Monday, 8 June 2026   |   Monday, 22 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 2.717
Hier : 24.704
La semaine dernière, : 227.151
Le mois dernier : 9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



23 oktober 2015 07:07

Secercah Kisah Pembentukan Provinsi Riau



Judul Buku
:
Dari Percikan Kisah Membentuk Provinsi Riau
Editor
:
Taufik Ikram Jamil, dkk.
Penerbit:
DPRD Riau & Yayasan Pusaka Riau
Cetakan
:
Pertama, 2001
Tebal
:
xv + 191 Halaman
Ukuran
:
13,5 cm x  20,5 cm.

Sejarah sebuah daerah merupakan aspek terpenting untuk membuka kesadaran masyarakat akan eksistensinya untuk berfikir dan bertindak meraih kesejahteraan bagi setiap unsur yang terdapat di dalamnya. Inilah alasan penting para penulis buku ini mengangkat ‘percikan’ sejarah terbentuknya Provinsi Riau.

Pembentukan Provinsi Riau memiliki sejarah yang sangat dinamis, karena daerah ini pernah diperebutkan oleh dua kekuatan besar. Jika pada zaman penjajahan Kesultanan Riau-Lingga (Kepulauan Riau) diperebutkan oleh dua negara penjajah, yaitu Inggris dan Belanda, yang kemudian melalui perjanjian London wilayah tersebut diserahkan kepada Belanda, maka setelah memasuki alam kemerdekaan ada dua kekuatan lain yang memperebutkan wilayah ini, yaitu Republik Indonesia dan Dewan Banteng. Dewan Banteng merupakan kekuatan militer murni sebagai cikal bakal PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Perebutan antara Pemerintahan sipil dan pemerintahan militer yang menguasai Tanjungpinang dan Pekanbaru.

Faktor-faktor ekonomi, penelantaran, dan ketertinggalan dibanding daerah lain saat berada di bawah Provinsi Sumatera Tengah yang beribukota Bukit Tinggi menjadi pertimbangan lain pembentukan Provinsi Riau. Empat Kabupaten yakni, Kampar, Bengkalis, Inderagiri, dan Kepulauan Riau merupakan daerah pejuang pembentukan Provinsi Riau. Pada awal tahun 1956 masyarakat Riau melaksanakan kongres untuk menyepakati pembentukan Provinsi itu.

Sebagai provinsi induk yang membawahi Riau, Sumatera Tengah tidak menyetujui pembentukan Provinsi Riau. Alih-alih disetujui, Riau justru menjadi bulan-bulanan ejekan dan cemooh karena dianggap miskin sumber daya manusia yang mampu mengelola sebuah pemerintahan.

Buku ini memang berisi percikan kisah yang layak diketahui di balik sejarah pembentukan Provinsi Riau. Sumbangsih masyarakat yang penuh semangat menyambut ide pembentukan provinsi ini bisa kita tilik dari antusiasme mereka sejak awal hingga akhir. Denpasar, Bali merekam sejarah akhir perjuangan ini, karena di kota inilah mimpi itu menjadi nyata dengan ditandatanganinya Undang-undang Darurat oleh Presiden Soekarno yang berisi pembentukan Provinsi Riau bersamaan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.

Gempita masyarakat Riau menyambut kabar gembira ini memang tidak bergaung di tanah Melayu mereka sendiri, tetapi itu bukan tanpa alasan. Para tokoh Riau dengan cerdas memilih Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan Republik Indonesia sebagai tempat untuk merayakan keberhasilan perjuangan mereka sekaligus sebagai diplomasi budaya. Mereka ingin menunjukkan bahwa Riau bukanlah daerah seperti yang ada dalam fikiran para pencibir. Riau memiliki keagungan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Mereka pun menghelat “Malam Riau” sebagai  upaya unjuk diri langsung di jantung kekuasaan negara mereka, Republik Indonesia. Di malam itulah orang-orang baru menyadari betapa kaya Riau dengan khazanah seni dan budaya yang  menggambarkan keagungan budi dan intelektualitas mereka.

Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Riau. Dengan konsep jurnalistik, buku ini berhasil memuat laporan investigasi yang relatif rinci dan detail, lebih dari sekedar buku sejarah. Nuansa sastra dalam eksplorasi fakta menjadikan buku ini sangat bisa dinikmati dan tidak membosankan. Seolah-olah kita sedang membaca novel dengan kekayaan sumber sejarah yang tidak diragukan. (Koto/Res/72/10-2015)

Editor: A.En. El Syindary Ape

Read : 1.160 time(s).