Oleh : Fakhrunnas MA Jabbar
Perdebatan soal di manakah pusat Kebudayaan Melayu Nusantara sudah berlangsung cukup lama. Berbagai kajian dan diskusi digelar di berbagai belahan dunia Melayu. Budayawan UU Hamidy sejak tahun 1970-an sudah memproklamirkan bahwa Riau merupakan pusat kebudayaan Melayu. Pertimbangannya sederhana saja di mana pusat kerajaan Melayu yang sangat berkembang di masa lalu justru berada di kawasan Riau-Lingga. Dari kawasan inilah pengaruh budaya Melayu itu menyebar sampai Semenanjung Malaya, Tumasik (Singapura), Melaka hingga Campa, Kampuchea, Madagaskar terus ke Afrika Selatan.
Beriringan dengan itu, naskah-naskah kuno Melayu yang tersimpan asal-asalan di pelosok-pelosok kampung terus saja ‘dijarah‘ para kolektor, peneliti atau ahli naskah kuno asing yang dibawa ke negerinya untuk memperkuat keberadaan Pusat-pusat Kajian Kebudayaan Melayu yang dikelola oleh universitas-universitas besar baik di Amerika Serikat, Eropa dan Asia. Kenyataan ini terasa kurang menguntungkan bila hendak mempertahankan Riau (baca: Indonesia) sebagai pusat kebudayaan Melayu Nusantara. Apalagi pihak luar tersebut juga mengelola portal-portal kebudayaan Melayu agar mudah diakses oleh para peminat kebudayaan Melayu di seluruh dunia.
Kesadaran untuk menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu itu secara politis disikapi oleh pemerintah Provinsi Riau dengan dengan dukungan penuh DPRD Riau melalui Visi Riau 2020. Visi tersebut berisi untuk menjadikan Provinsi Riau sebagai Pusat Kebudayaan Melayu dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Asia Tenggara. Dalam kaitan itulah, pemerintah setempat menugaskan para budayawan Riau untuk studi sambil mengambil duplikat dokumen dan naskah-naskah kuno yang ada di Leiden (Belanda), Inggris dan Prancis dalam bentuk fotokopi, micro-film dan dokumen video lainnya. Begitu tertinggalnya Riau yang pernah menjadi pusat kebudayaan Melayu itu dalam mengkoleksi kembali dokumen dan naskah-naskah kuno bersejarah tersebut.
Di tengah kegamangan dan kebimbangan serupa itulah, portal MelayuOnline di bawah Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta yang dimotori oleh anak jati Melayu Riau, Bung Mahyudin Al Mudra menggiatkan aktifitas kebudayaan Melayu dari perantauan. Tak banyak orang mau dan mampu melakukan pekerjaan mulia yang memperjuangkan eksistensi budaya Melayu tanpa mengharapkan balas-budi.
Portal MelayuOnline merupakan jawaban nyata atas kesungguhan dan ketunakan Bung Mahyudin dalam memperkuat akar dan menjulangkan pucuk kejayaan budaya Melayu sebagai ‘rumah rindu‘ dari tanah rantau yang cukup jauh. Apa yang tersaji dalam portal ini dengan puluhan rubrik sebagai entri informasi memang terkesan begitu membanggakan terkait kebudayaan Melayu dalam arti yang amat luas. Meski belum semua rubrik tersebut berisi lengkap, tapi spirit of Malay yang dilambungkan Bung Mahyudin bersama Tim Pengelola benar-benar menumbuhkan kepercayaan diri bahwa pusat kebudayaan Melayu itu juga berada di disini, di portal ini.
Para peminat portal ini yang mencoba menelusuri bagian-bagian informasi yang terkandung di dalamnya seolah-olah sedang berselancar (surfing) di gelombang samudera budaya Melayu yang tersaji dari hasil kerja keras dan niat yang tulus. Cobalah masuki portal-portal budaya Melayu lain yang pernah ada sebelumnya, pastilah tak akan memiliki kelengkapan rubrik sebagaimana dimiliki portal MelayuOnline MelayuOnline.
Suatu ketika saya berkunjung di Balai Kajian Kebudayaan Melayu, Yogyakarta ini beberapa waktu silam, Bung Mahyudin dengan wajah sedih menyampaikan portal MelayuOnline sedang dilirik pihak asing di tengah kesulitan dirinya menghimpun dana pengelolaannya yang membutuhkan biaya lumayan besar tiap bulannya. Saya juga jadi ikut sedih karena niat besar dan tulus untuk menumbuhkan sebuah pusat kebudayaan Melayu secara maya di tanah air ini juga segera sirna.
Diperlukan komitmen dan dukungan yang kuat dari semua pihak untuk menjadikan portal MelayuOnline ini menjadi kebanggaan masyarakat peminat dan pencinta budaya Melayu baik di tanah air maupun seluruh dunia Melayu.
Syabas, setahun usia portal MelayuOnline MelayuOnline!
___________________
Fakhrunnas MA Jabbar
Budayawan – Wakil Direktur PT Riau Andalan Pulp And Paper (Riaupulp), Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau.
Dibaca : 10.595 kali.
Berikan komentar anda :