Oleh : Ir. Purwanto Sardjono Wirotomo
Bergetar hati ketika menerima pesan sms dari sahabat yang mulia Saudara Mahyudin Al Mudra mengenai genap satu tahun Melon (MelayuOnline) dengan prestasi lebih satu juta pengunjung. Tentu ini adalah prestasi yang terbangun oleh pribadi dan institusi yang menjunjung tinggi nilai nilai kepercayaaan, integritas, profesionalitas, layanan dan kesempurnaan. Prestasi MelayuOnline pada usia satu tahun dengan seluruh keindahan dan kemanfaatannya bolehlah kiranya kita maknai sebagai peristiwa kebudayaan. Sebagai buah dari pohon akal budi dalam menggali dan mengembangkan kebudayaan Melayu. Bukan saja agar tak lenyap di muka bumi, tetapi juga bagaimana kemelayuan mampu memberi inspirasi bagi segenap warga bangsa dalam membangun peradaban baru Indonesia.
“Membaca” MelayuOnline sebagai peristiwa kebudayaan pada perspektif peran kebudayaan dalam membangun peradaban, membuka ingatan bagaimana nenek moyang kita membangun kebesaran Mataram Kuno, Sriwijaya, Singosari dan Majapahit. Armada perang kerajayaan Sriwijaya, pasukan Pamalayu dari kerajaan Singosari, Candi Prambanan, Candi Borobodur tentu mudah dipahami sebagai produk masyarakat yang berkebudayaan. Tidak sulit pula dipahami bahwa masyarakat yang sejahteralah yang mampu membangun sejarah dan produk kebudayaan tersebut.
Bung Karno ketika mengenalkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa telah menyatakan bahwa butir-butir Pancasila adalah kristalisasi dari nilai nilai yang telah ada pada berbagai suku bangsa di tanah air. Jika rumpun melayu di Indonesia meliputi hampir seluruh suku suku bangsa yang tersebar di wilayah Indonesia, tentu mudah dipahami bahwa Pancasila adalah kristalisasi dari nilai nilai kebudayaan melayu.
Bung Karno juga menyatakan bahwa Gotong Royong adalah saripati dari Pancasila Oleh karena itu mungkin saja budaya gotong royong itulah yang membangun kesejahteraan pada era Mataram Kuno, Sriwijaya, Singosari dan Majapahit, Budaya Gotong Royong yang bersendi kesejahteraan pulalah tentunya yang membangun Prambanan dan Borobudur, maha karya bangsa yang belum tertandingi
Penjajahan Kolonial mungkin dapat menjadi kambing hitam dari kegagalan bangsa ini dalam membangun kesetaraan peradaban dengan bangsa bangsa lain. Namun demikian sejarah Indonesia setelah merdeka sampai dengan saat ini telah membuktikan bahwa bangsa ini belum mampu membangun peradaban yang mensejahterakan sebagaimana amanat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Lalu dimanakah sekarang ini jejak jejak budaya gotong royong dalam struktur sosial eknomi masyarakat kita ?
Bung Hatta sebelum Indoinesia merdeka dengan cerdas telah memberi pernyataan bahwa bangsa ini sebagai produsen dikerjai oleh konsumen dan sebagai konsumen dikerjai oleh produsen. Bukankah pernyataan tersebut masih relevan hingga kini. Jika Bung Hatta menyatakan bahwa belum dimilikinya susunan ((organisasi/sistem) dalam masyarakat sebagai biang keladi, lalu apakah tata nilai perekonomian yang berkembang saat ini telah memiliki ruh/budaya gotong royong yang telah terbukti mampu membangun Borobudur? Pada perspektif lain apakah budaya gotong royong dapat menjadi jiwa dari sistem perekonomian yang berdaya tahan terhadap gempuran sistem kapitalis yang telah ditahbiskan sebagai pemenang dalam pertarungannya melawan sistem sosialis.
Jika kita mau menengok kedalam, mungkin saja salah satu jejak budaya gotong royong pada sistem perekonomian yang masih tersisa dari kebudayaan Melayu dan masih bertahan hingga kini adalah sistem pengelolaan Rumah Makan Padang yang dikembangkan oleh masyarakat Sumatera Barat sebagai bagian dari rumpun Melayu. Kita pahami bahwa pada pengelolaan Rumah Makan Padang, pemilik berbagi hasil dengan para karyawan. Sejarah mencatat, Rumah Makan Padang adalah bangunan ekonomi masyarakat yang mampu menjawab tantangan jaman dan mampu bertahan terhadap dominasi pengusaha Tionghoa di tanah air. Dinamika Rumah Makan Padang tidak mengenal buruh dan majikan dan tidak mengenal mogok. Hubungan buruh dan majikan dalam sistem industri adalah produk sistem kapitalis yang dibawa oleh kolonial dan disuburkan oleh sistem feodalisme.
Pola pemilikan saham pada sistem badan hukum usaha pada dasarnya adalah pola bagi hasil yang diatur oleh Undang Undang. Oleh karena itu harapan/tantangan kedepan bagsa ini adalah bagaimana pemerintah dan stakeholder pembangunan lain mampu mentransformasikan sistem perekonomian yang telah berkembang menjadi sistem perekonomian yang bersendikan kearifan lokal, yaitu budaya gotong royong sebagai saripati Pancasila atau sebagai kristalisasi budaya bangsa.
MelayuOnline sebagai situs internet pada dasarnya adalah sistem silahturahmi berbasis informasi yang memberdayakan. Tidak berlebihan kiranya jika MelayuOnline diharapkan dapat menjadi bagian proses transformasi tersebut. Telaah lebih lanjut mengenai proses transformasi sistem perekonomian bersendikan budaya sendiri serta posisi, peran dan fungsi seperti apa yang dapat diambil oleh MelayuOnline akan terpulang kepada dinamika dari para penyeleggara dan pengunjung. Prestasi MelayuOnline pada usia satu tahun ini tentu dapat menjadi inspirasi untuk mendorong perubahan perubahan radikal dalam mebangun nilai tambah
Selamat Hari Jadi MelayuOnline semoga semakin berjaya dan mampu menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa.
Batam, 20 Januari 2008
_____________________
Ir. Purwanto Sardjono Wirotomo, adalah Pimpinan Bank Mandiri Cabang Batam, Kepulauan Riau.
Dibaca : 7.648 kali.
Berikan komentar anda :