11 juni 2010 07:07
Sasirangan Kain Khas Banjar
Judul Buku
| : | Sasirangan Kain Khas Banjar |
Penulis
| : | Drs. H.M. Syamsiar Seman |
| Penerbit | :
| Lembaga Pengkajian dan Pelestarian Budaya Banjar, Kalimantan Selatan |
Cetakan
| :
| Kelima, Januari 2010 |
Tebal
| :
| x + 75 halaman |
Ukuran
| :
| 15,9 x 20,7 cm |
Buku ini membahas tentang Sasirangan, salah satu budaya material orang Banua atau orang Banjar. Pembahasannya mencakup asal-usul Sasirangan, peralatan dan bahan yang diperlukan untuk membuatnya, proses pembuatan, proses pewarnaan, dan motif-motif kain Sasirangan.
Tujuan penerbitan buku ini adalah untuk mendokumentasikan kain Sasirangan sebagai sebuah ciri khas kebudayaan orang Banjar yang hingga saat ini masih dilestarikan. Sebagai sebuah penanda identitas, kain Sasirangan memberikan keyakinan kepada orang Banjar bahwa mereka memiliki kebudayaan yang dapat dibanggakan, yaitu kain khas Banjar – sebuah kain yang tidak hanya berfungsi sebagai pakaian dan penghias tubuh tetapi juga dapat berfungsi sebagai obat.
Pada mulanya, kain Sasirangan disebut kain Langundi, artinya kain tenun berwarna kuning. Kain ini hanya digunakan oleh kerabat Kerajaan Negara Dipa yang berkuasa di Banjar (1355-1362). Kain Langundi berubah sebutan menjadi Sasirangan setelah dijadikan sebagai media pengobatan penyakit pingitan (penyakit yang disebabkan oleh roh halus). Secara etimologis, Sasirangan dapat dikaitkan dengan cara pembuatannya, yakni “disirang”, di mana kain yang dijelujur dengan cara dijahit kemudian dicelupkan ke dalam zat pewarna.
Dalam konteks pengobatan, kain Sasirangan juga disebut dengan kain Pamintan, kependekan dari kata “permintaan”, yakni selembar kain putih yang diberi warna dan motif tertentu atas permintaan orang yang berobat kepada seorang pengrajin kain Pamintan (h.1).
Orang Banjar mengenal pengobatan tradisional yang bernama batatamba. Batatamba ini sangat unik karena, selain menggunakan ramuan-ramuan tradisional dan mantra-mantra dari seorang tabib, pengobatan ini juga menggunakan kain Sasirangan sebagai obat. Kain akan dililitkan di kepala atau diselimutkan di badan orang yang sakit secara berkala hingga si sakit berangsur-angsur sembuh.
Penggunaan kain Sasirangan sebagai obat ini didasarkan pada mitos yang dipercayai oleh orang Banjar. Konon, arwah-arwah leluhur mereka akan menuntut anak keturunannya untuk mengenakan kain Sasirangan jika mereka terkena penyakit pingitan. Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkan penyakit ini kecuali mengenakan kain Sasirangan.
Corak dan warna gambar kain Sasirangan dibuat berbeda-beda karena setiap jenis penyakit pingitan menuntut adanya corak dan warna gambar yang berbeda-beda pula. Hal ini disesuaikan dengan kesukaan motif nenek moyang setiap orang. Sasirangan juga dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit lain, seperti sakit perut, sakit kepala, bisul, badan panas atau dingin, dan gangguan jiwa.
Kain Sasirangan saat ini sudah mengalami perubahan fungsi, bahkan terlepas dari fungsi awalnya sebagai kain untuk pengobatan. Saat ini, hampir seluruh pegawai negeri di pemerintah daerah Kalimantan Selatan serta para guru di sekolah diwajibkan memakai pakaian Sasirangan pada hari yang telah ditentukan. Hal ini dimaksudkan untuk memupuk rasa memiliki orang Banjar terhadap kebudayaan mereka.
Tidak sedikit pula kain Sasirangan yang sekarang dibuat dengan motif dan desain modern serta dipromosikan oleh para peragawati. Hal ini dimaksudkan untuk semakin mengenalkan kain Sasirangan kepada khalayak luas. Lebih jauh, dengan promosi ini diharapkan orang di luar Banjar menyukai dan membeli kain Sasirangan.
Terlepas dari berubahnya fungsi kain Sasirangan ini, satu hal yang perlu dicatat adalah pentingnya pelestarian kain Sasirangan. Sebagai identitas budaya Banjar, Sasirangan dapat dijadikan perekat dan pemersatu orang Banjar di mana pun berada.
(Yusuf Efendi/Res/29/05-10).
Read : 7.951 time(s).