Close
 
Senin, 20 November 2017   |   Tsulasa', 1 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.187
Hari ini : 30.726
Kemarin : 37.647
Minggu kemarin : 365.145
Bulan kemarin : 7.809.189
Anda pengunjung ke 103.784.030
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY

 

AGENDA

08 April 2011 17:35 - 11 April 2011 04:35

Sandyakala Sastra #10: Sastrawan Bali, Dari Masa Kolonial Hingga Kini

Sandyakala Sastra #10: Sastrawan Bali, Dari Masa Kolonial Hingga Kini

Waktu:

Senin, 18 April 2011, Pukul 18.00 WITA

Tempat:
Bentara Budaya Bali
Jalan Prof. Ida Bagus Mantra (By Pass) No. 88 A
Ketewel, Gianyar, Bali, Indonesia

Narahubung:
Iwan Dermawan, Made Sujaya
Bentara Budaya Bali
Telp. 0361 - 294 029
Fax. 0361 - 294 488

Keterangan

Kontribusi sastrawan Bali dalam peta sastra Indonesia kian terlihat jelas. Tidak sedikit penyair dan novelis dari pulau dewata yang karyanya turut memperkaya khasanah sastra nasional. Kalangan umum berpandangan bahwa sastra Indonesia dari Bali bangkit dan bermunculan semenjak dua dekade terakhir. Padahal, sedari era 1920-an, penulis-penulis Bali telah giat mempublikasikan karya mereka, baik berupa puisi, drama, novel, maupun cerpen di majalah dan surat kabar lokal, semisal Surya Kanta, Bali Adnjana, Djatajoe, Bhakti, Damai, dan Suara Indonesia (surat kabar ini beberapa kali berganti nama hingga akhirnya menjadi Bali Post sejak awal dekade 1970-an).

Gambaran komprehensif tentang kontribusi penulis-penulis Bali tersebut baru terkuak setelah terbitnya buku A Literary Mirror; Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century (KITLV Press, 2011), karya I Nyoman Darma Putra, dosen Sastra Indonesia Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali. Disertasi yang baru terbit beberapa pekan lalu di Leiden, Belanda, itu memperkaya pengetahuan kita tentang perkembangan sastra Indonesia dari Bali. Selain Panji Tisna dan Putu Wijaya, Bali ternyata juga memiliki banyak penulis yang menghasilkan karya penting dan menarik jika dilihat dalam wacana publik dan perubahan sosial politik di Bali dan Indonesia sejak zaman kolonial hingga belakangan ini.

Dr. Tom Hunter (budayawan dan penerjemah sastra) serta Dr. Nyoman Darma Putra (kritikus sastra) akan mendialogkan peran sekaligus kehadiran sastra berbahasa Indonesia dari Bali tersebut dalam diskusi Sandyakala Sastra #10.

Dr. Tom Hunter yang berasal dari Amerika Serikat  mempelajari studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Jawa Kuna (Kawi) di Universitas Michigan (1980-1988). Sedari tahun 1989, ia bermukim di Indonesia, menerjemahkan dan mengkaji sastra Indonesia modern dan Sastra Jawa Kuna, di antaranya Burung-burung Manyar, karya besar Romo YB Mangunwijaya, diterbitkan Yayasan Lontar pada 1991 berjudul The Weaverbirds. Tom Hunter sempat menjadi asisten Zoetmuder. Kini, ia mengajar Bahasa Sanskerta dan Sintaksis Jawa Kuna pada Fakultas Sastra, Universitas Udayana Bali, dan ikut membimbing mahasiswa-mahasiswa dari Amerika Serikat yang sedang mengikuti program SIT Study Abroad-Indonesia: Arts, Religion and Social Change.

Sedangkan Dr. Nyoman Darma Putra pada tahun 2007-2009 mengikuti program Postdoctoral Research Fellowship di School of Languanges and Comparative Cultural Studies University of Queensland, Australia. Kritikus sastra yang pernah bergiat sebagai wartawan ini telah menulis beragam buku sastra dan budaya, di antaranya Bali dalam Kuasa Politik (2008) dan Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2000).

 

AGENDA KEGIATAN