Close
 
Kamis, 23 Oktober 2014   |   Jum'ah, 28 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 775
Hari ini : 2.780
Kemarin : 23.762
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.259.713
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

15 desember 2011 06:34

Perlawanan Politis Kasat Mata

Perlawanan Politis Kasat Mata

Oleh : Bethriq Kindy Arrazy*

Kolonialisme telah memporak-porandakan budaya Melayu dalam arti sesungguhnya, faktor ini berasal dari segi geografis, bahasa dan agama.

Sore itu, cuaca terlihat sedikit mendung dengan awan hitam yang tak terlalu pekat menggelantung di pusat kota Yogyakarta. Sebuah bangunan kantor berlantai dua, nampak kolam berukuran 2x1 meter beserta ikan-ikan kecil yang menghiasi isi kolam tersebut. Sebuah becak sepeda terparkir di teras halaman. Di  dalamnya sebagian besar berasitektur khas Melayu. Ditambah berapa koleksi baju dan keris Melayu yang tersimpan rapi di lemari berdindingkan kaca. Bangunan ini diresmikan pada 4 Juli 2003. Inilah yang dinamakan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Yogyakarta.

Tak berselang lama, kehadiran saya disambut baik oleh sosok pria dengan tinggi tubuh kira-kira 160 cm, dengan bulu kumis yang tertata rapi, kemeja bergaris, disertai celana kain berwarna gelap. Pria ini bernama Mahyudin Al Mudra, yang lebih akrab dipanggil Bang MAM. Dialah yang mendirikan BKPBM, delapan tahun silam.

Kendala itu Bernama Dana

BKPBM berdiri di kota Yogyakarta, yang selama ini disebut jantungnya peradaban Jawa. MAM mengatakan, keputusan memilih kota Yogyakarta sebagai pusat kegiatan dilator belakangi oleh dua factor utama. Pertama, karena Kota Yogyakarta adalah sebuah miniatur Indonesia.  Fakta membuktikan, hampir semua suku bangsa di Indonesia meneruskan pendidikan, bahkan menetap untuk berbisnis dan melakukan aktivitas lainnya  di Kota Gudeg ini.  Kedua, kegiatan BKPBM yang ia pimpin sebagian besar melakukan kajian, pengembangan, dan penelitian tentang budaya Melayu. Aktivitas kajian ini dipermudah oleh  resources yang mendukung  dengan banyaknya perguruan tinggi, pusat studi, dan akademisi yang bisa diajak melakukan kegiatan akademis. “Kalau saya di daerah terpencil, di mana susah sekali mencari pemikir-pemikir intelektual yang kuat tentang ilmu pengetahuan, maka saya tidak mungkin bisa bertahan sampai sekarang,” ujar MAM.

Menurut MAM sejak awal-awal berdiri sampai sekarang, yang menjadi kendala utamanya adalah faktor dana.  Visi misi yang ia rentas dari awal dapat berjalan sampai sekarang ini, dengan menggunakan dana pribadi yang ia miliki. Ini dilakukan sebagai bentuk kepeduliannya kepada budaya Melayu. Bentuk kepeduliannya berawal saat ia masih menjadi mahasiswa di Fakutas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), yang aktif sebagai salah seorang anggota  Dewan Mahasiswa (Dema).  Kegiatan yang dilakukan mengharuskan ia sering sekali keluar kota untuk pertemuan mahasiswa. Kesempatan ini tak disia-siakannya. Di setiap kota yang ia datangi selalu ia sempatkan untuk membeli senjata khas di daerah tersebut. MAM sewaktu masih mahasiswa tertarik ingin memiliki sebuah keris Melayu. Niat itu tidak mudah diuwujudkan, karena saat itu masih sedikitnya orang melestarikan salah satu senjata khas Melayu ini. Karena tidak berhasil memperoleh keris tersebut, akhirnya MAM mendirikan lembaga dengan kegiatan akademis di dalamnya dengan pendanaan pribadi yang dimilikinya. Kajian tentang keris tersebut, akhirnya MAM membuat senidri keris tersebut dengan sebelumnya mempelajari literatur

Pria kelahiran 4 Juli 1958 di Tembilahan, Provinsi Riau ini bercerita tentang keheranan tamunya yang berasal dari Malaysia, yang menurut mereka BKPBM ini berdiri atas bantuan kerajaan (pemerintah-red). Dengan tertawa, MAM menjawab pertanyaan tamunya, bahwa selama mendirikan BKPBM sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah dalam segi pendanaan operasional. Dalam perjalanan sejarah BKPBM, ujar MAM bernostalgia, BKPBM pernah dikunjungi beberapa pejabat pemerintahan, mulai dari bupati, gubernur, hingga sampai menteri yang sempat memuji-muji dan berjanji untuk mendanai kegiatannya. Tapi hingga detik ini, belum pernah di antara tamu-tamu tersebut datang untuk menepati janji. “Pemerintah kita untuk kegiatan seperti pendidikan apalagi budaya tidak mendapatkan ruang seperti ini mana ada yang mau, akademisi saja tidak banyak, hanya sedikit yang tertarik,” kenangnya.

Seakan letih menunggu harapan yang tak pasti kejelasannya, MAM tidak berdiam diri menunggu untuk mengemis pada pemerintah. MAM pernah mengirimkan proposal ke UNESCO, sampai melakukan usaha sampingan sebagai penerbit buku. Sembari menghisap rokok yang dengan setia terjepit di dua jari tangannya, MAM menjelaskan bahwa ia harus mengadakan usaha untuk income tetap buat lembaganya. Di sisi lain, MAM menegaskan bahwa usaha yang ia lakukan, jangan sampai meninggalkan kegiatan di BKPBM yang murni untuk sebuah pengabdian, “Lha kalau sekarang ingin menjadikannya bisnis ya keluar dari khitah. Itu hanya sekadar untuk menghidupi kegiatan operasional itu sendiri,” tegas MAM.

Upaya Redefinisi Melayu

“Sebenarnya ada yang salah dalam definisi Melayu itu sendiri,” sebuah pernyataan yang ia lemparkan ke saya.

“Apa yang melatarbelakangi Bang MAM berkata seperti itu?” tanyaku terheran.

Selama ini Melayu secara umum didefinisikan sebatas orang-orang yang pernah tinggal di Semenanjung Melayu, berbahasa, beradat istiadat Melayu, serta beragama Islam. Definisi ini ternyata tidak disepakati oleh pria bergelar Datuk Cendekia Hikmatullah ini. Menurutnya, definisi tersebut adalah definisi yang ahistoris. Yang diterima begitu saja tanpa ada riset 50 tahun yang lalu.

Pada tahun 2001, MAM mulai mengalami kegelisahan soal definisi Melayu yang menurutnya sudah tidak memadai, yang menafikan sosiologi Melayu. Pertama soal letak geografis di Semenanjung Melayu. Kondisi masyarakat Melayu saat ini yang menetap tidak hanya berlokasikan di Semenanjung Melayu saja. tapi tak sedikitsaat ini sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Contohnya Myanmar, Srilanka, Thailand Selatan, Vietnam Selatan bahkan sampai ke Madagaskar di Benua Afrika dengan jumlah penduduk mencapai 300 juta jiwa, yang masih eksis hidup di sana. Kehidupan sosial masyarakat Melayu di Madagaskar hampir sama dengan kehidupan masyarakat Jawa di negara Suriname yang sama masih eksis hingga sekarang.

Sembari menjelaskan faktor yang kedua, MAM kembali menyulut yang sebelumnya rokok yang sudah padam sekitar sepuluh menit yang lalu. MAM menjelaskan faktor kedua adalah ada pada faktor bahasa. Ini dikarenakan oleh banyak versi bahasa yang terimplementasi dalam kehidupan masyarakat Melayu. MAM menganalogikan di Indonesia, bahwa bahasa Melayu masyarakat Riau daratan dengan Riau kepulauan ada perbedaan. Bagaimana dengan Malaysia? Di daerah Johor dan Kelantan juga ada perbedaan bahasa yang masih ada sampai sekarang. MAM  menyimpulkan bahasa yang terimplementasi saat ini adalah bahasa lokal yang tidak bisa dipukul rata kalau itu semua adalah bahasa Melayu.

Faktor yang ketiga adalah faktor agama. Faktor terakhir ini menurut MAM, “Agama dan budaya seharusnya tidak di campur-adukkan,” kata MAM dengan nada suara yang agak tinggi. Ini yang menjadi permasalahan yang dilematis, dengan mengakarnya agama Islam dalam kehidupan masyarakat Melayu pada umunya. MAM juga menambahkan, ketika masyarakat hidup bersosial di lingkungannya, akan menghasilkan sesuatu yang bernama budaya. Bila masyarakat yang beragama, berarti itu urusannya personal dengan Tuhan. Faktor ini yang melatarbelakangi, yaitu dengan mencampurkan dimensi vertikal (agama-red), dengan dimensi horizontal (budaya-red).

Dalam buku MAM yang berjudul Redefinisi Melayu, perjalanan sejarahnya Melayu lahir  dan tumbuh dengan empat fase kepercayaan. Pertama adalah fase praHindu-Budha yang sudah ada sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi yang biasa disebut dengan “Proto Melayu” dengan meninggalkan benda-benda bersejarah. Kemudian 300 SM menyusul pendatang Melayu lainnya, yaitu “Deutro Melayu” yang lebih maju karena bisa mengembangkan peralatan perunggu dan besi, dengan tetap mempraktekkan kepercayaan pada  fase Hindu-Budha pada abad ke-3 yang meninggalkan patung dan candi sebagai peninggalan sejarah. Fase ketiga adalah Islam yang masuk pada abad ke-11 dan berkembang pada abad ke-13, dengan banyak perdebatan darimana Islam berada, banyak versi mengatakan dari Cina, Gujarat, India, dan Persia. Fase terakhir adalah fase kolonial dengan masuknya agama import yaitu Nasrani.

Perlawanan Politis Kasat Mata

Definisi Melayu yang sudah tidak sesuai ini dipengaruhi oleh teori eurocentrism yang setelah diusut ternyata teori ini lahir pada zaman kolonial di negara-negara kawasan Melayu, dengan maksud memecah belah negara kolonial.  Eurocentrism  adalah sebuah teori dengan sudut pandang eropa yang melihat sesuatu diluar Eropa.  Menurut MAM pandangan eurocentrism ada dua jenis yaitu hirarkis dan dikotomis. Pada zaman kolonialisme, para penjajah menyombongkan dirinya dengan menganggap mereka yang paling pintar dan bermartabat. Selain itu juga menyebutkan bahwa orang yang beragama Nasrani adalah golongan penjajah. Di luar itu, dianggap beragama Islam untuk orang-orang Melayu saat itu. “Pandangan ini celakanya diikuti sampai sekarang oleh sarjana-sarjana Melayu sendiri dalam mendefinisikan dirinya,” ujarnya.

Secara tak langsung, teori ini memecah belah Melayu dan berlanjut sampai sekarang pandangan ini tanpa disadari melatari terjadinya perseteruan antara Indonesia dan Malaysia. Permasalahan utama adalah masalah perbatasan yang sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan teritorial. Banyak yang beranggapan, Malaysialah yang merebut dan sebaliknya juga. Pernyataan saling menuduh ini juga tidak diimbangi dengan peran pemerintah yang tegas dalam bersikap. Menurut MAM, saat ini masyarakat Indonesia di perbatasan yang menjadi korban. Terbukti, mereka yang masih kesulitan akses untuk membeli bahan pokok sehari-hari. Tak ayal mereka terpaksa membelinya di wilayah Malaysia. Membeli di dalam negeri pun susahnya minta ampun dengan waktu perjalanan tujuh hingga delapan jam menuju kecamatan atau desa terdekat yang diperparah kondisi jalan yang tidak memadai.

Menurut MAM, sebenarnya tidak ada subtansi yang jelas dari permasalahan antara Indonesia dan Malaysia. Ini menandakan benih-benih teori eurocentrism masih hidup sampai sekarang. Pemerintah dinilainya tak tegas dan hanya setengah-setengah menangani berbagai masalah saat ini. Di umurnya yang sudah memasuki lebih dari setengah abad ini, pengabdian pada kebudayaan Melayu tak pernah berhenti demi mengenalkan Melayu dengan arti yang sebenarnya. “Saya akan mengabdikan hidup saya untuk Melayu, sampai saya tak punya harta benda, tidak punya tenaga lagi, bahkan sampai akhir hayat saya,” tegas MAM.

*) Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa HIMMAH UII


Dibaca : 3.903 kali.

Tuliskan komentar Anda !