Jumat, 20 Oktober 2017   |   Sabtu, 29 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 3.827
Hari ini : 28.730
Kemarin : 37.822
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.500.226
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tentang kami

Pertanggungjawaban Akademis MelayuOnline

Sebagai sebuah portal (pangkalan data) dunia Melayu dan kemelayuan se-dunia yang disusun berdasarkan berbagai kategori dalam kerangka struktur yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya secara akademik, maka MelayuOnline.com perlu memberikan batasan definitif (kerangka teoritik) terkait penggunaan istilah “melayu” dalam portal ini. Hal ini dimaksudkan untuk menjelaskan sikap dan cara pandang MelayuOnline.com terhadap melayu dan kemelayuan yang sudah sedemikian kompleks setelah mengalami persinggungan dengan budaya-budaya lain dalam dunia yang makin mengglobal.

Kata “melayu” pertama kali diketahui dari berita Cina tahun 644 M, yang menun­jukkan adanya Kerajaan Melayu Nusantara. Nama “melayu”, ketika itu, dapat dihubungkan dengan negeri Melayu yang terletak di pantai timur Sumatra dan berpusat di sekitar Jambi. Seiring dengan perkembangan sejarah bangsa Melayu, kata “melayu” tidak saja berkonotasi pada tempat atau bangsa, tetapi juga pada budaya dalam arti yang luas. Oleh karena itu, melalui perspektif yang berbeda-beda, para pakar bersilang pendapat dalam memaknai istilah “melayu”. 


A. Beberapa Pemaknaan tentang Melayu

Berikut ini dipaparkan beberapa pandangan ilmuan tentang Melayu yang secara umum didasarkan pada paradigma essensialis atau kontekstualis. Muchtar Lutfi (1986) membagi “melayu” dalam 3 pengertian. Pertama, Melayu dalam arti satu ras di antara ras-ras lain. Ras Melayu adalah ras yang berkulit cokelat. Ras Melayu merupakan hasil campuran dari ras Mongol yang berkulit kuning, Dravida yang berkulit hitam, dan Aria yang berkulit putih. Kedua, Melayu dalam arti sebagai suku bangsa. Akibat perkembangan sejarah dan perubahan politik, ras Melayu sekarang terbagi dalam bebe­rapa negara, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Da­russalam, dan Filipina. Dalam kesatuan bangsa masing-ma­sing negara, Melayu tidak dipandang sebagai ras, tetapi sebagai suku bangsa. Ketiga, Melayu dalam pengertian suku atau etnis.

Tuanku Luckman Sinar (1987) mendeskripsikan bahwa seseorang dianggap sebagai Melayu apabila telah memenuhi syarat sebagai orang Islam, berbicara bahasa Melayu, mempergunakan adat istiadat Melayu, dan menetap di kawasan Melayu. Sementara itu, M. Junus Melalatoa (1986) membeberkan fakta-fakta sejarah untuk menunjukkan asal-usul orang Melayu di Nusantara. Ia menjelaskan tiga tahapan migrasi ras yang menjadi cikal bakal orang Melayu. Pertama, sesudah zaman es terakhir datang gelombang migrasi pertama yang menun­jukkan ciri ras Weddoid. Ras tersebut merupakan ras pertama yang menghuni Nusantara. Sisa-sisa nenek moyang dari ras gelombang pertama ini masih ada sampai sekarang yang disebut Orang Sakai, Orang Hutan, dan Orang Kubu.

Kedua, tahun 2.500 - 1.500 SM, datang gelombang migrasi dengan ciri ras Melayu pertama yang disebut Proto-Melayu (ras Melayu Tua). Golongan tersebut merupakan pendukung penyebaran kebudayaan zaman Batu Baru ke Pulau Sumatra melalui Semenanjung Melayu. Anak keturunan mereka masih bertahan sampai sekarang, seperti Suku Talang Mamak, Suku Laut, Suku Batak, Suku Anak Dalam, Suku Nias, juga Suku Dayak. Ketiga, sesudah tahun 1.500 SM, datang gelombang migrasi ras Melayu yang kedua dan disebut golongan Deutro-Melayu (ras Melayu Muda). Keda­tangan mereka menyebabkan orang Proto-Melayu menyingkir ke pedalaman dan sisanya bercampur dengan pendatang baru tersebut.

Hasan Muarif Ambary (1986) punya penjelasan lain yang menguak pengakuan sultan-sultan Melayu bahwa secara genealogis mereka berasal dari Arab. Ia mengungkapkan bahwa pada awal masuknya Islam di Nusantara, sultan-sultan Melayu mengaitkan asal-usul mereka dengan Iskandar Zulkarnaen. Hal ini diketahui dari prasasti makam-makam kuno yang bertulis huruf Arab di beberapa daerah di Nusantara. Pada makam-makam kuno di kota Ternate misalnya, memuat nama-nama Sultan Ternate, yang umumnya memakai gelar resmi yang selalu dipakai oleh para raja, yaitu Iskandar Qulainshah.

Sebagaimana telah disebut di atas, bahwa sebagian pakar berpandangan essensialis untuk menentukan kemelayuan dalam wilayah, adat istiadat, bahasa, sastra, kesenian, dan lain-lain. Perspektif ini lebih menekankan pada pentingnya identifikasi sejumlah ciri-ciri yang dapat ditemukan pada unsur-unsur budaya Melayu sebagai sebuah essensi masyarakat Melayu yang membedakannya dengan masyarakat lain. Sementara itu, para pakar lain yang menggunakan perspektif kontekstualis menganggap penting untuk melihat Melayu dan kemelayuan dalam konteks relasinya dengan budaya-budaya lain.

Mengingat ciri-ciri kebudayaan selalu berkembang, maka ciri tertentu tidak dapat dijadikan argumen yang kuat dan menetapkannya sebagai essensi kemelayuan. Demikian juga, pemaknaan Melayu tidak dapat dipahami dalam konteks relasi dengan budaya tertentu dan dalam masa tertentu pula. Perumusan pengertian Melayu dan kemelayuan haruslah menggunakan paradigma yang inklusif yang dapat mengakomodir berbagai perspektif, sehingga pengertian Melayu menjadi lebih luas, agar relevan dengan konteks kehidupan masa kini yang semakin mengglobal. Dalam area inilah MelayuOnline.com memainkan perannya.  

 

B. Melayu Menurut MelayuOnline.com

Berbeda dengan beberapa pengertian Melayu yang dilontarkan oleh para ahli/pakar di atas, MelayuOnline.com memaknai istilah Melayu sebagai sebuah kultur. Bukan Melayu sebagai suku, etnis, atau entitas budaya dalam arti sempit lainnya. Melayu yang dimaksudkan dalam portal ini adalah setiap tempat, komunitas, atau masyarakat di belahan dunia manapun yang masih atau pernah menjalankan tradisi Melayu. Tradisi dan budaya Melayu yang telah berkembang sedemikian rupa di berbagai belahan dunia dipahami oleh MelayuOnline.com sebagai keniscayaan budaya yang terus berkembang setelah terjadi difusi dan interaksi antara masyarakat Melayu dengan lingkungan dan masyarakat luar. Namun pada dasarnya, masyarakat Melayu di seluruh dunia memiliki akar sejarah dan budaya yang sama.

Secara historis, semua masyarakat Melayu menapaki fase-fase sejarah yang sama, yaitu fase pra Hindu-Buddha, fase Hindu-Buddha, fase Islam, fase kolonialisme, dan fase pascakolonialisme. Perjalanan sejarah yang begitu panjang dan penyebaran bangsa Melayu ke berbagai kawasan yang sangat luas menciptakan varian-varian tradisi dan budaya di berbagai kawasan Melayu. Ada suku bangsa Melayu di daerah tertentu yang dipengaruhi oleh tradisi Islam, namun di tempat lain ada yang dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha atau Kristen. Ada pula bangsa Melayu yang masih dipengaruhi oleh tradisi animisme dan dinamisme.  

Munculnya keragaman definisi tentang Melayu disebabkan karena setiap orang yang menawarkan pandangannya berafiliasi pada sistem sosial, politik, dan agama yang berbeda-beda. Afiliasi seseorang pada kelas sosial, ideologi, agama, dan negara berpengaruh secara signifikan pada pandangan dan pola pikirnya. Pemaknaan Melayu dengan mengacu pada latar belakang afiliasi tertentu akan melahirkan pemaknaan yang cenderung sempit karena mengesampingkan aspek-aspek penting lainnya. Dalam beberapa kasus, Melayu dimaknai sebagai kelompok masyarakat atau bangsa yang memeluk agama tertentu, berasal dari ras tertentu, dan/atau yang bertempat tinggal di kawasan atau negara tertentu. Dari sini tampak bahwa pemaknaan tersebut lebih bersifat personal dengan pengaruh yang cukup kuat dari bentuk-bentuk afiliasi yang dianutnya.  

Saat ini definisi Melayu yang diterima oleh sebagian masyarakat Melayu adalah yang menyandingkan entitas Melayu dengan agama Islam. Pendapat tersebut tidak salah, akan tetapi membatasi pemaknaan Melayu pada fase sejarah tertentu, yaitu fase Islam. Dengan demikian pendefinisian Melayu sebagai entitas yang identik dengan Islam memutus mata rantai sejarah Melayu yang membentang baik sebelum maupun setelah perkembangan Islam.

Oleh sebab itu, dengan berlandaskan pada paradigma holistik, MelayuOnline.com menawarkan pemaknaan Melayu yang lebih luas sebagaimana telah disebut di atas. MelayuOnline.com berupaya menumbuhkan kesadaran adanya persamaan sejarah dan budaya Melayu, sehingga tercipta pemahaman bahwa ikatan kemelayuan bukan merupakan ikatan sempit berdasarkan darah keturunan (genealogis), persamaan ras atau agama, tetapi lebih pada suatu ikatan kultural (cultural bondage).

Oleh karena perkembangan sejarah dan perubahan politik dunia yang berimbas pada penentuan batas wilayah dan geografis suatu daerah atau negara, maka deskripsi dalam MelayuOnline.com yang mengupas tuntas segala ikhwal tentang Melayu dan kemelayuan ini didasarkan atas kategori geobudaya dan geopolitik. Hal ini untuk memudahkan penyusunan struktur pada portal ini, klasifikasi bahan-bahan kajian, dan penelusuran jejak-jejak sejarah dan budaya masyarakat Melayu di berbagai kawasan. Pembahasan tentang “Melayu” dalam portal ini dimulai dari daerah Riau (daratan dan kepulauan), yang berdasarkan beberapa fakta historis, merupakan pusat peradaban Melayu masa silam.

Sumber:

  • Muchtar Lutfi, “Interaksi Antara Melayu dan Non Melayu Serta Pengaruhnya Terhadap Pembauran Kebudayaan dan Pendidikan”, dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya: Pekanbaru, Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau, 1986.
  • Tuanku Luckman Sinar, “Jati Diri”, dalam Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah dan Wan Syaifuddin (ed), Kebudayaan Melayu Sumatera Timur: Medan, Universitas Sumatera Utara Press, 1987.
  • M. Junus Melalatoa, “Tinjauan tentang Porsi Suku Bangsa di Propinsi Riau Masa Kini: Satu Hasil Proses Perkembangan”, dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya: Pekanbaru, Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau, 1986.
  • Hasan Muarif Ambary, ”Islam dan Sejarah Melayu: Pengamatan dari Data Arkeologi”, dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya: Pekanbaru, Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau, 1986.
  • Heddy Shri Ahimsa-Putra, “Wacana Pembuka: Mencari Jatidiri Melayu”, dalam Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan: Yogyakarta, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2007.
Dibaca : 33.239 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password