Close
 
Jumat, 8 Mei 2026   |   Sabtu, 21 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.804
Hari ini : 29.778
Kemarin : 31.042
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

13 mei 2007 03:39

Budaya Melayu Petalangan di Pelalawan Terancam Punah

Budaya Melayu Petalangan di Pelalawan Terancam Punah

Pangkalan Kerinci- Budaya masyarakat Melayu Petalangan terancam punah menyusul habisnya hutan ulayat salah satu suku asli di Riau ini. Mereka yang hidup di Kabupaten Pelalawan ini sangat bergantung pada hutan, termasuk untuk melestarikan budayanya.

Budaya yang hidup dari ketergantungan masyarakat Melayu Petalangan pada alam antara lain budaya basolang (gotong royong), menumbai (pantun-pantun yang mengiringi prosesi pengambilan madu hutan), dan jojo mone (ritual sebelum menanam padi).

Munir, Batin Monti Raja, mengatakan kebudayaan masyarakat Petalangan berangsur sirna karena tempat dan kegiatan untuk melakukan budaya itu sudah hilang. Padahal, budaya itu merupakan budaya warisan nenek moyang mereka.

Kebiasaan berladang di hutan, misalnya, sudah tak bisa dilakukan karena hutan ulayat mereka telah direbut perusahaan perkebunan, pemilik hak pengelolaan hutan tanaman industri, ataupun pemilik hak guna usaha. Akibatnya, budaya basolang dan jojo mone yang dilakukan saat seseorang hendak membuka ladang ikut hilang.

Hal senada disampaikan Rahman, penghulu Setio Dirajo. Hutan ulayat seluas 26.000 hektar kini sudah habis diserobot oleh perusahaan. Semua pohon dibabat, termasuk pohon sialang yang menjadi sarang bagi lebah hutan. Akibatnya, masyarakat tidak mengenal lagi budaya menumbai.

Thamrin, ahli hukum ulayat Universitas Islam Riau, mengatakan, pemerintah daerah perlu segera merespons lepasnya hutan ulayat dari tangan masyarakat adat.

Sumber : Kompas.com

Kredit foto : www.warsi.or.id


Dibaca : 2.679 kali.

Tuliskan komentar Anda !