dalam Horison Online, Senin 17 Januari 2011. [Online] terdapat di: http://horisononline.com [Diunduh pada 20 Maret 2011]. 

The Brunei Times, 2010. “The Detective of Malay Manuscript”. [Online] Terdapat di: http://www.bt.com.bn [Diunduh pada 20 Maret 2011].

Yurnaldi, 2009. “Karya-karya Abdullah Munsyi Bukan Sejarah, tapi Fiksi”, dalam Kompas, Kamis, 19 Februari 2009. [Online] Terdapat di http://oase.kompas.com. [Diunduh pada 20 Maret 2011].

Dibaca : 8.732 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password