Sabtu, 18 April 2026   |   Ahad, 1 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 853
Hari ini : 17.770
Kemarin : 143.251
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tentang kami

Selamat Berjuang untuk Kesejahteraan Melayu (Ir. Purwanto Sardjono Wirotomo)

Oleh : Ir. Purwanto Sardjono Wirotomo

purwanto wirutomoBergetar hati ketika  menerima pesan sms dari sahabat yang mulia Saudara Mahyudin Al Mudra mengenai genap satu tahun Melon (MelayuOnline) dengan prestasi lebih satu juta pengunjung.  Tentu ini adalah  prestasi yang terbangun oleh pribadi dan  institusi yang menjunjung tinggi nilai nilai kepercayaaan, integritas, profesionalitas, layanan dan  kesempurnaan. Prestasi MelayuOnline pada usia satu tahun dengan seluruh keindahan dan kemanfaatannya bolehlah kiranya kita  maknai sebagai peristiwa kebudayaan.  Sebagai  buah dari pohon akal budi  dalam menggali dan mengembangkan kebudayaan Melayu.  Bukan saja agar tak lenyap di muka bumi, tetapi juga  bagaimana kemelayuan mampu memberi inspirasi bagi segenap warga bangsa dalam membangun peradaban baru Indonesia.

“Membaca” MelayuOnline sebagai peristiwa kebudayaan pada   perspektif peran kebudayaan dalam membangun peradaban,  membuka ingatan  bagaimana nenek moyang kita membangun kebesaran Mataram  Kuno, Sriwijaya, Singosari  dan Majapahit.  Armada perang kerajayaan Sriwijaya,  pasukan Pamalayu dari kerajaan Singosari, Candi Prambanan, Candi Borobodur tentu mudah dipahami sebagai produk masyarakat yang berkebudayaan. Tidak sulit pula dipahami bahwa masyarakat yang sejahteralah yang  mampu membangun sejarah  dan produk kebudayaan tersebut.

Bung Karno ketika mengenalkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa telah menyatakan bahwa butir-butir Pancasila adalah kristalisasi dari nilai nilai yang telah ada pada berbagai suku  bangsa  di tanah air.  Jika  rumpun melayu di Indonesia meliputi hampir seluruh suku suku bangsa yang tersebar di wilayah Indonesia,  tentu mudah dipahami  bahwa Pancasila adalah kristalisasi dari nilai nilai kebudayaan  melayu.

Bung Karno juga menyatakan bahwa Gotong Royong adalah saripati  dari Pancasila  Oleh karena itu mungkin saja budaya gotong royong  itulah yang membangun  kesejahteraan pada era Mataram Kuno,  Sriwijaya, Singosari  dan Majapahit,  Budaya Gotong Royong yang bersendi kesejahteraan pulalah tentunya yang  membangun Prambanan dan Borobudur, maha karya bangsa yang belum tertandingi

Penjajahan Kolonial mungkin dapat menjadi kambing hitam dari kegagalan bangsa ini dalam membangun kesetaraan peradaban dengan bangsa bangsa lain. Namun demikian sejarah Indonesia setelah merdeka sampai dengan saat ini telah membuktikan bahwa bangsa ini belum mampu membangun peradaban yang mensejahterakan sebagaimana amanat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.  Lalu  dimanakah sekarang ini jejak jejak budaya gotong royong dalam  struktur sosial eknomi masyarakat kita ?

Bung Hatta  sebelum Indoinesia merdeka dengan cerdas telah memberi pernyataan  bahwa  bangsa ini sebagai produsen dikerjai  oleh konsumen dan sebagai konsumen dikerjai oleh produsen. Bukankah pernyataan tersebut masih relevan hingga kini.  Jika Bung Hatta menyatakan bahwa  belum dimilikinya susunan ((organisasi/sistem) dalam masyarakat sebagai biang keladi,  lalu apakah tata nilai perekonomian yang berkembang saat ini telah memiliki  ruh/budaya  gotong royong yang telah terbukti mampu membangun Borobudur?  Pada perspektif lain apakah budaya gotong royong dapat menjadi jiwa dari sistem perekonomian yang berdaya tahan terhadap gempuran sistem kapitalis yang telah ditahbiskan sebagai pemenang dalam pertarungannya melawan sistem sosialis.

Jika kita mau menengok kedalam, mungkin saja salah satu jejak budaya gotong royong pada sistem perekonomian yang masih tersisa dari kebudayaan Melayu dan masih bertahan hingga kini adalah sistem pengelolaan Rumah Makan Padang yang dikembangkan oleh masyarakat Sumatera Barat sebagai bagian dari rumpun Melayu. Kita pahami bahwa pada pengelolaan Rumah Makan Padang, pemilik berbagi hasil dengan para karyawan.  Sejarah mencatat,  Rumah Makan Padang adalah bangunan ekonomi masyarakat yang mampu menjawab tantangan jaman dan mampu bertahan terhadap dominasi pengusaha Tionghoa di tanah air. Dinamika Rumah Makan Padang tidak mengenal buruh dan majikan dan tidak mengenal mogok.  Hubungan buruh dan majikan dalam sistem industri adalah produk  sistem kapitalis yang dibawa oleh kolonial dan disuburkan oleh sistem feodalisme.

Pola pemilikan saham pada sistem badan hukum usaha  pada dasarnya adalah pola bagi hasil yang diatur oleh Undang Undang. Oleh karena itu harapan/tantangan kedepan bagsa ini adalah bagaimana pemerintah dan stakeholder pembangunan lain mampu mentransformasikan sistem perekonomian yang telah berkembang menjadi  sistem perekonomian yang bersendikan kearifan lokal, yaitu budaya gotong royong sebagai saripati Pancasila atau sebagai kristalisasi budaya bangsa.

MelayuOnline sebagai situs internet pada dasarnya adalah sistem silahturahmi berbasis informasi  yang  memberdayakan.  Tidak berlebihan kiranya jika MelayuOnline diharapkan dapat menjadi bagian  proses transformasi tersebut.  Telaah lebih lanjut mengenai proses transformasi sistem perekonomian bersendikan budaya sendiri  serta  posisi,  peran dan fungsi seperti apa yang dapat diambil oleh MelayuOnline akan terpulang kepada dinamika dari para penyeleggara dan pengunjung. Prestasi MelayuOnline pada usia satu tahun ini tentu dapat menjadi inspirasi untuk mendorong perubahan perubahan radikal dalam mebangun nilai tambah

Selamat Hari Jadi MelayuOnline semoga semakin berjaya dan mampu menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa.

Batam,  20 Januari 2008

_____________________
Ir. Purwanto Sardjono Wirotomo, adalah Pimpinan Bank Mandiri Cabang Batam, Kepulauan Riau.

Dibaca : 7.648 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password