Oleh : Bambang Budi Utomo Ikan kerapu bukan pari,
Elok nian dipandang mata.
Bangsa Melayu berbudaya bahari,
Kehidupan laut budaya kita.
“Perahu Cina ke Indragiri. Anaklah Riau jadi nahkoda”. Itulah sepenggal kalimat dalam lagu dendang Melayu yang dulu sering didendangkan anak-anak Melayu tetapi sekarang hanya terdengar sayup-sayup sampai. Dendang Melayu dengan syairnya yang kebanyakan bernuansa laut, mengindikasikan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa pelaut. Sebagai bangsa pelaut mereka banyak menjelajahi pulau-pulau di Nusantara. Di kawasan barat dan timur Nusantara mereka tinggal di daerah pesisir dan di muara-muara sungai. Dapat dikatakan bahwa merekalah penguasa laut sekurang-kurangnya laut di belahan barat Nusantara.
Republik Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beragam suku, bahasa, dan budayanya. Secara fisik antar satu budaya dan budaya lain dipisahkan oleh laut. Namun dengan pendekatan sejarah maritim pemisahan itu tidak pernah ada, karena seluruh perairan yang ada di Nusantara adalah sebagai pemersatu yang mengintegrasikan ribuan pulau yang terpisah-pisah itu. Dalam proses perkembangannya tingkat integrasi dapat berbeda-beda baik secara geografis maupun secara politis, ekonomis, sosial dan kultural.
Di negara yang disebut Indonesia itu berdiam sebuah bangsa besar yang mendiami wilayah dan negara kepulauan, bangsa yang heterogen dimana ada dua kelompok kehidupan, yaitu kelompok masyarakat yang mendiami wilayah pesisir dan kelompok masyarakat yang mendiami wilayah pedalaman. Kedua kelompok masyarakat ini, sadar atau tidak sadar bahwa mereka hidup dalam sebuah ketergantungan akan laut. Semuanya itu kembali pada konsep hidup dan kesadaran ruang hidup yang berasal dari heterogenitas tadi. Kemudian dalam sejarahnya, ada juga tercatat antagonis hasrat untuk saling mengendalikan dari kedua kelompok besar itu sendiri. Kelompok yang tinggal di darat berusaha untuk mengendalikan pesisir dengan segala upaya untuk mendapatkan hasil dari laut, dan juga sebaliknya.
Laut adalah ajang untuk mencari kehidupan bagi kedua kelompok masyarakat. Dari laut dapat dieksploitasi sumberdaya biota dan abiota, serta banyak kegiatan kemaritiman yang menjanjikan dan mempesona. Inilah yang mendorong kedua kelompok masyarakat itu menuju laut. Pada mulanya bertujuan mencari hidup dan mempertahankan hidup. Pada akhirnya bertujuan mengembangkan kesejahteraan, atau dengan kata lain membangun kejayaan dan kekayaan dari kegiatan kemaritiman. Fenomena ini pada akhirnya membentuk karakter bangsa pelaut, seperti lahirnya Kadatuan Sriwijaya, Kerajaan Malayu, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Makassar.
Laut dapat dikatakan media pemersatu karena melalui laut orang dari berbagai bangsa melakukan interaksi dengan berbagai macam aktivitas. Melalui laut orang dari berbagai bangsa menjalankan aktivitas perekonomian melalui “jasa” pelayaran antar benua atau antar pulau. Sejak awal tarikh masehi, laut Nusantara telah diramaikan oleh kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia. Dengan sarana transportasi air itu, komoditi perdagangan dibawa dari satu tempat ke tempat lain untuk diperdagangkan.
Ketika dunia Melayu belum menjamah dunia maya, lautlah yang menyatukan bangsa Melayu yang mendiami Nusantara. Namun ketika bangsa ini sudah memasuki dunia maya, melalui media inilah bangsa Melayu menyambung silaturahmi. Satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Januari 2007 lahirlah sebuah situs bangsa Melayu www.melayuonline.com yang tujuannya kira-kira “Melestarikan Tradisi dengan Cara yang Tidak Tradisional”.
Usia baru satu tahun belum apa-apa, namun untuk sebuah situs maya daya jelajahnya dalam waktu satu tahun sudah dapat “mendunia”. Tentu saja lebih luas daripada daya jelajah sebuah kapal apalagi perahu yang ketika sarana pemersatunya masih laut. Dalam hal ini ingin saya ingatkan, kita tidak boleh lupa daratan tetapi juga tidak boleh lupa laut. Ketika kita memasuki dunia maya, kita juga tidak boleh lupa budaya kita sebagai bangsa bahari. Melalui tulisan sederhana ini, saya ingin mengingatkan bahwa kita adalah bangsa bahari. Karena itulah, dalam situs MelayuOnline ini ada baiknya dimuat juga tulisan-tulisan mengenai budaya bahari.
Dunia Melayu bukan saja “milik raja-raja Melayu” dengan budayanya yang tak benda (intangibe) seperti tari-tarian dan upacara-upacara adatnya. Dunia melayu adalah dunia bahari yang kehidupannya tidak lepas dari laut. Meskipun Indonesia dikatakan juga sebagai Negara Agraris karena memiliki tanah yang subur, tetapi bangsa-bangsa Melayu yang tinggal jauh di darat tidak dapat melupakan laut. Dapat diambil contoh adalah relief kapal samudra pada Stupa Borobudur. Itu membuktikan bahwa bangsa Melayu yang ada di daratan tidak melupakan laut. Kala itu di pedalaman tanah Jawa terdapat Kerajaan Mataram yang agraris. Bukti prasasti bertanggal 7 Mei 827 Masehi yang ditemukan di kaki Gunung Sindoro (Temanggung), menunjukkan pada kita adanya seorang petinggi kerajaan yang berkaitan dengan laut, yaitu Dang Puhawang Gelis (puhawang = nakhoda kapal).
Akhirnya, sekali lagi dapat saya ingatkan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa Bahari. Karena itu dapat saya sarankan ada baiknya dalam MelayuOnline sering dimuat tulisan-tulisan mengenai budaya bahari, misalnya kehidupan Suku Laut, Bajau, Ameng Sewang; dan kehidupan nelayan di berbagai tempat di Nusantara.
____________________
Bambang Budi Utomo, adalah Peneliti Utama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
Dibaca : 7.931 kali.
Berikan komentar anda :