Oleh : DR. Sidik Jatmika
Esa elang, tiga belalang. Takkan hilang si rajawali
Esa hilang, tiga terbilang. Tak Melayu, hilang di Bumi
Apa sih pentingnya kehadiran Melayuonline itu? Pertanyaan ini mengemuka manakala menyaksikan semangat juang para pegiat berjibaku membangun ”istana Melayu di dunia maya” dengan tengara bernama Melayuonline dalam kurun waktu satu tahun pertama keberadaannya. Budaya Melayu, secara sosiologis, paling tidak memiliki 6 unsur, yaitu:
1. Sejarah/ setting sosial-politik dari kemunculan dan keberadaannya
2. Perintis kebudayaan
3. Sistem nilai (berbagai hal yang dianggap baik atau buruk. Sebagaimana dituntunkan melalui Tunjuk Ajar Melayu beserta aktualisasinya.
4. Upacara (sistem penerimaan, pembinaan/ kegiatan rutin dan pemutusan keanggotaan, sistem kepemimpinan dan hubungan sosial, dll). Misalnya berbagai upaya Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu dalam reproduksi dan evaluasi budaya Melayu melalui Melayuonline ini.
5. Pengikut Setia (ditinjau dari segi usia, jenis kelamin, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, aspek keagamaan/ kesukuan, aspek idiologi/politik, dll). Dalam hal inilah arti penting keberadaan kaum muda Melayu sebagai pewaris dan penerus kejayaan tamaddun Melayu.
6. Icon/ simbol kebudayaan (pakaian, asesoris, gaya rambut, gaya bicara/bahasa dan pemaknaannya). Misalnya pakaian (tanjak, batik); gaya lagu (senandung, mak inang, joged, zapin); dialek (a-e-e,o,o); dll.
Pada awal abad ke-21 ini, masyarakat dan budaya yang melingkupi budaya Melayu, ditandai dengan tiga arus besar yaitu era industrialisasi, informasi dan globalisasi. Era industrialisasi, artinya masyarakat beranjak dari tahapan masyarakat agraris (pertanian/ nelayan), menuju masyarakat industri. Masyarakat agraris biasanya memiliki ikatan persudaraan yang kuat; kurang memperhitungkan kecepatan gerakan waktu; dalam berhubungan sosial kurang memperhitungkan faktor untung rugi. Di sisi lain, masyarakat industrialis biasanya memiliki ikatan persudaraan yang mulai melemah; sangat memperhitungkan soal waktu dan ingin serba cepat serta praktis; dalam berhubungan sosial sangat memperhitungkan faktor untung rugi.
Era informasi, ditandai dengan kian pesatnya tehnologi media komunikasi massa. Dengan kemampuan melipatgandakan informasi dalam waktu yang bersamaan, siapapun yang mengusai tehnologi informasi maka dialah yang akan mengendalikan pendapat umum (opini-publik). Sebaliknya, mereka yang tidak menguasai informasi maka mereka akan dilibas oleh derasnya perputaran zaman.
Sedangkan Era globalisasi, berasal dari istilah globo atau globe yang berarti bola dunia dimana dunia ibarat sebuah kampung sekecil bola. Artinya, seiring dengan pesatnya perkembangan tehnologi, faktor jarak geografis seolah tidak menjadi kendala lagi. Misalnya, dalam waktu bersamaan 4 milyar penduduk dunia bisa menyaksikan final Piala Dunia Sepakbola. Akibatnya, ada kemungkinan penyeragaman budaya, gaya hidup, pilihan musik, makanan ataupun pakaian oleh kalangan yang mengendalikan tehnologi informasi terhadap kelompok lain yang lemah penguasaan tehnologi informasinya.
Singkat kata, era kontemporer yang melingkupi puak Melayu Serantau saat ini adalah masyarakat industri multi media yang bersifat global. Mereka sangat menghargai arti waktu (hemat waktu); ingin yang serba praktis cepat; serta tidak ketinggalan dengan perkembangan lingkungan sekitarnya yang telah menjadi wahana kampung dunia.
Sistem yang baik, ibarat tubuh manusia, selayaknya memiliki kemampuan yang lentur (elastis) dalam melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap berbagai perubahan yang ada di dalam dirinya maupun lingkungnnya. Kalau tidak, ia akan mengalami gejala ketidaklancaran organ tubuh, loyo, sakit, bahkan mati. Demikian pula dengan Kebudayaan Melayu sebagai sebuah sistem; masyarakatnya sebagai pembentuk dan pelaku budaya; idealnya juga memiliki kelenturan dan kemampuan menyesuaikan diri yang baik. Tujuannya, supaya tidak kehilanghan jati diri, ditinggalkan pengikutnya dan akhirnya mati sama sekali.
Berbagai cerita di atas menggambarkan bahwa sesuangguhnya ada banyak peluang peran dan arena kerja yang bisa dimainkan Melayuonline. Ia sebagai pelopor bisa mereproduksi sistem nilai dan pengikut setia kebudayaan Melayu beserta simbol-simbol kebudayaannya. Dengan demikian ia sudah bergerak dijalan yang benar sebagai salah satu bahagian dari gerakan besar pelestarian budaya Melayu sesuai dengan dinamika dan konteks zamannya. Selamat berjuang! Sekali layar terbentang. Takkan surut biduk ke pantai!
****
Cantik kembang bunga melati. Tumbuh sebatang di tepi kota.
Hilang tumbuh patah berganti. Adat pusaka terpelihara juga.
________________________
DR. Sidik Jatmika, Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Wong Jawa Asli. Cinta berat dengan khazanah budaya Melayu.
Dibaca : 8.996 kali.
Berikan komentar anda :