Kamis, 16 April 2026   |   Jum'ah, 28 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.900
Kemarin : 36.578
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tentang kami

Dari Jogja Membangun Hubungan Mesra dengan Malaysia (18-12-2007)

mahyudin al mudra

Yogyakarta, MelayuOnline.com- Hubungan antara Indonesia dan Malaysia akhir-akhir ini mendapat perhatian khusus masyarakat Yogyakarta. Menariknya, perhatian terhadap isu-isu hubungan antara kedua negara dilihat dari kaca mata budaya, sehingga pandangan-pandangan yang muncul cenderung arif dan mendamaikan.

Hal itu tampak pada dialog interaktif, Senin (17/12/2007) di JogjaTV mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB. Dialog yang mengangkat tema “Dari Jogja Membangun Persaudaraan Serumpun Melalui Jembatan Budaya” itu menghadirkan tiga nara sumber, Ir. Condroyono, M.SP (Kepala Dinas Kebudayaan Prop. DIY), Mahyudin Al Mudra, SH., MM (Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu dan Pemimpin Umum MelayuOnline.com), dan K.H. Jazir ASP (Pengasuh Pondok Pesantren Abdullah Ibnu Abbas).

Ketiga nara sumber tersebut banyak membandingkan kedua negara dalam menyikapi produk kebudayaan asing. K.H Jazir menjelaskan bahwa Malaysia, sejak tahun 1991, telah memberlakukan sistem pendidikan yang berbasis pada budaya Melayu. Setiap siswa yang lulus Sekolah Rendah (Sekolah Dasar) ditargetkan mampu berbahasa Melayu dengan baik, dan mampu membaca dan menulis huruf Melayu Jawi (Arab Pegon). Hal ini mengindikasikan keseriusan mereka untuk kembali kepada jati diri mereka sebagai masyarakat Melayu. Misi mencapai kejayaan Malaysia pada tahun 2020 didasarkan pada warisan kebudayaan lokal.

Untuk mempercepat proses pembelajaran huruf Melayu Jawi, Kerajaan Malaysia tidak segan-segan mengadopsi metodologi ‘Iqra‘ dari Indonesia. Beberapa pengajar dari Indonesia didatangkan untuk memperkenalkan metodologi ‘Iqra‘ kepada para pengajar di Malaysia, termasuk KH. Jazir.

Yang begitu mengesankan bagi K.H Jazir adalah sikap hormat para murid kepada Cik Gu (guru). “Meskipun mereka berada dalam lingkungan pendidikan yang sangat modern, namun nilai-nilai lokal masih dipegang erat. Para murid cium tangan guru saat bersalaman, bersikap santun dan patuh. Pemandangan seperti ini ada di Indonesia pada tahun 1960an,” jelas K.H Jazir.

Berkaitan dengan hal ini, Condroyono menegaskan bahwa seharusnya bangsa Indonesia menjaga dan mengembangkan budayanya, tidak hanya bangga dengan sejarah masa lalu. Di samping itu, harus mau mempromosikan hasil-hasil kebudayaan kepada bangsa lain, sehingga memunculkan rasa kebanggaan terhadap warisan budaya sendiri. Lembaga-lembaga pendidikan, dalam hal ini, memainkan peranan sentral dalam memperkenalkan dan menanamkan kecintaan budaya-budaya lokal kepada generasi muda sejak dini.

Ketika ditanya bagaimana seharusnya Yogyakarta, sebagai miniatur Indonesia, menjalin hubungan dengan Malaysia? Condroyono menjelaskan bahwa untuk saling memahami antara kedua pihak harus dilakukan komunikasi intensif sehingga tidak ada prasangka-prasangka negatif yang muncul.     

Penjelasan Condroyono didukung oleh Mahyudin Al Mudra yang lebih menyoroti hubungan antara Indonesia dan Malaysia dari aspek budaya. Sikap apresiasi beberapa kalangan akademisi, budayawan, dan intelektual Malaysia terhadap kegiatan pengembangan kebudayaan Melayu, seperti yang dilakukan MelayuOnline.com, membuktikan bahwa pada level budaya, kita bisa membangun kerja sama yang kreatif dan saling menguatkan antar bangsa serumpun. Komunikasi MelayuOnline.com dengan beberapa pihak di Malaysia menciptakan hubungan yang harmonis, saling mendukung dan saling membantu.

“Justru menghangatnya hubungan Indonesia-Malaysia tersebut, harus kita ambil hikmahnya yakni betapa pentingnya melakukan upaya pelestarian warisan budaya bangsa melalui berbagai jenis media, yang selama ini belum dilakukan secara sungguh-sungguh oleh pemerintah maupun masyarakat. Selain itu dapat menumbuhkan sebuah kesadaran baru tentang pentingnya pendidikan multikultural sejak dini bagi siswa, yang pada gilirannya akan menguatkan solidaritas bangsa.” Mahyudin menambahkan, “Budaya menjadi jembatan yang mendamaikan semua pihak. Kalau pun ada perbedaan, kita sikapi perbedaan itu sebagai wacana yang justru menciptakan dinamika. Perbedaan-perbedaan di dalam masyarakat seperti aneka warna bunga yang menghiasi taman, sehingga sebuah taman menjadi tampak lebih indah justru karena berbagai perbedaan tersebut”. (RI/brt/11/12-07)

Dibaca : 4.036 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password